Chamber of Secret.
Seungwoo dan Wooseok duduk di pantry apartment Hangyul dengan dua cangkir masing-masing di hadapan mereka. Hangyul dan Seongjun sedang heboh melihat ke luar apartment yang di penuhi wartawan dan Sejin sibuk menggonta ganti channel televisi.
Sudah sejak semalam, mereka berlima berkumpul di apartment Hangyul atas titah Wooseok. Karena nasib naas yang diterima Hangyul semalam, mereka sepakat menginap di apartment Hangyul.
“Bagaimana? Tidak ada cara lain?“tanya Wooseok lemah dan Seungwoo menggeleng.
“Kita tidak bisa dengan sengaja memunculkan Sihoon? Kau bilang, Sihoon akan muncul jika melihat kecelakaan? Bagaimana jika...”
“Jangan gila!“ucapan Wooseok barusan, langsung dipotong oleh Seungwoo. Nada tinggi Seungwoo berhasil membuat Seongjun, Hangyul dan Sejin menoleh.
“Maaf...“ucap Seungwoo, berusaha menggenggam tangan Wooseok yang langsung ditepis Wooseok.
“Jangan bertengkar”ucap Sejin, “Kita harus mengikuti perkataan Seungwoo, bagaimanapun dia sudah merawat Sihoon selama tiga tahun ini”Sejin menambahkan.
“Sihoon tidak sakit! Dan dia bukan pasien”ucap Wooseok bergetar.
“Ka... Aku tau, kakak mau semuanya balik kayak tiga tahun lalu kan? Aku juga kok ka. Aku mau semuanya normal lagi, tapi kita harus sabar. Sabar sedikit lagi”ucap Seongjun.
“Iya ka, gue kan udah bilang bakalan bantuin kalian. Gue bakalan bantu ngawasin Sihoon dari sini, setidaknya gue yang selalu punya banyak wakti ketemu Sihoon, Sam maupun Sihyeon”kali ini Hangyul angkat bicara.
Wooseok menghela nafas panjang. Ia menelungkupkan kepalanya diatas kedua tangannya yang terlipat diatas meja.
“Sabar, sedikit lagi”ucap Seungwoo mengusap puncak kepala Seungwoo.