Gitar.
Yuvin meletakan gitar tuanya di sebelah kursi yang sekarang telah ia duduki. Sesekali Yuvin meniupkan jari-jarinya yang luka akibat senar gitar yang terputus.
“Permisi”
Yuvin menoleh dan mendapati seseorang yang datang menghampirinya. Yuvin memandang orang tersebut dengan tatapan bingung.
“Aku melihatmu. Permainan gitarmu dan juga suaramu, itu semua bagus”
“Terimakasih. Silahkan duduk”
Yuvin mempersilahkan pria yang lebih kecil di hadapannya untuk duduk. Tetapi tawaran Yuvin ditolak, pria tersebut memilih tetap berdiri.
“Kalo begitu, kita berdiri saja berdua”ucap Yuvin kikuk.
Pria tersebut mengedarkan pandangannya dan mendapati guitar case tua milik Yuvin.
“Kamu duduk disini. Aku akan duduk di case gitarmu. Boleh kan?”
Yuvin melirik ke arah guitar case miliknya, mengambilnya lalu meletakannya di dekat pria kecil tadi.
“Aku boleh liat tanganmu?”
Yuvin terkejut dengan pertanyaan pria berparas manis itu. Pria tersebut pun menarik pelan tangan Yuvin karena tidak ada pergerakan sedikitpun dari Yuvin.
“Jika terluka karena senar, jangan hanya ditutup dengan plester. Kamu harus membersihkan lukanya dahulu, baru tutup dengan plester luka. Selain itu gantilah plester luka tersebut setiap hari agar tidak terjadi infeksi”
Yuvin terpaku. Pria kecil di hadapannya berbicara dengan tenang sembari mengobati jari-jari Yuvin yang terluka akibat senar dari gitar tua miliknya.
Pria tersebut pun menatap Yuvin ketika pekerjaannya sudah selesai. Ia tersenyum lalu berdiri dan mengulurkan tangan kanannya.
“Maaf aku lancang. Aku Yohan, aku bekerja di rumah sakit sebrang Kafe ini”
Yuvin pun menerima uluran tangan Yohan dan memperkenalkan dirinya. Yuvin juga berterimakasih karena Yohan sudah membersihkan dan mengobati lukanya.
“Aku sebenarnya sudah lama melihatmu. Aku sering kesini dan sering melihatmu bernyanyi disini”ucap Yohan tersenyum.
Perkenalan Yuvin dan Yohan malam itu harus berakhir ketika ponsel pintar milik Yohan berbunyi. Yohan pun bergegas meninggalkan Kafe tersebut setelah berpamitan dengan Yuvin.
“Yuvin!”
Yuvin menoleh dan mendapati Yohan dengan seragamnya berjalan mendekati Yuvin.
“Penampilanmu bagus seperti biasa”puji Yohan.
“Terimakasih”ucap Yuvin tersenyum kikuk.
“Mau makan siang bersamaku?“tanya Yohan dan Yuvin sempat mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Tenang saja, tidak semua makan rumah sakit itu tidak enak. Makanan du kantin rumah sakit ini enak. Bahkan tidak kalah dengan makanan restoran mewah”ucap Yohan antusias dan Yuvin mengangguk setuju.
Yohan pun menggandeng lengan Yuvin yang bebas lalu berjalan menuju kantin rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, beberapa perawat bahkan pasien, menyapa Yohan dengan hangat.
“Selamat makan siang, dok! Semoga harimu menyenangkan”ucap salah satu perawat yang dibalas senyuman oleh Yohan.
“Tekanan darahnya sudah normal, dok. Tapi pasien masih sering mengeluh sesak nafas sehingga saya masih memasangkan oksigen untuk membantu pernafasan pasien”
Yohan mendengarkan penjelasan perawat tersebut sambil menarik tirai di hadapannya.
“Yuvin?”
“Ah Yohan... Maaf, maksud saya dokter Yohan”Yuvin tersenyum.
“Tidak apa-apa. Panggil aku Yohan saja”ucap Yohan tenang.
“Jadi....?“Yohan melirik seorang lelaki paruh baya yang terbaring di ranjang rumah sakit.
“Oh iya. Ini kakek saya dok, sudah seminggu mengeluh sesak nafas. Saya sudah memberikan obat yang saya beli di apotik. Tetapi semalam kakek saya pingsan, lalu saya bawa kakek saya kesini”
Yohan mengangguk mendengarkan penjelasan Yuvin. Yohan pun memulai pemeriksaannya.
“Pantas aku tidak melihatmu di kafe seminggu ini”Selesai pemeriksaan, Yohan mengajak Yuvin untuk duduk di taman rumah sakit.
“Saya tidak bisa sembarangan meninggalkan kakek, dok. Jadi saya meminta izin untuk tidak datang ke kafe”ucap Yuvin kikuk.
Yohan melirik Yuvin sinis, “Panggil aku Yohan, tanpa embel apapun. Lagipula aku sedang tidak bertugas”ucap Yohan lagi dan Yuvin tertawa.
Siang itu, Yuvin menceritakan semuanya kepada Yohan. Tentang dirinya yang tidak hanya berdua dengan kakeknya. Tentang gitar tua peninggalan ayahnya. Tentang pekerjaan yang ia dapatkan. Semua diceritakan Yuvin tanpa ada kekurangan sedikitpun.
“Kamu orang baik. Aku berharap, kamu bisa selalu menjaga kakekmu. Tetaplah menjadi Yuvin yang rendah hati”ucap Yohan tersenyum.
”...Selamat atas pekerjaan barumu! Izinkan gitar lamamu untuk beristirahat dan mulailah cerita baru dengan gitar barumu...”
-K.Y.H
Yuvin tersenyum tatkala membuka hadiah yang ia terima siang itu. Sebuah gitar mahal yang tentunya tidak dapat dibeli Yuvin bahkan jika ia bekerja lembur di cafe.
Tanpa membuang waktu, Yuvin mengambil jaket yang ia gantunh dibalik pintu kamarnya. Ia bergegas pergi ke rumah sakit dimana Yohan bekerja.
“Mau kemana?“tanya Kakek Yuvin pelan.
“Menyatakan cinta! Doakan aku”ucap Yuvin sambil berlalu dan menghilang di balik pintu.
Yuvin menunggu Yohan di lobby rumah sakit. Entah mengapa, Yuvin merasakan hatinya bergemuruh hebat siang itu. Senyum juga selalu keluar dari bibirnya.
“Yuvin?”
Yuvin menoleh dan mendapati Yohan berdiri dibelakangnya. Siang itu, rasanya Yuvin ingin segera memeluk Yohan untuk mengucapkan terimakasih.
“Terimakasih hadiahnya. Aku suka”ucap Yuvin kikuk.
“Kamu sudah menerimanya? Syukurlah jika kamu suka hadianya. Karena jujur, aku tidak tau sama sekali mengenai gitar dan semacamnya”
“Tapi seleramu bagus. Gitar itu bagus”ucap Yuvin memuji Gitar pemberian Yohan.
“Kamu harus berterimakasih kepada seseorang yang memilih gitar tersebut. Atau mungkin kalian bisa kolaborasi saat acara ulang tahun rumah sakit bulan depan?“ucap Yohan memberikan saran.
“Ayok aku antar ke orang itu!“Yohan menarik pelan lengan Yuvin dan membawanha masuk ke rumah sakit.
Yohan dan Yuvin berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan nama seorang dokter. Lagi, hati Yuvin bergemuruh. Tapi rasanya berbeda dari gemuruh yang tadi ia rasakan.
“Sayan, tumben?”
“Jangan memanggilku sayang jika kita masih di rumah sakit wahai dokter evan cho yang terhormat”
Yohan masih menarik Yuvin memasuki ruangan tersebut.
“Ini yuvin, yang aku ceritakan waktu itu! Dia suka gitar pilihamu”Yohan mendekati lelaki yang duduk di meja kerjanya.
“Siang dok. Saya yuvin dan terimakasih atas gitarnya”ucap Yuvin tersenyum kikuk.
“Ah iya sama-sama. Sebenarnya saya sempat bingung, kenapa kelinci kecil saya tiba-tiba menanyakan perihal gitar”ucap dokter itu yang menarik Yohan agar mendekat dan duduk dipangkuannya.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu!“Yohan mengerucutkan bibirnya, gemas.
“Bagaimana? Apakah yohan sudah membicarakan perihal acara ulang tahun rumah sakit?“tanya dokter Evan.
“Iya saya sudah mengetahui acara tersebut sedikit. Tapi sepertinya saya harus lihat jadwal saya terlebih dahulu”
“Loh kok? Tadi kamu bilang kamu bisa! Pasien disini pada suka loh sama penampilan terakhir kamu”
Yohan mencodongkan badannya ketika berbicara dengan Yuvin, tapi dirinya masih nyaman duduk dipangkuan seseorang yang sedang melingkarkan lengannya dipinggang Yohan.
“Ah iya... Itu...“Lidah Yuvin kelu. Yuvin tidak dapat menemukan alasan yang logis untuk menolaknya.
“Jangan memaksa. Jika Yuvin tidak bisa, tidak apa-apa”
Yuvin dapat dengan jelas melihat raut kecewa diwajah Yohan. Tapi Yuvin juga tidak dapat menyembunyikan rasa sakit di hatinya.
Yuvin tidak mungkin tetap datang ke acara tersebut setelah dirinya tahu bahwa Yohan sudah memiliki kekasih. Bahkan Yuvin tidak sanggup bersaing dengan kekasih Yohan tersebut.
“Hm...maaf, saya boleh permisi?“tanya Yuvin dan Dokter Evan mengangguk.
Yuvin semoat beradu tatap dengan Yohan sebelum akhirnya Yuvin berbalik dan keluat dari ruangan dokter evan tersebut.
“Dia suka hadiahnya. Berarti nanti malam, aku dapat hadiahku?“Ucapan dokter evan ini adalah ucapan terakhir yang di dengar Yuvin sebelum dirinya menutup pintu ruangan dokter tersebut.
©xposhie.