semestakapila

Race.


Seungwoo turun dari mobil dan disambut dengan anggota Oasis lainnya, terutama Byungchan yang merengut karena Seungwoo yang terlambat datang, “manja anak ayam lo bang”ucap Sejun mencibir kelakuan kekasih leadernya tersebut.

“Hahaha iya lah manja, tuh diajak ngomong mulu sama Seungyoun tapi anaknya diem aja”ucap Seungsik menjelaskan.

“Males tau kaaa ngeladenin dia tuh! Liat kan tuh disitu ada mantannya. Ya gila kali aku kalo ngeladenin?“ucap Byungchan heboh.

“Trus kalo engga ada mantannya, berarti kamu mau dong ngeladenin dia?“tanya Seungwoo sambil merangkul Byungchan yang masih mencibirkan bibirnya.

“Hahaha iya aku percaya kok, tapi jangan terlalu keliatan sebel sama dia ya. Aku takut dia malahan nanti makin seneng godain kamu kalo tau kamu sebel digodain dia”ucap Seungwoo.

“Nu!“Seungwoo menoleh ketika namanya dipanggil, Jaebum -Leader Q dan Jinhyuk _Leader Red Devils sedang berbincang di depan mobil kuning mentereng milik JInhyuk. Dapat dilihat dengan jelas di kursi penumpang mobil tersebut ada seorang lelaki kecil yang diketahui sebagai kekasih Leader Red Devils tersebut.

“Turun bang?“tanya Jinhyuk dan Seungwoo mengangguk.

“Nih mobil bakal jadi hak milik RM sebulan, jadi malem ini gue harus turun”ucap Seungwoo melirik Namjoon yang sedang berbincang dengan anggota Dinoysus lainnya.

(Jika tidak di depan orang tua, JB, RM dan Senu akan memanggil nama panggilan tongkrongan mereka. Tetapi jika di depan orang tua mereka, mereka akan kembali menggunakan nama panggilan kecil mereka)

“Lo turun?“tanya Seungwoo dan Jinhyuk menggeleng.

“Seungyoun yang turun. Katanya mau coba mesin mobil baru”ucap Jinhyuk menjelaskan dan Seungwoo mengangguk mengerti.

“Gimana? Siap?“Namjoon berjalan mendekati keempat Leader yang sedang berbincang tersebut.

“Ayoklah, keburu malem”ucap Seungwoo.

“Kibiri milim”ucap Jaebum mengikuti perkataan Seungwoo yang membuat Jinhyuk tertawa.

“Kenapa? Bokap lo kan aman?“tanya Namjoon bingung.

“Bukan. Itu Byungchan”ucap Seungwoo melirik Byungchan.

“Najis, bucin males. Udahlah ayok”ucap Jaebum meninggalkan ketiga Leader lainnya.


Seungwoo membanting pintu mobilnya kasar. Pertandingan yang baru saja selesai tersebut dimenangi oleh Seungyoun. Pertandingan seperti ini tidak selalu memperebutkan harta atau materi tetapi harga diri dan malam itu harga diri Seungwoo terasa jatuh ke dasar jurang.

“Woo... Udah engga apa-apa. Kamu hebat kok tadi”ucap Byungchan mengusap pipi Seungwoo lembut.

Seungwoo menatap sinis Seungyoun yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Seungyoun tersenyum penuh kemenangan, bahkan sesekali Seungyoun melirik kearah Byungchan.

“Woo... Kamu denger aku kan? Malem ini ke apart aku aja ya? Mobil kamu biar RM yang bawa, kita naik mobil aja ya?“ucap Byungchan lembut dan Seungwoo mengangguk.

“Udah.... Mukanya jangan ditekuk mulu, nanti gantengnya ilang”ucap Byungchan mengerucutkan bibirnya dan Seungwoo tersenyum melihat kekasihnya gemas.

Seungwoo menarik pelan pinggang Byungchan dan merapatkan tubuh mereka berdua. Byungchan tersenyum, karena ia tau jelas apa yang sedang ada difikiran kekasihnya tersebut. Byungchan pun mulai memejamkan matanya dan memiringkan wajahnya, memberikan akses terbaik untuk kekasihnya.

Lampu hijau untuk Seungwoo. Seungwoo pun menarik tengkuk Byungchan dan mendekatkan wajahnya dengan wajah kekasihnya yang mulai memerah. Sengwoo tersenyum sebelum mendaratkan bibirnya diatas bibir Byungchan. Byungchan yang sudah mulai merasakan ada pergerakan dari Seungwoo itu pun mulai melingkarkan tangannya di leher Seungwoo dan memperdalam ciuman mereka.

Seungwoo menatap Seungyoun penuh kemenangan sambil terus melumat bibir kekasihnya tersebut, “Permisi pak, mobil minta kunci mobilnya? Saya mau balik nih pak”Byungchan kaget mendengar ucapan RM tersebut dan membuatnya harus memutus tautan bibirnya dan Seungwoo. Byungchan tersenyum malu dan berjalan serta berdiri di belakang Seungwoo.

“Ganggu lo, setan!“ucap Seungwoo sambil melemparkan kuncinya ke arah RM.

“Besok kalo mau balik bilang gue! Gue bilang bokap lo, kalo lo nginep di tempat gue”ucap RM lagi.

“Wah gilaaaa the best emang Njun!!“ucap Seungwoo dengan nada yang dibuat-buat.

“Tadi aja ngatain gue setan, sekarang muji-muji”ucap RM menggeleng malas.

“Proteksi dini”Jaebun mendekati Seungwoo dan menyelipkan sesuatu di kantong sweater milik Seungwoo.

“Byungchan ati-ati ya! Pelan-pelan aja”ucap Jaebum tersenyum kearah Byungchan dan wajah Byungchan semakin memerah.

“Nyetirnya loh maksudnya yang pelan-pelan”ucap Jaebum lagi sambil tertawa.

“Makin lama makin engga bener nih anak pada”ucap Seungwoo pelan.

“Yang, yuk pulang”ucap Seungwoo menggenggam tangan Byungchan dan membawanya menuju mobil Byungchan yang kebetulan terparkir di sebelah mobil Seungyoun.

“Hyuk duluan!“sapa Seungwoo kepada Leader Red Devils dan Jinhyuk mengangguk.

“Mesin mobil lo keren, gue akuin! Tapi sorry, yang udah jadi milik gue tetep bakal selalu jadi milik gue”ucap Seungwoo pelan saat melewati Seungyoun.

xposhie

Magis.


“Dek, ada Njun”ucap ibunda Seungwoo setengah berteriak. Seungwoo yang memang sudah mengetahui akal bulus temannya itu pun berjalan santai menuju ruang keluarganya. Disana Namjoon sedang berbicara santai dengan kedua orang tua, rasanya Seungwoo ingin berjalan cepat dan menendang Namjoon yang sedang tersenyum santai itu.

“Adek janjian sama Namjoon? Kenapa engga bilang?“Seungwoo sedikit terkejut dengan pertanyaan ibundanya tersebut.

“Hah? Ah iya... Soalnya papah pulang. Jadi aku batalin pergi sama Namjoonnya ma”ucap Seungwoo sopan.

“Engga apa-apa, kalo Senu mau pergi sama Namjoon pergi aja. Papa dirumah seminggu kok. Kalian mau pergi kemana? Pake mobil papah? atau mobil Senu aja?“ucap ayahanda Senu tenang.

“Mobil Senu aja om, masa naik mobil om. Nanti Senunya keenakan om hehe”Namjoon tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipi yang tercetak jelas di pipinya.

“Oh yaudah engga apa-apa, sana kamu siap-siap”menerima perintah dari sang ayah, Seungwoo pun bergegas untuk berganti pakaian.


“Anjir lah engga ngerti gue, kenapa bokap masih aja percayaan sama lo”ucap Seungwoo ketika sudah berada di dalam mobil bersama Namjoon.

“Seorang Namjoon si anak baik, si JB (-jebe. read) kalo mau keluar sama ceweknya juga kadang pake alesan jalan sama gue”ucap Namjoon tenang.

“Mobil lo? Engga turun lo nanti?“tanya Seungwoo tenang.

“Dibawa Jungkook, dia aja yang turun malem ini”ucap Namjoon menjelaskan dan Seungwoo mengangguk.

“Ada Red Devils nih kayanya”ucap Namjoon lagi setelah membaca pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya.

“Nih si JB chat gue, Seungyoun mulai lirik-lirik laki lo hahahaha”Namjoon tertawa keras ketika membayangkan suasana di arena.

“Ah bangsaaatt!“ucap Seungwoo menambah kecepatan mobilnya.

“Gue turun lah malem ini, harga diri anjir”ucap Seungwoo lagi dengan tatapan tetap fokus ke jalanan yang mulai lenggang.

“Lah kalo Seungyoun kaga turun?“tanya Namjoon lagi.

“Perduli gue? Engga. Apa yang udah jadi milik gue, tetap akan jadi milik gue gimanapun caranya. Harga diri gue tinggi, lo udah lebih tau dari siapapun”ucap Seungwoo serius.

“Uhhhh dek Senu, serem... Njun takutttt”ucap Namjoon kembali tertawa.

“Ah anjir!!! Lo mau bawa gue ke gerbang neraka ya?“Namjoon panik ketika Seungwoo menambah kecepatan mobilnya lagi.

“Bacot lo masih gede sama kayak dulu”ucap Seungwoo tidak perduli.


xposhie

1994


[26 Januari 1994]

Im Siwan dan Park Minji tersenyum bahagia menyambut kelahiran putra pertama mereka, Im Jaebum.

“Minji selamat!!!“ucapan demi ucapan terus mengalir untuk kedua pasangan orang tua baru tersebut.

“Ayok cepet nyusul! Biar abang jaebum ada temennya”ucap Minji kepada dua sahabatnya, Jiyeon dan Nara.

“Kata orang tua, kalo anak bayi buang air pas digendong, nanti bisa ketularan juga”ucap Siwan menepuk pelan kedua pundak temannya, Han Hyun Sik serta Kim Hyun Soo.


[12 September 1994]

“HPL Nara kapan?“tanya Minji saat mengunjungi persalinan temannya, Jiyeon.

“Perkiraan dokter sekitar tanggal 22 desember sampai 25 desember”ucap Hyunsik tersenyum.

“Kelahiran di malam natal atau hari natal tidak terdengar menyeramkan, anakmu akan mendapatkan hadiah berlipat ganda setiap tahunnya”ucap Jiyeon yang masih berbaring di kasur rumah sakit.

“Berarti omongan orang tua ada benernya ya? Pas Jiyeon gendong Jaebum lalu tidak sengaja Jaebum buang air dan seminggu kemudian Jiyeon positif hamil”ucap Siwan antusias.

“Berlaku juga buat Nara, pas kita bawa Jaebum pertama kali buat main bareng dan hari itu juga Jaebum buang air pas digendong Nara. Padahal sebelumnya aku yang gendong juga dia engga sama sekali buang air”ucap Minji sambil menimang Jaebum yang usianya sudah menginjak tujuh bulan itu.

“Semua berkat usaha dan doa juga!“ucap Hyungsoo tersenyum.

“Sama izin dari Tuhan!“Nara menambahkan dan keenam orang dewasa dalam kamar tersebut tertawa bersama.


[24 Desember 1994]

“Siapa namanya?“tanya Minji saat mengunjungi Nara yang semalam baru saja melahirkan anak pertamanya.

“Han Seungwoo”ucap Hyunsik bangga.

“Seungwoo ngerjain om sama tantenya yaaa, lahirnya malem natal jadi engga bisa ikutan nemenin”ucap Jiyeon yang menimang Seungwoo dalam dekapannya.

“Hahaha iya sih, pas Minji sama Jiyeon lahiran kan kalian komplit. Pas Nara lahiran engga ada yang bisa nemenin karena lagi persiapan natal dirumah”ucap Siwan yang sedang menimang Jaebum yang tertidur pulas.

“Seungwoo nanti kalo udah gede, kalo kemana-mana harus sama abang-abangnya ya. Jangan sendirian!“ucap Nara kepada anak lelakinya yang tertidur pulas dalam gendongan Jiyeon.

“Iya nih, mentang-mentang lahiran engga ditemenin jadinya nanti kalo gede mainnya sendiri aja”ucap Hyunsoo meledek.

“Semoga Jaebum, Namjoon sama Seungwoo sampe gede bisa ajdi temen baik kayak ibu-ibunya”ucap Minji mencubit gemas pipi Seungwoo.

“Papahnya juga temenan baik kok”ucap siwan bangga dan semua tertawa hingga membuat Seungwoo menangis karena terkejut.


[26 Januari 1999]

“Ini buat Senu aja”Namjoon memberikan mobil-mobilan berwarna merah kepada Seungwoo yang sedang histeris menangis.

“Ga mauuu!! Aku mau hadiah banyak yang kayak abang!! Engga mau mobilan Njun!! Aku gamauuuu”Seungwoo masih teriak histeris karena melihat banyak hadiah yang diterima Jaebum.

Siang itu Siwan dan MInji merayakan ulang tahun kelima putra mereka, Jaebum. Mereka tidak lupa mengundang Hyugsoo, Jiyeon dan Namjoon serta Hyunsik, Nara dan Seungwoo.

“Senu, jangan nakal. Tadi papah bilang apa? Senu harus jadi anak baik”ucap Hyunsik tegas.

“Mamaaaa!! Papah jahaaatttt!! Aku mau hadiah banyak kayak Abang, maaaa”ucap Seungwoo terisak.

“Seungwoo mau dengerin mama dulu engga?“ucap Nara sambil menghapus air mata Seungwoo dan Seungwoo mengangguk kecil.

“Hari ini Bang Ebum yang ulang tahun, bukan Senu. Bulan lalu kan Senu udah dapet banyak hadiah?“tanya Nara lagi dan Seungwoo mengangguk walau masih sedikit terisak.

“Senu bulan lalu dapet apa aja? Coba sebutin, mama mau dengar”ucap Nara pelan dan Seungwoo mulai menceritakan hadiah yang ia terima tahun lalu saat ulang tahunnya, hadiah yang ia terima juga di hari natal.

“Banyak kan mainan Senu? Nanti kalo Seungwoo minta mainan Abang, trus mainan Senu yang dirumah siapa yang mainin? Nanti mereka sedih kalo engga Senu ajak main, trus mereka pergi dari rumah. Gimana?“ucap Nara tersenyum.

“Senu mau mainan Senu pergi semua?“tanya Nara dan Seungwoo menggeleng.

“Jadi Senu mau mainan punya Abang?“ucap Nara menawarkan dan Seungwoo kembali menggeleng.

“Ini buat Senu”ucap Jaebum mendekati Seungwoo dan memberikannya sebuah mainan robot-robotan. Seungwoo tersenyum kecil sambil menghapus air matanya.






(xposhie)

Im Siwan + Park Minji = Im Jaebum (as Abang) & Im Jaewoo – Im Woonjae

Kim Hyunsoo + Lee Jiyeon = Kim Namjoon (Njun) & Kim Sora

Han Hyunsik + Song Nara = Han Seungwoo (Senu)

79 Days.


Selamat! Kamu sudah berada di akhir cerita. Terimakasih untuk tujuh puluh sembilan hari kebersamaannya. Aku engga nyangka antusias yang baca hasil karya aku ini banyak (banget) karena hasil karya aku yang ini lebih sedikit peminatnya :“) Silahkan mampir bagi yang berminat!!!

Terimakasih buat kalian yang ninggalin jejak dengan retweet, likes, reply bahkan quote retweet. Terimakasih juga buat kalian yang udah suka nyaranin hasil karya aku ke temen-temen kalian lainnya.

Terimakasih buat tujuh puluh sembilan harinya! Mari kita buka lembaran pertama lagi besok dengan cerita baru.

Jika kalian berkenan, mohon tinggalkan kritik dan saran kalian di Kucing Penasaran ya!! Biar aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan aku.

Akhir kata, untuk kalian, semoga sehat selalu! Jangan lupa bahagia. Kalian harus selalu ingat, kalian itu berharga!!

Salam hangat, -Kapila.

Final vs Encore.


“Bawain donh! Berat nih”ucap Byungchan kearah Yohan saat dirinya kesusahan membawa buah tangannya dari Korea.

“Santai, gue bawain sini”Yuvin mengambil dua buah plastik besar ditangan Byungchan.

“Bucin”ucap Jinhyuk pelan.

“Han, kamu punya kaca?“tanya Yuvin tiba-tiba dan Yohan menggeleng.

“Tapi ada kamera depan nih, kenapa?“tanya Yohan polos.

“Tolong kasih tau bang jinhyuk suruh ngaca ya”ucap Yuvin tersenyum ke arah kekasihnya tersebut. Perkataan Yuvin tersebut berhasil membuat Yuvin harus menerima rambutnya menjadi sasaran kekerasan Jinhyuk.

“Jinhyuk....“ucap Wooseok tenang dan Jinhyuk mengakhiri perbuatannya.

Ke delapan orang dewasa tersebut pun sampai di unit apartment milik Seungyoun dan mulai membongkar buah tangan yang dibawa Seungwoo-Byungchan maupun Sejin-Seungyoun.

“Jin... lucu banget!!!“ucap Wooseok antusias ketika membuka Oleh Oleh yang dibawa oleh Sejin.

“Chan!!!! Thank youuuu”ucap Sejin antusias ketika melihat sweater yang diberikan Byungchan sebagai buah tangannya.

“Itu kita kembaran berempat, cuma beda warna aja”ucap Byungchan antusias.

Di dalam apartment Seungyoun sore itu sudah ada dua kubu berbeda. Kubu Fanboy serta kubu supporter.

“Kamu di dalem aja Jin”ucap Seungyoun ketika melihat Sejin dan ketiga teman Sejin menatap layar ponsel masing-masing.

“Hah? Engga apa-apa?“tanya Sejin bingung dan Seungyoun mengangguk.

“Disini bakalan berisik. Mereka suka engga mikir tempat kalo udah nonton bola”ucap Seungyoun lagi.

“Nonton diatas kasur, engga apa-apa kok”ucap Seungyoun ketika melihat kekasihnya berdiri dari tempatnya.

“Makasih”ucap Sejin mengecup pela pipi Seungyoun sebelum pergi meninggalkan seungyoun masuk ke kamar utama.


Di kamar Seungyoun ada Byungchan, Wooseok, Sejin dan Yohan yang sedang serius menyaksikan tayangan pemberian penghargaan tahunan musik di korea. Sedangkan diruang tamu Seungyoun dan keempat temannya heboh dengan pertandingan sepakbola yang sedang berlangsung.

“Aku kenyaaaaangggg”ucap Wooseok setelah meletakan potongan kaki ayam terakhir yang ia konsumsi.

“Bang, ada lagi?“tanya Yuvin sambil mengangkat sebuah kaleng yang sudah kosong tersebut.

“Kulkas, ambil sendiri”ucapo Seungyoun yang membuat Yuvin semangat dan segera bangkit dari posisinya.

“Sekalian!”

“Gue jugaaa”

“Gue ikutttt”

“Mauuuu”

“Ambil semua aja vin!!!”

Satu persatu orang di ruangan tersebut meminta Yuvin mengambilkan minuman untuk mereka ketika melihat Yuvin berjalan ke dapur. Yuvin pun terpaksa mengambilkan minuman untuk teman-temannya juga.

“Yo, ngapain?“tanya Yuvin saat mengeluarkan satu persatu kaleng minuman dari dalam kulkas.

“Bantuin kamu”ucap Yohan tenang dan Yuvin tersenyum.

“Yang...”

“Hm?“Yohan menoleh ketika suara berat kekasihnya memanggilnya. Yohan tersenyum ketika melihat Yuvin mulai mendekatkan wajahnya kearahnya.

“Banyak orang, nanti aja”ucap Yohan, mendorong pelan wajah kekasihnya. Yohan mengambil beberapa kaleng minuman tersebut dan membawanya ke ruang tamu.

“Nah ini nih”ucap Seungyoun semangat.

“Kalian tau engga? Kalian itu yang jadiannya paling cepet diantara kita semua”ucap Byungchan bersemangat.

“Hah gimana?“tanya Yohan bingung.

“Kita tuh lagi ngurutin tanggal jadian kita, nih si kunyuk terakhir karena emang bego banget nah kalian yang pertama, gercep juga lu vin!“ucap Seungyoun bangga.

“Emang sih tanggalnya sama kayak ka seungyoun ka sejin, tapi kalo dihitung pake zona waktu tuh kalian lebih dulu”ucap Byungchan lagi.

“Lo sih bang! Nyari tanggal jadian yang lain dong”ucap Yuvin emosi yang mendapat tatapan sinis dari Seungyoun.

“Makasih dulu tuh kalian sama Byungchan, kalo Byungchan engga ninggalin benda kesayangannya tuh kita engga bakal ketemu tau”ucap Seungwoo sambil mengusak puncak kepala Byungchan.

“Terimakasih tuh yang utama sama Tuhan Yang Maha Esa”ucap Jinhyuk yang mendapatkan sorakan dari teman-temannya.

“Terimakasih yaTuhan, karena akhirnya Engkau membuka mata hati Jinhyuk dan membuka fikiran Jinhyuk yang bodoh ini”ucap Seungyoun.

“Hahaha Ka wooseok udah cerita belum kalo dia kesel sampe mau nangis pas ka jinhyuk kerumahnya cuma nanyain kucing?“ucap Yohan dan Jinhyuk menggeleng.

“Yohan diem ya!!!“ucap Wooseok mengancam.

“Engga usah diceritain juga udah kebayang kok gue keselnya”ucap Sejin menahan tawa.

“Emang Jinhyuk tingkat ke pekaannya tuh -0,1 jadi lain kali engga usah pake kode ya Seok, langsung bilang aja”ucap Seungwoo.

“Iya, kamu kalo mau sesuatu bilang aja ya. Aku orangnya engga peka dan engga bisa di kodein”ucap Jinhyuk menatap Wooseok.

“Cium aku”ucap Wooseok tiba-tiba.

“Hah?“Jinhyuk panik karena permintaan Wooseok tersebut.

“Cium akuuuu.... Sekarang, Jinhyuk!“ucap Wooseok lagi.

“Engga gini juga dong Seok?“ucap Jinhyuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Hyuk, kok lo panik? Belum pernah ya?“ucap Seungyoun berbisik dan Jinhyuk menggeleng.

“Gue mau resign aja jadi temen JInhyuk!!!!“ucap Seungyoun frustasi.

Jinhyuk menatap Wooseok yang sedari tadi masih menatapnya.

“Anjir!”

“Goblok!!”

“Jangan mesum di unit gue, kunyuk!!!!”

Seungwoo, Yuvin dan Seungyoun bergatian memaki Jinhyuk ketika Jinhyuk tiba-tiba menarik Wooseok mendekat ke arahnya dan mulai mendaratkan bibirnya di bibir Wooseok. Keadaan apartment Seungyoun mendadak ramai dan riuh karena ulah Jinhyuk tersebut.

“Hehe”Wooseok tersenyum setelah Jinhyuk melepas pangutan bibir mereka.

Jinhyuk pun menerima tendangan-tendangan kecil dari teman-temannya malam itu.

fin.

Tempat kecil.


D-3 to Wedding Day

Jinhyuk dengan tiba-tiba mengatakan bahwa dia ingin ke Busan malam itu juga. Seungwoo tidak bisa menahan Jinhyuk dan memilih mengantar Jinhyuk ke terminal bus terdekat. Jika Jinhyuk sudah mempunyai sebuah tujuan, ia akan mencapai tujuan tersebut bagaimanapun caranya, terlebih jika hal itu berhubungan dengan Wooseok.

“Lo yakin?“tanya Seungwoo ketika Jinhyuk jalan terburu-buru menuju loket penjualan tiket.

“Jalan terakhir, gue engga tau kalo dia engga ada disana”ucap Jinhyuk panik.

“Tiket ke Busan satu”ucap Jinhyuk ketika sudah berada di depan loket penjualan tiket tersebut.

“Bis terakhir ke Busan sudah berangkat sepuluh menit yang lalu Tuan. Anda bisa kembali lagi besok pagi”ucapan petugas tersebut membuat tubuh Jinhyuk lemas.

Seungyoun yang berada tepat di sebelah Jinhyuk segera membawa tubuh Jinhyuk menjauh dari loket penjualan tersebut. Jinhyuk terduduk lemas di sebuah kursi dengan tangan yang terus menerus menarik-narik rambutnya.

“Ini minumnya”Byungchan memberikan sebuah botol mineral kepada Seungwoo untuk kemudian diberikan kepada Jinhyuk.

“Kita balik aja. Besok pagi, kita semua ke Busan”ucap Seungwoo meyakinkan Jinhyuk.


“Udah tidur?“tanya Sejin ketika Seungyoun keluar kamar Jinhyuk dan menutup pintunya rapat. Seungyoun pun mengangguk.

“Kalian tidur dikamar tamu aja, gue sama Seungyoun biar tidur disini”ucap Seungwoo ke arah Byungchan dan Sejin yang sudah terlihat lelah.

“Bangunin aku kalo butuh apa-apa”ucap Byungchan, sebelum mengecup singkat pipi Seungwoo, Seungwoo pun mengangguk dan mengusak puncak kepala kekasihnya tersebut.

D-2 to Wedding Day

[06.07 KST]

“Seungwoo.... Seungyoun.... Bangun....”

“Kok pada tidur disini?”

Seungwoo dan Seungyoun tertidur di sofa ruang tamu milik Jinhyuk. Mereka terlalu lelah sehingga tidak menyadari jika sedari tadi ada orang yang membangunkan mereka.

“Loh? Chan.... Sejin....”

“Hm... Bentar sayang, aku masih ngantuk”ucap Byungchan setengah merajuk.

“Kok pada nginep disini ya? Emang Jinhyuk habis ngadain apa? Bukannya Bachelor Party baru nanti malam?”

Seseorang yang tidak berhasil membangunkan satu orang pun itu memutuskan untuk masuk ke kamar utama apartment tersebut.

“Kamu bobo sebelah papi dulu yaaaa”

Orang misterius tersebut menidurkan seorang anak lelaki berusia 11 bulan tepat di sebelah tubuh Jinhyuk yang sedang meringkuk. Orang misterius tersebut tersenyum saat melihat wajah tenang Jinhyuk yang tertidur. Jari jemarinya mulai merapihkan rambut Jinhyuk yang mulai memanjang.

“Hm... Kamu harus potong rambut nih, Hyuk!“ucapnya pelan.

“Kenapa keliatan engga keurus gini sih kamu, Hyuk?“ucapnya lagi ketika menemukan rambut halus di sekitar wajah Jinhyuk.

“Kamu agak demam, semalem kalian pesta ya?“tanya orang tersebut lagi.

“Jinwoo sama papi dulu ya! papa mau bikin sarapan dulu”orang misterius tersebut memberikan kecupan ringan di kening Jinhyuk serta anak bayi bernama Jinwoo tersebut.

[07.23 KST]

“Woo... Youn... Bangun yuk! Kita sarapan bareng-bareng”Orang misterius tadi sudah menyelesaikan kegiatannya di dapur dan mulai membangunkan satu persatu mahluk yang masih bergelung di dalam selimut mereka masing-masing.

“Bentar.... Ngantuk....“ucap Seungwoo yang kembali menarik selimutnya. Orang misterius tersebut memutuskan masuk ke dalam kamar tamu untuk membangunkan orang lain.

“Chan... Jin... Bangun yuk. Kita sarapan bareng”ucapnya sambil menarik tirai agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar tamu tersebut.

“Ka sejin! Iseng amat sih ngapain buka-buka jendela!!!“Byungchan meracau ketika cahaya matahari mulai mengganggu tidurnya.

“Bukan gueee”ucap Sejin pelan sambil menarik selimutnya agar menutupi seluruh wajahnya.

“Siapa sih, iseng.... ANJIR?!!?!?!? KA WOOSEOK?!?!?!?!?“Byungchan hampir saja terjatuh dari tempat tidur ketika mendapati Wooseok berdiri tersenyum di depan jendela.

“Biasa aja Chan, lo kayak ngeliat apaan sih”ucap Wooseok tenang.

“Ka.... sumpah ini beneran lo?“tanya Byungchan lagi dan Wooseok mengangguk, “yaaaa lo maunya gue siapa?“tanya Wooseok sinis.

“Bangunin sejin... Tuh laki lo juga pada bangunin”ucap Wooseok sembari meninggalkan Byungchan yang masih belum sepenuhnya sadar.

“Eh udah pada bangun! Good morning!!!“ucap Wooseok santai ketika melewati Seungwoo dan Seungyoun yang masih mengumpulkan nyawa mereka di atas sofa. Seungwoo dan Seungyoun hanya dapat saling beradu tatap.

Wooseok berjalan santai masuk ke dalam kamar utama dan mendapati anak lelaki yang tertidur tadi sudah terbangun.

“Anak papa udah bangun! Pinter engga nangis... Ih pasti karena bobo sama papi ya?“ucap Wooseok yang perlahan naik ke atas kasurnya.

“Papi banguun!! Jinwoo udah bangun papiiii”ucap Wooseok menirukan suara anak bayi. Jinhyuk hanya menggeser tubuhnya sedikit tanpa berniat untuk membuka matanya.

“Papiiii, papi engga mau ketemu Jinwoo ya? Ayok bangun papiiii”ucap Wooseok lagi.

Jinhyuk mulai bergerak tidak nyaman karena Wooseok menempelkan pipi Jinwoo ke wajahnya. Jinhyuk mulai membuka matanya dan melihat Wooseok yang sedang duduk di sebelahnya dengan seorang bayi dalam gendongannya.

“Wooseok?“tanya Jinhyuk setengah tidak percaya.

“Hallo! Papi udah banguuun. Papi cium Jinwooooo”Wooseok menyerahkan Jinwoo ke Jinhyuk, tetapi respon JInhyuk malah menjauhi bayi tersebut.

“Kok kamu engga mau gendong Jinwoo sih Hyuk? Kan Jinwoo anak kita!!“ucap Wooseok merajuk.

“Seok... Ini beneran kamu”tanya Jinhyuk tapi Wooseok masih diam dan hanya memperdulikan Jinwoo dalam dekapannya.

“Seok... jawab aku, ini beneran kamu?“tanya Jinhyuk lagi dan Wooseok menatap Jinhyuk sinis.

“Bukan! Aku bukan Wooseok, Aku papahnya Jinwoo”ucap Wooseok datar.

“Iya lahhhh Jinhyuk!! Aku ini Wooseok, Kim Wooseok. Tunangan kamu, Calon suami kamu, suami kamu dalam dua hari kedepan, papahnya Jinwoo”ucap Wooseok menjelaskan.

Jinhyuk menatap Wooseok tidak percaya dan detik kelima, JInhyuk menarik pelan tubuh Wooseok dan memeluknya. Gerakan Jinhyuk yang tiba-tiba, membuat Jinwoo menangis.

“Jinhyuk... ih ini Jinwoo nangis, lepas”ucap Wooseok, melepas pelukan Jinhyuk.

Wooseok pun bangun dan menimang-nimang Jinwoo agar berhenti menangis.

“Maaf yaaa sayang, papi kamu emang suka peluk-peluk papa. Kamu kalo mau protes, nangis aja engga apa-apa”ucap Wooseok santai.

Wooseok menoleh ke depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka dan mendapati keempat temannya beridir termenung di depan kamar.

“Hallo om seungwoo! om seungyoun! om byungchan! om sejin!“ucap Wooseok kearah empat temannya tersebut.

“Ka...“ucap Byungchan dan Wooseok kembali menoleh.

“Lo mau cerita ke kita engga?“tanya Byungchan lagi.

“Cerita apaan? Minggir bentar, gue mau bikinin Jinwoo susu. Ah iya! Gue udah bikinin sarapan, yuk sarapan udah mau jam delapan”ucap Wooseok tenang sambil berjalan santai keluar kamar.

[08.45 KST]

“Seok, lo gatau gimana gilanya JInhyuk pas engga bisa nemuin lo dimanapun”ucap Seungwoo setelah mendengarkan cerita Wooseok.

“Ya gimana... Gue awalnya emang mau bikin kejutan, tapi maksud gue engga sampe segininya sih”ucap Wooseok menatap Jinhyuk yang terlihat lelah itu.

“Handphone gue masuk ke closet, trus urusan gue di Busan tuh banyak karena harus ngurusin surat-surat Jinwoo”ucap Wooseok kembali menjelaskan.

“Kenapa kamu engga bilang sebelumnya ke aku? Kenapa engga minta temenin aku? Kita bisa urus surat-surat Jinwoo bareng-bareng”tanya Jinhyuk lemah.

“Kan aku mau buat kejutan, taunya kalian semua bener-bener terkejut”ucap Wooseok mengerucutkan bibirnya.

“Wahhh gue mau marah, tapi engga bisa. Tapi gue mau marah beneran, asli”ucap Byungchan sambil mengatur nafasnya.

“Yang penting kan gue udah balik?“ucap Wooseok lagi.

“Aku udah balik Jinhyuk, aku engga bakal ilang-ilangan lagi”ucap Wooseok memeluk Jinhyuik erat.

“Jangan pernah ilang-ilangan lagi”ucap Jinhyuk yang semakin mengeratkan pelukannya.

“Iya aku janji!“ucap Wooseok.

“Malam ini harus bener-bener party gede-gedean nih, gue engga mau tau”ucap Seungyoun yang disetujui oleh Sejin.

“Ada Jinwoo.....hehe”ucap Wooseok sambil melirik baby bouncher di sebelahnya.

“Kenapa lo engga ngangkat anak habis kawin aja sih Seok!!!!“teriak Seungyoun frustasi.

“Gue udah kawin dari tiga tahun yang lalu yaaa Youn”ucap Wooseok tenang.

“TMI! Gue engga butuh”ucap Sejin malas dan Wooseok hanya tertawa melihat teman-temannya frustasi.

Di sisi lain, jinhyuk tidak pernah sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Wooseok yang sekarang sudah kembali duduk disebelahnya. Tangan Jinhyuk menggenggam erat tangan Wooseok dengan ibu jari yang mengusap lembut punggung tangan Wooseok.

“Aku sayang kamu”ucap Jinhyuk berbisik yang membuat Wooseok menoleh.

“Aku tau. Karena aku juga”ucap Wooseok tersenyum.

Jinhyuk menarik Wooseok dan menyandarkan tubuh Wooseok di dadanya. Jinhyuk dan Wooseok sesekali tertawa melihat sikap Byungchan. Mereka juga sesekali melirik kearah Jinwoo yang sedang lelap tertidur.


[Wooseok kembali. Wooseok tidak benar-benar pergi. Dia baik-baik saja. Jinhyuk juga baik-baik saja. Kalian dapat melihat perjuangan Jinhyuk untuk menemukan Wooseok]

Pertama Kedua

New York.


D-3 to Wedding Day

Setelah memutuskan sambungan telfonnya dengan Seungyoun, Jinhyuk kembali ke apartmentnya. Waktu sudah menujukan pukul delapan pagi lewat tiga puluh lima menit saat Jinhyuk sedang sibuk menggigit kuku jari jemarinya. Beberapa kali, dirinya juga mengetukkan ujung sepatunya ke lantai. Jinhyuk gelisah.

“Gimana bang, bisa di reschedule jadwal gue?“tanya Jinhyuk panik dan Seungwoo menggeleng.

“Ini musim liburan, semua tiket udah habis. Kalo lo tetep nekat, lo harus transit beberapa kali. Bakalan lebih lama waktu tempuhnya dan harga tiketnya juga bisa tiga kali lipat dari harga tiket biasa”ucap Seungwoo menjelaskan.

“Gue engga perduli bang! Gue harus ketemu, Wooseok”ucap Jinhyuk dengan memberikan penekanan di setiap katanya.

“Hyuk, lo yakin? Jangan gegabah. Kita nunggu informasi dari polisi dulu, ini belum ada dua puluh empat jam semenjak laporan kita ke polisi”ucap Seungyoun menenangkan.

“Gue tanya balik sama lo. Kalo tiga hari lagi lo bakalan nikah dan tiba-tiba Sejin hilang tanpa satupun jejak ataupun petunjuk. Lo bakalan diem aja? Nungguin Sejin ngubungin lo lagi? Lo bakalan diem aja dan nungguin polisi?“tanya Jinhyuk emosi.

“Udah, Hyuk. Sabar....“ucap Seungwoo menenangkan.

“Gue engga ngerti sama jalan pikiran lo, Youn. Tunangan gue ilang. Calon suami gue ilang Youn!!!!“ucap Jinhyuk berteriak.

Jinhyuk terduduk di lantai apartmentnya, melipat kakinya ke depan dada dan merapalkan nama Wooseok berkali-kali.

“Gue dapet penerbangan ke New York”ucapan Seungwoo membuat Jinhyuk kembali berdiri dan mencengkram kedua lengan lelaki yang lebih tinggi darinya itu.

“Tapi buat besok siang...“ucap Seungwoo pelan dan raut wajah Jinhyuk seketika berubah.

“Bang.... please, gue butuh penerbangan siang atau sore ini. Gue engga bisa nunggu sampe besok lagi bang....“Jinhyuk frustasi.

“Engga ada. Gue udah coba cari di maskapai apapun, tapi penerbangan tercepat emang cuma ada buat besok siang”ucap Seungwoo meyakinkan.

“Bang, lo bisa gunain power lo bang. Gue tau, lo orang hebat bang... Bantu gue....“tatapan mata Jinhyuk benar-benar menyiratkan keputus-asaan.

“Gue coba lagi, tapi kalo emang bener-bener engga ada. Lo mau ambil atau engga penerbangan buat besok siang?“tanya Seungwoo dan Jinhyuk mengangguk lemah, “Iya gue ambil”ucap Jinhyuk pelan.


“Iya pak, tolong bisa disusun di sebelah sana aja ya pak”Byungchan memberikan arahan ke pada seorang pekerja yang membawa beberapa buah kardus. Hari ini adalah jadwal kepindahan Wooseok ke apartment Jinhyuk dan karena kejadian ini, Byungchan dan Sejin mengambil alih untuk kepindahan Wooseok.

“Chan, makan dulu”ucap Sejin dari dapur apartment milik Jinhyuk.

“Iya sebentar! Makasih ya pak”ucap Byungchan sebelum menutup pintu utama apartment milik Jinhyuk.

“Loh, engga ikutan?“tanya Byungchan pelan saat melirik Jinhyuk yang hanya diam duduk di sofa miliknya. Sejin menggeleng.

“Yaudah kita aja dulu yang makan, habis itu gue pastiin dia makan walaupun cuma tiga suap”ucap Seungwoo menenangkan ketiga temannya.

Ting

Ponsel pintar milik Sejin berbunyi dan dengan sigap Sejin memeriksa ponsel pintarnya.

“Sepupu gue... Dia bilang, nama Wooseok engga ada di penerbangan manapun keluar negeri dalam seminggu ini”ucap Sejin sambil masih membaca pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya.

“Berarti kemungkinan besar, Wooseok masih ada di Korea. Dia engga keluar negeri!“ucap Sejin bersemangat.

Semua mata menoleh ketika Jinhyuk merebut dengan paksa ponsel milik Sejin. Jinhyuk membaca setiap kata yang tertulis dalam pesan singkat tersebut sebelum akhirnya tubuh kembali bertemu dengan dinginnya lantai dapur petang itu.

Flashback

“Kamu nonton home alone lagi? Emang engga bosen?“Jinhyuk berjalan menghampiri Wooseok dengan dua gelas coklat panas ditangannya. Wooseok tersenyum dan menggeleng.

“Gatau, aku engga pernah bosen. Padahal film ini udah ada dari aku masih kecil, terus ini si Kevin kan juga jauh lebih tua dari aku. Tapi aku engga pernah bosen aja nontonnya”ucap Wooseok antusias.

“Kamu tau engga sih? Aku tuh selalu mikir, enak kali ya ilang dan jalan-jalan sendiri kayak si Kevin”Wooseok mulai tertawa menceritakan keinginannya dari masa lalu.

“Tapi kan sekarang ada aku, kalo kamu mau ke New York haru sama aku! Engga boleh sendirian”ucap Jinhyuk mencubit ke dua pipi Wooseok gemas.

“Kenapa?“tanya Wooseok bersedih.

“Aku tuh engga bisa kalo harus jauh sama kamu bahkan harus tau kamu ilang tanpa petunjuk apapun kayak si kevin itu”ucap Jinhyuk menjelaskan. Wooseok menatap lekat ke dua mata Jinhyuk.

“Iya Jinhyuk.... Aku engga bakalan pergi sendirian! Ayok kita rayain natal di New York kayak si Kevin”ucap Wooseok dan Jinhyuk mengangguk antusias.

End of Flashback

Wooseok tidak pernah pergi ke New York. Wooseok akan selalu menepati janjinya dengan Jinhyuk. Wooseok akan merayakan natal di New York bersama Jinhyuk dan tidak akan sendirian.

[Kalian belum dapat menemukan Wooseok. Tetapi kalian masih memiliki kesempatan untuk menemukan Wooseok]

Lanjutkan

Tempat Mama-Papa.


D-3 to Wedding Day

Jinhyuk masuk ke dalam apartmentnya dengan langkah cepat. Seungwoo, Seungyoun, Byungchan serta Sejin sudah menunggu Jinhyuk dengan wajah tegang dan panik.

“Jangan gegabah, Hyuk”Seungwoo adalah orang pertama yang berani menahan pergerakan Jinhyuk.

“Engga bang, gue yakin. Wooseok ada disana”ucap Jinhyuk bergetar.

“Gue baca buku catatan Wooseok dimana dia selalu nulis keinginan-keinginan dia. Banyak keinginan dia yang belum tercapai, tapi gue yakin dia ada disana”ucap Jinhyuk lagi. Jinhyuk pun masuk ke dalam kamarnya diikuti keempat temannya.

“Lo mau naik apa kesana?“tanya Seungyoun.

“KTX”ucap Jinhyuk sambil merapihkan barang bawaan yang akan dibawanya ke Daejeon.

“Kita anter”ucap Seungwoo yang disetujui ketiga lelaki dewasa lainnya sedangkan Jinhyuk hanya dapat pasrah dan menyetujuinya.

Jinhyuk sibuk menggigit kukunya. Kakinya juga tidak bisa diam, membuat Seungwoo yang duduk di kursi pengemudi harus beberapa kali memperingatkan Jinhyuk untuk diam.

“Kenapa lo bisa yakin kalo Wooseok balik ke Daejeon?“tanya Seungyoun mendistraksi JInhyuk.

“Wooseok pernah bilang ke gue, dia mau ngunjungin orang tuanya setidaknya sebelum kita nikah”ucap Jinhyuk pelan.

“Kita? Itu maksudnya Wooseok sama lo kan? Berarti masih ada kemungkinan Wooseok engga ada disana?“pertanyaan Byungchan berhasil membuat Jinhyuk menoleh.

“Sorry... Gue hanya berandai-andai. Karena kita engga punya satupun petunjuk dari Wooseok kecali buku catatan Wooseok”ucap Byungchan menjelaskan.

“Di buku catatan Wooseok juga ketulis jelas, kalo keinginannya yang belum kecapai ada lebih dari lima belas point”ucap Sejin menambahkan.

“Wooseok itu engga tau siapa orang tua kandung dia. Wooseok itu sayang banget sama orang tua angkatnya. Bahkan Wooseok sempat bersikeras biar pemakaman orang tuanya tetep dilakuin di Seoul dan bukan Daejeon”ucap Jinhyuk menjelaskan.

“Gue yakin dia kesana....“ucap Jinhyuk menahan tangis.

“Tapi sendirian, Hyuk”ucap Seungwoo mengingatkan.

“Setidaknya gue harus berusaha, bang! Gue engga mungkin nungguin informasi polisi atau cuma ngandelin kita berlima aja”Jinhyuk mulai tersulut emosi.

Suasana hening menyelimuti hampir setengah perjalanan mereka.


“Hallo bi?“Jinhyuk menerima sebuah panggilan telfon saat dirinya baru saja tiba di stasiun KTX.

“Jinhyuk, bagaimana persiapan pernikahanmu? Semua lancar kan? Bibi tidak bisa menghubungi Wooseok sejak kemarin. Kalian baik-baik saja kan?”

Jinhyuk lemas. Adik dari ibu angkat Wooseok menanyakan hal tentang Wooseok, hal itu menandakan bahwa Wooseok tidak ada di Daejeon. Jinhyuk kembali terduduk lemas dengan ponsel yang masih tersambung.

“Hallo bi? Saya Byungchan, teman Jinhyuk. Iya bi, semua baik-baik saja. Jinhyuk baru saja dipanggil oleh pihak Wedding Organizer jadi telfonnya diserahkan kepada saya”ucap Byungchan berbohong.

“Iya baik bi”ucap Byungchan sebelum memutuskan sambungan telfon tersebut.

Byungchan menatap ke arah Seungwoo, Seungyoun dan Sejin secara bergantian. Jinhyuk masih terduduk dengan sesekali menarik pelan rambutnya yang bentuknya sudah tidak karuan.

“Ayok kita pulang, Hyuk. Kita cari Wooseok besok lagi”ucap Seungyoun yang berusaha menarik Jinhyuk agar berdiri.

Jinhyuk berjalan lemas dengan bantuan Seungyoun sebagai penahan berat badannya.

“Gue pusing.... Wooseok engga mau nikah sama gue kali ya?“ucap Jinhyuk pelan.

“Jangan pernah ngomong gitu, lo tau kan kalo Wooseok paling semangat ngurusin semuanya sendirian?“ucap Byungchan menanggapi.

Suasana sunyi menyelimuti perjalanan kelima lelaki dewasa tersebut. Tidak ada satupun orang yang memulai pembicaraan. Jinhyuk yang terlalu lelah akhirnya jatuh tertidur dikursi penumpang.

Wooseok tidak pernah mengkhianati janjinya. Jika ia berjanji akan pergi bersama Jinhyuk, ia pasti akan menepatinya

[Kalian belum dapat menemukan Wooseok. Tetapi kalian masih memiliki kesempatan untuk menemukan Wooseok]

Lanjutkan

[!!!] Hurt. If you have Autophobia atau takut kehilangan, please do not read this story. Harsh Words.


D-10 to Wedding Day

“Jinhyuk, hari ini jadwal kita ke butik sama toko bunga ya! Mastiin kalo semuanya sesuai pesanan”Wooseok berbicara sedikit keras mengingat kekasihnya yang sedang ia ajak bicara sedang berada di dalam kamar mandi.

“Iya sayaaaang! Atur aja, aku jadi supir kamu seharian ini”ucap Jinhyuk dari kamar mandi dan Wooseok hanya menggeleng mendengar jawaban kekasihnya -yang akan menjadi suaminya dalam sepuluh hari ke depan.

“Nanti bajunya kalo masih engga nyaman bilang ya! Aku tau kamu engga enak sama Sejin, tapi kalo kamu engga nyaman nanti bilang aja mumpung masih ada waktu”ucap Wooseok saat ia baru saja memposisikan dirinya untuk duduk dikursi penumpang di sebelah Jinhyuk.

“Nyaman kok, kemaren cuma agak kepanjangan aja di bagian tangan. Aku udah bilang Sejin juga kemaren sama minta tolong bagian celananya agak di gedein dikit, biar aku bisa puas makan hehe”Jinhyuk tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Wooseok.

“Liat ke depan, jangan liat ke aku mulu!“ucap Wooseok ketika melihat Jinhyuk yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Jinhyuk pun menuruti apa yang dikatakan kekasihnya dan sebagai gantinya, Jinhyuk menarik sebelah tangan Wooseok dan menggenggamnya.

Sepanjang perjalanan, Jinhyuk sama sekali tidak melepas genggaman tangannya dengan Wooseok. Walaupun beberapa kali Wooseok berusaha melepas genggaman tersebut, tetapi karena tenaga Jinhyuk yang lebih kuat dari Wooseok akhirnya usaha Wooseok selalu gagal.

“Calon mempelai kesayangan gue dateng!!!“Sejin dengan wajah cerah menghampiri Wooseok dan Jinhyuk yang baru saja turun dari mobil. Seperti sudah terbiasa, tubuh Sejin merengkuh tubuh Wooseok yang tidak kalah mungil dari dirinya.

“Gue engga sekalian Jin?“ucap Jinhyuk merentangkan tangannya dan berhasil mendapatkan hadiah sebuah tatapan sinis dari Sejin maupun Wooseok.

“Sini, gue aja yang peluk. Mau?“Jinhyuk menoleh dan mendapati Seungyoun berdiri tepat di depan butik milik Sejin. Jinhyuk otomatis menurunkan kedua lengannya dan menatap jijik Seungyoun.

Sejin menarik pelan Wooseok untuk masuk ke dalam butiknya, “Gue ubah dikit model jas yang bakalan lo pake. Engga apa-apa ya? Soalnya gue gemes, gue tuh mau temen gue pakai sesuatu yang istimewa di hari istimewanya”ucap Sejin menjelaskan.

“Jin.... Ini tapi bagus banget. Mahal kan pasti?“ucap Wooseok pelan.

“Apaan sih! Engga, sama sekali engga mahal. Ini khusus buat lo, gue kasih sebagai hadiah”ucap Sejin antusias. Wooseok menatap Sejin dengan air mata yang dapat terjatuh sewaktu-waktu dari kedua pelupuk mata Wooseok.

“Seok... Kok lo nangis sih?“ucap Sejin menahan tangisnya ketika melihat teman dihadapannya sedang menahan tangis.

“Kenapa sih.... Orang-orang baik sama gue? Jinhyuk... trus lo... Kenapa semua orang baik sama gue?“tanya Wooseok terisak.

“Karena lo emang pantes Wooseok. Lo pantes dapet kebaikan dari kita semua, karena lo orang baik”ucap Sejin menghapus air mata yang mulai turun membuat aliran bening disekitar pipi Wooseok.

“Udah jangan nangis lagi! Nanti gue dimarahin Jinhyuk. Mendingan lo cobain bajunya, trus bikin Jinhyuk engga sabaran nungguin sepuluh hari lagi”ucap Sejin dan dibalas anggukan setuju Wooseok.

“Jinhyuk! Ih Lee Jinhyuk!! Jinhyuk? Aku jelek ya? Yaudah aku ubah ke baju pertama aja ya?“Wooseok baru saja berjalan menghampiri Jinhyuk dengan jas yang khusus dibuat Sejin untuknya.

“Woyy pak! Tutup itu mulut”ucap Seungyoun menyenggol pelan lengan Jinhyuk, membawa Jinhyuk kembali ke alam sadarnya. Jinhyuk tersenyum dan berjalan menghampiri Wooseok.

“Stop!! Engga ada pelukan ya. Nanti baju gue kusut. Mending lo komen deh, ada yang kurang engga?“tanya Sejin saat menahan Jinhyuk agar tidak memeluk Wooseok saat itu juga.

“Iya ada....“ucap Jinhyuk pelan.

“Hah apaan?“Wooseok, Sejin dan Seungyoun serempak bertanya dan menoleh ke arah Jinhyuk.

“Kurang cepet nih gue nyari tanggal nikahan. Bisa engga, nikahan gue besok aja?“tanya Jinhyuk dengan raut wajah yang dibuat-buat bersedih dan membuat Wooseok tersipu malu.

“Youn, mending kamu ajak temen kamu ngopi deh. Mulai error otaknya”ucap Sejin malas.

“Jangan! Jinhyuk engga boleh minum kopi dua minggu ini”ucap Wooseok panik dan Sejin tertawa.


“Kita makan dulu ya? Habis ini baru ke tempat Chan”ucap Wooseok menoleh ke arah JInhyuk yang sedang fokus dengan jalanan di depannya dan Jinhyuk menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Wooseok.

“Kamu itu engga diet kan? Kenapa makin kurus sih?“jari jemari Wooseok menelusuri setiap jengkal wajah Jinhyuk yang memang terlihat semakin kurus.

“Kamu kecapean ya? Ngurusin ginian emang bikin tenaga kekuras sih, belum kalo kita suka beda pendapat”ucap Wooseok lagi.

Jinhyuk melirik ke arah kekasih kecilnya yang duduk bersandra di kursi penumpang di sebelahnya. Jinhyuk tersenyum kecil sebelum menarik sebelah tangan Wooseok dan seperti memberikan kode, Jinhyuk meletakan tangan Wooseok dipipinya.

“Aku engga cape. Aku seneng. Seneng banget malahan. Siapa sih yang engga excited nungguin pernikahannya yang udah tinggal menghitung hari lagi?“Jinhyuk mengakhiri ucapannya dengan memberikan kecupan ringan di punggung tangan Wooseok sebelum menggenggam tangan kecil tersebut dan membuat hati Wooseok sedikit tenang.

“Permisi. Ada yang pesan ayam goreng?”

“Nu!! Kamu pesen ayam goreng emang?”

“Engga kok sayang, salah alamat kali”

Derap langkah yang terburu terdengar dari dalam sebuah ruangan di dalam toko tersebut.

“Maaf, disini... WHAT????“Byungchan, orang yang tadi langkahnya terdengar terburu-buru itu menatapa kedua temannya tidak percaya.

“Ide Jinhyuk, bukan gue”ucap Wooseok dengan tenang dan melenggang masuk ke dalam toko bunga milik Byungchan.

“Kalo gue engga inget lo nikah sepuluh hari lagi, udah gue botakin lo!“ucap Byungchan emosi dan Jinhyuk hanya tertawa.

“Bang seungwoo mana?“tanya Wooseok sambil melihat koleksi bunga milik Byungchan yang sepertinya masih baru.

“Diatas. Banyak barang yang baru dateng, jadi dia lagi beres-beres dulu”ucap Byungchan.

“Udah makan?“tanya Wooseok lagi dan Byungchan menggeleng.

“Emang ya lo berdua! Tuh gue bawa rice box dimakan dulu sekalian ngomongin yang kemaren lo chat itu”ucap Wooseok dan Byungchan mengangguk antusias.

“Oke! Yuk masuk ruangan gue aja”ucap Byungchan berjalan terlebih dahulu keruangannya.

“Sayangggg, kita dapet makanan gratis!!!“Byungchan sedikit berteriak untuk memanggil kekasihnya agar turun dan ikut makan siang bersamanya.

“Yaudah gue ikut aja sama ahlinya, gue engga ngerti juga soalnya”ucap Wooseok pasrah.

“Bang, jangan lupa ya! Nanti gue chatting lagi detailnya”ucap Jinhyuk dan Seungwoo hanya memberikan gesture dengan tangannya tanda setuju.

“Detail apaan? Emang masih ada yang kurang?“tanya Wooseok bingung dan Jinhyuk menggeleng.

“Hah? Engga kok. Itu... Detail acara aja sih, rundwon acara”ucap Jinhyuk kikuk.

Rundown? Bukannya diurus Wedding Organizer? Kok jadi kalian yang urus?“tanya Wooseok semakin bingung.

“Btw, ka sejin ngirim foto ke gue tadi!!! Baju lo bagus banget kaaaa, sumpah gue iri!!!“ucap Byungchan tiba-tiba. Jinhyuk dapat bernafas lega karena Byungchan berhasil mengalihkan pembicaraan siang itu.


D-5 to Wedding Day

Jinhyuk keluar dari toko bunga milik Byungchan seorang diri. Senyum Jinhyuk menghiasi wajahnya, di tangannya terdapat sebuah amplop yang membuatnya harus mengunjungi toko bunga milik Byungchan pagi ini.

Jinhyuk masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan dua buah kertas dari dalam amplop tersebut. Dua buah tiket perjalanan ke New York, tepat sehari setelah tanggal pernikahannya dengan Wooseok. Sebuah kejutan untuk calon suaminya, sebagai hadiah pernikahan mereka.

Wooseok itu pencinta Natal, Salju dan Serial televisi liburan saat Natal. Wooseok tidak pernah melewatkan kesempatannya untuk menyaksikan Kevin di Home Alone walaupun tayangan tersebut diputar setiap natal di setiap tahunnya.

Wooseok selalu bercerita, jika dirinya ingin sekali menghabiskan natal seperti Kevin. Jinhyuk sempat protes, sebelum akhirnya Wooseok mengubah keinginannya tersebut. Wooseok mengubah keinginannya dari Menikmati Natal di New York sendiri menjadi Menikmati Natal di New York bersama Jinhyuk.

Nomer yang ada hubungi sedang berada di luar jangkauan, silahkan menghubungi beberapa saat lagi

Jinhyuk menghela nafas panjang. Setidaknya pagi ini sebelum pergi ke toko bunga milik Byungchan, Jinhyuk sudah mencoba menghubungi Wooseok hampir lima belas kali tetapi semua panggilan tersebut hanya dijawab oleh operator.

“Kok tumben sih? Semalem bahkan dia engga ngajakin video call“ucap Jinhyuk sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.

Tanpa pikir panjang, Jinhyuk memutar kemudi mobilnya untuk menuju apartment milik Wooseok. Hati kecil Jinhyuk mengatakan, bahwa Jinhyuk harus ke apartment Wooseok detik itu juga.

Sebelum memacu kendaraannya lebih cepat, Jinhyuk sudah lebih dahulu mengirim pesan ke beberapa teman dekatnya, mencari tahu keberadaan calon suaminya tersebut.

Jinhyuk menekan bel dengan tidak sabaran. Jinhyuk hafal password apartment kekasihnya, tapi dia masih ingat apa itu namanya sopan santun. Setelah hampir tujuh menit tidak ada tanggapan, jari jemari Jinhyuk mulai menekan password tersebut.

“Wooseok.... Sayang? Kamu dimana?“Jinhyuk mendengarkan pandangannya. Apartment Wooseok tidak lebih besar dari milik Jinhyuk dan keadaannya saat ini sudah hampir kosong.

Jinhyuk duduk di sebuah sofa yang sudah dibungkus plastik yang berada di unit kosong tersebut. Nada sambung ketiga, nomer tersebut menjawab telfon Jinhyuk.

“Hallo, saya ingin menanyakan kepindahan atas nama Tn. Wooseok dari Gedung Boulevard Lantai 45 Nomer 4507”ucap Jinhyuk mencoba tenang.

“Selamat siang pak. Pihak kami belum menerima konfirmasi terkait kepindahan Tn. Wooseok. Pihak kami sudah mencoba menghubungi Tn. Wooseok, tetapi nomer telfon Tn. Wooseok tidak bisa kami hubungi”

Jinhyuk lemas. Jinhyuk mematikan sambungan telfon setelah memberikan penjelasan kepada pihak di sebrang telfon.

“Seok... Kamu kemana....“Ucap Jinhyuk lemas.


D-4 to Wedding Day

“Makan hyuk. Lo kalo begini terus, gimana mau nyariin Wooseok”Seungwoo meletakan tray berisikan makanan yang sebelumnya sudah ia hangatkan lebih dahulu.

“Woo... Sejin sama Seungyoun udah balik”Byungchan berbicara pelan dari depan kamar milik Jinhyuk. Jinhyuk menoleh lalu berjalan cepar menghampiri Sejin serta Seungyoun, bahkan Jinhyuk menabrak Byungchan yang masih berdiri di depan kamarnya.

“Gimana? Apa kata Polisi? Udah ada petunjuk?“Jinhyuk bertanya tepat dihadapan Seungyoun dan Sejin yang aedang mengistirahatkan diri mereka di sofa ruang tamu milik Jinhyuk.

“Kita kesana baru buat laporan, Hyuk. Polisi bakalan secepatnya hubungin kita, kalo udah dapet petunjuk”ucap Sejin menjelaskan.

“Kelamaan! Kenapa engga langsung cari aja?“ujar Jinhyuk emosi.

“Mending gue cari sendiri! Emang engga ada yang becus”Jinhyuk mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di depan televisi. Tanpa memperdulikan penampilannya, Jinhyuk meninggalkan keempat temannya di apartment miliknya.

“Jinhyuk!!“Terlambat. Teriakan Seungwoo tidak dapat di dengar Jinhyuk karena pintu lift yang membawa Jinhyuk ke parkiran itu sudah tertutup.

“Wooseok.... Please.... Kasih aku petunjuk... Kamu dimana?“Jinhyuk mengedarkan pandangannya ke jalanan yang masih terbilang ramai. Jinhyuk akhirnya memilih menepikan mobilnya dan berjalan kaki untuk mencari Wooseok.

Kaki Jinhyuk berjalan tanpa tujuan yang pasti. Jinhyuk sebenarnya tidak tahu kemana harus mencari Wooseok. Tidak ada petunjuk apapun yang ditinggalkan oleh Wooseok. Jinhyuk merasa bodoh, Jinhyuk merasa jika dirinya maish belum mengenal Wooseok seutuhnya.


D-3 to Wedding Day

Waktu sudah menunjukan pukul dua belas lebih sepuluh menit malam, ketika kaki Jinhyuk berhenti di depan unit apartment milik Wooseok. Jinhyuk membuka pintunya. Unit ini harus benar-benar dikosongkan lusa. Jinhyuk pun berjalan ke kamar yang biasa di tempati Wooseok dan entah sejak kapan, lampu tidur di nakas yang terletak tepat di sebelah tempat tidur itu menyala.

Jinhyuk duduk dilantai. Lantai dingin, bahkan lantai tersebut terasa lebih dingin walaupun pendingin ruangan di kamar tersebut tidak dinyalakan. Jinhyuk memainkan sklar lampu tidur dihadapannya, suara telfon genggam miliknya ia abaikan sejak tadi. Mata Jinhyuk hampir saja tertutup karena kelelahan hingga Jinhyuk menemukan sebuah buku catatan di laci tersebut.

Jinhyuk membuka laci tersebut dan menemukan buku catatan yang biasa digunakan Wooseok untuk menulis segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan Wooseok merekatkan foto Jinhyuk pada halaman terdepan buku tersebut. Jinhyuk membuka halaman demi halaman buku tersebut.

Wooseok's Bucket List

Tangan Jinhyuk terhenti tepat di sebuah halaman yang berisi keinginan Wooseok sebelum dirinya menginjakan kaki di usia tiga puluh tahun. Beberapa daftar keinginan sudah di coret oleh Wooseok sebagai tanda jika dirinya sudah berhasil memenuhi keinginannya. Beberapa daftar tersebut membuat Jinhyuk tersenyum, diantaranya:

(37) First Kiss Note: I got my fist kiss with Jinhyuk on Valentine's Day

(52) First S(oo) Note: I love you Jinhyuk! Thank you for being gentle with me

(80) Engaged Note: Yes, I do Jinhyuk!! Engga bakalan aku nolak :(

Jinhyuk tersenyum tapi tanpa ia sadari air matanya juga jatuh hingga menetes ke halaman yang terbuka. Jinhyuk membaca daftar keinginan Wooseok yang belum tercapai.

(5) I'll be an Astronaut Note: Tidak mungkin Wooseok! Jalan hidup kamu adalah seorang akuntan

(22) NASAAAAAA Note: Hm........................ Bisa kan bisa?

(42) New York! Let's Get Lost seperti Kevin hehe Note: Perginya engga boleh sendiri, harus bareng Jinhyuk katanya :(

(78) Tempat Mama & Papa minimal setahun sekali Note: Ingatkan aku datang lagi sebelum aku menikah!

(93) Get a baby? hehe Note: I'll go to “my place” and get a baby

Jinhyuk tersentak melihat beberapa daftar keinginan Wooseok yang belum tercapai. Jinhyuk segera mengambil telfon genggamnya dan menghubungi seseorang.

“Youn... Gue tau, Wooseok dimana....“ucap Jinhyuk dengan suara bergetar.

[[The Choice is Up to You]]

Pilihan Pertama Pilihan Kedua Pilihan Ketiga

Cerita Wooseok.


Wooseok menghela nafas panjang, melihat updatean teman-temannya yang bisa dibilang sudah mempunya kekasih baru, sedangkan Wooseok? Wooseok hanya dapat tersenyum getir, mengingat kejadian semalam.

Jika kalian masih ingat, Jinhyuk sempat menanyakan perihal hubungannya dengan Wooseok. Jujur Wooseok saat itu sangat kaget, Wooseok bingung ingin menjawab apa, karena pertanyaan yang dilontarkan Jinhyuk dan berakhir mendiami Jinhyuk sepanjang perjalanan.

Malam itu, Jinhyuk datang. Alasannya? Awalnya Wooseok kira Jinhyuk ingin kembali menanyakan perihal hal yang sama, tetapi ternyata Wooseok salah. Wooseok tidak tahu, jika Jinhyuk terlampau polos atau dirinya yang terlampau percaya diri. Malam itu, Jinhyuk hanya membicarakan perihal Jendral.

Jendral, kucing yang mereka adopsi beberapa waktu lalu. Kucing yang dapat dibilang menjadi media yang membuat hubungan Wooseok dan Jinhyuk semakin dekat.

Malam ini, saat kedua temannya sudah selesai berlibur, seharusnya Wooseok menjemput mereka di bandara bersama Yohan atau bahkan Jinhyuk? Tapi Wooseok bahkan enggan bangun dari kasur yang sudah ia tempati seharian ini.

“Dek, ada temennya!“Wooseok mengerang malas.

“Apaan sih? Masa iya Byungchan sama Sejin langsung kesini? Pasti gara-gara Yohan!“ucap Wooseok bermonolog.

“Iya bun! AKu cuci muka dulu”ucap Wooseok malas.

Wooseok, menggunakan setelah rumahan Kaos kebesaran dan celana kekecilan itu turun dari kamarnya dengan rambut yang dapat dibilang tidak dalam kondisi bagus.

“Dek, kamu itu engga mandi ya dari kemaren?“ucap ibunda Wooseok ketika meliat anak bungsung dengan kondisi seperti zombie.

“Males”ucap Wooseok sekenanya.

“Itu ada temen kamu di depan, udah bunda suruh masuk tapi gamau”ucap Bunda Wooseok lagi.

“Ngapain lo pada ke——“ucapan Wooseok terhenti ketika ada seseorang yang duduk dengan sebuah stereofoam di mejanya.

“Wooseok, mie ayam!“ucap Jinhyuk tersenyum lebar.


Wooseok memindahkan mie ayam yang dibawakan oleh Jinhyuk ke dalam mangkuk. Setelah memberikan mie ayam kepada budanya, Wooseok kembali ke ruang makan dan duduk di hadapan Jinhyuk.

“Kamu engga makan?“ucap Wooseok pelan dan Jinhyuk menggeleng.

“Tadi udah sama yang lain”ucap Jinhyuk tersenyum.

“Oiya, kamu engga ikut jemput Seungyoun? Bukannya mereka baru sampe jam 8an ini ya?“tanya Wooseok.

“Engga. Soalnya aku dikataikn goblok mulu sama Bang Woo trus sama Yuvin juga”

“Hah? Kenapa?“tanya Wooseok bingung.

“Karena Jendral”ucap Jinhyuk datar dan Wooseok mengernyitkan keningnya.

“Iya, gara-gara aku cuma ngomongin Jendral pas kesini malem-malem. Trus aku juga chat tentang Jendral sama Boss doang, tanpa nanyain kabar kamu. Padahal engga dibales juga sama kamu, tapi aku masih kekeuh aja ngirimin foto Jendral”ucap Jinhyuk dan Wooseok tertawa.

“Aku kira kamu beneran marah sama aku karena Jendral. Tapi aku lupain satu hal....“ucap Jinhyuk menatap Wooseok dalam.

Flashback

“Udah ayok Jinhyuk pulang”ucap Wooseok berjalan cepat, menuju pet shop untuk menjemput Jendral.

Wooseok sebenarnya hanya ingin menyembunyika wajah memerahnya. Wajahnya yang memerah karena pertanyaan Jinhyuk yang mendadak.

“Jendral berarti balik sama aku ya malem ini?“tanya Jinhyuk di dalam mobil setelah menjemput Jendral.

Wooseok menoleh ke arah Jinhyuk. Wooseok menatap Jinhyuk lama dan berfikiri ah mungkin pertanyaan Jinhyuk tadi cuma spontan, soalnya sekarang aja dia lupa itu adalah fikiran yang ada di dalam fikiran Wooseok hari itu.

Wooseok terdiam sepanjang jalan. Walaupun Jinhyuk mengajaknya berbicara dan bercanda, Wooseok hanya menanggapi seadanya.

“Makasih ya jinhyuk”ucap Wooseok lemah yang ditatap aneh oleh Jinhyuk.

“Gue ada salah ngomong ya?“ucap Jinhyuk bermonolog.

Flashback End

Wooseok menunduk, mendengar penuturan Jinhyuk barusan dan Wooseok dapat dengan jelas mendengar kekehan tawa yang berasal dari bibir Jinhyuk.

“Lusa katanya anak didiknya Yohan bakalan tanding?“tanua Jinhyuk dan Wooseok mengangguk.

“Mau aku jemput?“tanya Jinhyuk lagi dan Wooseok menatap Jinhyuk bingung.

“Emang aku bilang bakalan dateng?“tanya Wooseok.

“Jangan bikin salah paham lagi”ucap Jinhyuk sambil mencubit ujung hidung Wooseok yang membuat Wooseok meringis kesakitan.

(xposhie)