I volunteer.
***
Yohan tersenyum ketika melihat sosok seseorang yang menggenggam seekor burung di tangan kanannya dengan busur panah yang menggantung di punggungnya, “berburu lagi?“tanya Yohan dan dijawab anggukan oleh orang yang kini sudah duduk disebelahnya, “Untukmu dan adikmu”Yohan menatap orang di sebelahnya dengan tatapan heran.
“Haruskah kau selalu seperti ini, Song Yuvin?“tanya Yohan merajuk, “Hahaha aku hanya bersikap baik kepada calon adik iparku, jangan kau fikir ini semua untukmu yaaaa”ucap Yuvin meledek yang sukses membuat Yohan merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
“Tentang besok....“Yohan menatap Yuvin sedih, “Tidak akan ada yang terjadi besok. Besok malam, kita akan duduk berdua disini lagi. Aku akan membawakanmu banyak sekali roti isi daging. Aku berjanji”Yuvin tersenyum cerah.
“Kau pandai memanjat dan berkelahi, jika kau terpilih, aku yakin kau akan bertahan hidup”
“Ya! Ucapan adalah doa. Jika besok aku benar-benar terpilih, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Song Yuvin”Yuvin mengusak rambut Yohan, gemas.
***
Hari pemilihan tiba. Yohan dan adiknya telah menggunakan baju terbaik mereka dan berjalan ke alun-alun diantar oleh ibu mereka, “Ka, bagaimana jika aku terpilih?“gadis berkuncir kuda itu terlihat lesu, “Tidak mungkin, namamu hanya ada satu jadi kemungkinan kau akan terpilih itu sangat kecil”Yohan mencoba menenangkan adiknya.
Sepanjang perjalanan, layar-layar raksasa yang sengaja di pasang oleh Capitol sudah menayangkan pemilihan di distrik lainnya. Para orang tua berteriak histeris ketika nama putra atau putri mereka dipanggil, bahkan beberapa diantara mereka menawarkan menjadi relawan agar orang yang mereka sayang tidak ikut ke dalam permainan gila itu.
Seperti biasa, Effie selalu membuka acara pemilihan dengan pidato panjangnya yang tidak berbobot dan sudah diingat Yohan bahkan diluar kepalanya. Wajah penuh riasan aneh serta rambut dengan model yang tidak kalah aneh dengan riasan wajahnya. Effie mulai memasukan tangannya ke dalam Fish Bowl di hadapannya.
Nama pertama sudah dalam genggaman Effie. Yohan berdoa di dalam hati, agar dirinya tidak dipanggil. Semoga Tuhan tidak mendengarkan omongan Yuvin kemarin. Yohan memikirkan bagaimana nasib adik dan ibunya, jika ia harus pergi ke Capitol dan melakukan permainan itu sebagai perwakilan distrik mereka.
Doa Yohan terkabul dan omongan Yuvin tidak menjadi nyata. Nama yang disebutkan Effie ialah Lee Dohwa, anak pemilik toko roti terenak di distriknya. Ayah Dohwa yang setiap harinya terbiasa membanting adonan roti itu menangis, karena ia tidak akan tahu bagaimana nasib putranya di balik tembok beton tersebut.
Dohwa berjalan ke atas panggung, menyerahkan nasibnya kepada Capitol. Nama kedua sudah Effie ambil, beberapa anak terlihat pasrah dan beberapa lagi terlihat merapalkan doa terakhir mereka. Mata Yohan menatap layar besar di samping alun-alun yang menayangkan pemilihan di distrik 10, distrik dimana Yuvin tinggal.
Yohan berdoa, agar nama terakhir yang dipanggil bukanlah nama Yuvin, karena bagaimanapun Ia dan Yuvin sudah berjanji akan bertemu setelah pengumuman bodoh ini selesai. Yohan mengetukan kakinya, cemas. Dirinya bahkan lebih cemas mendengar pengumuman di distrik 10 dibanding di distriknya sendiri.
Kim Sihun – Song Yuvin, dua nama yang disebutkan bersamaan di dua tempat berbeda. “Tidak! Itu tidak mungkin”Yohan berteriak, membuat semua orang di alun-alun menatapnya, termaksud Effie. Yohan menggeleng ketika melihat Yuvin yang tersenyum jalan ke atas panggung, “Dasar bodoh!“ucap Yohan.
Yohan menatap ke sekelilingnya dan melihat Kim Sihun yang berjalan ke atas panggung sebagai perwakilan dari distriknya. “I Volunteer!!! I Volunteer!!“Yohan berteriak dan berlari keatas panggung. Ibu dan Adik Yohan menangis melihat Yohan yang berlari ke atas panggung. Sihun yang sudah berada di depan panggung pun berhenti dan menoleh ke arah Yohan.
“Aku merelakan diriku untuk menjadi perwakilan distrik 12 pada tahun ini menggantikan Kim Sihun”suasana di alun-alun menjadi riuh. Terdengar makian yang di lontarkan kepada Yohan karena sikap cerobohnya. Yohan berjalan mantap ke arah panggung, mengabaikan tangisan dan teriakan ibu serta adiknya.