#Travelove.

Credit prompt: @clowningweeb Genre: fluff (?) Note: I'm not good at writing fluff. But, i'll try! Enjoy reading loves ^^ [No side pairing]


“Ah sial gue kesiangan!”

Byungchan, lelaki berusia dua puluh dua tahun dengan tinggi seratus delapan puluh enam -mungkin lebih. centimeter itu terlonjak dari kasur tipis yang berada di kamar kosnya yang jauh dari kata rapih. Setelah tersangkut selimut, menginjak sampah bekas makanan ringan hingga tersandung tas ransel jumbonya, akhirnya Byungchan berhasil dengan selamat sampai ke kamar mandi yang letaknya hanya lima langkah dari tempat tidurnya.

“Oke Byungchan! Lo mandi setelah sampe di hotel aja ya? Lo ganteng! Engga usah mandi, orang engga akan tau. Oke siap! Gue Cuma butuh sikat gigi sama cuci muka aja”

Byungchan sangat hobi bermonolog dengan dirinya sendiri. Bahkan dengan waktu yang terbilang singkat ini, Byungchan masih sempat bermonolog di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, hanya menghabiskan waktu tiga menit lebih dua puluh tiga detik, akhirnya Byungchan sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi.

Byungchan keluar dari kamar mandi, lagi, kakinya tanpa sengaja menendang kaki meja yang terletak tidak jauh dari pintu kamar mandi, “Ah gila, apa gue engga bisa lebih sial dari ini?”Byungchan mengaduh sambil berjalan terpincang karena jujur, rasa kelingking yang tidak sengaja menendang kaki meja itu jauh lebih sakit dibanding yang orang gambarkan dan bermunculan di home twitter.

Handphone, Charger, Powerbank, Dompet. Apalagi, ayok Byungchan ingat barang yang harus lo bawa atau lo akan kesusahan selama seminggu ke depan”Byungchan berjalan tidak teratur di kamar kosnya. Mengambil handphone yang jatuh ke bawah tempat tidur, charger yang bahkan kabelnya sudah sedikit terkelupas, powerbank yang bahkan belum sempat diisi daya oleh Byungchan.

Setelah semua dirasa cukup, Byungchan pun mengangkat ransel yang sudah ia persiapkan selama seminggu. “Hello Byungchan, ini lo mau perang atau mau liburan? Gue bawa apaan sih berat banget”Byungchan sedikit kesusahan mengangkat dan membawa ransel yang akan menemani hari-harinya di negara orang.

Backpacker with low budget adalah bentuk liburan yang Byungchan pilih untuk mengisi waktu liburnya. Bermodalkan review beberapa travel blogger dari saluran youtube, Byungchan memilih Inggris sebagai destinasi liburannya.

Apa yang Byungchan tau mengenai negara Inggris? Harry Potter, One Direction serta David Beckham adalah hal-hal yang berhubungan dengan negara Inggris yang Byungchan ketahui. Byungchan bahkan sebenarnya tidak tahu, jika beberapa personel One Direction bukanlah penduduk asli Inggris.

Byungchan hanya memerlukan waktu setidaknya empat puluh limat menit, tidak kurang dan tidak lebih untuk sampai ke bandara. Sebenarnya Byungchan memang tidak boleh tiba di bandara lebih dari empat puluh lima menit, karena jika lebih dari empat puluh lima menit maka Byungchan harus merelakan liburannya batal karena kebodohannya.

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit waktu Seoul, ketika pesawat yang ditumpangi Byungchan sudah lepas landas. Kelas Ekonomi adalah pilihan Byungchan dalam menyukseskan backpacker with low bugdet kali ini. Setidaknya dalam waktu dua belas jam lebih tiga puluh menit, Byungchan harus rela kaki panjangnya terlipat dan berbenturan dengan kursi penumpang di depannya.

Setelah berjibaku menahan pegal karena ruang geraknya yang minim, akhirnya Byungchan sampai di Inggris, tepatnya kota London. Puluhan koper, tas bahkan ransel sudah melewati Byungchan saat Byungchan sedang menunggu ransel besarnya, tapi sampai keadaan kosong dan semakin sedikit tas yang terlihat, Byungchan masih belum menemukan keberadaan ranselnya. Byungchan pun mulai panik, dengan wajah panik Byungchan pergi dari tempat ia berdiri selama kurang lebih tiga puluh menit, mencari keberadaan petugas yang sekiranya dapat membantunya keluar dari masalahnya tersebut. Masalah pertama yang Byungchan hadapi di negara orang.

Berbekal bahasa Inggris seadanya, Byungchan mendekati seorang wanita berpakaian serba hitam yang tersenyum ramah ketika Byungchan jalan mendekat. Byungchan menceritakan masalahnya dibantu dengan beberapa bahasa tubuh yang benar-benar memudahkannya berkomunikasi.

“Maaf atas ketidak-nyamanan-nya, mohon untuk menunggu”Itu adalah sepenggal kalimat yang di mengerti Byungchan dan disini lah Byungchan berada, di sebuah kafe yang berada di bandara guna menunggu ransel miliknya kembali.

“Oh My God! My lovely bag!!!!”Setelah menunggu lebih dari dua jam sambil menahan kantuk, akhirnya Byungchan dapat bertemu kembali dengan ransel miliknya. Bacpack yang akan menemani Byungchan selama di Inggris.

“Sekalian makan malem deh, biar sampe hotel gue bisa tidur”

Byungchan pun berjalan ke arah taksi yang berjajar rapih tepat di depan pintu keluar bandara. Byungchan sudah mempunyai list tempat yang akan ia kunjungi selama di Inggris sehingga ia tidak perlu susah-susah memikirkan ia harus kemana, kendaraan apa yang harus ia gunakan serta waktu tempuh yang ia perlukan. Semua hal tersebut sudah rapih tertulis pada peta ajaib yang berada di genggaman Byungchan.

Tepat pukul sepuluh malam waktu setempat akhirnya Byungchan sampai di hotel tempa ia menginap, “Baru sehari berasa udah seminggu, mamaaaa Byungchan mau pulang”Byungchan pun langsung merebahkan dirinya di kamar hotel sederhana yang sudah ia pesan jauh-jauh hari. Perjalanan yang Byungchan lalukan hari itu cukup melelahkan, berbagai macam drama sudah Byungchan rasakan. Jika drama yang Byungchan alami bisa masuk ke dalam nominasi piala oscar mungkin Byungchan akan mendapatkan piala penghargaan sebagai aktor terbaik.

“Oke Byungchan semangat! Baru hari pertama. Kita mandi besok aja ya”Byungchan menarik selimutnya setelah melempar asal waist bag yang ia gunakan ke sembarang arah.

●●●

Bermodalkan peta ditangannya, Byungchan berjalan menuju destinasi yang telah ia tentukan sebelumnya. Beberapa kali Byungchan bertanya dengan penduduk lokal, tapi karena keterbatasannya berbahasa inggris, Byungchan hanya dapat mengerti kurang dari setengah penjelasan yang dilontarkan penduduk lokal.

“Ini orang-orang kalo ngomong engga bisa keluar subtitle-nya apa ya? Gue kan kalo nonton Harry Potter selalu ada subtitle -nya”ucap Byungchan mengeluh.

Byungchan mentertawakan diri sendiri. Aksen penduduk asli Inggris sangat susah ia mengerti. Dulu Byungchan percaya pada kalimat “Because Teribble News Sounds Better in A Sexy British Accent”. Tapi ketika dirinya mendengarkan langsung, Byungchan tidak bisa sama sekali mengerti apa yang sedang mereka bicarakan -walaupun tetap terdengar sexy.

Setelah lelah berjalan ke berbagai tempat, akhirnya Byungchan mengistirahatkan dirinya di sebuah kafe pinggir jalan di pusat kota London. “One coffee, please?“ucap Byungchan. Dari tempatnya duduk, Byungchan dapat dengan jelas melihat hiruk pikuk Ibu kota Inggris, London. Byungchan tersenyum karena salah satu impian sudah menjadi nyata.

“Tumben hari ini gue baik-baik aja, engga sial kayak kemaren”ucap Byungchan tersenyum cerah. Karena beberapa hari lalu, perjalanan Byungchan dihiasi oleh berbagai macam drama, antara lain insiden terkuncinya Byungchan di kamar mandi hotel, kunci hotel yang tertinggal di dalam kamar, tersiram kopi panas karena seorang wanita yang jatuh tersangkut dress dan beberapa cerita lainnya.

Setelah mengistirahatkan dirinya sejenak, Byungchan lalu melanjutkan perjalanannya dan memilih trem sebagai transportasi pilihannya.

“Peta gue!!! Anjir emang manusia engga boleh takabur”Byungchan menatap trem yang baru saja ia naiki sudah menjauh pergi. Peta destinasi yang sudah Byungchan beri notes, tertinggal di trem tersebut.

“Emang sih, seorang Choi Byungchan engga mungkin kalo engga ceroboh”Byungchan mengerucutkan bibirnya dan berjalan lemas tak tentu arah.

“Hai! Can i help you?“Byungchan menoleh dan tersenyum cerah. Beberapa pemuda mendatanginya dan mengajaknya berbicara. Tanpa berfikiran aneh, Byungchan menanyakan transportasi yang dapat ia gunakan untuk sampai ke hotel tempat ia menginap.

“Yes, please”Byungchan tersenyum ketika pemuda tersebut bersedia mengantar Byungchan. Byungchan senang, karena ia tidak perlu pusing memikirkan bagaimana caranya bisa sampai ke hotel lagi.

“Thank you!!!”Byungchan melambaikan tangannya ke arah pemuda yang telah berbaik hati mengantarnya. Sekarang Byungchan hanya perlu menggunakan kereta bawah tanah untuk sampai di stasiun terdekat dari hotelnya.

“Engga lucu, beneran..... Choi Byungchan... Ayok inget terakhir kali lo make dompet lo!!!” Byungchan panik. Dompet yang biasa ia letakan di saku belakang celananya, sekarang sudah lenyap. Kartu kereta bawah tanah yang khusus ia gunakan selama berpergian serta beberapa uang cash yang Byungchan miliki juga ikut lenyap bersama dengan dompet tersebut.

Byungchan merutuki kebodohanya. Kebodohannya yang terlalu cepat mempercayai orang lain. Byungchan rasanya ingin menangis. Tapi Byungchan tau, menangis tidak dapat mengatasi masalahnya.

“Permisi....“Byungchan yang tertunduk lesu spontan mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria dengan poni menutupi kedua matanya serta masker yang menutupi hampir setengah wajahnya. Pria tersebut sudah berdiri di hadapannya.

“Korea?“tanya pria itu dan Byungchan mengangguk.

“Hallo! Saya juga orang Korea. Ada yang bisa saya bantu? Anda terlihat panik... Ada sesuatu yang terjadi?”

Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, Byungchan berjalan mundur menjauhi lelaki tersebut. Ia tidak bisa mempercayai orang lain lagi, walaupun orang tersebut berasal dari negaranya sendiri. Byungchan harus menambah tingkat kewaspadaannya.

Byungchan berjalan cepat menjauhi pria tersebut dan mendatangi ticket box yang berada tidak jauh dari dirinya. Byungchan gemetar, ia semakin takut. Ia takut jika pria misterius masih mengikutinya.

“Uang cash gue semua di dompet. Terus gue beli tiket gimana caranya?“Byungchan ingin menangis lagi.

“Saya tidak jahat. Tapi jika anda takut, tidak apa-apa. Anda ingin ke stasiun mana? Saya akan membelikan tiket dan tidak akan mengikuti lagi”ucap pria misterius tadi yang sudah berdiri di sebelahnya.

Byungchan menyebutkan salah satu stasiun. Setidaknya ia harus kembali ke hotel, bagaimanapun caranya. Pria tersebut memberikan tiket untuk Byungchan dan pergi setelahnya. Byungchan bahkan tidak sempat mengucapkan terimakasih.

●●●

“Kemana lagi ya...“Byungchan memeriksa peta yang berada di stasiun. Karena insiden hilangnya peta destinasi milik Byungchan serta beberapa lembar uang cash yang ia punya, Byungchan hanya memilih destinasi dekat dengan hotelnya.

“Sisa tiga hari, yaudah lah nikmatin sekitar sini aja”Byungchan berjalan santai karena tidak menemukan satupun destinasi yang menarik.

Langkah Byungchan berhenti tepat ketika netranya menangkap seseorang yang kemarin tidak sengaja ia temui. Pria tersebut sedang membantu seorang nenek menyebrang jalan. Bahkan tidak hanya itu, pria itu juga membantu penjual balon, seorang anak kecil atau turis dari negara lain.

Byungchan melangkah cepat menghampiri pria tersebut, “permisi, tunggu!“ucap Byungchan dengan nada yang cukup keras untuk membuat pria tersebut menoleh.

“Ah!? Ada yang bisa saya bantu? Perlu saya antar ke suatu tempat?“ucap pria tersebut ramah.

“Maaf. Anda punya waktu sebentar? Bisa temani saya minum teh?“ucap Byungchan kikuk.

“Oh tentu. Kita bisa ke cafe di belakang gedung ini. Saya jamin, tehnya enak dan pemiliknya juga ramah”pria tersebut pun berjalan kesebuah kedai kecil dengan hiasan khas Negeri Britania Raya tersebut.

“Nama saya Seungwoo, Itu jika anda ingin tahu”

“Saya Byungchan dan maaf untuk insiden kemarin”ucap Byungchan malu dan Seungwoo tertawa.

“Saya tidak mempermasalahkannya. Saya tau jika kemaren anda panik. Kemarin anda kehilangan sesuatu?”

“Iya, dompet. Saya kehilangan dompet dan sebelumnya saya kehilangan peta ajaib saya”Byungchan tersenyum.

“Peta ajaib?“tanya Seungwoo bingung dan Byungchan mengangguk, “Peta dengan jadwal serta destinasi yang sudah saya pilih sebelumnya. Karena saya ceroboh, saya harus menggunakan peta dan menuliskan destinasi saya selama disini. Tapi saya tetap ceroboh, bahkan menghilangkan peta penting tersebut”Byungchan tertawa hambar.

“Tehnya enak”ucap Byungchan lagi ketika sepi menyelimuti mereka berdua.

“Anda menginap dimana?“tanya Seungwoo dan Byungchan menyebutkan salah satu hotel yang tidak jauh dari kedai tersebut.

Byungchan dan Seungwoo sudah berada di Kedai tersebut lebih dari satu jam. Bahkan bibi pemilik Kedai sampai memberikan sebuah cake untuk Seungwoo, costumer kesayangannya.

“Jika kau tidak keberatan, saya bisa menemani anda berkeliling besok”Seungwoo memberi ide.

“Tidak usah tidak apa-apa, saya pasti merepotkan”

“Tidak mungkin. Membantu saudara satu negara di negara orang lain, itu tidak terdengar merepotkan”ucap Seungwoo dan Byungchan mengangguk setuju.

“Seengganya, gue bisa jalan-jalan agak jauh tanpa takut kesasar atau kecopetan lagi”ujar Byungchan dalam hati.

“Seungwoo!”

“Iya?”

“Terimakasih untuk kemarin dan juga untuk tehnya. Sampai bertemu besok dan...”

”...besok tolong gunakan bahasa informal saja”ucap Byungchan sebelum berjalan berlawan arah dengan Seungwoo dan Seungwoo mengangguk setuju.

●●●

“What? Beneran ada tempat sebagus ini? Bahkan gue bisa jalan kaki dari hotel kesini!!“Kebahagiaan terpancar dari kedua netra Byungchan, bahkan tanpa disadari Byungchan sudah lebih dahulu menggunakan bahasa informal.

“Engga kalah bagus kan sama destinasi yang di saranin travel blogger itu?“ucap Seungwoo sombong.

“Sini aku fotoin”ucap Seungwoo dan Byungchan mengangguk antusias.

“Lucu”ucap Seungwoo pelan setelah berhasil mengambil beberapa gambar Byungchan di beberapa spot foto yang tersedia. Byungchan yang tanpa sengaja mendengar perkataan Seungwoo mendadak kikuk. Wajah Byungchan lambat laun memerah.

“Loh? Kok muka kamu tiba-tiba merah? Capek? Kamu sakit?“ucap Seungwoo yang refleks memeriksa suhu tubuh Byungchan.

“Hah? Eh... Engga apa-apa kok... Hm... Trus kita lanjut kemana? Kesana? Eh apa kesana?“Seungwoo tersenyum melihat perubahan sikap Byungchan.

“Ke sebelah sana, yuk!“Seungwoo menarik pelan tangan Byungchan dan menggenggam tangan Byungchan, menuntun Byungchan menuju destinasi selanjutnya.

Sepanjang perjalanan, Byungchan hanya dapat menunduk menatap tangannya yang digenggam erat oleh Seungwoo. Byungchan merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Byungchan juga dapat merasakan wajahnya memanas.

“Mau nyewa sepeda engga? Dibanding jalan kaki capek?“ucap Seungwoo menyarankan, tapi Byungchan hanya terdiam.

“Kenapa?“tanya Seungwoo bingung.

“Hm... Aku... Engga bisa naik sepeda”ucap Byungchan kikuk.

“Ah aku kira kenapa! It's okayyy, nanti kita bareng aja. Lagipula yang tau seluk beluk tempat ini kan aku, jadi enakan satu sepeda berdua”Seungwoo berucap antusias.

Disinilah mereka sekarang, Seungwoo sudah siap dengan sepeda yang disewanya, “Ayok naik!“ajak Seungwoo tapi Byungchan terdiam.

“Harus dibelakang?“tanya Byungchan bingung dan Seungwoo mengangguk.

“Oke oke. Kalo kamu takut jatuh, naik di depan aja. Mau?“tanya Seungwoo yang berhasil membuat Byungchan terdiam.

“Gimana, Byungchan?“tanya Seungwoo memastikan.

“Oke, aku naik di belakang aja!“ucap Byungchan yang lalu memposisikan dirinya berdiri dibelakang dengan kedua tangannya memegang pundak Seungwoo.

“Jangan ngebut ya, Woo!“ucap Byungchan mencicit dan Seungwoo tersenyum mengangguk.

Setelah puas berkeliling dengan sepeda, bahkan Seungwoo sempat mengajarkan Byunchan cara mengendarai sepeda. Akhirnya Byungchan dan Seungwoo sepakat melipir karena jam sudah menunjukan waktu makan malam.

“Udah puas? Capek?“Seungwoo bertanya ketika dirinya Byungchan sudah duduk di salah satu restoran untuk menyantap makan malam mereka.

“Puas. Banget!“ucap Byungchan antusias.

“Coba dari awal aku ketemu kamu, woo! Pasti liburan aku lancar jaya dan engga ada drama setiap hari”Byungchan mengerucutkan bibirnya ketika mengingat kejadian bodoh yang ia alami beberapa hari kebelakang.

“Jadiin itu pengalaman. Itu tandanya Tuhan nyuruh kamu untuk engga teledor lagi. Tuhan nyuruh kamu untuk engga terlalu gampang percaya sama orang”ucap Seungwoo lembut tanpa ada sedikitpun nada menasihati.

“Tapi, kamu juga engga boleh berburuk sangka sama orang sih, soalnya nanti jatohnya kayak kejadian aku kemarin. Kamu mau dibantuin malah menjauh dan bahkan hampir nolak”ucap Seungwoo tertawa.

“Tapi beneran tau, Woo... Aku takut soalnya rambut kamu nutupin mata begitu. Kan serem....“ucap Byungchan mencicit dan Seungwoo tersenyum.

“Yaudah besok aku tata rambut aku ke atas, tapi aku engga bisa jamin kalo kamu bisa biasa aja ngeliat aku dengan tatanan rambut besok”ucap Seungwoo percaya diri, sedangkan Byungchan hanya menggeleng tidak percaya dengan ucapan Seungwoo tersebut.

●●●

“Byungchan!”

Byungchan menoleh dan terkejut melihat penampilan Seungwoo hari itu. Seungwoo benar-benar menata rambutnya hingga tidak menutupi mata, bahkan sepertinya Seungwoo memangkas sedikit rambutnya agar terlihat lebih rapih.

“Aku udah bilang, kalo aku tata rambut kayak gini pasti kamu kaget”ucap Seungwoo meledek yang berhasil membuat Seungwoo mendapatkan sebuah pukulan ringan.

“Woo, stop!“Byungchan dan Seungwoo baru berjalan lima belas menit hari itu, tapi Byungchan sudah menghentikan langkah mereka.

“Maaf banget ya, Woo.... Aku minta maaf banget....“Seungwoo menatap Byungchan bingung karena permintaan maafnya tersebut.

“Hah? Ke—?“Ucapan Seungwoo terputus ketika dengan tidak sopannya, Byungchan mengusak rambut Seungwoo dan membuat rambut Seungwoo berantakan.

“Beneran, Woo. Aku engga bisa biasa aja sama tatanan rambut kamu. Daritadi kamu diliatin orang-orang, aku risih. Maaf ya....“Byungchan menunduk, merasa bersalah dengan apa yang baru saja yang ia lakukan.

“Ini rambut aku mau begini aja?“tanya Seungwoo bingung karena demi apapun, rambutnya benar-benar berantakan. Byungchan menatap Seungwoo lalu tertawa.

“Hahahahaha Woo, maaf lagi ya... Maaf banget”Byungchan masih tertawa sambil merapihkan rambut Seungwoo. Disaat yang bersamaan, dengan jarak wajah yang begitu dekat, Seungwoo dapat dengan jelas melihat wajah Byungchan yang sedang tertawa, tangan Byungchan yang sedang merapihkan rambutnya serta lesung pipi di pipi kanan serta kiri milik

“Woo, hello?“Seungwoo mengerjapkan matanya beberapa kali ketika Byungchan melambaikan tangannya tepat di depan wajahnya. Seungwoo menggaruk tengkuknya walaupun tidak gatal, dirinya berusaha sekuat tenaga agar tidak menatap Byungchan.

“Hm... Kita mau kemana lagi? Kesana yuk!“Tanpa Seungwoo sadari, dirinya meninggalkan Byungchan berjalan di belakangnya. Byungchan bahkan harus berlari kecil untuk mengejar Seungwoo.

“Woo! Seungwoo... Kok aku ditinggal?“teriak Byungchan.

Seungwoo benar-benar tidak mendengarkan teriakan Byungchan, Seungwoo tetap berjalan di depan dan meninggalkan Byungchan sendirian di belakang hingga...

“Aw!“Seungwoo menoleh dan mendapati Byungchan tersungkur di aspal.

“Byungchan!! Kamu kenapa? Ada yang sakit?“Seungwoo berjongkok di hadapan Byungchan yang sedang meringis.

“Sakit banget ya? Sebelah mana yang sakit? Maaf ya Byungchan...“ucap Seungwoo menyesal.

“Kamu lagian kenapa sih? Kenapa aku ditinggal?“ucap Byungchan bersedih.

“Maaf ya... Kamu mau istirahat dulu?“ucap Seungwoo tapi Byungchan menggeleng.

“Aku tetep mau jalan-jalan. Tapi kaki aku sakit banget...“ucap Byungchan memperhatikan mata kakinya yang mulai memerah.

“Aku gendong aja ya? Sekalian nanti aku cariin obat dulu”ucap Seungwoo panik.

“Yuk naik! Aku gendong aja”ucap Seungwoo lagi.

“Woo... Aku berat loh. Dipapah aja, gimana?“ucap Byungchan pelan.

“Jangan! Nanti kaki kamu makin parah, lusa kan kamu pulang”ucap Seungwoo tegas dan akhirnya Byungchan menurut.

“Kesana aja ya. Kamu duduk dulu trus aku cariin obat”Byungchan sudah duduk di sebuah kursi dibawah pohon rindang.

“Aku cari obat sebentar!“ucap Seungwoo dan Byungchan mengangguk.

Seungwoo tidak memerlukan waktu lama. Tidak lebih dari sepuluh menit, Seungwoo sudah kembali dan mengobati pergelangan kaki Byungchan dengan obat oles yang telah ia beli

“Hm... Lusa aku udah balik lagi ke Korea”ucap Byungchan tersenyum ke arah Seungwoo yang sedang menunduk serius.

“Kamu engga ada rencana balik ke Korea, Woo?“tanya Byungchan tiba-tiba dan Seungwoo menoleh menatap Byungchan.

“Kalo kamu ke Korea, aku bakal temenin kamu, kemanapun kamu mau! Sebagai ucapan terimakasih karena kamu udah baik nemenin aku dua hari ini”Ucap Byungchan lagi.

“Ini semacam undangan atau ajakan?“tanya Seungwoo dan Byungchan tertawa.

“Kalo aku mengundang, berarti aku harus menyiapkan tiket pesawat untukmu, tapi aku tidak sanggup untuk itu. Kalo aku mengajak, berarti kamu harus siap ke Korea lusa bareng aku. Gimana?“Byungchan menggoda Seungwoo dan Seungwoo hanya terdiam.

“Hahaha aku bercanda! Kabari aku jika kamu mau ke Korea. I'm just one call away, kok”ucap Byungchan tersenyum manis ke arah Seungwoo.

“Hm... Untuk sekarang belum ada, karena engga ada alasan buat aku balik ke Korea kan aku belum lulus, engga ada yang dibanggain juga”ucap Seungwoo melemparkan senyuman ke arah Byungchan.

“Aku bisa jadi alasan kamu buat balik ke Korea loh selain gelar kamu itu! Sesekali pulang ke Korea sekalian liburan, nanti aku temenin. Jangan belajar muluuu hehe”ucapan tiba-tiba Byungchan membuat suasana diantara mereka hening.

●●●

Byungchan menghela nafasnya panjang, menyesali apa yang telah ia katakan dua hari lalu. Setelah perkataan Byungchan, suasana hening dan kikuk menyelimuti perjalanannya bersama Seungwoo.

Bahkan kemarin, Seungwoo tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Bahkan Byungchan harus rela menghabiskan hari terakhirnya di Inggris tanpa Seungwoo.

“Byungchan emang selalu clumsy kenapa sih pake ngomong begitu ke Seungwoo? Kalian tuh baru kenal dua hari dan lo berani-beraninya ngomong begitu? Emang gila!!!“Byungchan memukul-mukul pelan kepalanya, merutuki perbuatannya.

“Jangan dipukul. Nanti sakit!“Byungchan terlonjak kaget. Seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan senyuman serta sebuah tas jinjing besar di tangan kanannya.

“Hallo, Byungchan!“ucap pria tersebut tersenyum, sedangkan Byungchan menatapanya tidak percaya.

fin.