Bulan baru (Part. 2)


I. The Cliff

Semenjak kejadian, dimana Sejin terjatuh dan terseungkur dari sepeda motor, Sunho melarang Sejin untuk kembali mencoba mengendarai sepeda motor tersebut. Sejin kembali kehilangan kegiatannya, kegiatan yang dapat mendistraksi fikirannya dari bayang-bayang Seungyoun. Setelah beberapa waktu, Sejin memutuskan untuk kembali mengunjungi keluarga Park.

“Kau pengecut!”

“Tidak! Aku bukan pengecut!”

Sejin memicingkan matanya, melihat beberapa anak muda berada di pinggir pantai. Jika kalian berfikiran pantai dengan pasir putih, jelas itu salah. Anak muda tersebut berdiri di samping tebing yang langsung berbatasan dengan laut lepas di bawah mereka. Sejin memilih untuk memarkirkan truk tuanya di pinggir jalan, sembarangan.

“Kau pengecut bocah kecil!!”

“Aku buka bocah kecil dan aku tidak pengecut!!”

“Tidak! Berhenti!“Sejin berteriak, tetapi sekuat apapun Sejin berteriak pemuda tersebut tidak akan mendengarkannya.

Sejin berlari, berusaha untuk menghampiri pemuda yang saling dorong di dekat tebing curam tersebut. Sejin kenal salah satu pemuda yang berada di pinggir tebing tersebut dan sungguh, Sejin sangat membenci pria tersebut,

“Kau gila? Ya brengsek!!“Sejin meninju pria dihadapannya ketika ia sudah berada di dekat tebing.

Sejin berteriak ketika melihat pria tersebut membiarkan dua orang yang lebih muda terjun bebas ke laut lepas.

“ORANG GILA!“Ucap Sejin lagi sambil memperhatikan laut yang berada jauh dibawahnya. Sejin dapat bernafas lega ketika ia dapat melihat kedua anak muda tadi muncul ke permukaan, bahkan mereka berdua masih sempat bercanda satu sama lain.

“Jangan terlalu mengurusi urusan orang”pria tersebut berlari dan melompat dari atas jurang sedangkan Sejin hanya dapat tercengang di tempatnya.

II. The Waves

Sejin kembali mendatangi tebing yang curam tersebut. Tebing yang terkikis air laut yang berada tepat dibawahnya. Sejin menarik nafasnya panjang, memikirkan hal yang sebentar lagi akan ia lakukan. Sejin ingin melompat dari tebing tersebut.

“Stop, Sejin jangan lakukan itu!”

Sejin menoleh. Lagi. Sejin dapat mendengar suara Seungyoun.

“Datang! Jika kau ingin aku berhenti, datanglah kemari!!!“Sejin menahan emosinya.

“Stop, please.... Sejin, aku mohon jangan lakukan hal itu”Suara Seungyoun kembali datang dan akan pergi ketika angin di tebing berhembus kencang.

“Persetan!!“Sejin mempersiapkan dirinya untuk melompat, kembali mencoba mencari distraksi.

“Sejin.... No.... Please”

“Stop.... Lee Sejin....”

“Lee Sejin... Jika kau melakukan hal itu, aku tidak akan memaafkan diriku”

“STOP LEE SEJIN!!!”

Lee Sejin mengabaikan semuanya. Mengabaikan suara-suara Seungyoun yang tidak tahu darimana asalnya. Sejin melompat dari tebing. Persis seperti yang dilakukan oleh beberapa pemuda yang ia lihat kemarin.

Setelah beberapa saat masuk ke dalam air, akhirnya Sejin muncul ke permukaan. Ada rasa puas yang dirasakan Sejin. Hal yang baru saja Sejin lakukan, benar-benar bisa menjadi distraksi untuk dirinya sendiri.

“Oh shit!“Sejin kembali menyelam ketika tamparan ombak hampir menggulung badan kecilnya.

Ombak sore itu terlampau besar. Sekali hingga tiga kali, Sejin dapat menghindari ombak besar yang datang, tetapi tidak dengan ombak ke empat, Sejin terhamtam oleh ombak besar tersebut dan badannya jatuh masuk lebih dalam ke lautan.

Sejin menahan nafas, mencoba menggapai udara bebas yang jaraknya semakin jauh dari penglihatannya. Sejin mencoba berenang ke permukaan, tetapi usahanya selalu gagal karena ombak yang terus menggulung dirinya. Hingga Sejin semakin lama kehabisan nafas dan semuanya menjadi gelap.

III. The Vision

“Sejin, Lee Sejin bangun”

Sejin bangun dan memuntahkan air laut yang masuk ke dalam perutnya. Sejin sudah berada di pinggir pantai. Di hadapannya ada Sung Hoon, orang yang selama ini sangat dibenci Sejin, orang yang Sejin percayai merubah perilaku Sunho. Sejin hanya dapat membuka matanya beberapa detik sebelum akhirnya semuanya kembali meghitam.


“Aku tidak bisa melihat Sejin....”

“Wooseok, apa maksudmu?“Seungyoun menghampiri Wooseok yang terdiam duduk di sofa ruang tamu.

“Sejin melompat. Aku tidak dapat melihat apapun lagi setelah Sejin melompat”ucap Wooseok lagi.

“Oh shit!“Seungyoun mengacak rambutnya frustasi lalu dirinya mulai mendial nomer telfon yang sudah di hafalnya diluar kepala.

“Hallo, kediaman keluarga Lee. Ada yang bisa dibantu?“Suara di sebrang telfon menyapa telinga Seungyoun.

“Hallo? Jangan bercanda. Tuan Lee sedang tidak dirumah, ia sedang menyiapkan pemakaman”Karena Seungyoun tetap diam, suara di sebrang telfon mengatakan hal tersebut lagi.

Seungyoun membanting ponselnya dan keluar meninggalkan rumah.

“Aku harus kembali untuk memastikan sesuatu!!“Wooseok bergegas mengemasi barang-barangnya untuk memastikan sendiri jika Sejin baik-baik saja.


“Wooseok!!”

Sejin menghamburkan dirinya menabrak tubuh kecil Wooseok ketika ia melihat Wooseok masuk ke dalam rumahnya. Sejin rindu Wooseok, Sejin rindu keluarga Wooseok, Sejin rindu Seungyoun.

“Aromamu seperti seekor anak anjing yang baru saja masuk ke dalam selokan”

Sejin menghirup aroma tubunya ketika Wooseok mengatakan hal tersebut. Wooseok masih sama seperti dahulu, suka berkata sesuka hati. Wooseok berjalan mundur ketika Sunho keluar dari dapur di kediaman keluarga Lee.

Sejin menoleh ke arah Sunho dan Sunho yang dapat membaca dengan jelas maksud dari tatapan Sejin itu, memilih duduk di tangga yang jaraknya jauh dari Wooseok. Sejin membawa Wooseok duduk bersamanya di sofa dan cerita Wooseok dimulai.

“Kita harus pergi”

“Sejin, kau gila?“Sunho menarik tangan Sejin agar menjauh dari Wooseok.

“Aku harus menyelamatkan Seungyoun. Dia dalam bahaya, volturi pasti akan membunuhnya”ucap Sejin frustasi.

“Seungyoun sudah pergi, dia gila. Dia akan melakukan hal gila esok siang”Wooseok terdiam dan Sejin berjalan mendekati Wooseok.

“Ayok! Bawa aku menemui Seungyoun”ucap Sejin.

“Jangan gila!!“Sunho kembali menarik tangan Sejin tapi tatapan dingin Sejin membuat Sunho berjalan mundur.

IV. The Volturi

Wooseok menginjak pedal gasnya menuju tempat dimana Seungyoun akan melakukan hal gila diluar nalar. Disebelahnya ada Sejin yang sejak tadi terus mendial nomer yang sama, nomer ponsel Seungyoun. Siang itu ditengah kota akan diadakan festival yang dihadiri oleh seluruh penduduk kota Voltera dan disanalah Seungyoun akan memulai aksi gilanya.

“Kita berhenti disini”Wooseok dan Sejin serempak melepas seat belt yang mereka kenakan. Wooseok dan Sejin berlari berlawanan arah, guna mencari keberadaan Seungyoun.

Beberapa kali Sejin harus menabrak orang yang sedang berpawai. Orang-orang yang menggunakan jubah merah itu benar-benar berada di seluruh kota hingga Sejin susah menemukan dimana Seungyoun berada. Sejin terus berlari, bahkan Sejin sebenanrnya tidak tau kemana ia berlari dan kemana tujuannya hingga ia berhenti di tengah kerumunan.

Disebrang sana, Sejin melihat Seungyoun yang sudah berdiri tepat di bawah sinar matahari yang menyinari kota Voltera. Jika kalian lupa, bangsa vampire akan sangat berkilau layaknya berlian jika mereka terpapar sinar matahari langsung. Seungyoun berdiri dtepat dibawah sinar matahari. Sejin menggeleng dan berharap Seungyoun melihat ke arahnya.

Tanpa membuang waktu, Sejin berlari ke arah Seungyoun berdiri. Tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh, Sejin menembus keramaian tersebut hingga ia berada di hadapan Seungyoun.

Seungyoun tersenyum ketika Sejin berada di hadapannya, “Bahkan sekarang aku sudah berhalusinasi”ucap Seungyoun pelan.

Sejin menarik tubuh Seungyoun dan membawanya ke sebuah lorong gelap yang jauh dari keramaian, “kau tidak sedang berhalusinasi, aku ada disini”ucap Sejin lembut.

“Terlambat”Sejin dan Seungyoun menoleh ketika mendengar suara Wooseok. Disana Wooseok berdiri dengan wajah cemas. Volturi sudah mengetahui semua yang dilakukan Seungyoun dan saat ini, semua petinggi Volturi ingin bertemu dengan Seungyoun dan kekasih non-vampirenya.

V. The Conclusion

“Mereka manusia?“Sejin berkata sambil melihat dua lelaki yang mengantar mereka menuju ruang para petinggi Volturi berada.

“Iya, sama sepertimu”ucap Seungyoun menggenggam erat tangan Sejin dan sesekali mencium puncak kepala Sejin.

“Silahkan”ucap kedua lelaki muda tersebut ketika sebuah pintu berukuran besar terbuka di hadapan Seungyoun, Sejin dan Wooseok.

Pembicaraan yang membosankan terjadi. Beberapa kali Seungyoun menyembunyikan Sejin yang kecil di belakang tubuhnya. Walau bagaimanapun, Sejin saat ini sedang dikelilingi klan terkuat vampire. Seungyoun menolak dengan keras ketika keluarga Volturi ingin mengubah Sejin pada saat itu juga. Alasannya, karena Sejin yang notabenenya adalah seorang manusia sudah mengetahui segala sesuatu mengenai klan volturi.

“Ah jadi kau ingin jadi pahlawan?”

Seungyoun tiba-tiba menjerit. Tubuhnya terduduk secara paksa. Wooseok dengan cepat menarik Sejin mendekat ke arahnya dan menyaksikan saudaranya tersiksa di tengah ruangan besar tersebut.

“Berhenti! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyiksanya?“Sejin berteriak tapi tidak didengar oleh siapapun.

“Lakukan!!“Seseorang yang sedang duduk diatas kursi kebanggannya itu memerintah seseorang di dekat Sejin.

“Aku bilang lakukan!“Ucapnya lagi tapi tetap tidak ada yang berubah di ruangan tersebut dan Wooseok hanya dapat tersenyum sinis.

“Ah! Sialan!!!!“Seseorang yang berdiri di dekat Sejin lalu mengalihkan perhatiannya ke Wooseok. Sejin terkejut ketika tiba-tiba Wooseok juga mengaduh kesakitan.

“Berhenti!! Aku bilang berhenti!!!!“Sejin histeris ketika melihat dua orang yang ia kenal sedang mengerang kesakitan.

“Ubah aku! Jika kalian memang mau aku berubah atau membunuhku, silahkan. Tapi jangan sakiti mereka”ucap Sejin menahan marah.

“Tidak Sejin, Jangan!!!“ucap Seungyoun lemas.

Seorang vampire yang duduk disebuah kursi besar kebanggaannya itu bangkit dan berjalan mendekati Sejin.

“Berhenti...!“Ucapan tersebut Seungyoun sama sekali tidak didengarkan.

“Ah pria kecil ini ingin membela kekasihnya ternyata?“ucap vampire yang merupakan pimpinan Volturi.

Sejin menahan nafasnya dan ia memejamkan matanya, takut.

“Aku tidak yakin jika kau benar-benar berani dan bersedia menyerahkan hidupmu untuk kami”ucap pimpinan Volturi itu lagi.

“Aku... Aku yang akan merubahnya... Aku bisa melihat itu”Keluarga Volturi menoleh ke arah Wooseok.

“Aku bisa melihatnya. Periksalah jika kalian tidak mempercayaiku” Wooseok berdiri dan berjalan ke salah satu anggota Volturi dan mengulurkan tanganya hingga anggota Volturi tersebut mengangguk.

“Baiklah, aku sangat mempercayaimu Wooseok. Bahkan kau adalah salah satu Vampire favoritku karena kemampuanmu itu. Aku akan membiarkan kalian pergi, tetapi aku akan terus mengawasi kalian”ucap pimpinan Volturi tersebut.

Seungyoun bangkit, lalu berjalan menghampiri Sejin. Tanpa pamit, Seungyoun keluar dari ruangan tersebut.

“Kita harus cepat, mereka sangat berbahaya”ucap Wooseok pelan sambil bergegas pergi.

fin.