Pasar Malam.


Sejin meletakan ponselnya di meja dekat kasurnya setelah memastikan kekasihnya sudah berangkat untuk menjemput dirinya.

Sejin tersenyum ke arah sebuah cermin besar yang terletak di dalam kamarnya. Sejin merapihkan mantel berwarna kecoklatan yang ia gunakan, mantel pemberian kekasihnya pada natal tahun lalu.

Tin!

Sejin melirik ke arah jendela dan tersenyum. Dirinya pun mengambil ponsel dan tas yang telah ia siapkan. Sejin tidak lupa memberi salam kepada anjing kesayangannya.

“Aku pergi sebentar! Jangan nakal ya”ucap Sejin sambil mengusak pelan anjing kesayangannya.

Sejin pun berlari kecil, karena tidak ingin kekasihnya menunggunya terlalu lama. Sejin mengetuk pelan jendelan mobil berwarna hitam di hadapannya. Kekasihnya yang sedang sibuk memainkan ponselnya itu pun menoleh dan tersenyum lalu membuka kunci mobil yang ia kendarai.

“Maaf lama”ucap Sejin tersenyum.

“Tidak masalah. Menunggu satu dekade pun aku sanggup”Sejin mengernyitkan keningnya karena ucapan kekasihnya.

“Jangan memandangku seperti itu! Cepatlah jalan”ucap Sejin sambil mengalihkan pandangan kekasihnya agar memandang ke jalanan dan buka ke dirinya.


“Parkirnya jauh dari pasar malamnya, tidak apa-apa?“Seungyoun menoleh ke arah Sejin dan Sejin mengangguk.

Setelah memarkirkan mobilnya dan memastikan mobilnya terkunci dengan aman, Seungyoun dan Sejin pun berjalan ke arah pasar malam yang mulai ramai pengunjung tersebut.

“Tanganmu dingin! Kemana sarung tanganmu?“tanya Sejin ke arah Seungyoun.

“Aku lupa. Tadi sewaktu dijalan, aku baru mengingatnya”Seungyoun terkekeh.

Sejin pun menghela nafasnya panjang. Sejin melepaskan sarung tangannya sebelah dan memasangkannya ke tangan Seungyoun.

“Kamu gimana?“tanya Seungyoun dan Sejin melakukan tindakan yang tidak biasa ia lakukan.

Sejin menggenggam tangan Seungyoun yang tidak memakai sarung tangan lalu memasukan tangan keduanya ke dalam saku mantel yang ia gunakan.

“Jangan memandangku seperti itu”ucap Sejin sinis dan Seungyoun tersenyum.

“Kalo seperti ini terus, aku akan melupakan sarung tanganku terus!“ucap Seungyoun yang berhasil mendapatkan cubitan di lengannya.


“Pak, jagungnya dua ya pak”ucap Seungyoun memesan dua buah jagung bakar di dalam pasar malam tersebut.

“Lepas sebentar, aku mau beli kopi”ucap Sejin sambil melirik tangannya yang masing saling menggenggam.

“Pak, saya tinggal sebentar ya pak. Saya beli kopi, nanti jagungnya sama ambil”ucap Seungyoun tanpa menjawab perintah Sejin.

“Ayok”Seungyoun pun berjalan ke arah stand kopi yang membuat Sejin mengikutinya.

“Kan lama! Kenapa engga sendiri-sendiri aja?“tanya Sejin dan Seungyoun menggeleng.

“Nanti tangan kamu kendinginan!“ucap Seungyoun singkat dan Sejin menghela nafas panjang.


“Mau gulali!“Sejin menunjuk sebuah stand yang menjual makanan ringan seperti permen serta gulali.

Sejin pun tersenyum cerah saat Seungyoun membelikannya setangkai permen kapas berwarna merah muda tersebut.

“Aku minta!“Seungyoun ikut menikmati permen kapas yang sedanh dinikmati Sejin, membuat mereka saling tatap dengan permen kapas yang menghalangi.

Sejin melepaskan mulutnya dari permen kapas tersebut dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Kok makannya berenti?“tanya Seungyoun bingung.

“Ya kamu kalo mau makan gantian dong!“ucap Sejin sinis dan Seungyoun tertawa.

“Yaudah kamu lanjutin lagi aja makannya, engga aku gangguin”ucap Seungyoun sambil mengusak rambut Sejin.

Potongan permen kapan terakhir sudah berada di mulut Sejin dan tanpa komando, Seungyoun menggigit permen kapan yang berada di mulut Sejin. Seungyoun mengedipkan sebelah matanya.

Sejin menaikan sebelah bibirnya dan memajukan bibirnya hingga bertemu dengan bibir Seungyoun. Seungyoun membeku karena ulah mendadak kekasihnya tersebut.

Seungyoun tersenyum karena kecupan singkat Sejin tersebut. Sejin melirik ke arah lain karena malu atas sikap tidak terduga yang baru saja ia lakukan.

Seungyoun pun menarik dagu Sejin dan kembali mempertemukan bibir mereka. Sejin semakin menggenggam erat tangan Seungyoun yang berada di sakunya ketika Seungyoun mulai melumat bibirnya.

Sejin sedikit membuka bibirnya yang dijadikan Seungyoun sebagai lampu hijau untuk mengeksplorasi bibir Sejin. Seungyoun dan Sejin larut dalam ciuman mereka,tanpa memperdulikan bahwa mereka masih berada ditengah keramaian.

Seungyoun dan Sejin melepaskan ciuma mereka ketika kembang api mulai bermunculan di langit malam itu. Sejin tersenyum dan melihat ke langit, tetapi tidak dengan Seungyoun. Seungyoun memilih menatap wajah Sejin yang memunculkan semburat merah.

“Bagus ya Youn?“ucap Sejin dengan tatapan masih fokus ke arah langit.

“Iya banget”ucap Seungyoun masih menatap Sejin tanpa diketahui Sejin.

©️xposhie.