Kalian tau rasanya jatuh cinta? Kalian tau rasanya sakit hati? Jika kalian belum tau, maka akan aku ceritakan dua hal yang saling bertolak belakang tersebut.


  1. No Subject

Hai, namaku Byungchan dan umurku 22 tahun. Seperti manusia pada umumnya, aku dapat merasakan jatuh cinta dan itu adalah hal yang sedang aku rasakan kali ini. Dia kakak kelasku. Dia tinggi, tapi tidak lebih tinggi dariku. Dia baik, bahkan sangat baik. Aku dan kakak kelasku dulu pernah satu sekolah menengah lalu kami dipertemukan kembali di perguruan tinggi.

“Byungchan!!!”

Sebentar ya aku dipanggil kakak kelasku. Jika kalian ingin lihat dia seperti apa dan bagaimana baiknya dia, ayok ikut aku. Akan aku perkenalkan kalian dengannya.

“Iya ka?”

Diam ya, aku sedang menetralkan detak jatungku. Karena setiap dia ada di dekatku, pasti jantungku berdenyut lebih cepat dari biasanya.

“Nanti sore ada acara? Aku mau minta tolong temenin cari kado kalo kamu free”

Kebiasaan pertamanya, selalu mencariku jika dia benar-benar membutuhkan pertolongan. Kalian tenang saja, kalo aku membutuhkannya, dia juga pasti akan membantuku kok. Aku tidak berterpuk sebelah tangan.

“Kosong kok ka, bahkan kalo mau jalan sekarang juga bisa. Aku udah engga ada kelas”

Kalian boleh memanggilku gila, karena aku selalu tersenyum di depan kakak kelasku ini.

“Oh bisa sekarang? Yaudah ayok! Sekalian makan siang, aku yang traktir”

Kebiasaan kedua, selalu mentraktirku kapanpun kita jalan berdua. STOP!!! Aku sama sekali tidak matrealistis. Hanya saja, kakak kelasku selalu menolak jika aku yang metraktirya. Dia bilang, dia akan memusuhiku jika aku mentraktirnya diluar dari ulang tahunku.

“Oke! Atur aja ka, kalo aku nolak nanti kaka musuhin aku kan?”

Aku tidak sedang bertingkah sok manis di depan dia. Tapi ini murni sifatku jika sedang di depan kakak kelasku tersebut. Sebenarnya aku sebal, tapi ini seperti sikap naluriah jika aku sedang bersama kakak kelasku itu.

“Hahaha masih aja diinget, yaudah yuk”

Kebiasaan ketiga, kakak kelasku selalu menggenggam tangaku jika berjalan. Dia selalu bilang aku lemah. Dia selalu bilang aku ini fragile, padahal aku ini tidak lemah. Tinggiku diatas rata-rata dan aku bisa juga kok menonjok orang. Tapi, kakak kelasku selalu bersikap jika aku ini lemah. Aku tidak sedih kok! Aku senang. Siapa sih yang tidak senang jika di gandeng orang yang ia sukai?

“Mas, ayam gepreknya dua ya. Yang satu level 1 aja, yang satu lagi level 5. Trus minumnya es jeruk sama es teh manis”

Kebiasaan keempat, dia hafal menu favoritku. Ayam geprek level 1 dan satu gelas es jeruk. Aku ini tidak menyukai pedas, tapi selalu suka jika dibawa ketempat ayam geprek yang terkenal ini.

“Mau nyari kado buat siapa ka?”

Aku akhirnya memulai perbincangan dengan orang favoritku ini.

“Buat temen. Aku bingung mau beliin jam, baju atau sepatu”

“Temen deket?”

Byungchan, please jangan kayak wartawan yang suka nanya hal pribadi! Aku merutuki kebodohanku.

“Lumayan sih, tapi engga sedeket aku sama kamu gini”

Please siapapun tolong Byungchan yang bodoh ini! Aku bisa merasakan pipiku merona! Kalian lihat pipiku? Apakah pipiku sudah semerah kepiting rebus? Tolong bilang jika pipiku ini baik-baik saja, tolong!!!

“Orangnya kayak gimana ka? Mungkin bisa aku kasih saran yang cocok. Jangan ngasih kado jam kalo orangnya engga suka pake pernak-pernik di tangan. Atau jangan kadoin sepatu kalo kaka gatau ukuran kaki temen kakak itu”

Wah aku bangga dengan diriku sendiri. Biasanya aku ini suka lambat berfikir atau teman-temanku suka mengataiku sebagai orang yang lemot. Tapi kali ini aku benar-benat pintar sepertinya.

“Aku kayanya engga pernah liat dia pake pernak pernik ditangan, kayanya cuma gelang dan itupun jarang. Kalo ukuran sepatu? Aku gatu juga, orangnya kecil sih tapi gatau pastinya ukuran kakinya itu berapa”

“Jaket aja gimana ka? Kebetulan sekarang lagi musim hujan nih, siapa tau kan lebih berguna? tapi terserah kaka deh, kok malah aku yang mutusin”

“Aku ikutin kata kamu aja”

Kebiasaan kelima, dia selalu mengusap puncak kepalaku terlebih ketika dia merasa gemas karena tingkah dan sikapku. Kalian tahu akibat dari sikap dia itu? Aku dapat merasakan jika ada ribuan kupu-kupu di perutku! Byungchan tolong kendalikan sikapmu!

“Makasih ya byungchan buat hari ini!”

Kebiassan keenam, dia selalu berterima kasih kepadaku. Kalian tau? Selama mencari kado, dia selalu mentraktirku dari makan siang hingga makan malam. Bahkan ia juga membelikanku minuman boba hits serta es krim kesukaanku. Bukankah seharusnya aku yang berterima kasih? Kenapa justru dia yang berterimakasih? Itu ada kebiasaan dia yang berhasil membuat rasa kagumku tubuh.


II. No Title

“Byungchan!”

Kebiasaan ketujuh, sebuah panggilan. Kakak kelasku selalu memanggilku dengan intonasi dan panggilan yang sama setiap memanggilku. Hal itu membuatku sudah sangat hafal diluar kepala suaranya yang memanggil namaku.

“Terimakasih”

Diam! Aku sedang tidak bisa berfikir jernih kali ini. Semoga kakak kelasku tidak mendengar jantungku yang rasanya seperti ingin melompat keluar. Jangan terlalu lama memelukku, aku bisa gila.

“Aku berhasil! Temanku senang dengan hadiah yang ku berikan”

Kebiasaan ke delapan, sebuah lesung pipi. Kakak kelasku hanya punya satu lesung pipi. Tidak dua seperti miliku, punya dia istimewa, hanya ada satu dan akan muncul jika dia sudah tersenyum cerah seperti ini.

“Ayok aku traktir makan di kantin bersama teman-temanku”

Kebiasaan ke sembilan, dia selalu memaksa. Sudah pernah kukatakan kan? Jika kakak kelasku ini selalu memaksa mentraktirku, jika aku yang meminta mentraktirnya, maka ia akan memusuhiku. Selain itu dia juga sedikit memaksa kehendaknya, tapi entah kenapa aku tidak pernah merasa terbebani dengan segala paksaan yang di berikannya kepadaku.

“Han seungwoo!! Ini nih yang ditunggu-tunggu”

Kalian bingung? Sama, aku juga. Kenapa kantin ramai sekali, tidak seperti biasanya. Aku mengenal beberapa mahluk yang berada di kantin siang ini. Mereka adalah anggota baseball, satu tim dengan kakak kelasku. Ah! Kalian sudah tau namanya ya? Iya, Han Seungwoo atau Ka Seungwoo adalah kakak kelasku.

Aku mengikuti langkah ka seungwoo. Menuju salah satu meja teramai di kantin. Wah aku melihat tetanggaku duduk disana. Iya, tetanggaku sejak kecil yang sudah aku anggap lebih dari sekedar kakak kandungku.

“Ka seungsik!”

Lebih baik kita duduk bersama ka seungsik saja, karena sejujurnya aku tidak terlalu kenal dekat dengan tim baseball teman-teman ka seungwoo itu. Aku takut. Aku malu. Aku canggung.

“Byungchan, jangan duduk disana! Itu khusus pasangan yang sedang kasmaran”

Bahagia? Siapa yang bahagia? Aku selalu bahagia setiap hari kok. Aku menoleh ke arah ka seungsik di sebelahku, ka seungsik sedang tersenyum malu. Tidak mungkin! Jangan bilang yang aku fikirkan ini nyata. Jangan, aku tidak mau.

“Sudah tidak apa-apa, Byungchan duduk disana saja, biar aku duduk disini”

“Ah! Biar dengan leluasa menatap kekasihmu ya?”

Ini apa? Aku sungguh tidak mengerti. Kekasih? Siapa? Aku memutar otakku. Kenapa kebodohanku muncul di saat seperti ini sih? Ayok Byungchan, berfikir jernihlah.

“Byungchan, terimakasih jaketnya. Seungwoo bilang, kamu yang memilihkannya?”

Jaket? Aku yang memilihkan? Ya Tuhan, aku sunggu tidak mengerti. Aku pun memutuskan menoleh dan mendapati ka seungsik sedang menggunakan jaket yang kupilihkan kemarin. Ah! Jadi, teman ka seungwoo itu ka seungsik? Oke akhirnya kepintaran Byungchan kembali lagi.

“Happy birthday seungsik! Happy birthday Seungsik! Happy birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Seungsik!”

Bodoh, Byungchan memang benar-benar bodoh, Kantin ramai karena akan ada kejutan ulang tahun ka seungsik! Jika kalian belum tau, ka seungsik itu primadona fakultasku dan wajar saja jika dia mendapat kejutan ulang tahun seperti ini.

“Lagi? Yak! Han seungwoo, ini ulahmu ya?”

“Kenapa? AKu tidak tau apa-apa sayang”

What? Sayang? AKu tidak salah dengarkan? Ka seungwoo tadi bilang sayang? Ke siapa? ke Ka Seungsik? Ah pasti aku harus memeriksakan pendegeranku ke THT setelah ini.

“Potongan kue pertama, sudah jelas dan sudah pasti”

Wah wah wah ada apa ini? Tuhan, tolong katakan jika ini tipuan. Kalian semua ingin mengerjaiku kan? Ah kenapa jantungku? Bukan, ini bukan debaran seperti biasanya. Ini.... Ini.... Seperti rasa sakit? Ada apa? Kenapa jantungku seperti ini?

“Selamat ulang tahun sayang”

“Terimakasih, untuk semuanya”

Tidak, aku tidak kuat. Aku rasanya ingin melebur agar orang-orang tidak dapat melihatku. Aku rasanya ingin lari agar orang-orang tidak melihat air mataku. Aku rasanya ingin mati agar jantungku ini tidak merasakan sakit lagi.

“Hey! Ini masih di lingkungan kampus. Nanti saja kalian lanjutkan di apartment kalian”

Terimakasih untuk catcher tim baseball yang tidak aku ketahui namanya itu. Setidaknya aku tidak perlu melihat ka seungwoo dan ka seungsik berciuman lebih dari lima belas detik.

Aku menertawakan kebodohaku. Iya, kalian boleh melabeliku sebagai manusia bodoh. Aku selama ini tidak tahu jika kaka kelas favoritku itu adalah kekasih tetanggaku.

Aku tidak tahu, saat ka seungwoo mengantarku pulang maka ia juga akan menghampiri ka seungsik yang rumah hanya berjarak 3 rumah dari rumahku.

Aku tidak tahu, jika selama ini ka seungwoo selalu mengajaku makan siang bersama hanya karena ingin menunggu ka seungsik selesai kelas sore.

Aku tidak tahu, restaurant ayam geprek yang aku sukai itu adalah rekomendasi dari ka seungsik.

Aku tidak tahu, aku tidak tahu apa-apa. Sungguh, Byungchan memang bodoh, Haha, kalian boleh mentertawakanku kok. Aku tidak tahu jika semua kebaikannya karena memang dia peduli padaku dan menganggapku sebagai adik kecilnya, tidak lebih.

“Byungchan mau makan apa?”

“Ka, aku permisi ya? AKu duluan. AKu baru ingat, ada tugas yang harus aku selesaikan”

“Oh begitu? Seungwoo, kau bisa antar Byungchan pulang dulu?”

“Engga usah ka, aku bisa sendiri kok pulangnya”

Ka seungsik please. Jangan menambah bebanku. Ka seungwoo pleae, tolong tolak keinginan ka seungsik.

“Byungchan mau pulang? Ayok aku antar dulu”

“Engga usah ka, aku udah pesen ojek online”

“Aku duluan ya ka! Ka seungsik happy birthday!”

Lari Byungchan, pergi yang jauh. Ayok sembunyikan air matamu, jangan sampai orang-orang melihatmu menangis.

Sembunyi Byungchan, sembunyilah. Jangan sampai orang-orang tahu jika kamu bersedih di hari indah seseorang.


Hai, kalian masih disana? Bagaimana kisahku? Kisah tentang jatuh cinta dan patah hati. Aku sengaja menuliskan kisah jatuh cinta lebih banyak daripada kisah patah hati. Karena aku tidak ingin kalian merasakan kesedihan. Aku tidak ingin kalian merasakan ditinggalkan.

Aku sengaja menuliskan kebahagiaan lebih banyak dari kesedihan, karena aku berharap kalian akan bahagia dan tidak bersedih. Carilah kebahagiaan kalian bagaimanpun caranya. Kalian boleh bersedih, tapi jangan terlalu lama. Jangan pendam kesedihan kalian sendirian. Aku mungkin pengecut karena berlari dan bersembunyi, tapi aku harap kalian tidak sepertiku.

Berlarilah dan cari kebahagiaan kalian. Bukan berlari untuk menyembunyikan kesedihan kalian.

With love, Choi Byungchan.