First (3)


Selamat pagi (dari sini)! Mas seungyoun ngambil lapak aku ya buat cerita? Dia cerita apa aja? Kalo kalian engga mau kasih tau, yaudah nanti aku tanya ke Mas kSeungyoun aja. Semoga dia mau ngasih tau aku.

Btw, Mas Seungyoun masih tidur soalnya ini masih jam setengah enam. Sebelum jam bangun, Mas Seungyoun bakalan susah bangun jadi sekarang aku mau cerita lagi ya.

Sebentar, Mas Seungyoun kenceng banget meluk aku dari belakang. Aku benerin posisi dia dulu ya!

Yaudau biarin aja Mas Seungyoun begini, susah dipindahin soalnya aku gakuat! Aku kali ini mau cerita tentang pertengkaran pertama kita.

Kalian jangan mengira kehidupanku dan Mas Seungyoun selalu indah ya karena terkadang masih ada berantem kecil kok. Kayak waktu itu, pas aku baru sebulan nikah sama Mas Seungyoun.

Kalian ingatkan? Aku dan Mas Seungyoun engga sempat bulan madu karena pekerjaan Mas Seungyoun. Jadi ceritanya waktu itu Mas Seungyoun sering lembur dan pulang malam. Beberapa kali aku bahkan sampai ketiduran karena nunggu Mas Seungyoun pulang.

“Mas... mau makan dulu? Aku udah masak. Biar aku panasin dulu”Malam itu, Mas seungyoun menolak masakanku dan aku memaklumi hal itu.

Beberapa hari setelahnya, Mas Seungyoun pulang tidak terlalu malam tapi sikapnya cukup membuatku harus mengurut dada. Karena saat pulang Mas Seungyoun sembarangan meletakan sepatu, tas bahkan jas yang digunakannya.

“Mas, ganti baju dulu... Nanti kasurnya kotor”ucapanku diabaikan Mas Seungyoun. Hingga akhirnya aku meninggalkan Mas Seungyoun untuk merapihkan sepatu, tas dan jas yang semula ia gunakan.

Aku masuk kembali ke kamar dan memutuskan membuka baju yang Mas Seungyoun gunakan. Aku bahkan membasuh badan Mas Seungyoun agar tidak lengket karena keringat. Malam itu, aku menahan tangisku.

Puncaknya, seminggu kemudian dari kejadian terakhir. Mas Seungyoun malam itu sibuk mencari dokumen yang lupa ia letakan. Beberapa hari yang lalu aku memang sempat merapihkan ruang kerja Mas Seungyoun, tapi jujur aku tidak melihat dokumen yang mas seungyoun maksud.

“Kamu tuh dirumah ngapain aja sih?“ucapnya kasar malam itu.

Aku mengakui aku hanya dirumah saja dan tidak bekerja. Tapi aku rasa Mas Seungyoun cukup keterlaluan malam itu.

“Sejin! Kamu kemaren rapihin ruang kerja aku kan? Masa engga liat sih dokumen dalam map coklat?“Aku terkejut mendengar suara teriakan Mas Seungyoun dari dalam ruang kerjanya. Aku pun menghampiri Mas Seungyoun untuk menjelaskannya.

“Aku ngerapihin meja mas, tapi aku engga liat ada map coklat kok mas”Aku ingat, malam itu suaraku bergetar. Aku lihat Mas Seungyoun, matanya merah karena emosi.

Malam itu, suasana apartment hening. Aku sempat terbangun tengah malam dan aku tidak menemukan Mas Seungyoun di sebelahku. Tanpa sadar, malam itu aku menangis.

Pagi hari, aku menemukan Mas Seungyoun tertidur di sofa. Aku memutuskan membuatkan sarapan karena jam belum menunjukan waktu bangun Mas Seungyoun.

“Anjir gue kesiangan!“aku terkejut mendengar teriakan Mas Seungyoun.

“Mas sarapan dulu”Lagi, aku diabaikan. Mas Seungyoun tidak melihat kearahku sama sekali pagi itu bahkan mengabaikan sarapan yang sudah aku buat.

Aku kembali menangis dan siang itu aku memutuskan pulang ke rumah orang tuaku. Ibu dan Bapak menanyakan kenapa aku pulang siang itu dan aku berbohong kalo aku rindu ibu dan bapak. Aku juga berbohong bahwa aku sudah izin Mas Seungyoun untuk menginap tiga hari dirumah.

“Dek... Ada masmu”aku menoleh dan mendapati ibu mendatangi kamarku. Hari itu sudah hari ketiga aku berada dirumah orang tuaku.

“Mas mau minum apa? Biar aku ambilin”Aku berusaha semaksimal mungkin tidak beradu tatap dengan Mas Seungyoun malam itu.

“Apa aja dek”ucapnya malam itu.

Aku dan Mas Seungyoun duduk di ujung kasurku. Hampir lima belas menit, kami berdua hanya terdiam.

“Dek.... Mas mau minta maaf”itu perkataan pertama Mas Seungyoun. Aku diam dan kembali menangis mengingat kejadian tiga hari lalu.

“Dek....“Mas seungyoun menariku ke dalam pelukannya dan tangisku semakin menjadi.

“Maafin mas ya, dek... Kamu mau hukum mas apa aja engga apa-apa. Tapi please jangan nangis, air mata kamu terlalu berharga buat nangisin orang kayak mas”tangisku semakin menjadi, aku memeluk Mas Seungyoun erat, sangat erat.

Aku menangis dalam pelukan Mas Seungyoun cukup lama. Hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.

“Mas... Mau nginep sini?“tanyaku sambil sesekali terisak. Mas Seungyoun tersenyum.

“Tapi kasurku kecil, engga segede di apartment Mas Seungyoun”ucapku lagi.

“Engga apa-apa, enak. Malahan bisa deket kamu sama peluk-pelukin kamu. Aku kangen tiga hari engga bisa peluk kamu”ucapnya sambil mencubit kedua pipiku.

“Maaf ya mas... Aku pergi engga bilang-bilang”ucapku dan Mas Seungyoun menggeleng.

“Kamu engga perlu minta maaf. Disini aku yang salah. Kamu udah baik, sangat baik jadi pasangan aku. Maafin aku yang banyak kurangnya ya?“tanyanya dan aku mengangguk.

“Yaudah Mas Seungyoun tidur. Besok harus ke kantor kan?“tanyaku dan dibalas tawa oleh Mas Seungyoun.

“Besok sabtu dek! Aku bisa seharian dirumah sama kamu”ucapnya meledek.

“Engga bisa mas... Kan ada bapak sama ibu”ucapanku menghentikan tawa Mas Seungyoun.

“Yaudah besok habis sarapan kita pulang aja, biar kita bisa quality time berdua. Gimana mas?”

“Ya... Masa mas nolak?“ucapnya tersenyum.

Malam itu. Di kasur single bed kami berdua tertidur. Sebelum tidur, kami menceritakan hal-hal yang kami lewati selama tiga hari kemarin. Aku dan Mas Seungyoun berjanji, bahwa pertengkaran itu adalah yang pertama dan terakhir kali bagi kami.

“Kamu ngapain sih dek? Sibuk banget sama handphone”

Eh Mas seungyoun udah bangun! Aku harus merhatiin bayi besarku dulu. Sampai ketemu di cerita selanjutnya ya!

xposhie