Time Machine
Latar Waktu: 2020
“Kamu yakin?“Sejin berjalan pelan di belakang Seungyoun dengan sebelah tangan yang masih setia digenggam Seungyoun. Seungyoun mengangguk sambil tersenyum.
“Nanti ketauan Mr. Lee!“ucap Sejin panik tetapi Seungyoun menggeleng meyakinkan.
“Mr. Lee lagi cuti dan pergi ke Canada sepulu hari! Kita gunain alat ini palingan cuma lima hari aja kok”ucap Seungyoun.
Sejin mengernyitkan keningnya bingung sambil menatap Seungyoun sahabatnya yang sedang sibuk memasukan kode untuk membuka pintu dihadapannya.
Singkat cerita, Seungyoun saat ini sedang bekerja paruh waktu di Laboraturium milik Mr. Lee. Seungyoun terbiasa melihat Mr. Lee bekerja walaupun tugas utamanya di Lab tersebut hanya membersihkan Lab dan memastikan Lab selalu bersih.
“Emang kamu bisa makenya? Nanti kalo kita engga bisa balik gimana?“tanya Sejin ragu ketika Ia dan Seungyoun sudah berada di sebuah ruangan yang berisi peralatan yang ia tidak ketahui nama serta kegunaannya.
“Aku pernah kok ngeliat Mr. Lee make alat ini! Bahkan aku pernah dimintain tolong Mr. Lee buat nyoba alat ini, jadi Mr. Lee yang masuk ke alat itu dan aku yang ngendaliin darisini”ucap Seungyoun menjelaskan.
“Trus. . . Kita cara balik kesini gimana? Kan engga ada yang ngendaliin dari sini?“ucap Sejin masih dengan kebingungan.
“Kamu tuh banyak nanya kayak mama aku! Ini Mr. Lee udah nyiptain remote control yang bisa ngendaliin alatnya dari jauh. Tenang aja, Mr. Lee itu menang Olimpiade Fisika. Bahkan dia pas Ujian Nasional dapet 100 pas ujian Fisika!“ucap Seungyoun semangat.
“Trus hubungannya sama kita apa? Kan yang bakalan pake alat itu kita, trus yang ngendaliin kita juga. Nilai fisika kamu sama aku cuma beda 10 point loh Youn!“ucap Sejin menggeleng tidak percaya.
“Ck Jin! Bukan itu maksud akuuuu. Maksud aku tuh, semua alat ini diciptain sama Mr. Lee yang Genius jadi aku yakin banget, engga akan ada kesalahan sama sekali”ucap Seungyoun yang mulai menekan beberapa tombol dihadapannya.
“Kita mau pergi ke tahun berapa?“tanya Seungyoun kepada Sejin dan Sejin hanya dapat terdiam melihat Seungyoun.
“Ah kamu diajak ngomong malah diem! Yaudah kita pergi ke 15 tahun lagi, pas umur kita udah 39 tahun. Gimana?“tanya Seungyoun lagi.
“Youn. . . Kamu yakin?“bukannya menjawab pertanyaan Seungyoun, Sejin malah mencengkram lengan Seungyoun, ketakutan.
“Percaya sama aku, okay?“ucap Seungyoun. Sejin menatap Seungyoun beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju.
“Yaudah kamu siap-siap disana! Aku bakalan tekan Enter trus lari kesana juga”ucap Seungyoun.
“Kita lari bareng aja, gimana?“ucap Sejin yang masih ketakutan. Seungyoun tertawa dan akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan Sejin.
Seungyoun pun melanjutkan kegiatannya dan memagkhirinya setelah menekan angka 2035 sebelum akhirnya ia menekan tombol Enter dan menarik Sejin untuk berdiri di tengah ruangan. Sejin melayangkan pandangannya dan mengeratkan genggamannya pada lengan baju Seungyoun.
Latar Waktu: 2035
“Hoek. . . Hoek. . .“Sejin mengusap punggung Seungyoun sambil sesekali memijat pelan tengkuk Seungyoun. Perjalanan mereka menuju masa depan membuat Seungyoun mual.
“Lagian sih kamu sok-sokan. . .“ucap Sejin yang terlihat cemas.
“Aku kan gatau kalo bakal sepusing itu, Jin. . .“ucap Seungyoun sambil membasuh wajahnya dengan air.
“Yaudah yuk! Kita cari minuman anget dulu, biar perut kamu juga agak anget”ucap Sejin dan Seungyoun mengangguk setuju.
Tidak perlu berjalan jauh, Seungyoun dan Sejin sudah menemukan toko serba ada. Sejin menahan langkah Seungyoun yang akan membuka pintu toko tersebut.
“Kamu bawa uang? Inget, kita ada di tahun 2035 dan bukan 2020. Kalo uangnya beda gimana?“ucap Sejin berbisik dan Seungyoun menatap Sejin bingung.
“Yaudah masuk dulu, kita lihat orang-orang bayar pake apa! Engga mungkin kan kalo mereka engga terima uang Cash ?“ucap Seungyoun takut-takut.
Akhirnya Seungyoun dan Sejin mantap melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam toko tersebut. Beberapa kali mereka berhasil dibuat terkejut, karena kemajuan teknologi di era tersebut.
“Jin. . . Mahal banget! Masa sekarang harganya 35,000?“ucapan Seungyoun yang kelewat kencang membuat beberapa orang menoleh kearahnya. Sejin pun menghampiri Seungyoun dan mencubit pelan pinggang Seungyoun.
“Sssttt. . . Kamu tuh kalo ngomong pelan-pelan aja! Diliatin orang tau. Udah itu beli teh anget aja, engga usah liat yang lain”ucap Sejin pelan.
Akhirnya, Seungyoun dan Sejin memilih membuat segelas teh manis hangat.
“Wah gilaaa. . . 23,000 buat teh beginian doang padahal kalo kita balik tuh harga 8,000 udah paling mahal”ucap Seungyoun lemas.
“Udah enakan perutnya?“ucapa Sejin tanpa memperdulikan rajukan Seungyoun sebelumnya. Seungyoun mencebikan bibirnya dan menatap Sejin sayu, Ia pun menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Sejin sebelumnya.
“Papiiiii. . .“Sejin dan Seungyoun menoleh dan mendapati anak berumur sekitar 5 tahun berlari kecil kearah mereka. Sejin dan Seungyoun beradu tatap.
“Papiiii. . .!“Anak lelaki tersebut memeluk kaki Sejin yang semakin Sejin kebingungan.
“Aku cari papi sama papa daritadi! Aku kira aku ditinggal. . .“ucap anak lelaki tersebut sambil tersedu.
“Hey kids! Nama kamu siapa?“tanya Seungyoun.
“Ih!! Papa lupa sama nama anak sendiri? Papiiii. . . Papah jahat sama Dohyon. . .“ucap anak tersebut merajuk kepada Sejin.
Sejin mengercapkan matanya berulang kali sebelum mengusap puncak kepala anak lelaki yang sekarang sudah berada di atas pangkuannya.
“Dohyon anak pinter. . . Hm? Tadi Dohyon emang darimana? Kenapa bisa pergi jauh-jauh dari papi?“tanya Sejin lembut. Seungyoun menatap Sejin penuh dengan tanya.
“Tadi tuh Dohyon pergi lihat mainan. . . Trus pas Dohyon balik badan, Papa sama Papih udah engga ada! Aku sedih. . . Dohyon kira papa sama papi mau ninggalin Dohyon”ucap anak tersebut lagi. Sejin tersenyum sambil mengusap air mata yang masih membekas di pipi anak lelaki tersebut.
“Papi mau lihat hape Dohyon, boleh?“tanya Sejin dan anak lelaki tersebut mengangguk.
“Dohyon mau es krim, engga? Beli sendiri ya, sayang? Papa sama Papi tunggu sini”ucap Seungyoun tiba-tiba sambil memberikan beberapa lembar uang yang membuat anak lelaki tersebut tersenyum cerah.
“Youn. . .“Sejin memperlihatkan Wallpaper ponsel anak lelaki yang sekarang sedang asik memilih es krim sendiri. Foto yang menjadi Wallpaper ponsel tersebut adalah foto Seungyoun dan Sejin yang sedang menggendong seorang anak lelaki yang sepertinya masih berusia dua tahun.
“Jin. . .“Seungyoun menunjuk case belakang ponsel tersebut dan disana tertera dua buah nomer ponsel yang sepertinya milik orang tua anak tadi.
Hai there! Jika kalian menemukan ponsel ini atau anak yang mempunyai ponsel ini, mohon bantuannya untuk menghubungi kami:
Seungyoun: 098-789-xxxx
Sejin: 098-765-xxxx
Kami tahu ada orang baik! Terimakasih
Sejin mencatat nomer ponsel yang tertera dibelakang ponsel tersebut sebelum sebuah suara kembali memanggilnya.
“Uang papa kurang! Aku cuma bisa beli dua es krim, siapa mau?“ucap anak kecil tersebut gemas. Sejin tersenyum dan kembali memangku anak lelaki tersebut.
“Buat kamu dua-duanya! Karena kamu hari ini udah jadi anak baik”ucap Sejin sambil mengusap lembut rambut anak lelaki tersebut.
Suasana hening menyelimuti mereka bertiga. Hanya sesekali ada suara kecil Dohyon yang berteriak ketika menirukan suara burung berkicau. Sejin menatap Seungyoun, entah mengapa tiba-tiba wajah Sejin memerah ketika mengingat bahwa anak yang sedang ia pangku merupakan anaknya dan Seungyoun dari masa depan.
“Papi. . . Kita engga pulang? Kita mau disini sampe kapan?“ucap anak kecil tersebut sambil sesekali menguap.
“Eh. . . Ah. . . Itu. . . Ayok. . .“ucap Sejin terbata.
Sejin pun menggendong anak lelaki yang sudah mulai mengantuk tersebut dan memberikan kode agar Seungyoun mengikutinya.
“Kita mau kemana?“ucap Seungyoun pelan dan Sejin menggeleng tidak tahu.
“Kamu bisa tolong telfon orang tua Dohyon?“tanya Sejin pelan dan Seungyoun terdiam.
”. . . Kan orang tuanya itu kita?“ucap Seungyoun pelan, sangat pelan yang membuat wajah Sejin kembali memerah.
“Hm. . . Kan dimasa depan? Aku yakin, kita dimasa ini pasti baru sadar kalo Dohyon hilang. . .“Tepat setelah Sejin mentakan hal tersebut, ponsel Dohyon berdering.
Papi is calling
“Kamu nelfon Jin!“ucap Seungyoun panik.
“Ya angkat dong!!!“ucap Sejin yang juga ikut panik.
Seungyoun pun akhirnya menerima panggilan telfon tersebut. Aneh rasanya berbicara dengan Sejin di masa depan ketika dirinya sedang bersama Sejin dari masa lalu. Seungyoun memutus panggilan telfonnya sebelum akhirnya mengembalikannya kepada Dohyon.
“Mereka mau jemput Dohyon disini. . .“ucap Seungyoun pelan. Sejin kembali terduduk di kursi dengan Dodo yang sudah tertidur di dekapannya.
“Kita titipin dia aja gimana? Sama karyawan di dalam? Kita engga mungkin ketemu kita, Jin. . .“ucap Seungyoun yang sempat memikirkan kata-katanya karena bingung.
“Aku takut. . . Kalo mereka orang jahat gimana. . .?“tanya Sejin sedih. Seungyoun menarik nafas berat.
“Yaudah, kita tungguin dari jauh aja, gimana?“tanya Seungyoun dan Sejin mengangguk.
Sejin pun mendudukan Dohyon secara hati-hati di kursi yang sebelumnya ia tempati. Ia dan Seungyoun berjalan menjauhi tempat tersebut. Seungyoun dan Sejin memperhatikan Dohyon yang sedang pulas tertidur tersebut hingga dua orang keluar dari sebuah mobil mewah. Seungyoun dan Sejin beradu tatap.
“Beneran kita, Jin. . .“ucap Seungyoun pelan dan lagi wajah Sejin memerah.
Di hadapan Seungyoun dan Sejin saat ini adalah diri mereka dimasa depan dimana Sejin dengan wajah panik memeluk dan menggendong Dohyon yang masih pulas tertidur. Sesekali Sejin mengecupi puncak kepala anak lelaki tersebut. Sedangkan Seungyoun mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang tadi sempat menerima panggilan telfon Sejin.
Seungyoun dan Sejin akhirnya memutuskan membawa Dohyon masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh meninggalkan tempat tersebut. Seungyoun dan Sejin dari masa kini pun keluar dari persembunyian mereka. Hening kembali menyelimuti mereka berdua.
“Balik aja yuk, Jin?“tanya Seungyoun kikuk dan Sejin mengangguk setuju.
Seungyoun pun menekan beberapa tombol disebuah alat yang ia pegang saat ini yang akan membawa mereka kembali ke tahun 2020.
Latar Waktu: 2020
Sejin dan Seungyoun terdiam duduk di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari Lab Mr. Lee berada. Dua buah gelas yang isinya tinggal setengah, menjadikan saksi bahwa mereka berdua sudah cukup lama duduk di kursi tersebut.
“Jin. . .“Seungyoun akhirnya mencairkan suasana dan memperlihatkan sebuah foto kepada Sejin.
“Kamu ngirim fotonya? Aku mau!!“ucap Sejin antusias dan Seungyoun tersenyum sebelum mengirimkan fotonya kepada Sejin.
“Jadi. . . Kamu bakalan jadi suami aku dimasa depan dong Jin?“ucap Seungyoun tiba-tiba dan Sejin menatap Seungyoun malas.
“Ya gimana lagi. . .? Kalo bisa milih sih aku maunya nikah sama Ka Seungwoo, atau Jinhyuk? Atau sama Ka Sunho yang atletis itu!“ucap Sejin tersenyum.
“Tapi kalo jodoh aku kamu dan punya anak selucu Dohyon sih yaudah aku terima juga kok. . .“ucap Sejin melanjutkan.
“Berarti sekarang kita pacaran?“tanya Seungyoun yang mendapat balasan tatapan tajam dari Sejin.
xposhie