[!!!] Hurt. If you have Autophobia atau takut kehilangan, please do not read this story. Harsh Words.
D-10 to Wedding Day
“Jinhyuk, hari ini jadwal kita ke butik sama toko bunga ya! Mastiin kalo semuanya sesuai pesanan”Wooseok berbicara sedikit keras mengingat kekasihnya yang sedang ia ajak bicara sedang berada di dalam kamar mandi.
“Iya sayaaaang! Atur aja, aku jadi supir kamu seharian ini”ucap Jinhyuk dari kamar mandi dan Wooseok hanya menggeleng mendengar jawaban kekasihnya -yang akan menjadi suaminya dalam sepuluh hari ke depan.
“Nanti bajunya kalo masih engga nyaman bilang ya! Aku tau kamu engga enak sama Sejin, tapi kalo kamu engga nyaman nanti bilang aja mumpung masih ada waktu”ucap Wooseok saat ia baru saja memposisikan dirinya untuk duduk dikursi penumpang di sebelah Jinhyuk.
“Nyaman kok, kemaren cuma agak kepanjangan aja di bagian tangan. Aku udah bilang Sejin juga kemaren sama minta tolong bagian celananya agak di gedein dikit, biar aku bisa puas makan hehe”Jinhyuk tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Wooseok.
“Liat ke depan, jangan liat ke aku mulu!“ucap Wooseok ketika melihat Jinhyuk yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Jinhyuk pun menuruti apa yang dikatakan kekasihnya dan sebagai gantinya, Jinhyuk menarik sebelah tangan Wooseok dan menggenggamnya.
Sepanjang perjalanan, Jinhyuk sama sekali tidak melepas genggaman tangannya dengan Wooseok. Walaupun beberapa kali Wooseok berusaha melepas genggaman tersebut, tetapi karena tenaga Jinhyuk yang lebih kuat dari Wooseok akhirnya usaha Wooseok selalu gagal.
“Calon mempelai kesayangan gue dateng!!!“Sejin dengan wajah cerah menghampiri Wooseok dan Jinhyuk yang baru saja turun dari mobil. Seperti sudah terbiasa, tubuh Sejin merengkuh tubuh Wooseok yang tidak kalah mungil dari dirinya.
“Gue engga sekalian Jin?“ucap Jinhyuk merentangkan tangannya dan berhasil mendapatkan hadiah sebuah tatapan sinis dari Sejin maupun Wooseok.
“Sini, gue aja yang peluk. Mau?“Jinhyuk menoleh dan mendapati Seungyoun berdiri tepat di depan butik milik Sejin. Jinhyuk otomatis menurunkan kedua lengannya dan menatap jijik Seungyoun.
Sejin menarik pelan Wooseok untuk masuk ke dalam butiknya, “Gue ubah dikit model jas yang bakalan lo pake. Engga apa-apa ya? Soalnya gue gemes, gue tuh mau temen gue pakai sesuatu yang istimewa di hari istimewanya”ucap Sejin menjelaskan.
“Jin.... Ini tapi bagus banget. Mahal kan pasti?“ucap Wooseok pelan.
“Apaan sih! Engga, sama sekali engga mahal. Ini khusus buat lo, gue kasih sebagai hadiah”ucap Sejin antusias. Wooseok menatap Sejin dengan air mata yang dapat terjatuh sewaktu-waktu dari kedua pelupuk mata Wooseok.
“Seok... Kok lo nangis sih?“ucap Sejin menahan tangisnya ketika melihat teman dihadapannya sedang menahan tangis.
“Kenapa sih.... Orang-orang baik sama gue? Jinhyuk... trus lo... Kenapa semua orang baik sama gue?“tanya Wooseok terisak.
“Karena lo emang pantes Wooseok. Lo pantes dapet kebaikan dari kita semua, karena lo orang baik”ucap Sejin menghapus air mata yang mulai turun membuat aliran bening disekitar pipi Wooseok.
“Udah jangan nangis lagi! Nanti gue dimarahin Jinhyuk. Mendingan lo cobain bajunya, trus bikin Jinhyuk engga sabaran nungguin sepuluh hari lagi”ucap Sejin dan dibalas anggukan setuju Wooseok.
“Jinhyuk! Ih Lee Jinhyuk!! Jinhyuk? Aku jelek ya? Yaudah aku ubah ke baju pertama aja ya?“Wooseok baru saja berjalan menghampiri Jinhyuk dengan jas yang khusus dibuat Sejin untuknya.
“Woyy pak! Tutup itu mulut”ucap Seungyoun menyenggol pelan lengan Jinhyuk, membawa Jinhyuk kembali ke alam sadarnya. Jinhyuk tersenyum dan berjalan menghampiri Wooseok.
“Stop!! Engga ada pelukan ya. Nanti baju gue kusut. Mending lo komen deh, ada yang kurang engga?“tanya Sejin saat menahan Jinhyuk agar tidak memeluk Wooseok saat itu juga.
“Iya ada....“ucap Jinhyuk pelan.
“Hah apaan?“Wooseok, Sejin dan Seungyoun serempak bertanya dan menoleh ke arah Jinhyuk.
“Kurang cepet nih gue nyari tanggal nikahan. Bisa engga, nikahan gue besok aja?“tanya Jinhyuk dengan raut wajah yang dibuat-buat bersedih dan membuat Wooseok tersipu malu.
“Youn, mending kamu ajak temen kamu ngopi deh. Mulai error otaknya”ucap Sejin malas.
“Jangan! Jinhyuk engga boleh minum kopi dua minggu ini”ucap Wooseok panik dan Sejin tertawa.
“Kita makan dulu ya? Habis ini baru ke tempat Chan”ucap Wooseok menoleh ke arah JInhyuk yang sedang fokus dengan jalanan di depannya dan Jinhyuk menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Wooseok.
“Kamu itu engga diet kan? Kenapa makin kurus sih?“jari jemari Wooseok menelusuri setiap jengkal wajah Jinhyuk yang memang terlihat semakin kurus.
“Kamu kecapean ya? Ngurusin ginian emang bikin tenaga kekuras sih, belum kalo kita suka beda pendapat”ucap Wooseok lagi.
Jinhyuk melirik ke arah kekasih kecilnya yang duduk bersandra di kursi penumpang di sebelahnya. Jinhyuk tersenyum kecil sebelum menarik sebelah tangan Wooseok dan seperti memberikan kode, Jinhyuk meletakan tangan Wooseok dipipinya.
“Aku engga cape. Aku seneng. Seneng banget malahan. Siapa sih yang engga excited nungguin pernikahannya yang udah tinggal menghitung hari lagi?“Jinhyuk mengakhiri ucapannya dengan memberikan kecupan ringan di punggung tangan Wooseok sebelum menggenggam tangan kecil tersebut dan membuat hati Wooseok sedikit tenang.
“Permisi. Ada yang pesan ayam goreng?”
“Nu!! Kamu pesen ayam goreng emang?”
“Engga kok sayang, salah alamat kali”
Derap langkah yang terburu terdengar dari dalam sebuah ruangan di dalam toko tersebut.
“Maaf, disini... WHAT????“Byungchan, orang yang tadi langkahnya terdengar terburu-buru itu menatapa kedua temannya tidak percaya.
“Ide Jinhyuk, bukan gue”ucap Wooseok dengan tenang dan melenggang masuk ke dalam toko bunga milik Byungchan.
“Kalo gue engga inget lo nikah sepuluh hari lagi, udah gue botakin lo!“ucap Byungchan emosi dan Jinhyuk hanya tertawa.
“Bang seungwoo mana?“tanya Wooseok sambil melihat koleksi bunga milik Byungchan yang sepertinya masih baru.
“Diatas. Banyak barang yang baru dateng, jadi dia lagi beres-beres dulu”ucap Byungchan.
“Udah makan?“tanya Wooseok lagi dan Byungchan menggeleng.
“Emang ya lo berdua! Tuh gue bawa rice box dimakan dulu sekalian ngomongin yang kemaren lo chat itu”ucap Wooseok dan Byungchan mengangguk antusias.
“Oke! Yuk masuk ruangan gue aja”ucap Byungchan berjalan terlebih dahulu keruangannya.
“Sayangggg, kita dapet makanan gratis!!!“Byungchan sedikit berteriak untuk memanggil kekasihnya agar turun dan ikut makan siang bersamanya.
“Yaudah gue ikut aja sama ahlinya, gue engga ngerti juga soalnya”ucap Wooseok pasrah.
“Bang, jangan lupa ya! Nanti gue chatting lagi detailnya”ucap Jinhyuk dan Seungwoo hanya memberikan gesture dengan tangannya tanda setuju.
“Detail apaan? Emang masih ada yang kurang?“tanya Wooseok bingung dan Jinhyuk menggeleng.
“Hah? Engga kok. Itu... Detail acara aja sih, rundwon acara”ucap Jinhyuk kikuk.
“Rundown? Bukannya diurus Wedding Organizer? Kok jadi kalian yang urus?“tanya Wooseok semakin bingung.
“Btw, ka sejin ngirim foto ke gue tadi!!! Baju lo bagus banget kaaaa, sumpah gue iri!!!“ucap Byungchan tiba-tiba. Jinhyuk dapat bernafas lega karena Byungchan berhasil mengalihkan pembicaraan siang itu.
D-5 to Wedding Day
Jinhyuk keluar dari toko bunga milik Byungchan seorang diri. Senyum Jinhyuk menghiasi wajahnya, di tangannya terdapat sebuah amplop yang membuatnya harus mengunjungi toko bunga milik Byungchan pagi ini.
Jinhyuk masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan dua buah kertas dari dalam amplop tersebut. Dua buah tiket perjalanan ke New York, tepat sehari setelah tanggal pernikahannya dengan Wooseok. Sebuah kejutan untuk calon suaminya, sebagai hadiah pernikahan mereka.
Wooseok itu pencinta Natal, Salju dan Serial televisi liburan saat Natal. Wooseok tidak pernah melewatkan kesempatannya untuk menyaksikan Kevin di Home Alone walaupun tayangan tersebut diputar setiap natal di setiap tahunnya.
Wooseok selalu bercerita, jika dirinya ingin sekali menghabiskan natal seperti Kevin. Jinhyuk sempat protes, sebelum akhirnya Wooseok mengubah keinginannya tersebut. Wooseok mengubah keinginannya dari Menikmati Natal di New York sendiri menjadi Menikmati Natal di New York bersama Jinhyuk.
Nomer yang ada hubungi sedang berada di luar jangkauan, silahkan menghubungi beberapa saat lagi
Jinhyuk menghela nafas panjang. Setidaknya pagi ini sebelum pergi ke toko bunga milik Byungchan, Jinhyuk sudah mencoba menghubungi Wooseok hampir lima belas kali tetapi semua panggilan tersebut hanya dijawab oleh operator.
“Kok tumben sih? Semalem bahkan dia engga ngajakin video call“ucap Jinhyuk sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.
Tanpa pikir panjang, Jinhyuk memutar kemudi mobilnya untuk menuju apartment milik Wooseok. Hati kecil Jinhyuk mengatakan, bahwa Jinhyuk harus ke apartment Wooseok detik itu juga.
Sebelum memacu kendaraannya lebih cepat, Jinhyuk sudah lebih dahulu mengirim pesan ke beberapa teman dekatnya, mencari tahu keberadaan calon suaminya tersebut.
Jinhyuk menekan bel dengan tidak sabaran. Jinhyuk hafal password apartment kekasihnya, tapi dia masih ingat apa itu namanya sopan santun. Setelah hampir tujuh menit tidak ada tanggapan, jari jemari Jinhyuk mulai menekan password tersebut.
“Wooseok.... Sayang? Kamu dimana?“Jinhyuk mendengarkan pandangannya. Apartment Wooseok tidak lebih besar dari milik Jinhyuk dan keadaannya saat ini sudah hampir kosong.
Jinhyuk duduk di sebuah sofa yang sudah dibungkus plastik yang berada di unit kosong tersebut. Nada sambung ketiga, nomer tersebut menjawab telfon Jinhyuk.
“Hallo, saya ingin menanyakan kepindahan atas nama Tn. Wooseok dari Gedung Boulevard Lantai 45 Nomer 4507”ucap Jinhyuk mencoba tenang.
“Selamat siang pak. Pihak kami belum menerima konfirmasi terkait kepindahan Tn. Wooseok. Pihak kami sudah mencoba menghubungi Tn. Wooseok, tetapi nomer telfon Tn. Wooseok tidak bisa kami hubungi”
Jinhyuk lemas. Jinhyuk mematikan sambungan telfon setelah memberikan penjelasan kepada pihak di sebrang telfon.
“Seok... Kamu kemana....“Ucap Jinhyuk lemas.
D-4 to Wedding Day
“Makan hyuk. Lo kalo begini terus, gimana mau nyariin Wooseok”Seungwoo meletakan tray berisikan makanan yang sebelumnya sudah ia hangatkan lebih dahulu.
“Woo... Sejin sama Seungyoun udah balik”Byungchan berbicara pelan dari depan kamar milik Jinhyuk. Jinhyuk menoleh lalu berjalan cepar menghampiri Sejin serta Seungyoun, bahkan Jinhyuk menabrak Byungchan yang masih berdiri di depan kamarnya.
“Gimana? Apa kata Polisi? Udah ada petunjuk?“Jinhyuk bertanya tepat dihadapan Seungyoun dan Sejin yang aedang mengistirahatkan diri mereka di sofa ruang tamu milik Jinhyuk.
“Kita kesana baru buat laporan, Hyuk. Polisi bakalan secepatnya hubungin kita, kalo udah dapet petunjuk”ucap Sejin menjelaskan.
“Kelamaan! Kenapa engga langsung cari aja?“ujar Jinhyuk emosi.
“Mending gue cari sendiri! Emang engga ada yang becus”Jinhyuk mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di depan televisi. Tanpa memperdulikan penampilannya, Jinhyuk meninggalkan keempat temannya di apartment miliknya.
“Jinhyuk!!“Terlambat. Teriakan Seungwoo tidak dapat di dengar Jinhyuk karena pintu lift yang membawa Jinhyuk ke parkiran itu sudah tertutup.
“Wooseok.... Please.... Kasih aku petunjuk... Kamu dimana?“Jinhyuk mengedarkan pandangannya ke jalanan yang masih terbilang ramai. Jinhyuk akhirnya memilih menepikan mobilnya dan berjalan kaki untuk mencari Wooseok.
Kaki Jinhyuk berjalan tanpa tujuan yang pasti. Jinhyuk sebenarnya tidak tahu kemana harus mencari Wooseok. Tidak ada petunjuk apapun yang ditinggalkan oleh Wooseok. Jinhyuk merasa bodoh, Jinhyuk merasa jika dirinya maish belum mengenal Wooseok seutuhnya.
D-3 to Wedding Day
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas lebih sepuluh menit malam, ketika kaki Jinhyuk berhenti di depan unit apartment milik Wooseok. Jinhyuk membuka pintunya. Unit ini harus benar-benar dikosongkan lusa. Jinhyuk pun berjalan ke kamar yang biasa di tempati Wooseok dan entah sejak kapan, lampu tidur di nakas yang terletak tepat di sebelah tempat tidur itu menyala.
Jinhyuk duduk dilantai. Lantai dingin, bahkan lantai tersebut terasa lebih dingin walaupun pendingin ruangan di kamar tersebut tidak dinyalakan. Jinhyuk memainkan sklar lampu tidur dihadapannya, suara telfon genggam miliknya ia abaikan sejak tadi. Mata Jinhyuk hampir saja tertutup karena kelelahan hingga Jinhyuk menemukan sebuah buku catatan di laci tersebut.
Jinhyuk membuka laci tersebut dan menemukan buku catatan yang biasa digunakan Wooseok untuk menulis segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan Wooseok merekatkan foto Jinhyuk pada halaman terdepan buku tersebut. Jinhyuk membuka halaman demi halaman buku tersebut.
Wooseok's Bucket List
Tangan Jinhyuk terhenti tepat di sebuah halaman yang berisi keinginan Wooseok sebelum dirinya menginjakan kaki di usia tiga puluh tahun. Beberapa daftar keinginan sudah di coret oleh Wooseok sebagai tanda jika dirinya sudah berhasil memenuhi keinginannya. Beberapa daftar tersebut membuat Jinhyuk tersenyum, diantaranya:
(37) First Kiss
Note: I got my fist kiss with Jinhyuk on Valentine's Day
(52) First S(oo)
Note: I love you Jinhyuk! Thank you for being gentle with me
(80) Engaged
Note: Yes, I do Jinhyuk!! Engga bakalan aku nolak :(
Jinhyuk tersenyum tapi tanpa ia sadari air matanya juga jatuh hingga menetes ke halaman yang terbuka. Jinhyuk membaca daftar keinginan Wooseok yang belum tercapai.
(5) I'll be an Astronaut
Note: Tidak mungkin Wooseok! Jalan hidup kamu adalah seorang akuntan
(22) NASAAAAAA
Note: Hm........................ Bisa kan bisa?
(42) New York! Let's Get Lost seperti Kevin hehe
Note: Perginya engga boleh sendiri, harus bareng Jinhyuk katanya :(
(78) Tempat Mama & Papa minimal setahun sekali
Note: Ingatkan aku datang lagi sebelum aku menikah!
(93) Get a baby? hehe
Note: I'll go to “my place” and get a baby
Jinhyuk tersentak melihat beberapa daftar keinginan Wooseok yang belum tercapai. Jinhyuk segera mengambil telfon genggamnya dan menghubungi seseorang.
“Youn... Gue tau, Wooseok dimana....“ucap Jinhyuk dengan suara bergetar.
[[The Choice is Up to You]]
Pilihan Pertama
Pilihan Kedua
Pilihan Ketiga