semestakapila

Polisi.


Sejin menghembuskan nafas kasar dan sedikit membanting berkas yang sedang ia baca keatas meja kerjanya. “Lembur lagi?“Sejin menoleh dan menemukan Rowoon yang baru saja masuk ke ruangan yang sama dengan dirinya. Sejin menyunggingkan senyumnya sebelum menarik kursinya dan kembali larut dalam berkas-berkasnya.

“Lo jadi buka kasus itu lagi? Semu orang udah nyerah dan lo sukarela buka kasus ini?“tanya Rowoon ketika membaca berkas yang berserakan diatas meja Sejin. Sejin mendengus kesal.

“Demi kenaikan jabatan? Gue engga kira seorang Lee Sejin adalah orang yang haus jabatan!“ucap Rowoon lagi yang berhasil mendapatkan sebuah tendangan tepat di tulang keringnya.

“Aw! Kecil-kecil lo tenaganya kuat banget sih, Jin. . . Njirrrr gue yakin besok pagi tulang kering gue biru”ucap Rowoon meringis.

“Bersyukurlah, gue engga sampe matahain kaki lo”ucap Sejin acuh tak acuh.


“Jadi gimana perkembangannya?“Sejin menelan ludahnya dengan susah payah ketika pagi itu ia dipanggil oleh atasannya yang meminta perkembangan kasus yang dibebankan kepadanya.

“Motifnya Uang, komandan. Karena setelah diselidiki lebih lanjut, tersangka tidak sama sekali menyakiti korban. Tetapi semua barang berharga milik korban lenyap”ucap Sejin berhati-hati.

“Hanya uang? Tidak ada yang lain?“Sejin menggeleng sebagai jawabannya.

“Baiklah, kau boleh kembali bekerja. Temui saya dua hari lagi dengan perkembangan lainnya”ucap atasan Sejin lagi dan Sejin mengangguk.

Sejin berjalan kembali ke mejanya dan menelungkupkan kepalanya diatas meja. Ia kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa sama sekali memecahkan kasus perampokan tersebut.

“Cuy! Balik cepet yuk, jangan lembut mulu lo!“Sejin mengangkat kepalanya dan mendapati rekan-rekan satu ruangannya sedang berkumpul. Selain ada Rowoon, disana juga ada Wonwoo dan Dowoon.

“Tau! Cari pacar kek atau gimana gitu”ucap salah satu pria bernama Dowoon.

“Engga ada yang punya kaca ya? Gue mau nyuruh Dowoon ngaca, karena sesungguhnya dia aja belum move on dari ceweknya yang putuh enam bulan lalu”ucap Sejin malas.

“Jin. . . Lo kayanya beneran harus menghirup udara segar deh”ucap Wonwoo menggeleng tidak percaya.

“Dowoon udah punya cewek dari dua bulan yang lalu! Bahkan. . .“ucapan Rowoon terputus karena Dowoon melemparnya dengan kulit kacang yang dipegangnya.

“Engga usah TMI, anjir!“ucap Dowoon menahan tawa. Sejin menatap ketiga rekannya dengan tatapan sayu.

Sejin menghela nafas panjang. Kasus yang ia sedang tangani memang menyita waktunta, bahkan sudah dua bulan ia tidak mempunyai waktu untuk berbincang atau berkumpul dengan teman seruangannya.

“Nanti malem, tempat biasa?“ucapa Sejin membuat pergerakan ketiga temannya terhenti dan menatap Sejin bingung.

“Gue yang bayar, engga usah ngeliatin gue kayak gitu!“ucap Sejin malas.

“Call!“ucap Rowoon, Wonwoo dan Dowoon bersamaan.


“Eh ini salah kelab tempat kejadian kasus lo kan?“tanya Dowoon dan Sejin mengangguk.

“Mungkin engga sih kalo dia beraksi lagi disini?“tanya Dowoon lagi dan Sejin menggeleng.

“Tempatnya selalu berubah. Waktunya juga acak. Itu yang bikin kerjaan gue buntu”ucap Sejin sambil menyesap minuman beralkohol di dalam gelas miliknya.

“Jin... Lo harus tau!!! Gue barusan liat siapa di toilet”Rowoon dengan segala kehebohannya mendatangi meja yang sudah dipesan Sejin khusus untuknya dan teman-temannya malam itu.

“Gue liat Seungyoun! Mantan lo. . . Lagi make out sama cewek di depan toilet”ucap Rowoon menjelaskan. Sejin tersenyum miring.

“Dia bukannya udah lama engga ngasih kabar ya?“tanya Wonwoo yang baru saja bergabung setelah lelah menari diatas lantai dansa. Sejin mengangguk.

“Hilang udah lebih dari dua bulan. Tanpa kabar apapun. Semua kontak gue di block, satupun informasi dia gue engga tau”ucap Sejin sambil memicingkan matanya mengarah ke satu titik di kelab malam tersebut.

Sejin bangkit dari kursinya dan berjalan mengarah ke seorang pria yang sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita dengan pakaian super sexy tersebut. Kesadaran Sejin hanya 54% hal itu yang membuat Sejin berani berhadapan dengan Seungyoun saat ini.

Plak!

Sejin berhasil mendaratkan telapak tangannya tepat dipipi sebelah kiri milik Seungyoun. Seungyoun terkejut, begitu pula wanita di depan Seungyoun.

Plak!

Sejin terkejut karena wanita dihadapan Seungyoun berani menamparnya. Sejin menahan sakit karena kuku sang wanita tidak sengaja mengenai kulit wajah Sejin dan menjadikan guratan di wajah kecil Sejin. Sejin mendecih.

“Apa-apaan sih! Lo siapa? Kenapa berani-beraninya nampar orang yang belum lo kenal?“ucap Wanita tersebut emosi.

“Hello! Lo juga nampar temen gue. Lo udah kenal sama temen gue?“ucap Rowoon yang muncul dibelakang Sejin.

“Minggir! Hargai privasi orang kalo privasi kalian mau dihargai”ucap Seungyoun sambil menarik wanita tersebut pergi menjauh.


“Oh shit!“ucap Sejin saat membaca pesan yang masuk ke ponsel pintarnya.

“Gue pergi bentar ya! Bilangin boss, ada korban lagi di kasus gue”ucap Sejin sebelum pergi meninggalkan ruangannya siang itu.

Sejin menghentikan langkahnya ketika dirinya tiba disebuah rumah sakit yang memang menjadi tujuannya. Dirinya terpaku, melihat seorang wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit.

“Korban ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah hotel ketika petugas cleaning service hendak membersihkan kamarnya”ucap seseorang kepada Sejin.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tetapi sampai sekarang korban masih belum sadarkan diri. Kemungkinan ada beberapa obat yang dikonsumsi wanita ini sebelum sadarkan diri”ucap orang tersebut lagi.

“Wanita ini seorang diri? Tidak bersama seorang lelaki sebelumnya?“tanya Sejin bingung.

“Seseorang melihatnya semalam bersama seorang pria, tetapi kami sudah memeriksa seluruh kamar hotel dan tidak ada tanda-tanda jika wanita tersebut seorang diri”ucap orang tersebut.

“Siapa yang melihatnya?“tanya Sejin.

Sejin pun melangkahkan kakinya menuju hotel yang dimaksud untuk bertemu dengan seorang saksi yang bisa membuka jalannya memecahkan kasus tersebut.

Setelah sejam melakukan interview, Sejin kembali ke kantornya dengan wajah lesu. Ia mendudukan dirinya di kursi kerjanya, membuat Dowoon yang saat itu satu-satunya masih ada diruangan tersebut, bertanya pada Sejin.

“Kenapa? Masih buntu?“tanya Dowoon penasaran dan Sejin menggeleng.

“Lo inget cewek yang semalem nampar gue?“tanya Sejin dan Dowoon mengangguk. Sejin dan Dowoon beradu tatap sebelum ruangan tersebut berisi caci maki dari teman seruangan Sejin tersebut.

“Anjing! Jadi. . . Seungyoun? Gila! Dia kok bisa bersih banget mainnya?“tanya Dowoon penasaran.

“Dulu, gue suka cerita sama dia. Cerita semua kasus yang lagi gue tanganin, beberapa pemecahan kasus bahkan gue dapetin dari dia. Tapi gue masih engga nyangka dia bisa kayak gini”ucap Sejin menghembuskan nafas kasar.

“Lo tau Seungyoun dimana?“tanya Dowoon dan Sejin menggeleng.

“Gue gatau sama sekali keberadaan Seungyoun. Terakhir kali gue ke apartmentnya, dia udah pindah dan pihak apartment engga bisa ngasih tau gue kemana dia pindah”ucap Sejin lemas.

Suasana di dalam ruangan tersebut cukup sepi hingga ponsel Sejin kembali berbunyi.

“Ya, Hallo?“ucap Sejin tenang.

“Gimana pak? Ah baik! Saya akan segera kesana”ucapan Sejin naik beberapa oktaf dan Sejin kembali meninggalkan ruangannya sebelum Dowoon sempat mengajukan pertanyaan.


“Gimana keadaannya”tanya Sejin terengah.

“Perkembangannya semakin baik, tetapi ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan wali. Saya sudah beberapa kali menelfon Tuan Seungyoun tetapi tidak dapat tersambung jadi saya menghubungi nomer lainnya yang memang di daftarkan di rumah sakit ini”ucap seorang perawat kepada Sejin.

Sejin terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Matanya menatap ke depan, tetapi fikirannya kosong. Pandangannya teralihkan ketika suara gaduh menganggunya. Dia melihat Seungyoun yang panik sambil berlari.

“Gimana adik saya?“ucap Seungyoun kepada seorang perawat. Sejin memperhatikan semuanya hingga matanya beradu tatap dengan Seungyoun.


“Minum. . .“Sejin menyerahkan sekaleng minuman soda kearah Seungyoun. Mereka berdua sudah berada di kantin rumah sakit. Seungyoun masih terdiam.

“Kenapa?“tanya Sejin ketika suasana hening menghantuinya.

“Aku udah bilang kan, aku bisa bantu pengobatan adik kamu. Kamu engga perlu kayak gini, Youn. . .“ucap Sejin gemetar.

“Dia adik aku, aku harus tanggung jawab. Aku engga bisa bergantung sama kamu”ucap Seungyoun pelan.

“Dia adik aku juga! Kalo kamu emang masih anggap aku bagian dari diri kamu. . .“ucap Sejin tercekat.

“Serahkan diri kamu, aku yakin hukumanmu akan diberi keringanan”ucap Sejin lagi setelah mengatur nafasnya.

“Menyerahkan diri? Lalu bagaimana dengan adikku? Aku harus membiarkannya mati?“ucap Seungyoun menahan emosi.

“Seungyoun. . . please?“ucap Sejin memohon.

“Pergilah. . .“ucap Seungyoun sebelum meninggalkan Sejin seorang diri.

Sejin yang semula menahan tangis akhirnya benar-benar menangis setelah Seungyoun meninggalkannya. Sejin dilema. Ia harus menyelesaikan kasusnya, tapi disisi lain, ia tidak mungkin memasukan Seungyoun ke dalam penjara.

xposhie

Cemburu.


Yohan tersenyum mengamati satu persatu foto yang ia ambil bersama teman-temannya beberapa jam yang lalu, Sudah lama, sangat lama, Yohan tidak dapat berkumpul dengan teman-teman lamanya bahkan sekedar untuk makan malam bersama.

“Seneng banget”Yohan menoleh dan mendapati Yuvin sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ditangan kirinya. Yohan mengangguk.

“Banget!!“ucap Yohan dengan senyum lebar.

“Kamu tau engga? Tadi kita semua cerita-cerita pas kita masih di acara itu... terus kita tuh....“ucapan Yohan terputus ketika Yuvin berjalan menjauhinya dan tidak mendengarkan ceritanya.

“Yuvin!!! Kok kamu malah melengos sih? Kenapa engga dengerin aku?“ucap Yohan berteriak.

“Males”ucap Yuvin ketus.

”...Vin kamu kenapa sih?“ucap Yohan bingung.

“Engga apa-apa”ucap Yuvin datar.

Yohan berjalan mendekat kearah Yuvin yang sedang duduk di kursi meja makan dengan segelas air putih hangat di tangannya.

“Kamu kenapa?“tanya Yohan yang sudah berdiri dibelakang Yuvin.

“Aku bilang engg apa-apa, emang aku kenapa?“tanya Yuvin malas.

“Kamu tuh biasanya antusias kalo aku cerita apapun, kenapa sekarang bete? Kamu capek?“tanya Yohan lembut yang diabaikan Yuvin.

“Duduk.“ucap Yuvin setelah beberapa saat terdiam dan Yohan mengikuti kemauan Yuvin duduk di sebelahnya. Yuvin menghela nafas sebelum melanjutkan pembicaraannya.

“Tadi kemana aja?“tanya Yuvin.

“Makan doang kok”ucap Yohan pelan.

“Sebelum makan? Kemana? Kenapa bisa berdua dua sama Hangyul Dohyon? Bang Jinhyuk sama Minkyu kemana?“tanya Yuvin penuh selidik. Yohan terdiam dan mengetahui akar permasalahan yang membuat kekasihnya tidak antusias dengan ceritanya sebelum ini.

“Oh... Itu aku lagi nunggu Bang Jinhyuk sama Minkyu, kebetulan Hangyul sama Dohyon dateng duluan”ucap Yohan hati-hati.

“Kok bisa?“tanya Yuvin lagi.

“Hah?“Yohan terkejut karena YUvin menatapnya dalam.

“Kalian janjiannya barengan kan? Kenapa bisa Hnagyul sama Dohyon duluan yang sampe? Ini ya alesan kamu engga bilang ke aku main sama siapa aja?“ucap Yuvin dengan tatapan sinis.

“Engga gitu,,,, Kebetulan kok, beneran! Tadi Bang Jinhyuk bareng MInkyu, jadinya ya mereka telat bareng-bareng”ucap Yohan ketakutan.

“Kenapa jawabnya ragu?“ucap Yuvin datar. Yohan menghela nafas panjang. Cukup. Menurut Yohan ini cukup, Yuvin tidak seharusnya bersikap seperti ini.

“Vin... kamu cemburu?“tanya Yohan to the point.

“Kamu cemburu sama Hangyul? Karena aku sama dia foto bareng?“tanya Yohan lagi. Yuvin menatap Yohan dengan wajah yang mulai memerah.

“Haha aku cemburu sama Hangyul? Ya engga mungkinlah”ucap Yuvin penuh percaya diri.

“Beneran engga cemburu? Kalo aku liatin foto aku berdua sama Hangyul, gimana? Beneran nih engga cemburu? Tadi Dohyon dateng belakangan soalnya dia mampir toilet terus aku sama——“ucapan Yohan terputus karena Yuvin yang tiba-tiba menempelkan bibirnya di bibir Yohan -sekilas.

“Diem, aku engga mau denger”ucap Yuvin malas.

“Katanya engga cemburu?“ucap Yohan meledek.

“Ya emang engga kok!“ucap Yuvin dengan nada tinggi dan Yohan tertawa.

“Yaudah aku lanjutin nih ceritanya kalo kamu engga cemburu....“ucap Yohan lagi. Yuvin menatap Yohan dalam sebelum menarik tengkuk Yohan supaya mendekat. Yuvin kembali menempalkan bibirnya dengan bibir Yohan.

“Iya aku cemburu! Jadi engga usah dilanjutin lagi ceritanya”ucap Yuvin sebelum melumat kasar bibir Yohan. Yohan mencengkram kaos yang Yuvin gunakan. Yohan tersenyum dalam ciuman tersenyum sebelum membuka mulutnya dan menyambut lidah Yuvin beradu dengan lidahnya sendiri.

ps: tidak pernah ada foto Hangyul dan Yohan berdua, karena apa yang Yohan katakan hanya untuk menguji kejujuran Yuvin :p

xposhie

Sakit.


“Jangan dipaksain, hm?“ucap Seungwoo pelan sambil menghapus keringat Byungchan yang mengalir di seluruh permukaan wajahnya. Byungchan tersenyum.

“Engga apa-apa kok ka, aku engga kenapa-kenapa. Beneran”ucap Byungchan meyakini Seungwoo. Seungwoo menghela nafas berat.

“Tapi tadi aku liat kamu beberapa kali nahan sakit loh, Chan”ucap Seungwoo.

“Hehehe kecapean doang itu sih tadi, kan kita mulai dari pagi banget tuh tadi”ucap Byungchan mencoba meyakini Seungwoo.

“Byungchan... Kita bareng-bareng itu engga setahun dua tahun loh. Aku tau kalo kamu lagi bohong....“ucap Seungwoo pelan.

“Ka seungwoo... Aku beneran engga apa-apa! Emang aku kenapa sih? Aku engga bohongin ka seungwoo juga kok!“ucap Byungchan semakin meyakini.

Seungwoo menatap Byungchan lekat, mencari kebenaran dari setiap kata yang dikeluarkan Byungchan.

“Kemaren pas aku keluar dari acara, katanya aku harus kuat! Sekarang kok aku suruh nyerah?“ucap Byungchan tersenyum meledek.

“Aku engga suruh kamu nyerah, aku cuma mau kamu buat engga maksain diri kamu”ucap Seungwoo lagi.

“Ka... Aku engga akan maksain diri aku. Aku janji dan ka seungwoo bisa pegang janji aku, ya?“ucap Byungchan mengulurkan jari kelingkingnya.

“Ka..... hm?“ucap Byungchan lagi sambil menggerakan kelingkingnya yang disambut kelingking Seungwoo.


“Udah ngeyelnya?“ucap Seungwoo menahan emosi. Byungchan tersenyum.

“Engga apa-apa kok ka! Kan biasa?“ucap Byungchan sambil mencari kata yang tepat yang tidak membuat rekan satu timnya kalut.

put yourself first, Byungchan.... Udah berapa kali aku bilang begitu?“ucap Seungwoo dengan nada semakin naik.

”.....maaf ka”ucap Byungchan yang muali merasa takut.

“Aku ga marah ya sama kamu, aku cuma.... kecewa?“ucap Seungwoo pelan.

“Aku cuma kecewa, kenapa kamu engga merhatiin diri kamu sendiri. Aku tau, kamu ngelakuin semuanya untuk fans dan orang lain, Tapi tolong.... tetep jadiin diri kamu prioritas”ucap Seungwoo tenang.

“Aku belajar dari kamu ka!“ucap Byungchan menatap Seungwoo tajam.

“Aku belajar dari kamu.... Semuanya.... Aku belajar, gimana cara memprioritaskan orang lain diatas diri sendiri... Aku belajar, gimana cara membahagiakan orang lain diatas kebahagiaan diri sendiri.... Aku belajar... Semuanya dari kamu....“ucap Byungchan menahan tangis.

“Aku tau, beberapa tahun lalu... Ka Seungwoo nahan sakit kan? Demi siapa? Demi orang lain.... Biar orang lain bahagia, kan?“tanya Byungchan.

“Aku belajar dari kamu ka... Aku belajar dari orang hebat yang terus menjadi hebat setiap harinya, karena dia meprioritaskan orang lain diatas dirinya sendiri. Aku salah?“ucap Byungchan. Seungwoo terdiam. Dirinya kaku.

Seungwoo menarik Byungchan ke dalam dekapannya. Mengusap punggung pria yang lebih muda darinya yang mulai terisak di dekapannya. Seungwoo merapalkan maaf berulang kali.

“Maaf.... Aku minta maaf Byungchan... Aku minta maaf karena aku beberapa kali engga memprioritaskan diriku sendiri...“ucap Seungwoo bergetar.

“Tapi aku mohon... Byungchan... Prioritaskan diri kamu diatas orang lain, kalo kamu sakit, orang lain sedih dan tujuan utama kamu engga akan menjadi kenyataan...“ucap Seungwoo masih terus mengusap punggung Byungchan.

“Ka seungwoo juga harus janji.... Ka seungwoo harus janji tetap memprioritaskan diri kaka diatas orang lain. Bukan aku yang utama, bukan orang lain, tapi diri ka seungwoo sendiri, ya?“ucap Byungchan dalam dekapan Seungwoo dan Seungwoo mengangguk pelan.

xposhie

Rindu.


Jinhyuk membuka pintu flatnya dengan pelan, enggan menganggu kekasihnya yang ia anggap sudah tertidur malam itu. Jinhyuk melongokan kepalanya dan mendapati kekasihnya yang ternyata belum tertidur dan masih asik bermain ponsel di sofa dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

“Kok belum tidur?“ucap Jinhyuk pelan sambil melepas coat serta sepatunya. Wooseok membuka selimutnya dan menatap Jinhyuk dengan tatapan sendu.

“Kenapa, hm...?“ucap Jinhyuk sambil berjalan mendekati Wooseok.

“Kangennn....“ucap Wooseok sambil memainkan ujung selimut.

“Kan aku cuma pergi sebentar aja? Tadi kan juga udah izin sama kamu dan kamu izinin kan?“ucap Jinhyuk sambil mengusap kepala kekasihnya dengan lembutnya.

“Jinhyuk!!! Jangan kebiasaan ih! Cuci tangan sama kaki kamu dulu”ucap Wooseok tiba-tiba. Jinhyuk yang terkejut, menggantung tangannya di udara dan menjauhinya dari rambut sang kekasih.

“Tadi bilang kangen, trus beberapa detik kemudian dimarahain?“ucap Jinhyuk pelan sambil berjalan ke arah kamar mandi yang letaknya di dalam kamarnya dan Wooseok.

“Aku tuh kangen yang lain bukan sama kamu!“ucap Wooseok berteriak.

Jinhyuk sudah mencuci tangan dan kakinya serta mencuci muka dan menyikat giginya, ia juga tidak lupa mengganti bajunya. Jinhyuk berjalan ke kasur dimana kekasihnya sudah menunggu. Wooseok memilih masuk ke dalam kamar mengikuti Jinhyuk tadi.

“Kangen sama siapa, hm?“ucap Jinhyuk kembali menanyakan hal yang sama.

“Semua yang ada di foto kamu! Aku kangen Yohan.... Kaki dia udah engga kambuhan kan? Aku kangen Dohyon juga! Dia sekarang makin gede, aku kangen cubitin pipinya!!! Aku juga kangen Minkyu! Padahal terakhir ketemu pas tahun lalu, tapi dia kayanya makin ganteng, ya? Aku juga kangen Hangyul deh... Dia pasti makin berisik kan?“ucap Wooseok sambil menatap layar ponsel Jinhyuk yang menampilkan foto Jinhyuk bersama Yohan, Minkyu, Hangyul serta Dohyon.

“Coba kalo aku engga sibuk, pasti aku udah jalan-jalan bareng mereka juga”ucap Wooseok pelan.

“Tadi mereka juga bilang kangen kamu loh! Yohan malahan yang pertama nanyain kamu, katanya kangen dibawelin sama kamu hehehe”ucap Jinhyuk mencoba menghibur kekasihnya.

“Oiya! Minkyu juga katanya janji mau nelfon kamu, katanya dia kangen cerita sama kamu tuh”ucap Jinhyuk lagi.

“Hangyul sama Dohyon tadi keasikan makan, pas aku bilang mereka dapet salam dari kamu baru deh pada heboh masing-masing”ucap Jinhyuk tersenyum.

“Aku kangen.... Mau ketemu mereka....“ucap Wooseok yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jinhyuk.

“Sabar ya? Dikit lagi, kalo jadwal kamu udah lenggang, aku yakin kamu bisa ketemu sama mereka! Atau liburan bareng mungkin?“ucap Jinhyuk tersenyum.

“Ah iya! Aku pernah janji mau ajak Dohyon liburan....“ucap Wooseok pelan.

“Bisa kok sayang, kamu pasti suatu saat bisa liburan bareng mereka. Tinggal tunggu waktu yang tepat, oke?“ucap Jinhyuk.

“Kapan?“tanya Wooseok gemas.

“Suatu saat! Saat waktunya udah tepat, buat kamu dan teman-teman lainnya”ucap Jinhyuk sambil mencium puncak kepala Wooseok mentransfer rasa sayangnya kepada Wooseok.

“Udah sekarang tidur! Udah malem”ucap Jinhyuk sambil merebahkan dirinya di sebelah Wooseok dan memposisikan tangannya sebagai bantalan Wooseok.

“Selamat tidur sayang! Semoga kamu bisa ketemu temen-temen yang lainnya di mimpi dulu yaaa, biar ngobatin sedikit rasa kangen kamu”ucap Jinhyuk sambil mengusap punggung Wooseok.

xposhie

Kelingking.


Sengyoun tertawa hingga lemas ketika snag kekasih baru saja memposting sebuah foto di akun media sosialnya. “Kenapa sih kamu Youn, kesambet?“ucap Sejin yang tidak tau sama sekali sebab tertawa kekasihnya tersebut.

“Hahahahaha lucu yang, jari kamu”ucap Seungyoun semakin menjadi-jadi. Sejin menatap Seungyoun bingung, lalu ia menarik ponsel Seungyoun dan mengetahui asal muasal tawa kekasihnya tersebut.

Sejin meletakan ponsel Seungyoun diatas meja secara kasar lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur. Jangan lupakan cara berjalan Sejin yang dibuat terhentak ke lantai yang menandakan jika dirinya sedang marah.

“Yanggg hahahaha”Seungyoun berjalan mengikuti Sejin sambil masih tertawa.

“Kamu marah?“ucap Seungyoun lagi sambil menahan tawanya. Sejin menatap Seungyoun sinis.

“Kan aku bilang jari kamu kecil lucu, kok marah?“ucap Seungyoun yang sudah melingkarkkan tangannya di pinggang Sejin.

“Kamu tuh kalo bilang lucu sebelas dua belas sama ngeledek!“ucap Sejin malas.

“Aku engga ngeledek sama sekali! Beneran sih aku jujur, kamu tuh lucu. Semua yang ada dikamu tuh lucuuu”ucap Seungyoun. Sejin diam menatap kekasihnya.

Seungyoun menatap Sejin sambil tersenyum sebelum mendaratkan kecupan-kecupan singkat di seluruh permukaan wajah Sejin.

“Ihhh Youn, basah tau!!!!“ucap Sejin berusaha menghalau wajah Seungyoun yang semakin menjadi.

“Aku gemes sama kamu soalnya!!“ucap Seungyoun lagi.

“Diem engga? Atau kamu malem ini tidur diluar?“ucap Sejin penuh penekanan. Seungyoun terdiam dan menatap Sejin lama sebelum melanjutkan kegiatannya.

“Seungyoun!!! Turunin aku engga?“ucap Sejin cukup keras ketika sang kekasih menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.

“Minta turunin tapi kakinya udah siap ngunci dipinggang aku, begini?“ucap Seungyoun meledek.

“Turunin buruan!!!“ucap Sejin sambil menggerak-gerakan badannya dalam gendongan Seungyoun. Tetapi tenaga Seungyoun jauh lebih besar dari tenaga Sejin sehingga Sejin tetap berada di dalam gendongannya hingga Seungyoun berhasil membawa Sejin masuk ke kamar dan menutup pintu kamar mereka berdua.

xposhie

A Big Deal.


Sejin melepaskan coat miliknya dan menggantunya dibelakang pintu. Tidak lupa, ia juga menggantungkan coat milik kekasihnya, Lee Jinhyuk.

“Jadi.... Apa aja yang gede?“ucap Jinhyuk meledek.

Jika harus berbalik ke beberapa jam lalu. Sejin didapuk menjadi bintang tamu di acara sang kekasih, tidak ada yang tahu hubungan mereka, orang lain hanya mengetahui hubungan keduanya dekat.

Beberapa jam lalu, Sejin mengatakan jika semua yang ada di tubuh Jinhyuk itu besar. Hal tersebut menjadikan pertanyaan besar bagi orang lain, tanpa terkecuali.

Bahkan Jinhyuk, sempat-sempatnya menanyakan hal yang membuat kekasihnya tersebut kehilangan kata-kata. “Iya sih tubuh aku tinggi, trus apa lagi yang besar selain tinggi badanku?”. Pertanyaan Jinhyuk sederhana, tapi Sejin haru memutar otaknya agar tidak salah berkata.

Sejin sempat terdiam beberapa saat. Untungnya sang pembawa acara membantu Sejin yang tergagap sore itu, “Ya bisa saja matamu yang besar? Atau tanganmu?”.

Kembali ke waktu terkini, Sejin masih terpaku dengan tangan tergantung memegang coat sang kekasih.

“Kenapa sih masih dibahas?“ucap Sejin malas sambil berjalan menjauhi Jinhyuk.

“Hahaha kamu duluan tadi yang mulai, bilang kalo segala yang ada ditubuh aku itu gede”ucap Jinhyuk terbahak.

“Kan emang iya! Tuh liat, coat kamu lebih gede dari aku. Sepatu kamu juga kan lebih gede dari aku. Baju kamu, celana kamu. Semuanya kan lebih gede dari aku”ucap Sejin menjelaskan.

Jinhyuk tersenyum mendengar penjelasaan sang kekasih. Ia berjalan mendekati Sejin yang sedang menatap kearah jendela, menghindari bertatapan dengan Jinhyuk.

“Yang ada ditubuh aku.... Yang kamu sebutin itu engga ada yang termaksud loh...“ucap Jinhyuk menggoda. Jinhyuk mengatakan hal tersebut tepat di dekat telinga Sejin dengan dua tangan melingkar di pinggan kecil Sejin.

Tubuh Sejin menegang. Ia dapat merasakan hangat nafas sang kekasih di tengkuknya. Sejin menahan nafas ketika ia merasakan sang kekasih menempelkan bibirnya tepat dibawah telinganya.

“Hyuk... Hghhh...“ucap Sejin menahan desahannya.

“Yang gede makin gede nih gara-gara kamu....“ucap Jinhyuk sambil membawa bibirnya bergerilya di sekitar leher Sejin.

Sejin tidak kuat. Pertahanan Sejin runtuh. Sejin melepaskan rangkulan Jinhyuk dan berbalik berhadapan dengan Jinhyuk. Sejin sedikit berjinjit dan menarik tengkuk sang kekasih.

“Nakal...“ucap Jinhyuk sebelum melumat bibir kekasih mungilnya.

“Nghh... Hyuk... Ah....“Sejin mendesah, kala Jinhyuk mengusap tubuh bagian bawahnya yang masih berbalut celana.

Pergerakan Jinhyuk serta Sejin kacau. Mereka menginginkan satu sama lain. Jinhyuk melepas satu persatu baju yang dikenakan Sejin, bahkan kemeja Sejin terpaksa dirobek paksa oleh Jinhyuk yang tidak sabaran.

Tidak jauh berbeda, Sejin juga membuka satu persatu baju yang digunakan Jinhyuk. Tangan Sejin mengusap dada hingga perut dada Jinhyuk hingga akhirnya bertemu dengan pinggang sang kekasih.

“Nghhhh.... Jin....“ucap Jinhyuk mengerang ketika dengan tidak sopannya, Sejin meremas kejantanannya. Sejin tertawa dalam lumatannya.

Jinhyuk menggendong Sejin dan membawanya ke kasur milik mereka berdua tanpa melepas tautan satu sama lain. Sejin masih berusaha membuka celana panjanh Jinhyuk.

“Nghhh.... Susah”ucap Sejin frustasi.

Jinhyuk pun memutus tautan bibir mereka berdua dan tersenyum menatap Sejin hanya ada menggunakan celana dalamnya. Jinhyuk dengan gerakan pelan membuka ikat pinggangnya.

“Kelamaan!“Ucap Sejin tidak sabaran dan kembali bangun untuk membantu Jinhyuk.

Celana Jinhyuk telah tanggal sepenuhnya. Sejin tanpa diminta, langsung memasukan kebanggaan Jinhyuk ke dalam mulutnya. Kebanggaan Jinhyuk memang besar, karena tidak seluruhnya bisa Sejin masukan ke dalam mulutnya.

“Mch... Guedhee khwan...“ucap Sejin sambil melirik ke arah Jinhyuk yang terduduk lemas.

Jinhyuk mengusap kepala Sejin dengan rasa sayang, lalu tangannua beralih ke punggung Sejin dan sedikit menurunkan celana dalam yang masih Sejin gunakan. Setelah melumuri jarinya dengan ludah sendiri, Jinhyuk memasukan jari tengahnya ke dalam anal Sejin yang membuat Sejin tanpa sengaja menggigit kejantanan Jinhyuk.

“Aw!!!”

“Nghhh...Hyuk...”

Jinhyuk dan Sejin berucap bersamaan. Pekerjaan mereka lanjutkan masing-masing dan berhenti ketika Jinhyuk telah sampai pada pelepasannya.

Sejin mengusap bibirnya kasar dan menatap kekasihnya yang tersenyum puas. Jinhyuk pun mengisyaratkan Sejin untuk kembali berbaring. Jinhyuk lalu membuka celana dalam milik Sejin dan membuangnya sembarangan.

Jinhyuk kembali menggoda lubang Sejin dengan jari-jarinya hingga membuat Sejin bergerak gelisah.

“Hyuk... Nghhh... Mau....“ucap Sejin terbata.

“Mau apa? Hm....“ucap Jinhyuk menggoda.

“Mau... Nghhh.... Ah... Yang gede!“ucap Sejin sambil mengocok kejantanannya sendiri.

“Coba ngomong yang bener”ucap Jinhyuk lagi.

“Jinhyuk.... Nghhh... Aku mau kamu! Aku mau disodok sama punya kamu yanh gede ituuu”ucap Sejin menatap Jinhyuk memohon.

“Ini, hm?“ucap Jinhyuk yang malah memasukan dua jarinya kedalam lubang anal Sejin dan membuat Sejin menjerit.

“Bukannn! Nghhh... Aku mau... Ah.... Yang lebih gede!“ucap Sejin mendesah dan memohon.

Jinhyuk mengeluarkan kedua jarinya dan menjatuhkan badannya diatas Sejin dengan tangan sebagai tumpuanya. Jinhyuk melumat bibir Sejin lagi. Tangan kiri ia gunakan untuk mengusap rambut Sejin dan tangan kanan ia gunakan untuk memasukan kejantanannya ke dalam anal Sejin.

“Ah... Jinhyuk... Ngh... Gede.... Enak....“ucap Sejin meracau yang membuat Jinhyuk tersenyum.

Jinhyuk terus mendorong penuh kejantannya. Kegiatan ini bukanlah hal baru untuk mereka berdua, tapi Sejin dan Jinhyuk selalu merasa kenikmatan disetiap persatuan tubuh mereka.

Jinhyuk mulai bergerak. Awalnya dengan gerakan lambat, tapi lama kelamaan Jinhyuk menambah kecepatannya.

“Ah... Jinhyuk... Enak... Punya kamu... Hiks... Gedee....“ucap Sejin yanh sudah melingkarkan tangannya di leher Jinhyuk.

“Jin... Nghhh... Lubang kamu... Ah... Makin sempit!“ucap Jinhyuk menahan geramannya.

Sejin sudah terlebih dahulu memgeluarkan cairan kenikmatannya. Sedangkan Jinhyuk mengeluarkan cairannya di dalam anal Sejin, tiga menit setelahnya.

Jinhyuk ambruk diatas tubuh Sejin. Keringat mereka berdua mengucur deras dengan deru nafas yang tidak beraturan.

“Lain kali.... Jangan ngomong macem-macem... Tentang gede...“ucap Jinhyuk terengah.

“Kenapa?“tanya Sejin polos.

“Jangan ngegoda... Nanti aku bisa tiba-tiba ngabisin kamu di ruang ganti...“ucap Jinhyuk pelan sambil memberikan kecupan terakhirnya ditulang selangka Sejin.

Sejin terdiam, tidak menjawab pernyataan Jinhyuk.

“Hyuk... Nghhh.. Lepas dulu bisa kan? Kamu berat....“ucap Sejin memukul pelan punggung Jinhyuk.

Jinhyuk mendengkur halus. Akhirnya, dengan terpaksa Sejin mendorong pelan tubuh Jinhyuk dan membuat penyatuan mereka terlepas.

“Ah...“ucap Sejin pelan.

xposhie

Delivery.


Byungchan memijat pelipisnya pelan, jam kerjanya sudah lewat tiga jam yang lalu tapi pekerjaannya masih saja belum selesai hingga waktu menunjukan pukul delapan lewat tujuh menit. Byungchan menyenderkan tubuhnya ke kursi yang sedang ia tempati sambil sesekali menghela nafas panjang.

Akhir tahun adalah hal yang selalu dihindari Byungchan. Walaupun tetap saja setaip tahunnya, Byungchan tidak akan bisa menghindar. Ia dan Seungwoo kekasihnya akan sama-sama disibukan dengan agenda tutup buku perusahaan masing-masing yang membuat mereka jarang mempunyai waktu bersama.

“Jangan lupa makan sayang!” Itu adalah pesan terakhir yang dikirimkah Seungwoo jam enam tempat, tetapi hingga jam delapan Byungchan masih belum menyantap makan malamnya.

Byungchan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, hanya ada ia dan beberapa orang saja karena hampir seluruh karyawan akan mengambil cuti saat akhir tahun seperti ini.

“Chan, makan!“ucap Seungsik, seorang senior Byungchan sambil mengangkat sebuah mie instan dalam kemasan. Byungchan mengangguk dan tersenyum.

“Yakali, gue makan mie nanti ketauan ka seungwoo pasti”ucap Byungchan pelan.

Byungchan bukanlah orang yang sehat seratus persen secara jasmani, jadi Seungwoo selalu memperingatkan Byungchan untuk mengurangi kopi, mie instan serta makanan cepat saji, bahkan jika bisa Byungchan harus meninggalkan ketiga jenis makanan tersebut.

Byungchan kembali melirik ponselnya, hampir setengah sembilan malam. Byungchan pun merenggakan tubuhnya. Pekerjaannya harus selesai maksimal jam sepuluh malam, karena Seungwoo akan menjempunya saat jam tersebut. Tepat ketika dirinya ingin melanjutkan pekerjaannya, ponsel Byungchan berbunyi, ada telfon dari nomer yang tidak ia kenal.

“Hallo”ucap Byungchan malas.

“Selamat malam Mas, saya mau nganter makanan nih mas”ucap seseorang di sebrang telfon.

“Loh? Saya engga pesen makanan pak”ucap Byungchan bingung.

“Oh iya, ini titipan dari orang mas. Kata suruh kirim ke mas byungchan”ucapnya lagi dan Byungchan tersenyum mendengarnya.

“Oke pak, saya ke lobby sebentar ya pak”ucap Byungchan sebelum memutus panggilannya.

“Mas Byungchan ya?“ucap kurir makanan yang berada di hadapan Byungchan, Byungchan tersenyum sambil mengangguk.

“Ini ya mas makanannya. Ini ada tulisannya, tapi bukan dari saya. Selamat makan pangeran kecil”ucap kurir tersebut sembari tersenyum dan berhasil membuat wajah Byungchan memerah.

“Oh? Hehehe makasih ya.... mas hehe”ucap Byungchan menahan malu.

“Oiya, ini buat masnya ya! Buat bayar parkir”ucap Byungchan sopan.

“Waduh! Makasih loh mas. Jangan lupa dimakan ya pangeran kecil”ucap kurir makanan tersebut sebelum meninggalkan Byungchan.

Byungchan berjalan kembali ke kantornya. Ia mencoba menghubungi Seungwoo, dalang dibalik kejadian barusan.

“Apa-apaan pangeran kecil, udah tau aku sama dia juga gedean aku”batin Byungchan”

“Hallo ka?“ucap Byungchan menahan senyum.

“Gimana Chan? Udah terima makanannya?“ucap Seungwoo dari sebrang telfon.

“Iyaaaa udah, makasih ya!“ucap Byungchan dengan nada menggemaskan.

“Tadi kurir makanannya bilang apa?“tanya Seungwoo penasaran.

“Dia keluarin bungkusan makanannya trus bilang Ini ada tulisannya tapi bukan dari saya, selamat makan ya pangeran kecil“ucap Byungchan menirukan perkataan kurir makanan yang mengantarkan makanannya tadi.

“Gemes banget sih ka!!!“ucap Byungchan lagi.

“Hahahaha gemes kan aku?“tawa Seungwoo terdengar senang di sebrang telfon.

“Iya gemes! Tapi aku baper sama abang kurirnya kaaa bukan sama kamu”ucap Byungchan polos.

“Hah? Gimana Chan?“tanya Seungwoo bingung.

“Yang ngucapin selamat makan langsung soalnya abang kurirnya, segala manggil pangeran kecil juga hehe”ucap Byungchan sambil tersenyum.

“Chan.....“Seungwoo tidak dapat berkata apa-apa lagi di sebrang telfon.

“Ka! Abang kurirnya ganteng tadi, trus pas dia bilang gitu dia sambil ngeliatin akuuu hehe”ucap Byungchan melanjutkan ceritanya.

“Chan, aku jemput sekarang ya? Itu engga usah dimakan! Kita makan dirumah aja”ucap Seungwoo tegas.

“Loh kok gitu ka? Kan katanya mau jemput jam 10, ini baru jam 9 kaaa”ucap Byungchan merajuk.

“Itu makanan cepat saji, engga sehat! Nanti aku masak aja dirumah. Aku matiin telfonnya ya!“ucap Seungwoo sambil memastikan telfonnya.

Byungchan terdiam tidak mengerti. Makanan ditangan kiri, ponsel ditangan kanan.

xposhie

Kalut.


Seungwoo membiarkan roti dan kopinya terbengkalai begitu saja disebuah cafe yang letaknya ada di lobby kantornya. Seungwoo bingung dengan isi chat Byungchan yang mengatakn bahwa Byungchan marah dan enggan bertemu Seungwoo esok, padahal Seungwoo sudah punya banyak rencana untuknya dan untuk Byungchan.

“Woo, lo dipanggil boss”Seungwoo membaca sebuah pesan masuk dari teman sekantornya dan membuat Seungwoo buru-buru kembali ke kantornya dan melupakan sejenak urusan Byungchan.

“Kenapa lagi deh Woo?“tanya rekan Seungwoo saat Seungwoo baru saja mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Seungwoo menghela nafas panjang.

“Gue udah bilang kalo kita butuh karyawan lagi, si boss tuh ngeyel sumpah! Kemaren mending ya gue dibantu Byungchan walaupun bentar doang. Sekarang si Byungchan kelar magang, gue jadi keteteran lagi”ucap Seungwoo menahan emosi.

“Kangen Byungchan ya, Woo?“ucap rekan wanita yang duduk di sebrang Seungwoo.

“Iya....“ucap Seungwoo pelan dan sendu.

“Anjir!!! Kan bener apa kata gue! Seungwoo tuh pasti suka sama Byungchan. Engga mungkin tuh kalo Seungwoo baik banget sama anak baru kalo emang dia engga suka”rekan-rekan Seungwoo mendadak heboh ketika Seungwoo menjawab iya atas pertanyaan kangen Byungchan atau engga.

“Mampus yang kalah! Makan siang selama seminggu”ucap rekan Seungwoo lainnya.

“Ini apaan sih? Kalian pada taruhan? Gue dijadiin bahan taruhan? Wah parah lo sumpah”ucap Seungwoo menggeleng tidak percaya.

“Hahahaha lagian kalo suka tuh samperin Woo! Jangan diem aja ah lama pergerakan lo”ucap teman Seungwoo lainnya.

“Lagian gue bilang kangen Byungchan tuh karena kangen ada yang bantuin gue kerja, bukan yang lain”ucap Seungwoo berkilah.

“Ya tetep aja kan namanya Kangen!!“ucap teman Seungwoo antusias.

Seungwoo yang memang sedang banyak pekerjaan dengan deadline sempit, akhirnya menarik kursinya dan kembali fokus dengan pekerjaannya, mengabaikan teman-temannya yang masih heboh di belakangnya.

Jam menunjukan pukul setengah delapan malam ketika ponsel Seungwoo berbunyi. Seungwoo mengernyitkan keningnya, ketika melihat nomer yang tidak dikenal menghubunginya.

“Hallo?“ucap Seungwoo malas.

“Dengan pak seungwoo? saya mau antar makanan pak, saya sudah dilobby ya pak”ucap seseorang di sebrang telfon.

“Makanan? Saya engga pesen makanan apapun”ucap Seungwoo bingung.

“Aduh pak... Tapi ini beneran pesanan atas nama Pak Seungwoo di Kantor xx lantai 32 kan pak?“ucap orang tersebut lagi.

Seungwoo menghela nafas panjang.

“Yaudah deh pak, saya turun dulu. Tunggu sebentar ya pak”ucap Seungwoo pelan.

Seungwoo pun melangkahkan kakinya malas ke lobby kantor untuk menemui orang asik yang menelfonnya.

“Berapa pak?“ucap Seungwoo hendak mengeluarkan uang untuk membayar makanan tersebut.

“Engga usah pak, udah dibayar kok pak”ucap kurir makanan di hadapan Seungwoo yang semakin membuat Seungwoo bingung.

“Saya permisi ya pak”ucap kurir tersebut lagi.

“Pak, ini buat bapak aja. Buat parkir di depan”ucap Seungwoo ramah yang mendapat balasan sebuah senyuman hangat serta ucapan terima kasih.

Seungwoo kembali ke mejanya dengan menenteng sebuah plastik berisi makanan dari sebuah restoran cepat saji tersebut.

“Ka makanannya udah sampe kan ya? Semoga pesanan aku serta notenya sampe, soalnya aku minta tolong bapak yang kirim buat nulis ini hehehe Selamat makan ka! Kalo udah habis, pap ke aku yaaaa :) -cbc

(xposhie)

Make Up.


Yohan melangkahkan kakinya malas sambil menyeret tas ranselnya. Kelas pagi adalah hal yang snagat dihindari Yohan, tetapi untuk semester ini keberuntungan tidak berpihak pada Yohan karena Yohan mendapatkan dua kelas pagi di dua hari berturut-turut. Yohan sesekali menguap, karena semaleman dia memikirkan kebodohannya yang mendiami kekasihnya karena hal sepele.

“Ka.... Ini Yuvin udah nunggu, kamu kelas pagi kan?“suara Mami dipagi hari membuat Yohan melangkahkan kakinya di tengah anak tangga.

“Lah tuh anak ngapain kesini? Kan kemaren gue udah diemin seharian?“ucap Yohan dalam hati

“Yuvin sarapan dulu ya? Itu si kaka emang lama banget kalo siap-siap. Dimakan dulu aja rotinya ya?“ucap mami Yohan ramah dan Yuvin mengangguk sambil tersenyum.

“Apaan sih mami! Aku tuh engga lama ya siaps-siapnya?“ucap Yohan sambil mendudukan dirinya di kursi yang terletak di sebrang kursi Yohan.

“Kakaaaa.... Itu kan kursi aku?“ucap adik perempuan Yohan yang sedang sibuk menyisir rambutnya.

“Situ dulu sih gantian! Kamu tuh kalo sisiran dikamar jangan di meja makan”ucap Yohan sewot yang berhasil membuat Yuvin tersenyum.

“Lah tumben mau tukeran, biasanya aku dudukin kursinya langsung marah-marah”ucap adik perempuan Yohan pelan tetapi Yohan masih dapat mendengarnya.

“Gue denger ya!!!“ucap Yohan sedikit berteriak.

“Kaka apaan sih? Masih pagi jangan marah-marah? Kenapa? Tidurnya kurang? Siapa suruh main game semaleman? Atau malahan baca komik? Kamu beli komik baru lagi?“tanya mami Yohan mengintrograsi.

“Hehehe semalem telfonan sama Yuvin tante... nemenin Yuvin nugas, makanya mungkin Yohan kurang tidur”Yohan baru saja akan mengeluarkan alasannya tetapi Yuvin lebih cepat menjawab pertanyaan mamih Yohan tersebut. Yohan melirik sinis ke arah Yuvin.

“Oh udah selesai tugasnya? Yaudah engga apa-apa kalo emang telfonan buat nugas... Yaudah lanjut sarapannya ya, tante mau bantuin si adek dulu siap-siap”ucap mami Yohan sebelum meninggalkan Yohan dan Yuvin berdua di ruang makan.

“Yoy..... Masih marah?“ucap Yuvin lembut tetapi berakhir diabaikan Yohan.

“Maafin aku.... Beneran kemaren aku cuma iseng aja, engga ada maksud apapun kok”ucap Yuvin lagi.

“Bukan karena aku engga percaya sama aku atau apapun, engga sama sekali... Aku cuma bercanda aja... Beneran”ucap Yuvin yang hampir saja frustasi.

“Dimakan engga itu rotinya? Kalo engga, yaudah kita bernagkat”ucap Yohan jutek.

“Kamu udah maafin aku?“tanya Yuvin berharap yang mendapatkan tatapan mematikan dari Yohan.

“Buruan! Kelas aku setengah jam lagi, kamu kan engga ada kelas pagi hari ini jadi bisa santai”ucap Yohan sambil menggunakan ransel yang sebelumnya ia letakan di dekat kakinya itu.

“Eh? Yaudah ayok”ucap Yuvin yang ikut bangkit dari kursinya.

“Itu rotinya engga dimakan?“tanya Yohan lagi dan Yuvin menggeleng. Roti yang sudah disiapkan mami Yohan belum tersentuh sama sekali oleh Yuvin, karena sesungguhnya tujuan Yuvin kesini adalah mendapatkan permintaan maaf dari Yohan.

“Ih kebiasaan!! Kamu tuh selalu skip sarapan kan? Padahal sarapan itu penting!“ucap Yohan emosi sambil mengambil sebuah kotak makan di lemari dapur rumahnya. Yohan memasukan roti tersebut ke dalam kotak makan dan menyerahkannya kepada Yuvin.

“Makasih...“ucap Yuvin pelan yang tidak dapat menahan senyumnya.

“Jadi kita baikan nih? Kamu udah engga ngambek sama kau kan?“ucap YUvin sambil merangkul Yohan keluar dari rumahnya.

(xposhie)

Perampok.


Sejin menghela nafas berat. Shift malam adalah hal yang sangat ia benci. Pertama adalah karena ia mengantuk, Kedua adalah karena suasana sepi. Sejin sengaja memutarkan lagu dari ponsel pintarnya. Dia juga sesekali bersenandung, ketika menyusun produk yang kosong dengan stock yang tersedia.

Sejin melihat jam yang terpasang diatas meja kasir dan menunjukan pukul 10:45 malam. Toko tempat Sejin bekerja baru akan tutup tepat pada tengah malam atau sekitar 1 jam 15 menit lagi. Sejin menghembuskan nafasnya berat karena ia merasa waktu berputar lambat.

“Sebenernya kan engga ada yang beli nih kalo malem, kenapa si boss kekeuh banget sih buka toko 24jam begini?“ucap Sejin bermonolog seorang diri.

Sejin sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk menyusun produk di rak yang tersedia dan dia kembali ke meja kair untuk melakukan tutup buku di malam itu. Setidaknya Sejin masih punya beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengusir rasa kantuknya.

Lima belas menit sudah Sejin sibuk menghitung pembukuan yang sejujurnya membuat ia pusing tujuh keliling ketika ia melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan tokonya bekerja. Sejin memasukan uang yang ia pegang ke dalam laci kasar dan memasang wajah ramah kepada calon pembelinya.

Sejin sesekali melirik keluar, memastikan apakah pengemudi mobil sedan tersebut benar-benar calon konsumennya atau hanya orang yang menumpang parkir di depan tokonya. Sejin pun mengalihkan pandangannya ketika ia sudah memastikan jika pengemudi mobil tersebut bukanlah calon konsumennya.

“Yaelah numpang parkir, untung engga ada boss. Kalo ada—–“ucapan Sejin terpotong karena seseorang dengan baju serba hitam memasuki tokonya.

Orang tersebut mendekat kearah Sejin dengan sebuah pistol ditangan kanannya. Sejin menatap orang tersebut tanpa rasa takut sekalipun. Orang asing dihadapnnya menunjuk laci dimana Sejin meletakan uang hasil toko hari itu. Sejin menggeleng, enggan mematuhi suruhan pria tersebut.

Orang tersebut semakin mendekatkan dirinya ke meja kasir dan menarik kerah kemeja Sejin dengan pistol yang tepat mengarah ke perut Sejin. Tatapan emosi orang asing yang ternyata seorang perampok itu sama sekali tidak membuat Sejin takut. Sejin tersenyum miring sebelum tangan kanannya menarik tengkuk perampok tersebut.

Perampok tersebut terkejut dengan sikap tiba-tiba Sejin. Awalnya ia menahan pergerakan Sejin yang menarik tengkuknya, tetapi lama-kelamaan perampok tersebut menyerah dan membuat wajah Sejin semakin mendekati wajahnya. Tanpa rasa takut sekalipun, Sejin melumat bibir perampok yang awalnya ingin merampok tokonya.

Sejin melumat dengan kasar bibir lelaki dihadapannya. Lelaki dihadapan Sejin yang awalnya menolak perlakuan Sejin itupun akhirnya menikmati semua perlakuan Sejin kepadanya. Sejin bahkan membuka mulutnya, memberikan akses kepada perampok tersebut untuk mengeksplor bibirnya. Sejin mulai menarik pelan rambut lelaki di hadapannya karena nikmat yang sedang ia rasakan.

Lumatan lelaki dewasa di toko tersebut harus berakhir ketika jam yang berada di toko tersebut berbunyi. Sejin melepas pangutannya, menyisakan jembatan halus diantara bibirnya dan bibir pria di hadapannya. Mereka berdua beradu tatap sebelum akhirnya Sejin membuka suara.

“You're a good kisser”ucap Sejin dengan senyum miring tercetak jelas di bibirnya.

“Jam kerjaku sudah habis, jika kamu ingin tau”ucap Sejin tenang sambil berjalan kearah pintu toko dan mengunci pintu toko tersebut. Dirinya juga menarik rolling door toko tersebut sebelum berbalik dan melihat perampok yang berdiri di hadapannya sedang menatapnya dengan tatapan lapar.

“Ada kamar dibelakang jika....“Ucapan Sejin kembali terpotong ketika lelaki di hadannya menarik Sejin dan menggendongnya. Sejin melingkarkan kakinya di pinggang lelaki tersebut sebelum kembali melumat bibir lawan mainnya.

“Hghhh.... Lampu.... Saklar”ucap Sejin terbata ketika sang perampok sedang menjelajahi lehernya.

Perampok tersebut menekan saklar yang berada di dekat dirinya untuk mematikan lampu toko dan membawa Sejin ke sebuah kamar yang memang terletak di belakang toko tersebut. Perampok tersebut memang A Good Kisser karena Sejin sudah porak poranda di gendongan lelaki tersebut.

“Siapa namamu?“ucap Sejin tepat ketika dirinya sudah berada diatas kasur tipis miliknya.

“Seungyoun... Namaku Seungyoun dan aku akan membuat kamu meneriaki namaku malam ini”ucap perampok bernama Seungyoun tersebut sebelum kembali melumat bibir Sejin yang sudah semakin bengkak.

Kedua lelaki dewasa tersebut tidak membuang banyak waktu, karena mereka berdua menginginkan satu sama lain. Seungyoun membantu Sejin membuka pakaiannya dan begitu juga sebaliknya.

“Laci paling atas...“ucap Sejin ketika Seungyoun sudah mempersiapkan dirinya di depan lubang kemerahan milik Sejin.

“Ck!“Seungyoun berdecak sebal yang membuat Sejin tertawa.

“Safety first, sir”ucap Sejin terkekeh. Seungyoun pun kembali dengan sebuah pelumas serta sebungkus kondom yang selalu berada di dalam laci Sejin.

“Aku mengambil stock di toko dan belum pernah menggunakannya, itu jika kau ingin tau”ucap Sejin ketika melihat Seungyoun sedang memakai kondom di kejantannya dan melumurinya dengan pelicin tersebut.

“Aku benar-benar tidak akan bermain lembut malam ini”ucap Seungyoun mengecup perut hingga menuju bibir Sejin. Sejin tersenyum dan mengangguk mengerti.

“Ah! Shit.... Kamu benar-benar sempit sialan”ucap Seungyoun mengerang frustasi ketika dirinya sedang berusaha memasukan miliknya ke dalam anal Sejin.

“Ahhhh.... Kamu yang terlalu besar aku rasa, atau itu ukuran standard? Aw!!!“Sejin mengaduh karena pergerakan Seungyoun tiba-tiba.

“Carilah laki-laki lain diluar sana yang lebih hebat dariku dan kamu bisa menilainya sendiri”ucap Seungyoun.

“Agrhhh... Youn... Bergeraklah cepat....“ucap Sejin tidak sabaran dan Seungyoun mengikuti kemauan Sejin. Seungyoun menggerakan pinggulnya cepat dan tepat ke titik kenikmatan Sejin.

“Jangan kau sempitkan lubangmu!! Ahhh Sejin.... Kau benar-benar nikmat sialan”ucap Seungyoun terus mengerang.

“Hhhh... Seungyoun.... Aku mau keluar... Nghhh...“ucap Sejin memeluk erat tubuh Seungyoun yang berada diatasnya. Tidak lama setelah itu, Sejin benar-benar memuntahkan cairannya di perutnya dan perut Seungyoun.

Setelah Sejin mencapai klimaksnya, anal Sejin semakin mengetat dan membuat Seungyoun semakin menikmati pergerakannya. Sejin yang sudah terkulai hanya dapat pasrah menerima tumbukan yang diberikan Seungyoun tepat ke titik kenikmatannya.

Beberapa tumbukan terakhir hingga akhirnya Seungyoun mencapai kenikmatannya. Seungyoun yang lelah ambruk diatas Sejin dan membuat Sejin tertawa.

“Jadi masih mau ngerampok apa engga?“ucapan Sejin membuat Seungyoun mengangkat kepalanya dan meletakannya kepala diatas dada Sejin.

“Nghhh... Lama-lama kamu berat Youn...“ucap Sejin merintih dan Seungyoun tertawa.

Seungyoun pun membalikan tubuhnya sehingga Sejin sekarang berada diatasnya. Pegerakan tiba-tiba Seungyoun sempat membuat Sejin mendesah karena batang kebanggan Seungyoun masih betah berada di dalam anal Sejin.

“Aku masih mau ngerampok nih, boleh?“ucap Seungyoun dan Sejin terkejut.

“Ngerampok hati kamu...“ucap Seungyoun tepat di telinga Sejin.

“Oh My God! Kamu selalu Good kisser ternyata Cringe as f*** ya?“ucap Sejin terkekeh.

“Jadi gimana? Boleh engga?“tanya Seungyoun.

“Ada gitu orang ngerampok izin dulu?“Sejin tertawa.

“Iya soalnya kalo kamu izinin, aku mau minta hadiah sekali lagi”ucap Seungyoun genit.

“Hm.... Hadiahnya engga usah dibungkus gimana?“tanya Sejin dan Seungyoun tersenyum lebar.

“Laksanakan, sir!“ucap Seungyoun sebelum mengangkat tubuh Sejin dan duduk diatas kabur. Sejin membantu Seungyoun membuka karet pelapis kejantanan Seungyoun dan melumurinya dengan pelumas sebelum Sejin mendudukan dirinya tepat diatas kejantanan Seungyoun tersebut.

Desahan dan erangan serta bunyi decit kasur Sejin memenuhi kamar tersebut. Seungyoun memang tidak mendapatkan uang hasil rampokan, tapi Seungyoun berhasil mendapatkan Sejin malam itu karena sejak malam itu Sejin resmi menjadi miliknya.

(xposhie)