Rencana.

Seongjun dan Hangyul mengetuk pintu apartment Wooseok secara tidak sabaran. Saat dijalan, Seongjun sudah mendengar cerita dari Hangyul.

“Ka.... anj—–”

Seongjun hampir saja mengumpat, ketika melihat penampakan Wooseok dihadapannya. Dengan kemeja besar milik Seungwoo dan rambut berantakan serta beberapa tanda kemerahan di lehernya.

“Masuk buruan”

Seongjun dan Hangyul yang berdiri di depan apartment Wooseok berjalan mengikuti Wooseok. “Siang-siang banget lo ka mainnya?“tanya Seongjun penasaran.

“Bawel. Pada mau minum apa? Trus kesini mau ngapain?”

Hangyul pun menceritakan semuanya. Samuel yang belum berubaj menjadi Sihoon serta Samuel yang akan bertemu dengan Seonho nanti malam. Wooseok memijat pelipisnya, pusing.

“Bentar, aku bangunin Seungwoo dulu”

Lima belas menit kemudian, Seungwoo keluar kamar Wooseok dengan langkah berat. “Gimana?“tanya Seungwoo.

Hangyul menarik nafas panjang, lalu menceritakan ulang apa yang telah diceritakannya kepada Seongjun dan Wooseok.

“Kayanya peran lo sekarang makin besar, Gyul. Lo kenal Samuel, kenal Sihoon dan kenal Seonho juga. Lo harus ada disekitar mereka terus”ucap Seungwoo.

“Termaksud nanti malam?“tanya Hangyul dan Seungwoo mengangguk.

“Memastikan semua baik-baik saja. Memastikan Seonho tidak mengungkit masalah Sihoon dihadapan Samuel atau sebaliknya”ucap Seungwoo dan Hangyul mengangguk.

“Kalian mau sarapan dulu?“tanya Seungwoo dan Hangyul menggeleng.

“Aku sudah sarapn di rumah Samuel tadi”ucap Hangyul.

Seongjun dan Hangyul pun berpamitan untuk kembali pulang.

“Kalo main jangan ninggalin tanda”ucap Seongjun kearah Wooseok yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Sialan kau Hong Seongjun!“Wooseok melempar handuknya yang berhasil ditangkap Seungwoo.

Seungwoo tertawa melihat ulah Wooseok dan bergantian mengeringkan rambut basah Wooseok.