. . .

“Ka seungwoo, cepat!!!”

Byungchan menarik tangan Seungwoo sebelum kamera benar-benar mengabadikan gambar mereka berdua.

“Gantian ya?“ucap Seungwoo.

Byungchan dengan semangat pun mengangguk dan berlari kecil ke arah kamera untuk kembali memulai penghitung mundur pada kamera.

Katakanlah Byungchan iseng, karena Byungchan justru merubah setting pada kamera menjadi video dan bukan foto. Byungchan berusaha menahan tawannya agar tidak ketahuan oleh Seungwoo.

“Cepat!! Nanti kau terlambat”ucap Seungwoo panik karena melihat Byungchan berjalan sangat lambat.

“Yaaakkk!! Choi Byungchan!!!“Seungwoo pun bergegas menggendong Byungchan, membawanya seperti membawa sebuah karung.

“Ah ka seungwoo turunkan aku!!!“ucap Byungchan panik.

Seungwoo pun mendudukan Byungchan di sebuah kursi tepat di depan kamera. Byungchan masih menahan tawanya.

“Kenapa lama sekali?“ucap Seungwoo bingung.

Seungwoo pun berdiri dan coba memeriksa kameranya. Seungwoo menahan emosinya ketika mengetahui bahwa Byungchan baru saja mengerjainya.

“Choi Byungchan....“geram Seungwoo rendah.

“Hahaha ka seungwoo maafkan aku!! Aku... Aku hanya...“Byungchan panik, karena Seungwoo sudah bersiap menangkapnya.

“Anak nakal!!“ucap Seungwoo setelah berhasil menangkap Byungchan.

Byungchan dan Seungwoo terjatuh di rerumputan. Seungwoo pun menghadiahi Byungchan dengan beberapa cubitan kecil di sekitar perutnya, hal itu tidak membuat Byungchan sakit melainkan rasa geli yang ia dapatkan.

“Ka seungwoo, maafkan aku.... Stop... Aku janji akan melakukan apapun... Jika kau berhenti...“ucap Byungchan sambil tertaw geli.

“Apapun?“tanya Seungwoo antusias dan Byungchan mengangguk.

Seungwoo pun menghentikan kegiatannya. Seungwoo menarik Byungchan ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahnya di puncak kepala Byungchan, menghirup wangi melon shampo yang digunakan Byungchan.

“Jangan tinggalkan aku...“ucap Seungwoo pelan.

Byungchan melirik ke arah Seungwoo dan Seungwoo tersenyum.

“Aku janji, aku tidak akan meninggalkan ka seungwoo”ucap Byungchan sambil tersenyum hingga memperlihatkan dua lubang di pipi kanan dan kirinya. . . . . . . . . . . .

“Anak nakal...”

Seungwoo tersenyum perih, menyimpan fotonya dan Byungchan beberapa bulan lalu. Di hadapannya berputar sebuah video dimana Seungwoo sedang menggendong Byungchan saat Byungchan mengerjainya.

“Anak nakal yang mengingkari janji...“ucap Seungwoo lagi.

Seungwoo tersenyum miris ketika video di televisi memperlihatkan adegan di mana Byungchan yang bernjanji tidak akan meninggalkan dirinya. Tapi, Byungchan ingkar. Karena sekarang, Byungchan telah meninggalkannya.

Tepat dua minggu yang lalu, dimana Seungwoo mengira Byungchan lagi-lagi mengerjainya. Seungwoo mengira telfon dari rumah sakit yang ia terima ialah ulah Byungchan yang mengerjai dirinya, tetapi ternyata bukan.

Hari itu, semua nyata. Seungwoo mendapat telfon dari rumah sakit jika Byungchan adalah korban tabrak lari ketika berusaha menolong seorang anak kecil yang akan menyebrang jalan.

Hari itu, Seungwoo menangis. Satu buket bunga untuk Byungchan sudah ia siapkan, tetapi bunga itu tidak pernah sampai ke Byungchan.

Dan hari ini, Seungwoo kembali menangis. Seungwoo rindu Byungchan, jika boleh meminta, Seungwoo ingin jika Byungchan masih ada disini bersama dia dan menemaninya, walaupun itu tidak akan pernah terjadi lagi.

©® xposhie.