Perawat.
Sejin menatap jam yang berada tepat di hadapannya, jam menunjukan pukul 11 malam kurang 12 menit. Di dalam ruang Instalasi Gawat Darurat tersebut beberapa perawat sedang berjalan kesana kemari untuk sekedar memeriksa pasien atau memberikan obat dan ada juga seorang dokter yang sedang memeriksa pasien yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
“Tolong... seseorang tolong aku....“Sejin menoleh ke pintu Instalasi Gawat Darurat yang terbuka tiba-tiba.
Sejin mengernyitkan keningnya ketika melihat seorang pria yang sedang kesakitan memegang kepalanya dengan darah yang mengalir di sela-sela jari tangannya. Sejin dengan sigap mengampiri lelaki tersebut dan membawanya ke salah satu ranjang kosong di ruangan tersebut.
“Apa yang terjadi?”
“Luka akibat pukulan benda tajam, sepertinya memerlukan beberapa jahitan”ucap Sejin kepada dokter yang baru saja tiba.
“Kau bisa melakukannya kan?“tanya dokter tersebut dan Sejin mengangguk.
Sejin pun mulai melakukan pertolongan pertama kepada pasien yang belum ia ketahui namanya tersebut. Pasien yang tidak ia ketahui mengapa bisa terluka seperti ini.
“Namaku Seungyoun, jika kau ingin tau”ucap pria tersebut tiba-tiba sambil sesekali mengaduh karena efek obat bius yang tidak bekerja dengan baik.
“Aku bekerja di cafe di sebrang rumah sakit ini. Tadi ada sekumpulan pria mabuk dan ya terjadi sedikit cekcok hingga salah satu dari mereka melemparkan botol kosong ke kepalaku”ucap Seungyoun lagi.
Sejin melirik sekilas. Kantung mata hitam tercetak jelas pada pasien yang sedang ia tangani.
“Istirahatlah dahulu hingga cairan infusmu habis”Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sejin pun merapihkan beberapa alat di hadapannya dan menyelimuti pasien yang sudah tertidur nyaman di ranjang rumah sakit tersebut.
Sejin melipat baju dinasnya dan bersiap untuk pulang ketika jam menunjukan pukul 7 lewat 38 menit. Sejin menyapa beberapa dokter, perawat dan pasien saat berjalan ke rumah sakit.
“Hai!“Sejin menoleh ketika seseorang sepertinya menyapanya.
Sejin menatap orang di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kepala yang dibalut perban dengan rambut acak-acakan, jaket kulit hitam dan kaos hitam dengan beberapa bercak darah serta jeans hitam yang robek di beberapa sisi.
“Seungyoun, pasien dengan luka robek di kepala”ucap Seungyoun tersenyum.
“Semalam saat terbangun, aku tidak bisa menemukanmu padahal aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu”ucap Seungyoun lagi.
“Aku menangani beberapa pasien dan tidak hanya duduk di IGD semalaman” ucap Sejin dan Seungyoun mengangguk.
Sejin kembali manatap tepat ke arah mata Seungyoun, mata yang kelelahan dan kurang tidur.
“Sudah berapa lama kau tidak tidur nyenyak di malam hari?“ucap Sejin menebak.
“Waow! Kau sepertinya bukan perawat, tapi cenayang?“ucap Seungyoun bercanda yang membuat Sejin malas lalu meninggalkan Seungyoun begitu saja.
“Hei, maaf! Aku hanya bercanda”ucap Seungyoun lagi.
“Jika kau kesulitan tidur di malam hari, cobalah ke dokter dan jangan anggap remeh hal itu”ucap Sejin lagi.
“Baik, terimakasih.....“ucapan Seungyoun terputus.
“Sejin, namaku Lee Sejin”ucap Sejin tersenyum.
“Sejin, ada yang mencarimu”ucap seorang rekan Sejin ketika Sejin sedang merapihkan beberapa obat. Sejin pun menghampiri orang yang mencarinya.
“Ah benar! Hari ini kau shift siang dan bukan malam?“Sejin menatap pria dihdapannya dengan tatapan bingung.
“Aku tidak sengaja memecahkan gelas dan sepertinya ada serpihan kaca di jariku”Sejin menghela nafasnya kasar ketika mendengar alasan orang di hadapanya.
“Kepalamu, apakah perban di kepalamu sudah diganti?“tanya Sejin ketika sednag berusaha mengeluarkan kaca dari jari pria di hadapannya.
“Ah, aku harus menggantinya? Aku kira aku hanya harus menunggu lukaku kering saja”
“Lukamu tidak akan kering dan tidak akan sembuh jika kamu tidak mengganti perbanmu secara berkala”
Setelah selesai mengobati jari pria yang ternyata adalah Seungyoun itu, Sejin mulai mengganti perban di kepala Seungyoun.
“Aku menyesal memberitahu namaku kepadamu”ujar Sejin malas.
“Ada yang luka lagi?“Sejin menatap Seungyoun yang masuk tiba-tiba ke ruang IGD tepat lima belas menit sebelum shift sejin berakhir.
“Hehe tidak ada! Aku tidak memecahkan gelas, aku juga tidak bertengkar dengan orang mabuk. Tapi aku lupa mengganti perbanku”ucap Seungyoun menunjuk perban di kepalanya. Sejin hanya dapat menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya mengganti perban kepala milik Seungyoun.
“Oke selesai! Lukamu sudah kering seutuhnya, dan jika kamu ingin keramas sepertinya besok kamu sudah bisa mencuci rambutmu”ucap Sejin sambil merapihkan beberapa alat rumah sakit yang ia gunakan.
Seungyoun menghela nafas berat.
“Kenapa? Kau masih sulit tidur akhir-akhir ini? Mau aku buatkan jadwal bertemu dengan dokter untuk mengatasi masalahmu itu?“tanya Sejin dan Seungyoun menggeleng.
“Berarti, hari ini hari terakhir kita bertemu? Lukaku sudah kering, aku tidak ada alasan lagi kesini setiap hari”ucap Seungyoun sedih.
“Aku juga sudah kehabisa ide, bagaimana melukai diriku lagi”ucap Seungyoun tersenyum dan Sejin menatap Seungyoun kaget.
“Jadi... selama ini?“tanya Sejin dan Seungyoun mengangguk.
“Aku sengaja, biar bisa bertemu dengamu. Beberapa kali aku salah menghafal jadwalmu dan berakhir lukaku dibersihkan oleh orang lain”ucap Seungyoun malas yang berhasil membuat Sejin tersenyum.
Sejin pun pergi meninggalkan Seungyoun sebentar sebelum akhirnya kembali dan menyerahkan secarik kertas ke arah Seungyoun.
“Jika kau butuh perawatan atau sekedar konsultasi dengan perawat Lee Sejin”ucap Sejin sebelum meninggalkan Seungyoun dan Seungyoun tersenyum cerah.
“Tidak perlu melukai dirimu lagi dan tidak perlu menebak-nebak jadwal shiftku”ucap Sejin menoleh ke arah Seungyoun sebelum benar-benar hilang masuk ke dalam sebuah ruangan.
(xposhie)