El Enemigo
Musuh { noun }
Lawan { noun }
Seteru { noun }
[!!!] School life. Hurt&Comfort. Harsh Word.
Pekan Olahraga dan Seni Sekolah Tahun Ajaran 2020/2021 sebuah spanduk besar sudah terpasang tepat di depan gerbang sekolah Wooseok. Dimulai dari hari ini hingga sepuluh hari ke depan, sekolah (yang tidak dicintai) Wooseok akan mengadakan pekan olahraga serta seni, dimana dalam waktu tersebut, kegiatan belajar mengajar akan ditiadakan dan digantikan oleh perlombaan di bidang olahraga maupun seni.
“Udah siap, Capt?“Wooseok menoleh, tepat ketika dirinya baru saja meletakan sepatu olahraganya di kolong meja. Wooseok mendecih, sedangkan temannya yang baru saja bertanya tadi, dengan tidak sopannya memukul kepala Wooseok sebagai pembalasan.
“Anjing! Kok noyor sih”ucap Wooseok kesal.
“Lagian, lo gue tanya baik-baik malahan galak banget jawabannya”ucap teman Wooseok tenang.
“Gue bukannya emang terkenal galak ya? Bahkan mantan ketua osis engga berani sama gue pas tahun kemarin gue protes tentang hasil futsal kelas kita”ucap Wooseok lagi.
“Tapi itu emang mereka yang salah sih, udah tau ada pelanggaran malahan dibilang engga. Mentang-mentang yang main kelasnya sendiri”ucap Sejin, teman Wooseok yang sudah duduk di kursi tepat di depan Wooseok.
“Engga ngerti bola, tapi sok-sokan ngerti bola tuh ya kayak mantan ketua osis gitu tuh”ucap Wooseok sinis.
“Tapi tahun ini jangan marahin ketua osis lagi yaaaa?“ucap Sejin memohon yang dibalas tatapan sinis oleh Wooseok.
“Bucin banget temen gue...!“ucap Wooseok malas.
“Seok, hari ini kelas kita kebagian tanding setelah kelas sepuluh ya. Sekitar jam sebelasan gitu”Yohan, penanggung jawab PORSENI kelasnya, datang membawa sebuah rundown acara.
“Yo, sambil menyelam minum air ya?“tanya Sejin menatap Yohan mengintimidasi, sedangkan Yohan bingung dengan pertanyaan Sejin tersebut.
“PORSENI tahun ini, ketuanya Hangyul kan?“tanya Wooseok dan Yohan mengangguk.
“Iya, kerja sekalian pacaran eh apa kebalik? pacaran sekalian kerja?“tanya Sejin lagi, Wooseok yang mendengar celotehan temannya itu hanya menggeleng pasrah.
“Lawan kita siapa, Yo?“tanya Wooseok dan Yohan menjelaskannya.
“Yaudah, terserah lo mau ke lapangan jam berapa. Tapi jam sebelas kurang lima belas menit harus udah stand by di lapangan. Lima belas menit engga keliatan, kelas kita di diskualifikasi, tanpa pengecualian”ucap Yohan tegas dan Wooseok memberikan gesture oke sebagai tanda mengerti dengan semua penjelasan Yohan.
Wooseok sedang merenggangkan otot-ototnya sebelum pertandingan futsal dimulai. Semua orang mulai berbisik bahkan saat Wooseok baru saja memasuki lapangan bersama Sejin, temannya. Wooseok sang Kapten Futsal untuk dua periode berturut-turut, bahkan Wooseok sudah menyandang gelar tersebut saat dirinya masih duduk di bangku kelas sepuluh. Saat itu, Wooseok menerima jabatan dari seniornya yang harus mundur dari jabatannya karena cidera dan menyebabkan seseorang sangat membenci Wooseok mulai hari itu.
“Aw!“Wooseok tersungkur ketika sekumpulan anak kelas sebelah memasuki lapangan.
“Kalo jalan pake mata dong!“ucap Wooseok emosi.
“Ya lo, kalo mau pemanasan jangan di tengah jalan. Pinggiran sana! Cari perhatian banget”Wooseok mendecih mendengar perkataan orang tersebut.
Dia adalah Jinhyuk, orang yang sangat membenci Wooseok bahkan dari awal Wooseok mendapatkan gelar Kapten Futsal sekolah mereka. Bahkan sebenarnya, Wooseok tidak tahu hal apa yang membuat Jinhyuk bisa sangat membencinya seperti itu. Bahkan dahulu, ketika mereka masih satu tim, Wooseok dan Jinhyuk terkenal dengan kerjasama tim yang hebat.
“Udah jangan dilanjut”ucap Sejin menahan Wooseok dan menariknya menjauh.
Yohan memanggil Wooseok untuk memberikan penjelasan singkat mengenai aturan permainan yang bahkan sudah dihafal Wooseok diluar kepala. Wooseok, perwakilan dari kelasnya dan Jinhyuk, perwakilan dari kelas lawan, mengangguk mengerti ketika penjelasan telah selesai diberikan.
Peluit tanda pertandingan telah dimulai sudah dibunyikan. Sorakan riuh satu sekolah meneriakan nama-nama pemain dari kedua kelas. Wooseok dan Jinhyuk, merupakan sepasang pemain futsal kebagaan sekolah mereka dua tahun silam.
“Sejun!“Wooseok berteriak sebelum memberikan operan bolanya kepada Sejun dan berhasil membuat kelas Wooseok memimpin pertandingan dengan hasil awal 1 – 0.
Peluit tanda turun minum sudah di bunyikan, pemain dari kedua tim pun beristirahat sambil membicarakan strategi yang akan mereka gunakan di babak kedua. Lima belas menit kemudian, pertandingan kembali dimulai.
Pemain dari kedua tim melakukan serangan demi serangan, bahkan beberapa kali terjadi pelanggaran hingga wasit harus memberikan kartu kuning untuk beberapa pemain.
“Seok, lo mendingan ganti aja deh. Daritadi mereka nyerang lo mulu”ucap Soonyoung saat time out diberikan.
“Engga apa-apa santai. Udah kebaca kok siapa aja yang ngincer gue”ucap Wooseok tenang sambil sesekali melirik Jinhyuk dari tim lawan.
Wasit kembali memanggil pemain dari kedua tim setelah time out yang diberikan telah habis.
“Bangsat!”
Pertandingan baru saja dimulai tujuh menit lalu, tapi Wooseok sudah tersungkur jatuh ke lapangan ketika seseorang dari tim lawan berhasil menjagal kakinya.
“Ashhh tai”ucap Wooseok meringis ketika melihat ternyata Jinhyuk yang baru saja melakukan tackle guna merebut bola yang sedang digiring oleh Wooseok.
“Gue bilang kan apa! Mending Wooseok diganti aja”ucap Soonyoung panik.
“Santai gue engga apa-apa”ucap Wooseok mencoba berdiri tetapi gagal.
Wooseok menoleh ketika seseorang memapahnya dan ternyata itu adalah Jinhyuk, pemain dari tim lawan.
“Gue. Bisa. Sendiri”ucap Wooseok memberikan tekanan disetiap katanya.
“Lepas!“ucap Wooseok ketika Jinhyuk tetap bersikeras memapahnya dan membantunya berjalan.
“Keras kepala”ucap Jinhyuk pelan, ketika Wooseok hampir terjatuh lagi.
“Ong! Gantiin gue”Jinhyuk melemparkan gelang kapten yang sebelumnya ia gunakan di bagian lengan atasnya.
Semua mata tertuju ke arah Jinhyuk yang sedang memapah Wooseok kearah UKS, bahkan beberapa orang mulai berbisik karena pemandangan di depan mereka adalah pemandangan yang sangat langka dan jarang dapat ditemui.
“Gue engga apa-apa, ini di kompres dikit juga sembuh. Lo balik aja”ucap Wooseok sinis tetapi ia masih sesekali meringis.
“Lo tuh udah terlalu sering jatoh begini trus cuma dikompres aja, lama-lama bakalan bisa makin parah”ucap Jinhyuk tanpa sedikit pun menoleh ke arah Wooseok.
“Emang sih keliatannya bengkaknya ilang kalo lo kompres, tapi lo gatau kan dalemnya gimana?“ucap Jinhyuk serius dan Wooseok hanya diam menatap Jinhyuk.
“Pelan-pelan...“ucap Wooseok mencicit ketika Jinhyuk mengoleskan sebuah obat ke pergelangan kaki Wooseok.
Kaki Wooseok terkilir. Bahkan lututnya sedikit terluka karena berbenturan dengan lapangan saat dia terjatuh tadi. Jinhyuk dengan telaten mengobati luka Wooseok.
“Mau kemana lo?“tanya Jinhyuk sinis ketika melihat Wooseok yang berusaha turun dari kasur yang berada di ruang Unit Kesehatan Sekolah tersebut.
“Balik lah ke lapangan, lo kira gue mau nyangkul?“ucap Wooseok tidak kalah sinis.
“Bisa engga, sekali aja engga usah keras kepala? Capek gue bilangin lo”ucap Jinhyuk pasrah.
“Gue engga nyuruh lo buat bantuin gue, kalo lo emang capek yaudah pergi aja, gue bisa sendiri. Anjing!“Jinhyuk dengan sigap menahan badan Wooseok yang hampir terjatuh dari kasur karena kaki Wooseok yang belum bisa sepenuhnya digunakan untuk menahan berat badannya.
“Udah gue bilangin kan, diem!“ucap Jinhyuk lalu mengangkat badan Wooseok untuk kembali duduk di atas kasur dan Wooseok hanya dapat mendecih sebal.
Wooseok pun kali ini menurut dan duduk diam di atas kasur. Jinhyuk berdiri dihadapan Wooseok, mengganti kompres untuk mengompres kaki Wooseok.
“Ini UKS macem apaan dah, perban masa engga ada”ucap Jinhyuk emosi, sedangkan Wooseok menatap Jinhyuk takut.
“Lo jangan banyak gerak dulu deh ya. Jangan terlalu banyak ngelakuin aktivitas pake kaki kanan”ucap Jinhyuk menjelaskan.
“Trus... Gue harus ngesot gitu buat balik ke kelas?“ucap Wooseok malas.
“Yaudah ayok gue anterin, kalo lo mau balik ke kelas”ucap Jinhyuk tetapi Wooseok memilih diam di tempat.
“Kok diem?“tanya Jinhyuk bingung.
“Hm... Gue tunggu Sejin aja deh, atau Yohan”ucap Wooseok menunduk.
“Oh yaudah, nanti kelar pertandingan paling mereka kesini”ucap Jinhyuk yang kemudian memposisikan dirinya di kursi di depan kasur yang ditempatI Wooseok.
“Lo ngapain masih disini?“tanya Wooseok bingung.
“Nungguin lo. Setidaknya biar lo engga nekat jalan sendirian”ucap Jinhyuk tenang. Suasana di ruang UKS tiba-tiba sunyi, hanya ada suara dari video yang sedang Jinhyuk saksikan di ponsel pintarnya.
“Hyuk....”
“Hyuk....”
“Jinhyuk!!!”
Jinhyuk menoleh ketika Wooseok memanggilnya, lebih tepatnya setelah panggilan ketiga Wooseok.
“Thank you”ucap Wooseok pelan dan tanpa Wooseok sadari, Jinhyuk tersenyum melihat Wooseok berbicara mencicit seperti itu.
“Gue juga mau minta maaf, buat hari ini sama buat dua tahun lalu”ucap Jinhyuk tersenyum yang membuat Wooseok akhirnya berani menatap Jinhyuk.
“Khusus buat hari ini, itu murni kalo gue engga sengaja”ucap Jinhyuk lagi.
“Kalo buat dua tahun lalu, sorry gue pergi dari tim tanpa ada alasan yang jelas”Jinhyuk tersenyum menatap Wooseok.
“Bahkan sikap gue ke lo juga berubah, gue aja bingung kenapa gue begitu”Jinhyuk tertawa, mentertawakan kebodohannya selama dua tahun ini.
Flashback
“Sorry, gue harus mundur dari tim futsal. Gue sama beberapa senior futsal juga udah ngomongin hal ini sebelumnya. Jadi karena gue mundur dari futsal, untuk posisi kapten saat ini kosong...”
Semua pemain futsal sekolah Wooseok sore itu berkumpul di tengah lapangan dan mendengar penjelasan dari kapten tim sekolah mereka yang akan melepas jabatannya sore itu.
”...tapi gue udah punya dua nama buat ngisi posisi gue. Gue engga asal milih orang, gue bahkan udah ngomongin ke semua senior dan pemain, intinya mereka semua setuju sama keputusan gue”ucap senior Woosoek melanjutkan.
“Dua orang itu, Wooseok sama Jinhyuk. Gue tau, mereka punya chemistry di lapangan, bahkan kalo mereka berdua doang yang main kayanya tim sekolah kita juga udah pasti menang”Jinhyuk dan Wooseok beradu tatap dan saling tertawa.
“Tapi engga mungkin kan dua-duanya gue jadiin kapten? Dua pemimpin dalam satu rumah, bakalan bikin tim chaos jadi, sorry ya Hyuk... gue milih Wooseok sebagai pengganti gue”ucap senior tersebut yang membuat raut wajah Jinhyuk berubah.
“Jujur, ini berat banget. Ibarat milih seseorang yang terbaik dari yang terbaik, tapi semuanya harus gue lakuin kan? Buat tim kita”Kapten tim futsal sekolah Wooseok, menepuk pelan pundak Jinhyuk.
Sore itu, semua berjalan seperti biasa. Bahkan Jinhyuk juga tidak menunjukan tanda kecewa sama sekali. Tetapi ternyata dua minggu setelah pertemuan tersebut, Jinhyuk memutuskan untuk keluar dari tim futsal. Setelah mengikuti beberapa pertandingan dan beberapa kali juga terjadi adu argumen antara Jinhyuk dan Wooseok, akhirnya Jinhyuk memutuskan keluar dari tim futsal sekolahnya.
Flashback End
“Jadi lo beneran marah sama gue, cuma karena hal itu?“ucap Wooseok tidak percaya dan Jinhyuk mengangguk.
“Gue kira, lo marah karena pertandingan terakhir.... Pas gue engga mau dengerin perkataan lo dan akhirnya tim sekolah kita kalah”ucap Wooseok pelan.
“Hahaha itu juga sih. Gue mikir, Wooseok jadi kapten jadi sombong trus belagu, engga mau dengerin omongan orang“ucap Jinhyuk tertawa.
“Sorry hyuk... Gue emang anaknya ambis banget ya?“ucap Wooseok menunduk.
“Kenapa jadi lo yang minta maaf? Kan yang salah gue? Gue yang egois?“ucap Jinhyuk mengelus puncak kepala Wooseok.
“Tapi lo udah engga marah kan sama gue? Minggu depan juga gue udah turun jabatan kok”ucap Wooseok menatap Jinhyuk.
“Masih”ucap Jinhyuk datar yang membuat Wooseok kaget.
“Soalnya lo susah dibilangin, kalo jatoh jangan suka dianggap sepele”ucap Jinhyuk lagi sambil sesekali mengganti kompresan di kaki Wooseok.
“Udah agak mendingan nih, engga begitu bengkak lagi. Masih sakit engga?“tanya Jinhyuk lalu Wooseok mencoba menggerakan kakinya yang ternyata masih terasa nyeri.
“Yaudah jangan banyak gerak, habis ini ke klinik dulu deh biar diperiksa sama yang lebih ahli”ucap Jinhyuk lagi dan Wooseok mengangguk.
“Balik yuk. Kayanya pertandingannya udah kelar deh”Jinhyuk mengulurkan tangannya yang disambut oleh Wooseok.
“Engga apa-apa beneran? Mau bunda anterin engga?“ibunda Wooseok memapah Wooseok keluar dari rumah. Setelah kejadian Wooseok cedera, Jinhyuk membawa Wooseok ke klinik terdekat dan Wooseok dianjurkan untuk beristirahat selama dua hari dirumah. Selama dua hari itu juga, Jinhyuk sering datang ke rumah Wooseok, alasannya beragam, dari mengantar sejin hingga agar Wooseok tidak bosan dirumah.
“Dek, ada temanmu di depan”Wooseok menoleh ketika ayahnya muncul dari pintu depan rumahnya.
“Hah? Siapa yah?“tanya Wooseok bingung.
“Yang suka antar jemput kamu dulu kalo futsal, udah lama sih ayah engga liat dia. Yang anaknya tinggi banget itu”ucap Ayah Wooseok lagi.
“Pagi tante... Biar saya yang nuntun Wooseok aja tante...“sapaan di ucapkan seseorang yang berdiri di depan pagar rumah Wooseok.
Wooseok menatap bingung orang yang sedang menutunmya masuk ke dalam mobil.
“Kok?“tanya Wooseok bingung.
“Kan dokter bilang, kamu belum boleh banyak gerak. Jadi dibanding kamu naik ojek, mending bareng aku kayak dulu lagi”ucap seseorang yang sudah duduk disebelah Wooseok.
“Aku bakalan jadi supir kamu selama kaki kamu sakit!“ucapnya lagi.
“Selama kaki aku sakit doang?“tanya Wooseok sedih.
“Hah?”
“Iya, anter jemput selama kaki aku sakit doang? Kalo aku udah sembuh, aku balik naik ojek lagi gitu? Kamu engga mau jemput aku lagi?“tanya Wooseok yang berhasil membuat wajah orang disebelahnya memerah.
“As per-request, Capt!”ucap orang tersebut tersenyum.
“Dua hari lagi aku turun jabatan! Engga usah pake Capt lagi”Wooseok memukul pelan lengan orang disebelahnya tersebut. Wooseok dan sang supir pribadinya itu pun tertawa bersama.
fin.
Hallo! @meshiin_ aku izin mengembangkan prompt kamu ya. Maaf kalo tidak sesuai ekspektasi.
Untuk kalian yang baca, thank you sudah mau membuka link ini! Mohon maaf jika tidak bisa memenuhi ekspektasi, ada beberapa typo serta ada beberapa kesalahan dalam cerita diatas. Aku tunggu komen, kritik dan sarannya di cc aku (aku taroh link setelah tweet ini)!
Thank you and love you!
Semoga kalian selalu sehat dan bahagia selalu.
-Kapila.