Polisi.
Sejin menghembuskan nafas kasar dan sedikit membanting berkas yang sedang ia baca keatas meja kerjanya. “Lembur lagi?“Sejin menoleh dan menemukan Rowoon yang baru saja masuk ke ruangan yang sama dengan dirinya. Sejin menyunggingkan senyumnya sebelum menarik kursinya dan kembali larut dalam berkas-berkasnya.
“Lo jadi buka kasus itu lagi? Semu orang udah nyerah dan lo sukarela buka kasus ini?“tanya Rowoon ketika membaca berkas yang berserakan diatas meja Sejin. Sejin mendengus kesal.
“Demi kenaikan jabatan? Gue engga kira seorang Lee Sejin adalah orang yang haus jabatan!“ucap Rowoon lagi yang berhasil mendapatkan sebuah tendangan tepat di tulang keringnya.
“Aw! Kecil-kecil lo tenaganya kuat banget sih, Jin. . . Njirrrr gue yakin besok pagi tulang kering gue biru”ucap Rowoon meringis.
“Bersyukurlah, gue engga sampe matahain kaki lo”ucap Sejin acuh tak acuh.
“Jadi gimana perkembangannya?“Sejin menelan ludahnya dengan susah payah ketika pagi itu ia dipanggil oleh atasannya yang meminta perkembangan kasus yang dibebankan kepadanya.
“Motifnya Uang, komandan. Karena setelah diselidiki lebih lanjut, tersangka tidak sama sekali menyakiti korban. Tetapi semua barang berharga milik korban lenyap”ucap Sejin berhati-hati.
“Hanya uang? Tidak ada yang lain?“Sejin menggeleng sebagai jawabannya.
“Baiklah, kau boleh kembali bekerja. Temui saya dua hari lagi dengan perkembangan lainnya”ucap atasan Sejin lagi dan Sejin mengangguk.
Sejin berjalan kembali ke mejanya dan menelungkupkan kepalanya diatas meja. Ia kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa sama sekali memecahkan kasus perampokan tersebut.
“Cuy! Balik cepet yuk, jangan lembut mulu lo!“Sejin mengangkat kepalanya dan mendapati rekan-rekan satu ruangannya sedang berkumpul. Selain ada Rowoon, disana juga ada Wonwoo dan Dowoon.
“Tau! Cari pacar kek atau gimana gitu”ucap salah satu pria bernama Dowoon.
“Engga ada yang punya kaca ya? Gue mau nyuruh Dowoon ngaca, karena sesungguhnya dia aja belum move on dari ceweknya yang putuh enam bulan lalu”ucap Sejin malas.
“Jin. . . Lo kayanya beneran harus menghirup udara segar deh”ucap Wonwoo menggeleng tidak percaya.
“Dowoon udah punya cewek dari dua bulan yang lalu! Bahkan. . .“ucapan Rowoon terputus karena Dowoon melemparnya dengan kulit kacang yang dipegangnya.
“Engga usah TMI, anjir!“ucap Dowoon menahan tawa. Sejin menatap ketiga rekannya dengan tatapan sayu.
Sejin menghela nafas panjang. Kasus yang ia sedang tangani memang menyita waktunta, bahkan sudah dua bulan ia tidak mempunyai waktu untuk berbincang atau berkumpul dengan teman seruangannya.
“Nanti malem, tempat biasa?“ucapa Sejin membuat pergerakan ketiga temannya terhenti dan menatap Sejin bingung.
“Gue yang bayar, engga usah ngeliatin gue kayak gitu!“ucap Sejin malas.
“Call!“ucap Rowoon, Wonwoo dan Dowoon bersamaan.
“Eh ini salah kelab tempat kejadian kasus lo kan?“tanya Dowoon dan Sejin mengangguk.
“Mungkin engga sih kalo dia beraksi lagi disini?“tanya Dowoon lagi dan Sejin menggeleng.
“Tempatnya selalu berubah. Waktunya juga acak. Itu yang bikin kerjaan gue buntu”ucap Sejin sambil menyesap minuman beralkohol di dalam gelas miliknya.
“Jin... Lo harus tau!!! Gue barusan liat siapa di toilet”Rowoon dengan segala kehebohannya mendatangi meja yang sudah dipesan Sejin khusus untuknya dan teman-temannya malam itu.
“Gue liat Seungyoun! Mantan lo. . . Lagi make out sama cewek di depan toilet”ucap Rowoon menjelaskan. Sejin tersenyum miring.
“Dia bukannya udah lama engga ngasih kabar ya?“tanya Wonwoo yang baru saja bergabung setelah lelah menari diatas lantai dansa. Sejin mengangguk.
“Hilang udah lebih dari dua bulan. Tanpa kabar apapun. Semua kontak gue di block, satupun informasi dia gue engga tau”ucap Sejin sambil memicingkan matanya mengarah ke satu titik di kelab malam tersebut.
Sejin bangkit dari kursinya dan berjalan mengarah ke seorang pria yang sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita dengan pakaian super sexy tersebut. Kesadaran Sejin hanya 54% hal itu yang membuat Sejin berani berhadapan dengan Seungyoun saat ini.
Plak!
Sejin berhasil mendaratkan telapak tangannya tepat dipipi sebelah kiri milik Seungyoun. Seungyoun terkejut, begitu pula wanita di depan Seungyoun.
Plak!
Sejin terkejut karena wanita dihadapan Seungyoun berani menamparnya. Sejin menahan sakit karena kuku sang wanita tidak sengaja mengenai kulit wajah Sejin dan menjadikan guratan di wajah kecil Sejin. Sejin mendecih.
“Apa-apaan sih! Lo siapa? Kenapa berani-beraninya nampar orang yang belum lo kenal?“ucap Wanita tersebut emosi.
“Hello! Lo juga nampar temen gue. Lo udah kenal sama temen gue?“ucap Rowoon yang muncul dibelakang Sejin.
“Minggir! Hargai privasi orang kalo privasi kalian mau dihargai”ucap Seungyoun sambil menarik wanita tersebut pergi menjauh.
“Oh shit!“ucap Sejin saat membaca pesan yang masuk ke ponsel pintarnya.
“Gue pergi bentar ya! Bilangin boss, ada korban lagi di kasus gue”ucap Sejin sebelum pergi meninggalkan ruangannya siang itu.
Sejin menghentikan langkahnya ketika dirinya tiba disebuah rumah sakit yang memang menjadi tujuannya. Dirinya terpaku, melihat seorang wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit.
“Korban ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah hotel ketika petugas cleaning service hendak membersihkan kamarnya”ucap seseorang kepada Sejin.
“Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tetapi sampai sekarang korban masih belum sadarkan diri. Kemungkinan ada beberapa obat yang dikonsumsi wanita ini sebelum sadarkan diri”ucap orang tersebut lagi.
“Wanita ini seorang diri? Tidak bersama seorang lelaki sebelumnya?“tanya Sejin bingung.
“Seseorang melihatnya semalam bersama seorang pria, tetapi kami sudah memeriksa seluruh kamar hotel dan tidak ada tanda-tanda jika wanita tersebut seorang diri”ucap orang tersebut.
“Siapa yang melihatnya?“tanya Sejin.
Sejin pun melangkahkan kakinya menuju hotel yang dimaksud untuk bertemu dengan seorang saksi yang bisa membuka jalannya memecahkan kasus tersebut.
Setelah sejam melakukan interview, Sejin kembali ke kantornya dengan wajah lesu. Ia mendudukan dirinya di kursi kerjanya, membuat Dowoon yang saat itu satu-satunya masih ada diruangan tersebut, bertanya pada Sejin.
“Kenapa? Masih buntu?“tanya Dowoon penasaran dan Sejin menggeleng.
“Lo inget cewek yang semalem nampar gue?“tanya Sejin dan Dowoon mengangguk. Sejin dan Dowoon beradu tatap sebelum ruangan tersebut berisi caci maki dari teman seruangan Sejin tersebut.
“Anjing! Jadi. . . Seungyoun? Gila! Dia kok bisa bersih banget mainnya?“tanya Dowoon penasaran.
“Dulu, gue suka cerita sama dia. Cerita semua kasus yang lagi gue tanganin, beberapa pemecahan kasus bahkan gue dapetin dari dia. Tapi gue masih engga nyangka dia bisa kayak gini”ucap Sejin menghembuskan nafas kasar.
“Lo tau Seungyoun dimana?“tanya Dowoon dan Sejin menggeleng.
“Gue gatau sama sekali keberadaan Seungyoun. Terakhir kali gue ke apartmentnya, dia udah pindah dan pihak apartment engga bisa ngasih tau gue kemana dia pindah”ucap Sejin lemas.
Suasana di dalam ruangan tersebut cukup sepi hingga ponsel Sejin kembali berbunyi.
“Ya, Hallo?“ucap Sejin tenang.
“Gimana pak? Ah baik! Saya akan segera kesana”ucapan Sejin naik beberapa oktaf dan Sejin kembali meninggalkan ruangannya sebelum Dowoon sempat mengajukan pertanyaan.
“Gimana keadaannya”tanya Sejin terengah.
“Perkembangannya semakin baik, tetapi ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan wali. Saya sudah beberapa kali menelfon Tuan Seungyoun tetapi tidak dapat tersambung jadi saya menghubungi nomer lainnya yang memang di daftarkan di rumah sakit ini”ucap seorang perawat kepada Sejin.
Sejin terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit. Matanya menatap ke depan, tetapi fikirannya kosong. Pandangannya teralihkan ketika suara gaduh menganggunya. Dia melihat Seungyoun yang panik sambil berlari.
“Gimana adik saya?“ucap Seungyoun kepada seorang perawat. Sejin memperhatikan semuanya hingga matanya beradu tatap dengan Seungyoun.
“Minum. . .“Sejin menyerahkan sekaleng minuman soda kearah Seungyoun. Mereka berdua sudah berada di kantin rumah sakit. Seungyoun masih terdiam.
“Kenapa?“tanya Sejin ketika suasana hening menghantuinya.
“Aku udah bilang kan, aku bisa bantu pengobatan adik kamu. Kamu engga perlu kayak gini, Youn. . .“ucap Sejin gemetar.
“Dia adik aku, aku harus tanggung jawab. Aku engga bisa bergantung sama kamu”ucap Seungyoun pelan.
“Dia adik aku juga! Kalo kamu emang masih anggap aku bagian dari diri kamu. . .“ucap Sejin tercekat.
“Serahkan diri kamu, aku yakin hukumanmu akan diberi keringanan”ucap Sejin lagi setelah mengatur nafasnya.
“Menyerahkan diri? Lalu bagaimana dengan adikku? Aku harus membiarkannya mati?“ucap Seungyoun menahan emosi.
“Seungyoun. . . please?“ucap Sejin memohon.
“Pergilah. . .“ucap Seungyoun sebelum meninggalkan Sejin seorang diri.
Sejin yang semula menahan tangis akhirnya benar-benar menangis setelah Seungyoun meninggalkannya. Sejin dilema. Ia harus menyelesaikan kasusnya, tapi disisi lain, ia tidak mungkin memasukan Seungyoun ke dalam penjara.
xposhie