Kita?
Wooseok menghubungi Seungwoo dan menceritakan semua hal yang dikatakan Hangyul. Seungwoo memutuskan untuk menemui Wooseok di apartmentnya.
“Kopi?“Wooseok menawarkan dan di balas anggukan oleh Seungwoo.
“Bagaimana jika Sihoon tidak pernah muncul lagi?“tanya Wooseok lemah.
“Bukankah itu bagus?“ucap Seungwoo yang mendapat tatapan sinis dari Wooseok.
“Sihoon bisa merubah semuanya, bisa mengembalikan semua keadaan seperti semula. Tapi Samuel tidak, maksudmu bagus itu bagaimana?“Wooseok mencengkram erat cangkir dihadapannya.
“Kita tidak dapat bergantung terus pada Sihoon. Ini sudah 3 tahun dan sudah segala cara kita tempuh”Seungwoo mengusap pelan punggung Wooseok menenangkan.
“Benar kata Seongjun, sepertinya gelar psikiatrimu itu percuma”
Wooseok berusaha meninggalkan Seungwoo di pantry, tetapi tangannya ditahan oleh Seungwoo dan Seungwoo mengungkung tubuh Wooseok di antara kedua lengannya.
“Cukup tiga tahun. Kamu masih mau berusaha menyelesaikan semuanya?“tanya Seungwoo dengan amarah yang ditahan.
“Mau bagaimanapun dia sepupuku!“nada yang Wooseok lontarkan naik satu oktaf.
“Bagaimana denganmu? Semenjak dirimu mengurusi mengenai kehidupan Sihoon, bahkan kamu tidak pernah mengurusi dirimu sendiri”ucap Seungwoo.
“Maksudmu?”
“Kita. Maksudku hubungan kita. Cukup tiga tahun. Kamu tidak lelah?“tanya Seungwoo lemas.
Wooseok menatap Seungwoo. Wooseok dapat melihat kelelahan di wajah Seungwoo. Wooseok menahan nafas ketika Seungwoo mulai mendekatkan wajahnya.
“Maaf...“ucap Seungwoo sebelum menyapukan bibirnya dengan bibir Wooseok.
Wooseok mengalungkan kedua tangannya ke leher Seungwoo dan membalas ciuman Seungwoo. Terburu-buru, itu yang dapat Wooseok rasakan.
Bagaimana bibir Seungwoo menghabisi bibirnya. Bagaimana lidah Seungwoo dengan tidak sabar beradu dengan bibir Wooseok. Bagaimana nafas Seungwoo yang tersenggal tidak membuat Seungwoo menyudahi ciuman itu.
Seungwoo merapatkan badan Wooseok, menguncinya hingga Wooseok benar-benar tidak dapat pergi kemanapun hingga Wooseok kehabisan nafas dan memukul dada Seungwoo berulang kali, mencoba menyadarkan Seungwoo jika mereka hampir kehabisan nafas.
“Akh!”
Seungwoo mengaduh kesakitan saat Wooseok menggigit bibirnya. Nafas Wooseok dan Seungwoo terdengar berderu, begitu juga dengan detak jantung mereka yang menggebu.
“Maaf...“ucap Seungwoo sekali lagi.
Seungwoo menatap Wooseok. Jari jemari Seungwoo mengusap bibir kemerahan Wooseok yang sedikit bengkak karena ulahnya. Wooseok menarik tangan Seungwoo yang berhenti dibibirnya dan kembali menyatukan bibir mereka.
Kali ini Wooseok yang menggebu. Tangannya mengacak rambut Seungwoo, berantakan. Seungwoo mencoba mengimbangi gerakan Wooseok dengan mengangkat tubuh Wooseok untuk duduk di atas meja pantry dan merapatkan diri mereka hingga tidak ada celah sedikitpun.
“Kamarku...“ucapan Wooseok membuat Seungwoo berjalan ke arah ruangan yang disebutkan Wooseok dengan Wooseok dalam gendongannya.