Tempat Mama-Papa.


D-3 to Wedding Day

Jinhyuk masuk ke dalam apartmentnya dengan langkah cepat. Seungwoo, Seungyoun, Byungchan serta Sejin sudah menunggu Jinhyuk dengan wajah tegang dan panik.

“Jangan gegabah, Hyuk”Seungwoo adalah orang pertama yang berani menahan pergerakan Jinhyuk.

“Engga bang, gue yakin. Wooseok ada disana”ucap Jinhyuk bergetar.

“Gue baca buku catatan Wooseok dimana dia selalu nulis keinginan-keinginan dia. Banyak keinginan dia yang belum tercapai, tapi gue yakin dia ada disana”ucap Jinhyuk lagi. Jinhyuk pun masuk ke dalam kamarnya diikuti keempat temannya.

“Lo mau naik apa kesana?“tanya Seungyoun.

“KTX”ucap Jinhyuk sambil merapihkan barang bawaan yang akan dibawanya ke Daejeon.

“Kita anter”ucap Seungwoo yang disetujui ketiga lelaki dewasa lainnya sedangkan Jinhyuk hanya dapat pasrah dan menyetujuinya.

Jinhyuk sibuk menggigit kukunya. Kakinya juga tidak bisa diam, membuat Seungwoo yang duduk di kursi pengemudi harus beberapa kali memperingatkan Jinhyuk untuk diam.

“Kenapa lo bisa yakin kalo Wooseok balik ke Daejeon?“tanya Seungyoun mendistraksi JInhyuk.

“Wooseok pernah bilang ke gue, dia mau ngunjungin orang tuanya setidaknya sebelum kita nikah”ucap Jinhyuk pelan.

“Kita? Itu maksudnya Wooseok sama lo kan? Berarti masih ada kemungkinan Wooseok engga ada disana?“pertanyaan Byungchan berhasil membuat Jinhyuk menoleh.

“Sorry... Gue hanya berandai-andai. Karena kita engga punya satupun petunjuk dari Wooseok kecali buku catatan Wooseok”ucap Byungchan menjelaskan.

“Di buku catatan Wooseok juga ketulis jelas, kalo keinginannya yang belum kecapai ada lebih dari lima belas point”ucap Sejin menambahkan.

“Wooseok itu engga tau siapa orang tua kandung dia. Wooseok itu sayang banget sama orang tua angkatnya. Bahkan Wooseok sempat bersikeras biar pemakaman orang tuanya tetep dilakuin di Seoul dan bukan Daejeon”ucap Jinhyuk menjelaskan.

“Gue yakin dia kesana....“ucap Jinhyuk menahan tangis.

“Tapi sendirian, Hyuk”ucap Seungwoo mengingatkan.

“Setidaknya gue harus berusaha, bang! Gue engga mungkin nungguin informasi polisi atau cuma ngandelin kita berlima aja”Jinhyuk mulai tersulut emosi.

Suasana hening menyelimuti hampir setengah perjalanan mereka.


“Hallo bi?“Jinhyuk menerima sebuah panggilan telfon saat dirinya baru saja tiba di stasiun KTX.

“Jinhyuk, bagaimana persiapan pernikahanmu? Semua lancar kan? Bibi tidak bisa menghubungi Wooseok sejak kemarin. Kalian baik-baik saja kan?”

Jinhyuk lemas. Adik dari ibu angkat Wooseok menanyakan hal tentang Wooseok, hal itu menandakan bahwa Wooseok tidak ada di Daejeon. Jinhyuk kembali terduduk lemas dengan ponsel yang masih tersambung.

“Hallo bi? Saya Byungchan, teman Jinhyuk. Iya bi, semua baik-baik saja. Jinhyuk baru saja dipanggil oleh pihak Wedding Organizer jadi telfonnya diserahkan kepada saya”ucap Byungchan berbohong.

“Iya baik bi”ucap Byungchan sebelum memutuskan sambungan telfon tersebut.

Byungchan menatap ke arah Seungwoo, Seungyoun dan Sejin secara bergantian. Jinhyuk masih terduduk dengan sesekali menarik pelan rambutnya yang bentuknya sudah tidak karuan.

“Ayok kita pulang, Hyuk. Kita cari Wooseok besok lagi”ucap Seungyoun yang berusaha menarik Jinhyuk agar berdiri.

Jinhyuk berjalan lemas dengan bantuan Seungyoun sebagai penahan berat badannya.

“Gue pusing.... Wooseok engga mau nikah sama gue kali ya?“ucap Jinhyuk pelan.

“Jangan pernah ngomong gitu, lo tau kan kalo Wooseok paling semangat ngurusin semuanya sendirian?“ucap Byungchan menanggapi.

Suasana sunyi menyelimuti perjalanan kelima lelaki dewasa tersebut. Tidak ada satupun orang yang memulai pembicaraan. Jinhyuk yang terlalu lelah akhirnya jatuh tertidur dikursi penumpang.

Wooseok tidak pernah mengkhianati janjinya. Jika ia berjanji akan pergi bersama Jinhyuk, ia pasti akan menepatinya

[Kalian belum dapat menemukan Wooseok. Tetapi kalian masih memiliki kesempatan untuk menemukan Wooseok]

Lanjutkan