Pantofel.
Sejin mengetuk-ngetuk ujung sepatu pantofel mengkilapnya ke aspal yang sedikit basah. Kedua tangannya ia simpan di dalam saku celananya, mengurangi rasa dingin yang mulai menggerogoti dirinya hingga menusuk hingga ke tulang. Sejin sesekali bergumam pelan, menyanyikan lagu favoritnya.
“Psssttt!!“Sejin menoleh dan tersenyum ketika mendapati kekasihnya sudah keluar dari sebuah gedung tua tersebut.
“Udah selesai?“tanya Sejin mengulurkan tangan kirinya, menyambut sang kekasih kembali setelah seharian berpisah untuk keperluan masing-masing. Seungyoun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Sejin, Seungyoun tidak lupa mengabsen seluruh permukaan wajah Sejin dengan kecupan singkatnya.
“Eh nanti diliat orang”ucap Sejin yang berusaha menghindari kecupan kekasihnya tersebut hingga membuat Seungyoun tertawa karena gemas.
“Siapa juga yang masih berkeliaran di jam dua pagi?“ucap Seungyoun aneh dan Sejin menunjuk dirinya sendiri.
“Hello! Aku masih berkeliaran sampai jam dua pagi loh. Karena pacarku lama banget selesai photoshootnya”ucap Sejin merajuk.
“Whoopsie!! Sorry beb, tadi ada beberapa problem gitu yang berhubungan sama set dan properti yang aku pake”ucap Seungyoun menjelaskan dan Sejin mengangguk mengerti.
“Taksi? Atau mau jalan kaki aja?“tanya Seungyoun yang membuat Sejin berfikir sejenak.
“Jalan yuk? Mumpung sepi trus udaranya juga engga terlalu dingin”ucap Sejin tersenyum.
“Yakin engga terlalu dingin? Lima belas menit yang lalu tuh aku pegang tangan kamu dingin banget loh”ucap Seungyoun memastikan.
“Engga apa-apa, kan udah ada kamu! Engga bakal kedinginan lagi deh aku, beneran”ucap Sejin meyakinkan dan Seungyoun pun mengangguk.
Akhirnya, Seungyoun dan Sejin memutuskan untuk berjalan kaki ke apartment milik mereka berdua. Tidak terlalu jauh mungkin hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit atau empat puluh lima menit jika mereka berjalan santai. Seungyoun merangkul pundak kecil Sejin dengan tangan kanannya, sedangkan Sejin merangkul pinggang Seungyoun dengan lengan kirinya.
Sepanjang perjalanan, Seungyoun dan Sejin melantunkan lagu-lagu favorit mereka berdua. Ah! (ralat) yang banyak bernyanyi hanya Seungyoun karena request langsung dari sang kekasih.
“Tadi kamu jalan kemana aja?“tanya Seungyoun setelah lelah bernyanyi.
“Kemana aja ya? Banyak sih, tadi sempet nunggu Minkyu dulu karena dia ada syuting. Trus Byungchan harus balik duluan karena pesiapan comeback“ucap Sejin menjelaskan kegiatan dia seharian itu.
“Bongkar pasang personil ya seharian?“tanya Seungyoun tertawa dan Sejin mengangguk.
“Kamu seharian jalan pake sepatu itu emang engga sakit?“tanya Seungyoun setelah hening menyelimuti mereka beberapa saat dan Sejin menggeleng.
“Engga kok aku tetep nyaman”ucap Sejin datar dan Seungyoun tertawa.
“Kenapa ketawa?“tanya Sejin melepaskan rangkulannya dari pinggang Seungyoun dan menghempaskan tangan Seungyoun yang sedang merangkulnya.
“Yaaaa lucu? Soalnya masa pergi jalan kamu pake pantofel? Kan itu buat kerja? Kondangan?“tanya Seungyoun bingung dan Sejin merengut mendengar perkataan Seungyoun tersebut.
“Berarti maksud kamu aku aneh? Selera fashion aku aneh?“tanya Sejin sambil menatap sinis Seungyoun.
“Engga sayanggg, aku engga bilang aneh. Cuma.... Lucu? Kamu itu lucu”ucap Seungyoun yang berusaha menarik tangan kekasih mungilnya tersebut.
Sejin mendengus sebal dan menghempaskan tangan Seungyoun sebelum dirinya berlari kecil menjauhi Seungyoun. Beruntungnya Sejin, jarak mereka saat ini dengan apartmentnya hanya tinggal beberapa langkah lagi, bahkan gedung apartment mereka sudah terlihat.
toktoktoktoktoktok
Seungyoun tidak bisa menahan gemas melihat kekasihnya berlari diiringan suaran dari sepatu pantofelnya. Sejin yang malam itu menggunakan baret yang menutupi kepalanya serta coat kebesaran yang sebenarnya milik Seungyoun itu semakin terlihat kecil dan menggemaskan di mata Seungyoun.
“Sayanggg tungguin”ucap Seungyoun menyusul kekasihnya.
Seungyoun tersenyum dan menggeleng bersamaan ketika melihat kekasihnya yang sedang mencibirkan bibirnya itu masuk ke dalam lift dan segera menutup pintu lift bahkan tanpa menunggu Seungyoun terlebih dahulu.
Seungyoun hampir saja tersandung sepatu milik Sejin yang tidak di tata dengan rapih di rak tersebut. Seungyoun pun akhirnya meletakan sepatu tersebut di rak bersamaan dengan beberapa sepatu pantofel miliknya sendiri.
Kaki panjang Seungyoun mengantarnya ke kamar mereka berdua dan . . . dikunci.
“Sayang... Bukain dong pintunya?“ucap Seungyoun lembut tapi Sejin tetap diam.
“Maaf kalo omongan aku tadi nyinggung kamu. Tapi . . . kamu beneran lucu”ucap Seungyoun lagi.
“Lucu apa aneh?“Akhirnya Sejin menjawab dan Seungyoun tersenyum.
“Lucu sayang engga aneh sama sekali. Aku malahan gemes sama kamu. Bukain pintunya, please?“Seungyoun menunggu dengan harap-harap cemas, tetapi empat puluh lima detik kemudian pintu kamar tersebut terbuka.
“Maaf, hm? Aku bilangnya lucu kok engga aneh sama sekali”ucap Seungyoun menundukan sedikit tubuhnya tapi Sejin merengut.
“Mau mandi apa langsung tidur?“tanya Seungyoun gemas.
“Mandi lah! Jorok banget seharian diluar tapi engga mandi dulu”ucap Sejin sambil memutar badannya ke arah kamar mandi.
“Bareng . . . ?“tanya Seungyoun pelan.
“Buruan. Sebelum aku kunci pintu kamar mandinya”ucapan Sejin tersebut membuat Seungyoun menghampiri Sejin dan menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi ((berdua)).