The Secret.


Sejin melangkahkan kakinya malas ke arah sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir disalah satu sudut parkiran apartmentnya *(ralat: apartmentnya dan Seungyoun).

“Yaelah baru ditinggal beberapa jam, udah loyo aja?“ucap sebuah suara dari balik kemudi.

“Bukan gara-gara itu! Lo kenapa sih parkir jauh amat? Padahal parkiran kosong?“ucap Sejin malas.

“Ya... Engga apa-apa? Gue ngeri nanti tetangga lo ada yang liat, dilaporin lo ke Seungyoun!“ucap pria tersebut lagi.

“Lah emang kita mau ngapain? Kenapa harus takut dilaporin Seungyoun?“ucap Sejin menatap seseorang disebelahnya.

“Lo kali ya yang takut ketauan Byungchan? Cowok lo lagi ke rumah orang tua, malah lo jalan sama cowo lain!“ucap Sejin, ketika tidak ada suara yang keluar dari mulut Seungwoo.

“Santai sih gue...“ucap Seungwoo sebelum mulai melajukan mobilnya.

“Udah makan?“tanya Seungwoo dan Sejin menggeleng.

“Yaudah kita makan dulu aja kali ya?“ucap Seungwoo lagi dan Sejin mengangguk setuju.


“Mau balik lo?“tanya Seungwoo ketika dia dan Sejin sudah kembali ke mobil setelah menyantap makan malam mereka.

“Males sih gue, baru setengah 10 juga. Apartment sepi anjir engga ada tukang ribut kayak Seungyoun”ucap Sejin lagi.

“Tempat biasa mau?“ajak Seungwoo dan Sejin sempat menatap beberapa saat ke arah Seungwoo sebelum mengiyakan ajakan Seungwoo.

Tidak memperdulikan penglihatan orang disekitar mereka, Seungwoo dan Sejin menggerakan tubuh mereka sesuai irama lagu yang diputar di Club tersebut. Beberapa orang sudah mengetahui perihal Seungwoo maupun Sejin, siapa mereka berdua bahkan siapa kekasih mereka masing-masing.

“Udah yuk! Lo udah mabok”ucap Seungwoo dengan suara yang nyaris tertelan dentuman musik yang berputar. Sejin menggeleng.

“Aku masih sadar kok, Younnnn”ucap Sejin yang tetap lincah menggerakan tubuh kecilnya.

“Gue Seungwoo bukan Seungyoun! Lo beneran mabok deh kayanya”ucap Seungwoo menarik pelan tangan Sejin.

“Seungwoo? Kok gue sama lo? Hm....?“ucap Sejin menghentikan langkahnya dan membuat Seungwoo yang berjalan di depannya juga menghentikan langkahnya.

“Iya, kan tadi kita pergi bareng. Lo lupa?'tanya Seungwoo sambil berjalan menghampiri Sejin.

“Woo... Lo jahat! Kan lo udah punya Byungchan, kenapa lo jalan sama gue?“ucap Sejin sambil membuat pola abstrak di kemeja Seungwoo dengan jari-jemarinya.

“Udah yuk... pulang?“ucap Seungwoo pelan dan lembut yang membuat Sejin menatap kearah Seungwoo dengan tatapan sayu.

“Engga mau pulang!“rengekan Sejin membuat Seungwoo terkejut.

“Yaudah iya engga pulang, trus mau lanjut?“tanya Seungwoo sambil mengusap pelan pipi Sejin yang mulai kemerahan. Sejin mengangguk antusias dan kembali menarik Seungwoo ke tengah club yang maish ramai itu.


Seungwoo meraba dinding yang berada di belakang Sejin, mencari gagang pintu kamar yang sedang mereka tuju. Kedua tangan Sejin mengalung di leher Seungwoo, entah sudah berapa lama bibir mereka saling mengecap satu sama lain. Bahkan Sejin sudah berada di gendongan Seungwoo dengan kedua kaki melingkar di pinggang Seungwoo.

Klek

Seungwoo berhasil membuka pintu kamar yang sudah ia pesan terlebih dahulu tadi. Tangan Seungwoo yang bebas mulai bergerilya ke punggung kecil Sejin yang berada dalam gendongannya. Sejin beberapa mengeluarkan suara erangan, karena perbuatan kurang ajar Seungwoo.

“Woo... Jangan!!!“ucap Sejin pelan sambil menyingkirkan tangan Seungwoo dari bagian belakang tubuhnya, Seungwoo terkekeh mendengar Sejin merajuk seperti itu.

Seungwoo sudah berhasil menutup dan mengunci pintu kamar tersebut. Kali ini kedua tangannya kembali bergerilya dipunggung Sejin, bahkan Seungwoo sudah berani memasukan jari panjangnya ke dalam kemeja Sejin yang sudah semakin berantakan.

“Kamu engga pegel... hhhggghh, woo?“tanya Sejin yang sesekali menjambak pelan rambut Seungwoo, menyalurkan nikmat karena perbuatan lidah Seungwoo di sepanjang leher putihnya. Seungwoo menggeleng menjawab pertanyaan Sejin.

Sejin mulai menyeimbangi kinerja tangan Seungwoo dengan mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang digunakan Seungwoo dan melemparkan kemeja tersebut ketika seluruh kancingnya telah terbuka. Sejin kemudian membuka satu persatu kancing kemejanya sendiri, karena tangan Seungwoo yang masih saja sibuk mengusap punggungnya.

“Engga sabar ya, hm?“ucap Seungwoo yang mendudukan tubuh Sejin di meja sebelah tivi. Sejin menunduk malu karena ucapan Seungwoo tersebut.

Seungwoo mengangkat dagu Sejin agar menatapnya. Keadaan mereka sudah sama-sama berantakan tanpa ada kemeja yang menyelimuti tubuh bagian atas mereka. Sejin dan Seungwoo beradu tatap sebelumnya akhirnya Seungwoo menarik wajah Sejin mendekar dan kembali menyatukan bibir mereka berdua.

Gerakan Seungwoo menuntut, bahkan lebih menuntut dari saat mereka baru saja memasuki kamar tersebut. Tangan Seungwoo bergerak tidak sabaran, untuk membuka ikat pinggang serta celana yang menganggunya. Sejin tertawa dalam ciuman tersebut, tertawa melihat betapa buruknya kinerja kerja Seungwoo saat ini.

Sejin menyingkirkan tangan Seungwoo dan meletakannya tepat diatas kejantanan Sejin yang maish tertutup celana. Seungwoo tau maksud Sejin dan sekarang Seungwoo sudah mulai mengusap benda lunak tersebut. Sedangkan Sejin dengan tenang membuka ikat pinggang serta celana Seungwoo, menyisakan boxer yang memperlihatkan dengan jelas sebuah benda yang sudah mencoba ingin dilepaskan.

“Kasur... please”ucap Sejin yang kembali mengalungkan kakinya di pinggang Seungwoo. Seungwoo dengan cekatan mengangkat tubuh Sejin dan melemparkan tubuh kecil tersebut secara pelan keatas kasur yang sebentar lagi akan mulai tidak berbentuk tersebut.

Seungwoo dan Sejin memutus kontak mereka. Nafas mereka terengah. Dada mereka naik turun. Keringat memang belum mengucur deras, tapi mereka tau jika beberapa menit kedepan, hawa panas akan menyelimuti kamar tersebut. Kedua manik mata Seungwoo tetap menatap ke arah dua manik mata Sejin yang sayu, tetapi kedua tangan Seungwoo mulai melucuti celana panjang Sejin yang masih Sejin gunakan.

Helaian terakhir ditubuh Sejin sudah dilemparkan Seungwoo kelantai, membuat Sejin merapatkan pahanya, malu. Seungwoo tersenyum dan mulai mengusap kaki Sejin hingga mengerah kebagian dalam paha pemuda yang lebih kecil darinya itu.

“Kan gue udah pernah liat?“ucapan Seungwoo menambah rona mereah di wajah Sejin. Seungwoo benar-benar penggoda yang ulung.

Seungwoo mulai mengusap benda lunak tersebut. Membuatnya semakin lama semakin tegak dan membuat Sejin tidak bisa diam tenang. Sejin mengigit bibirnya, menahan desahan. “Jangan digigit”ucap Seungwoo. Tangan Seungwoo mengusap bibir Sejin dan mulai melumatnya sedangkan dibawah sana, kejantanan mereka berdua saling bergesakan.

Sejin melepas tautan bibir keduanya lalu mengalungkan tangannya dileher Seungwoo ketika ia hampir mencapai pelepasannya. Seungwoo, benar-benar penggoda ulung. Seungwoo menghentikan gerakan pinggangany dan menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Sejin. Sejin menatap bingung kearah Seungwoo yang sekarang sudah berdiri dan berjalan ke sebuah laci di dekat tivi.

“Gue tau, setiap kamar disini pasti nyimpennya disini”ucap Seungwoo sambil mengeluarkan dua buah benda yang sudah ia ketahui fungsinya. Seungwoo kembali ke kasur dan merangkak mendekati Sejin. Gerakan slow motion Seungwoo, benar-benar membuat jantung Sejin bergerak tidak karuan.

Seungwoo mengocok sebuah botol di genggamannya sebelum mengeluarkan isinya dan melumurinya ditelapak tangannya. Sejin mulai memejamkan matanya ketika jari panjang Seungwoo mulai mencoba masuk ke dalam lubang kemerahannya.

“hghhh... ah... Woo....“desahan pertama Sejin membuat Seungwoo tersenyum dan mulai melanjutkan aksinya dengan jari-jarinya. Sejin pusing. Seungyoun tidak pernah membuatnya gila seperti ini. Jika dengan Seungyoun, biasanya Sejin yang banyak melakukan foreplay karena Seungyoun tidak suka membuang-buang waktu.

“Woo... Enghh... Engga... Kuaahghtt....“ucap Sejin merengek. Lagi. Seungwoo kembali menggoda, ia mengeluarkan jarinya tepat sebelum Sejin sampai pada klimaksnya. Sejin menatap Seungwoo sayu. Dia lelah. Tapi dia belum sampai.

Seungwoo menurunkan boxer yang masih ia gunakan sebatas lutut dan membuka foil dengan giginya sebelum memasangkannya di kebangganannya. Seungwoo juga tidak lupa membaluri cairan yang maish tersisa di telapak tangannya. Seungwoo puas dengan persiapannya.

Seungwoo yang masih duduk dengan kedua kaki terlipat disamping itu menarik pelan kaki Sejin yang terlipat. Seungwoo memposisikan dirinya tepat di depan lubang berkedut Sejin. Sejin kembali memejamkan matanya ketika ia merasa sesuatu yang besar mulai memasukinya.

“Ah.....“ucap Seungwoo setengah berteriak.

Seungwoo diam hingga membuat Sejin kembali membuka matanya. Seungwoo tersenyum dan menurunkan tubuhnya hingga bersentuhan dengan Sejin tanpa melepaskan tautan keduanya.

“Jangan merem dong, masa lo engga liat gue pas main?“ucap Seungwoo sambil mendaratkan kecupan di seluruh wajah Sejin. Sejin tertawa geli. Tetapi tawanya lenyap ketika Seungwoo tanpa aba-aba menggerakan persatuan mereka dibawah sana.

Sejin menatap Seungwoo lekat dan begitu sebaliknya. Seungwoo merapihkan rambut Sejin yang menjuntai di wajah Sejin dan Sejin mengusap pipi Seungwoo lembut sebelum mendaratkan bibirnya dengan bibir Seungwoo.

Pergerakan Seungwoo semakin gila. Sejin menarik tubuh Seungwoo mendekat. Tangannya kembali ia kalungkang dileher Seungwoo, dan kakinya melingkar di pinggang Seungwoo. Sejin mendesah, Seungwoo mengerang. Mereka tidak perlu dengan suara yang mereka hasilkan, karena mereka sedang bersama-sama mencari kenikmatan.

Tidak perlu waktu lama untuk Sejin memuntahkan pelepasannya. Seungwoo tersenyum bangga. Seungwoo menggendong tubuh Sejin dan kembali berjalan mendekati meja televisi di dekat mereka. Seungwoo mendudukan Sejin di meja tersebut. Seungwoo menekuk kaki Sejin dan merapatkannya dengan dadanya. Sejin kembali mendesah. Titik kenikmatan Sejin beberapa kali tepat ditumbuh oleh Seungwoo. Sejin lemas, tetapi Seungwoo belum sampai pelepasannya.

Beberapa tumbukan dan akhirnya Seungwoo sampai pada pelepasannya. Seungwoo lemas. Kepalanya ia sandrakan di bahu sempit Sejin. Sejin tertawa renyah dan mengusap puncak kepala Seungwoo.

“Tidur yuk?“ucap Sejin pelan. Seungwoo mengangkat kepalanya dan menatap Sejin lekat. Seungwoo menarik pelan kebanggannya dan membuka benda karet yang penuh cairan pelepasannya. Sejin masih duduk diatas meja tersebut, menunggu Seungwoo kembali menggendongnya.

Seungwoo tersenyum dan kemudian mendekat kearah Sejin, tentunya setelah membuang benda karet yang tadi membungkus kejantannya. “Sekali lagi ya?“ucap Seungwoo menggoda sebelum mengangkat Sejin dan membawah ke sebuah sofa yang terletak di dekat jendela.

(xposhie)