Cemburu Vol-2


Yohan mendorong tubuh Yuvin agar menjauh, cukup malam itu bagi Yohan. Yuvin mengerucutkan bibirnya ketika sang kekasih melepaskan lumatannya, sedangkan Yohan tersenyum singkat sebelum meninggalkan Yuvin yang masih setia duduk di kursi meja makan.

“Yo. . . Gitu aja?“ucap Yuvin merajuk.

“Gitu aja apaan?“tanya Yohan bingung. Yohan mengambil satu buah kaleng camilan sebelum memposisikan dirinya di sofa empuk dan mulai menonton film yang tayang di televisi malam itu.

“Kamu minta maaf kayak gitu aja?“ucap Yuvin yang masih merajuk.

“Siapa yang minta maaf sih? Aku kan engga salah apapun?“Yohan melirik kekasihnya singkat, bingung dan aneh dengan sikap kekasihnya yang kelewat manja malam itu.

“Kamu jalan sama Hangyul ih! Kamu tuh harus minta maaf sama aku. . .“ucap Yuvin mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada. Yohan tertawa melihat tingkah kekasihnya.

“Kan kamu udah aku ajak tadiiii, tapi apa? Engga bisa kan? Trus salah siapa? Salah aku? Ya engga dong!“ucap Yohan tidak mau kalah.

Yuvin melirik sekilas ke arah Yohan sebelum pergi meninggalkan Yohan dan masuk ke kamar mereka. Jangan lupa, Yuvin membanting pintu kamar hingga membuat Yohan terkejut dan terdiam beberapa saat.

“Vin. . . Kamu beneran Cemburu?“tanya Yohan yang akhirnya mengalah dan menghampiri kekasihnya. Yuvin membelakangi Yohan sambil asik memainkan ponsel pintarnya.

“Vin. . . Aku dicuekin nih?“tanya Yohan lagi. Yuvin masih mengabaikan Yohan hingga ide nakal menghampiri fikiran Yohan.

“Beneran nih ngambek sama aku?“tanya Yohan sambil sesekali mengecup tengkuk Yuvin.

“Bayinya Yohan ngambek nih?“ucap Yohan yang masih asik mengecup tengkuk Yuvin. Yuvin menyerah, ia mematikan ponselnya dan berbalik menghadap Yohan sehingga membuat Yohan tersenyum.

“Bayi? Kamu tuh Bayi aku!“ucap Yuvin mencubit gemas pipi Yohan.

“Kamu yang bayi, buktinya kamu yang ngambek pake segala banting pintu”ucap Yohan mendecih dan Yuvin terdiam.

Yohan yang gemas dengan tingkah kekasihnya itu mendorong pelan tubuh Yuvin hingga membuat Yuvin terbaring di kasur dengan Yohan yang berada diatasnya. Yuvin membelalakan matanya ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Yuvin baru saja akan protes, tetapi telat karena Yohan lebih cepat membungkam bibirnya dan membuat Yuvin melupakan niat awalnya.

Yuvin melingkarkan lengannya di leher Yohan dan semakin memperdalam lumatan mereka. Yohan tersenyum dalam lumatan mereka. Tangan Yohan mulai membuka kaos yang dikenakan Yuvin serta kaos yang ia kenakan sendiri.

“Yo. . . Kayanya salah?“ucap Yuvin yang tengah melihat Yohan membuka kaos.

“Hm. . .? Apanya yang salah?“tanya Yohan lugu.

“Harusnya aku yang diatas kan?“ucap Yuvin dan Yohan tertawa.

“Kamu bayi aku. Jadi bayi harus tiduran aja, biar aku yang kerja”ucap Yohan sebelum kembali melumat bibir Yuvin.

Pergerakan Yuvin dan Yohan semakin berantakan. Yohan mulai membuka celana Yuvin serta celananya sendiri. Setelah dirasa tidak ada satupun benang menutupi tubuh mereka, Yohan mulai mengecup seluruh permukaan wajah Yuvin, lalu turun ke leher dan membuat beberapa tanda kepemilikan disana.

Bibir Yohan tidak hanya sampai sana, karena selanjutnua Yohan semakin turun dan mengecupi bagian dada Yuvin yang berhasil membuat Yuvin mengerang. Yohan kembali tersenyum karena berhasil membuat kekasihnya merasakan kenikmatan yang biasa ia dapatkan.

Bibir Yohan tidak hanya diam disekitar dada Yuvin tapi terus turun hingga menuju perut rata Yuvin. Yohan mengecupi perut Yuvin dan memberikan tanda kemerahan. Sesekali Yuvin menarik pelan rambut Yohan jika kenikmatan yang diberikan Yohan melebihi batas.

“Yo. . . Gantian. . . Arghhh. . .“Yohan menggeleng dan justru memasukan kejantanan Yuvin ke dalam mulutnya. Yohan lìhai dalam memberikan kenikmatan untuk kekasihnya sehingga Yuvin akhirnya memuntahkan cairannya di dalam mulut Yuvin.

“Stop! Kamu jangan bangun dulu. . .“ucap Yohan ketika melihat kekasihnya berencana bangkit dari kasur.

Yohan bergerak cepat, mengambil sebuah botol dari laci nakas disebelah kasur mereka dan kembali naik ke kasur, menimbulkan tanya dikepala Yuvin.

“Yo. . . Engga lucu ya!“ucap Yuvin tetapi Yohan hanya tersenyum. Lagi, pergerakan Yuvin lebih lambat dari gerakan Yohan karena Yohan sudah terlebih dahulu melumuri sekitar anal Yuvin dengan cairan yang sudah terlebih dahulu ia siapkan.

“Nghhh. . . Yo. . . Jangan gila!“ucap Yuvin tertahan dan Yohanb menempelkan telunjuknya yang bebas untuk membungkam bibir YUvin.

“Aku mau kasih kamu permintaan maaf, jadi kamu nikmatin aja ya?“ucap Yohan yang mulai memasukan jarinya ke dalam anal Yuvin.

“Yo!“Yuvin tersentak dan Yohan tertawa. Yohan tidak langsung menggerakan jarinya, ia membiarkannya beberapa saat hingga Yuvin tenang. Yohan mulai menggerakan jarinya ketika ia merasa Yuvin sudah tenang. Gerakan yang awalnya lambat itu semakin bertambah cepat, bahkan Yohan menambah digit jari jemarinya.

Yohan semakin gila menggerakan jarinya ketika ia merasa lubang YUvin semakin mengetat. Yohan tau, jika Yuvin hampir sampai pada ujung kenikmatannya, lagi. Bebebrapa gerakan jari Yohan akhirnya berhasil membuat Yuvin kembali mengeluarkan cairannya yang mengotori perut dan sprei kamar merea. Yohan kembali tertawa.

“Kamu lebih parah dari aku, cupaps. . .“ucap Yohan yang masih tertawa, sedangkan Yuvin masih terengah karena berhasil dikerjai oleh kekasihnya.

“Tapi. . . Bayinya Yohan pinter. . . Engga berisik. . .“ucap Yohan berbisik di telinga Yuvin. Tanpa Yuvin sadari, Yohan mulai mencoba memasukan kejantanannya ke dalam anal Yuvin. Yuvin mendesah ketika Yohan berhasil memasukan seluruh kejantannya ke dalam lubang Yuvin.

“Argh. . . Kamu. . . Sempit. . . Banget. . .“ucap Yohan terengah. Yohan menatap Yuvin lekat sebelum Yuvin menyambar bibir kekasihnya. Yohan tau jika YUvin sudah terbiasa hingga akhirnya Yohan menggerakan pinggulnya. Yohan harus merasa sakit ketika tanpa sengaja Yuvin menggigit bibirnya karena terkejut dengan gerakan Yohan.

Yuvin terpaksa melepaskan tautan bibir mereka ketika gerakan Yohan semakin cepat. Yohan mencengkram kuat pinggang Yuvin bersamaan dengan semakin mengetatnya lubang milik Yuvin. Yuvin mengalungkan tangannya di leher Yohan sambil terus mendesah.

Ini adalah pengalaman pertama Yohan dan sungguh, Yohan sangat menikmatinya (begitu juga dengan Yuvin). Gerakan Yohan semakin menggila karena ia merasa jika kenikmatannya sudah semakin tiba. Yohan mengigit pundak Yuvin untuk meredam teriakannya ketika ia sampai pada puncaknya sedangkan Yuvin mencakar punggung terbuka Yohan ketika merasakan cairan milik Yohan memenuhi lubangnya.

Yohan mencabut pelan kejantanannya, membuat dirinya dan Yuvin mengerang bersama. Yohan dan Yuvin beradu tatap sebelum tertawa bersama.

“Masih ngambeknya?“tanya Yohan terengah dan Yuvin menggeleng.

“Engga. . . Aku engga mau lagi digempur kamu kayak tadi. . .“ucap Yuvin sambil mengusap keringat yang mengucur dari kening Yohan.

“Tapi enak kan?“ucap Yohan berbisik. Yuvin menatap Yohan dengan tatapan tajam sebelum menarik tengkuk Yohan dan kembali melumat bibir Yohan dengan tidak sabaran. Yohan pun sadar jika perkataannya barusan adalah sebuah kesalahan.

Cerita Sebelumnya

xposhie