Dokter.
“Dok... aku gamau di suntik, aku kan engga nakal. Jangan suntik aku ya?“Seungwoo tersenyum ketika seorang anak kecil menghampirinya sambil memohon agar dirinya tidak menerima suntikan hari itu.
“Hai sayang, siapa nama kamu?“ucap Seungwoo mengusap lembut anak kecil dihadapannya.
“Subin, aku subin...“ucap Subin menahan tangis.
“Oke subin, om dokter mau tanya nih. Siapa yang bilang kalo suntik itu khusus anak nakal?“tanya Seungwoo lembut.
“Ka byungchan... Kalo subin engga habis makannya pasti ka byungchan bilang kalo subin nakal dan subin bakalan di suntik sama om dokter”ucap Subin lugu.
“Subin kalo makan suka engga habis?“tanya Seungwoo dan Subin mengangguk.
“Kakanya Subin bener loh, kalo Subin makannya engga habis nanti Subin sakit trus kalo Subin sakit nanti Subin kan harus disuntik biar kumannya ilang dari tubuh Subin”Seungwoo menjelaskan segala sesuatunya dengan mudah.
“Jadi Subin kalo makan harus habis ya? Jangan disisain, kasian kan kakanya Subin capek masak tapi engga Subin habisin makannya. Nanti kakanya sedih”ucap Seungwoo sambil menyiapkan suntikan di lengannya.
“Aw!“teriak Subin pelan.
“Oke. Udah selesai! Subin pinter, kalo makan harus habis ya! Janji sama pak dokter?“ucap Seungwoo dan Subin mengangguk antusias.
“Loh subin kok belum pulang?“Seungwoo menoleh ketika melihat seorang anak duduk di halaman sekolahnya.
“Belum di jemput sama ka byungchan”ucap Subin lugu.
“Mau om dokter temenin?“tanya Seungwoo dan Subin mengangguk senang.
“Subin engga suka sendirian. Tapi ka byungchan engga bisa nemenin Subin terus, karena ka byungchan harus kerja. Kalo engga kerja, nanti Subin engga bisa sekolah”Subin mulai bercerita tanpa diminta.
“Subin tinggal dimana?“tanya Seungwoo dan Subin menunjuk satu arah tepat ketika sebuah mobil berhenti.
“Ka byungchan!!!“ucap Subin senang ketika seorang lelaki tinggi keluar dari mobilnya.
Seungwoo menatap pria yang dipanggil kaka oleh Subin tersebut. Kemeja putih dengan kancing teratas terbuka, lengan yang digulung hingga siku serta rambut yang sepertinya hanya disisir asal pagi tadi. Jam bahkan belum menunjukan pukul dua siang, tapi penampilan Byungchan seperti memperlihatkan penampilan seseorang yang pulang kerja larut malam.
Seungwoo menghentikan langkahnya ketika melihat Byungchan yang terburu-buru.
“Subin hari ini makan sendiri ya? Ka byungchan harus balik ke kantor, nanti kaka beliin makanan kesukaan subin. Oke?“ucap Byungchan dan Seungwoo dapat melihat dengan jelas raut sedih di wajah Subin.
“Permisi... Tolong dokter! Tolong adik saya”Seungwoo menoleh ketika mendengar teriakan seseorang yang memasuki Instlasi Gawat Darurat malam itu.
“Subin?“Seungwoo dengan cepat mengambil alih gendongan Subin dari tangan Byungchan dan meletakan Subin di ranjang rumah sakit.
“Hallo, subin... Bisa dengar suara om dokter?“ucap Seungwoo sambil memeriksa denyut jantung hingga pergerakan bola mata Subin.
“Subin.... ka byungchan disini, tadi katanya mau makan malem bareng ka byungchan kan? Ayok subin bangun”ucap Byungchan di sebelah Subin.
Seungwoo mulai memerintahkan beberapa perawat untuk membawa Byungchan menjauh karena Subin harus menerima penanganan. Subin keracunan. Subin tidak tahu, jika makanan yang ia konsumsi dari dalam kulkas sudah lewat dari tanggal kadaluwarsanya.
“Tn. Byungchan?“Byungchan menoleh dan menemukan seorang dokter di hadapannya.
“Subin, bagaimana dok?“tanya Byungchan panik.
“Tidak apa-apa. Subin sudah melewati masa kritis karena keracunan, tapi saya tetap harus mengobservasi Subin 1x24 jam”ucap Seungwoo sambil memberikan Byungchan segelas kopi hangat.
“Saya kebetulan tau Subin. Karena beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tugas untuk memberikan vaksin kepada anak sekolah dasar dan itu sekolah Subin”ucap Seungwoo.
“Subin selalu menceritakan tentang diri anda. Bagaimana anda menyiapkan segala perlengkapan Subin untuk sekolah, menjemput Subin saat jam makan siang walaupun sering kali anda terlambat”ucap Seungwoo tersenyum.
“Orang tua kami mengalami kecelakaan satu tahun lalu dan hal itu membuat saya harus memutar otak untuk kehidupan kami berdua. Saya dan Subin hanya tinggal berdua, saya terbiasa mengantar Subin sekolah ketika saya berangkat kerja dan menjemput Subin ketika jam makan siang. Saya terpaksa meninggalkan Subin sendirian dirumah, karena saya tidak mungkin membawanya ke kantor dan juga tidak mungkin saya menitipkan Subin ke kerabat karena Subin yang menolak berpisah dengan saya”ucap Byungchan menunduk.
“Saya selalu merasa bersalah, karena tidak pernah menjadi kakak yang baik bagi Subin. Bahkan sampai membuat Subin keracunan karena menunggu makan malam yang saya bawa”ucap Byungchan menahan tangis.
“Anda bukanlah kaka yang tidak baik. Anda baik, Subin pun bangga punya kaka seperti anda. Mungkin anda hanya perlu meluangkan wkatu sedikit untuk Subin. Subin belum membutuhkan materi yang berlimpah, dia hanya butuh perhatian dari orang lain”ucap Seungwoo mengusap punggung Byungchan.
“Dokter Seungwoo, pasien Subin sudah bangun”ucap seorang perawat dan Seungwoo mengangguk.
“Jangan menangis. Subin bilang, kakaknya terlihat jelek kalo menangis”ucap Seungwoo dan Byungchan tersenyum setelahnya.
“Om dokter!!!“Subin berlari ketika melihat Seungwoo di koridor rumah sakit.
“Loh Subin, sama siapa?“tanya Seungwoo yang menggendong Subin dengan satu tangannya.
“Ka byungchan!!!“tunjuk Subin ke seorang lelaki yang tersenyum di ujung koridor.
“Jsdi cuti?“tanya Seungwoo saat menghampiri Byungchan.
“Engga usah pura-pura gatau, ini kan ide kamu”ucap Byungchan berjalan bersisian dengan Seungwoo.
“Kita mau ke Disneyland!“ucap Subin antusias.
“Ah Subin curang! Om dokter engga diajak nih?“tanya Seungwoo pura-pura bersedih.
“Kaaaa, om dokter boleh ikut kaaannn?“tanya Subin gemas.
“Emang om dokter bisa? Om dokter kan sibuk!!“ucap Byungchan meledek.
“Bisa kok! Om dokter bisa ikut kan?“tanya Subin dan Seungwoo mengangguk,
Subin pun turun dari gendongan Seungwoo dan berlarian di halaman rumah sakit karena terlalu gembira.
“Horeee!! ke disnyeland bareng om dokter!!!“ucap Subin berlarian kesana-kemari di halaman rumah sakit.
“Jadi kapan resign?“tanya Seungwoo menoleh ke arah Byungchan.
“Jadi kapan, kamu mau ngelamar aku? Aku resign, kalo hidup aku udah ada yang nanggung. Kan engga lucu, kalo aku tiba-tiba resign tapi engga ada yang nanggung hidup aku sama Subin”ucap Byungchan enteng.
“Hari ini?“tanya Seungwoo dan Byungchan menggeleng.
“Engga mau! Maunya yang romantis, masa ngelamar di halaman rumah sakit”ucap Byungchan yang kemudian berlari mengejar Subin dan Seungwoo tersenyum melihat Byungchan yang sibuk mengejar Subin.
Perkenalan Seungwoo dengan Byungchan memang relatif singkat. Tapi Seungwoo percaya, Byungchan adalah orang yang selama ini ia cari. Seungwoo ingin Byungchan.
Seungwoo ingin hidup Byungchan dan Subin bahagia.
Seungwoo ingin selalu melihat senyum Byungchan dan Subin.
Seungwoo ingin selalu ada disamping Byungchan serta Subin.
Seungwoo ingin membahagiakan Byungchan maupun Subin.
“Subin, mulai sekarang panggilnya bukan om dokter ya! Tapi ka seungwoo”ucap Byungchan menggendong Subin selepas prosesi pemberkatan keduanya.
“jadi kita bakalan tinggal dirumah ka seungwoo?“tanya Subin dan Byungchan mengangguk.
“Ka byungchan janji bakalan ada dirumah terus setelah ini?“tanya Subin lagi dan Byungchan mengangguk lagi.
“Subin mau punya temen engga? Adek kecil?“tanya Seungwoo tiba-tiba yang berhasil membuat Byunchan terkejut.
“Mau!!! Subin mau punya temen adik kecil”ucap Subin tersenyum memperlihatkan giginya yang baru saja tanggal kemarin.
”...Aku ingin melihatmu Aku ingin tetap di dekatmu...”
(xposhie).