Penjelasan Seungyoun.
Hai! Kalian mungkin tau apa yang sedang terjadi antara saya dan Dek Sejin. Jujur, hari ini sudah seminggu Dek Sejin tidak pulang ke apartment saya. Sebutlah saya pengecut atau apapun yang kalian suka, tapi saya punya alasan dibalik semua yang terjadi. Saya akui, ini bukan seratus persen kesalahan Dek Sejin juga bukan kesalahan saya, jika kalian ingin menyalahkan saya, kalian salah.
Jika kembali ke belakang, saat dimana kejadian tersebut bermula. Seperti biasa, Dek Sejin selalu meminta izin kepada saya untuk apapun yang akan dilakukan, termaksud bertemu dengan teman-teman lamanya. Saya mengizinkan, bahkan saya menawarkan agar saya bisa menjemputnya, tetapi Dek Sejin menolak.
Sore itu saya tidak curiga. Mungkin memang Dek Sejin ingin pulang menggunakan moda transportasi taksi. Saya yang kebetulan sore itu mendapat kesempatan pulang lebih awal, akhirnya pulang ke apartment dengan perasaan bahagia. Sebuah berita yang sangat saya tunggu selama ini, keputusannya sudah saya dapatkan.
Saya sudah memikirkan semua di dalam benak saya. Malam itu, saya akan memberikan kejutan untuk Dek Sejin dengan berita gembira ketika Dek Sejin menceritakan pertemuannya dengan teman-teman lamanya. Tetapi apa yang saya fikirkan semuanya hilang ketika saya melihat Dek Sejin diantar oleh seorang pria.
Tidak mungkin kan supir taksi mengantar penumpangnya hingga masuk ke dalam apartment? Jelas, pria itu bukan security apartment karena saya mengenal baik penjaga keamanan di apartment ini. Lelaki tersebut menggendong Dodo dengan Dek Sejin yang berjalan di depannya membawa beberapa barang yang mungkin baru saja ia beli.
Dek Sejin kaget dan terkejut, melihat saya sudah sampai di apartment. Saya tau saya salah, karena saya tidak mendengarkan penjelasan Dek Sejin. Tetapi saya juga kecewa ketika Dek Sejin tidak memberitahu saya, jika ia pulang diantar oleh lelaki lain yang saya tidak kenal itu.
Malam itu, saya memilih mengabaikan Dek Sejin dan berdiam di dalam ruang kerja saya. Saya berusaha mendinginkan isi kepala saya. Mengeluarkan semua fikiran buruk saya tentang Dek Sejin dan pria tadi. Keesokan harinya, suasana apartment masih dingin dan hening, tidak ada ucapan selamat pagi, kecupan pelan di bibir maupun kening.
Keadaan tersebut berlangsung selama tiga hari. Saya yang saat itu sedang sibuk mengurusi beberapa dokumen, lupa jika ada jadwal imunisasi Dodo dan saya mengabaikannya. Malam itu, amarah saya dan Dek Sejin pecah. Saya tau kami sama-sama lelah dengan apa yang kami kerjakan. Tapi saya tidak tau jika Dek Sejin keesokan harinya memilih pulang kerumah ibu.
Beberapa hari saya pulang dengan apartment gelap, sama seperti ketika saya belum berkeluarga. Saya semakin disibukan dengan beberapa dokumen guna memenuhi kebutuhan saya untuk mendapatkan jabatan baru dikantor. Ini adalah kejutan yang sebenarnya ingin saya bicarakan tempo hari dengan Dek Sejin.
“Woahhh selamat!!! Setelah kerja keras bagai kuda sampai pas nikah engga dapet cuti! Akhirnya bisa merasakan kursi panas”
Ucapan selamat hari itu saya terima dari beberapa rekan kerja yang mengenal saya.
“Engga ada perayaan nih boss?”
Saya tersenyum mendengar ucapan salah satu rekan kerja saya dan saya menyetujui ajakan mereka. Disinilah saya sekarang, bersama beberapa teman saya dan tanpa izin Dek Sejin terlebih dahulu. Saya dan teman-teman saya melakukan kebiasaan persis seperti saat saya masih lajang.
Entah sudah berapa botol alkohol yang saya konsumsi malam ini, saya tidak tau. Saya juga tidak ingat, mengapa saya bisa melakukan panggilan ke nomer ponsel Dek Sejin dan mendengar Dek Sejin menangis dari sebrang telfon.
xposhie