semestakapila

Jinhyuk Story


“Yo, makan es krim yuk! Panas banget ih Jakarta”ucap Byungchan setelah selesai menghabisi satu mangkuk Mie Ayam.

“Anjir sombong banget! Makanya itu coat dibuka, udah tau Jakarta panas”ucap Yohan sinis.

“Yaudah ayok ke tempat es krim biasa aja?“ajak Yohan dan Byungchan mengangguk setuju.

Yohan dan Byungchan menatap tiga lelaki di hadapan mereka. Tanpa di beri kode, Seungwoo mengangguk sambil menatap Byungchan.

“Disebelah tempat es krimnya ada cafe kok, kalian kalo mau ngopi aja disitu”ucap Yohan ketika masuk ke dalam mobil, menuju tempat es krim dimana Yohan dan Byungchan biasa pergi.

“Kalo udah selesai, samperin kita aja”ucap Byungchan mengusak lembut puncak kepala Byungchan.

“Siap ka!!“ucap Byungchan. Kelima lelaki dewasa tersbeut pun pergi ke dua arah berbeda dengan tujuan berbeda.


“Ceritain sekarang, lo kenapa sama Wooseok?“tanya Seungwoo ketika sudah mendudukan dirinya di salah satu kursi di cafe tersebut.

“Ha? Emang gue kenapa sama Wooseok?“tanya Jinhyuk bingung.

“Beneran deh bang gue bilangin, jangan sok ganteng”ucap Yuvin dengan tidak sopannya.

“Beneran loh, gue engga ngerti maksud kalian”ucap Jinhyuk bingung.

“Dua hari lalu, lo kerumah Wooseok kan bang? Trus ngapain?“tanya Yuvin memberikan petunjuk.

“Oh... Itu main doang sih, emang mau ngapain lagi? Lo juga biasa kan main ke rumah Yohan?“tanya Jinhyuk dan Yuvin menggeleng.

“Gue kan main ke rumah pacar bukan ke rumah temen, gue juga ciuman sama pacar bukan sama temen”ucap Yuvin enteng.

“Anjir? Sebenernya gue belum tau cerita lengkapnya, tapi tadi Byungchan cerita katanya Wooseok lagi engga baik-baik aja dan yang gue tau tuh seminggu belakangan ini kan lo selalu sama Wooseok tuh. Jadi pasti ada hubungannya sama lo kan?“tanya Seungwoo serius.

“Kok gue jadi kayak di interview gini ya?“tanya Jinhyuk malas.

“Soalnya lo kalo udah msalah hati agak bego, bang”ucap Yuvin sinis.

“Kok lo makin lama, makin engga enak sih Vin omongannya?“Jinhyuk berujar dengan menahan emosinya.

“Yaudah vin, lo ceritain aja deh, itu Wooseok gimana”ucap Seungwoo mencairkan suasana.

Flashback

“Seok, aku bawa Jendral. Ada di mobil”ucap Jinhyuk saat Wooseok keluar untuk membawakannya minum.

“Hah?“tanya Wooseok bingung.

“Iya kamu diemin aku karena Jendral bakalan balik ke aku kan?“tanya Jinhyuk polos dan Wooseok hanya diam.

“Haha Hyuk, kamu ngerasa kita akhir-akhir ini jadi deket engga?“tanya Wooseok setelah suasana hening selama tiga menit.

“Iya deket, soalnya temen-temen kita kan lagi pada pergi tuh. Trus engga mungkin kemana-mana aku sama Yuvin, engga satu frekuensi. Mending sama kamu”ucap Jinhyuk tenang. Wooseok masih diam dan hanya menatap Jinhyuk yang tidak sadar jika seluruh fokus Wooseok hanya terpusat padanya.

“Seok, kenapa?“tanya Jinhyuk bingunh dan Woosoek hanya menggeleng.

“Mau balik jam berapa? Aku udah ngantuk”ucap Wooseok pelan.

”....oh yaudah aku balik ya? hehe itu Jendral gimana?“tanya Jinhyuk menatap Wooseok dan Wooseok tersenyum, “Bawa aja, engga apa-apa kok”ucap Wooseok.

Flashback End

“Sumpah? Jinhyuk, lo kenapa begonya kebangetan?“tanya Seungwoo menggeleng tidak percaya.

“Emang kenapa sih? Gue clueless banget beneran”ucap Jinhyuk pusing.

“Ka Wooseok suka sama lo bang”ucap Yuvin pelan.

“Gue tau nih lo emang gampang deket sama orang. Bahkan lebih gampang dibanding Seungyoun, lo juga baik sama orang. Tapi coba lo bedain perhatian yang lo kasih, biar orang engga salah paham”ucap Seungwoo menjelaskan.

“Gue emang tertarik sama Wooseok, tapi... gue... wah gila gue pusing”ucap Jinhyuk menghela nafas pasrah.

“Yaudah, coba nanti lo chat dia. Udah berapa lama lo engga chattingan?“tanya Seungwoo.

“Dua hari ini sih. Tapi gue kira Wooseok lagi sibuk aja”ucap Jinhyuk pasrah dan Seungwoo kembali menggeleng tidak percaya.

fin.

Stupid.


Jinhyuk berdiri di depan rumah Wooseok. Setelah chat terakhirnya dibaikan dan berakhir tidak di baca oleh Wooseok, akhirnya Jinhyuk memutuskan kembali mendatangi rumah Wooseok. Jinhyuk harus menunggu lama di depan rumah Wooseok hinga ibunda Wooseok menyadari kedatangan Jinhyuk dan mempersilahkan Jinhyuk masuk.

“Naik aja keatas ya, Wooseok mungkin lagi baca novel makanya chat kamu engga dibales”ucap ibunda Wooseok ramah.

Jinhyuk berjalan menaikin anak tangga yang akan mengantarkannya ke kamar Wooseok. Ini adalah pertama kalnya Jinhyuk masuk ke dalam kamar Wooseok. Koreksi, hampir masuk. Jinhyuk berhenti di depan sebuah kamar dengan dekorasi kucing di depannya yang tertulis “Selain kucing, dilarang masuk”. Jinhyuk tersenyum membaca tulisan tersebut.

Pintu kamar Wooseok terbuka sedikit dan Jinhyuk dapat dengan jelas melihat Wooseok diatas tempat tidurnya, tiduran membelakangi Jinhyuk. Akhirnya Jinhyuk mengetuk pelan pintu kamar Wooseok. Dua kali hingga tiga kali ketukan, Wooseok tidak bergeming.

“Masuk aja nak, mungkin Wooseok kupingnya disumpel headset“ucap ibunda Wooseok dari lantai satu.

“Iya bun! Bentar lagi turuuuun”Jinhyuk tersentak.

“Ah pasti Wooseok mengira ibundanya baru saja memanggilnya” ucap Jinhyuk dalam hati

Jinhyuk baru saja membuka pintu kamar Wooseok ketika bertepatan dengan Wooseok yang berbalik dan bertatapan dengan JInhyuk. Jinhyuk tersenyum, Wooseok terdiam, kaget.

“Jinhyuk?“ucap Wooseok kaget.

Wooseok meletakan headset yang menggantung ditelinganya dan meletakannya tepat diatas novel yang sedang ia baca. Dengan langkah cepat, Wooseok menghampiri Jinhyuk yang masih berdiri di depan kamar Wooseok.

“Ngobrol di taman belakang aja yuk? kamar aku berantakan”ucap Wooseok kikuk dan menarik Jinhyuk turun dan berjalan ke taman belakang.

“Dek. temennya bikinin minum. Sama itu ada brownies ya di kulkas”ucap ibunda Wooseok ketika melihat Wooseok menarik Jinhyuk ke taman belakang.

“Iya bun, bentar!“ucap Wooseok cepat.

(xposhie).

El Enemigo

Musuh { noun } Lawan { noun } Seteru { noun }

[!!!] School life. Hurt&Comfort. Harsh Word.


Pekan Olahraga dan Seni Sekolah Tahun Ajaran 2020/2021 sebuah spanduk besar sudah terpasang tepat di depan gerbang sekolah Wooseok. Dimulai dari hari ini hingga sepuluh hari ke depan, sekolah (yang tidak dicintai) Wooseok akan mengadakan pekan olahraga serta seni, dimana dalam waktu tersebut, kegiatan belajar mengajar akan ditiadakan dan digantikan oleh perlombaan di bidang olahraga maupun seni.

“Udah siap, Capt?“Wooseok menoleh, tepat ketika dirinya baru saja meletakan sepatu olahraganya di kolong meja. Wooseok mendecih, sedangkan temannya yang baru saja bertanya tadi, dengan tidak sopannya memukul kepala Wooseok sebagai pembalasan.

“Anjing! Kok noyor sih”ucap Wooseok kesal.

“Lagian, lo gue tanya baik-baik malahan galak banget jawabannya”ucap teman Wooseok tenang.

“Gue bukannya emang terkenal galak ya? Bahkan mantan ketua osis engga berani sama gue pas tahun kemarin gue protes tentang hasil futsal kelas kita”ucap Wooseok lagi.

“Tapi itu emang mereka yang salah sih, udah tau ada pelanggaran malahan dibilang engga. Mentang-mentang yang main kelasnya sendiri”ucap Sejin, teman Wooseok yang sudah duduk di kursi tepat di depan Wooseok.

“Engga ngerti bola, tapi sok-sokan ngerti bola tuh ya kayak mantan ketua osis gitu tuh”ucap Wooseok sinis.

“Tapi tahun ini jangan marahin ketua osis lagi yaaaa?“ucap Sejin memohon yang dibalas tatapan sinis oleh Wooseok.

“Bucin banget temen gue...!“ucap Wooseok malas.

“Seok, hari ini kelas kita kebagian tanding setelah kelas sepuluh ya. Sekitar jam sebelasan gitu”Yohan, penanggung jawab PORSENI kelasnya, datang membawa sebuah rundown acara.

“Yo, sambil menyelam minum air ya?“tanya Sejin menatap Yohan mengintimidasi, sedangkan Yohan bingung dengan pertanyaan Sejin tersebut.

“PORSENI tahun ini, ketuanya Hangyul kan?“tanya Wooseok dan Yohan mengangguk.

“Iya, kerja sekalian pacaran eh apa kebalik? pacaran sekalian kerja?“tanya Sejin lagi, Wooseok yang mendengar celotehan temannya itu hanya menggeleng pasrah.

“Lawan kita siapa, Yo?“tanya Wooseok dan Yohan menjelaskannya.

“Yaudah, terserah lo mau ke lapangan jam berapa. Tapi jam sebelas kurang lima belas menit harus udah stand by di lapangan. Lima belas menit engga keliatan, kelas kita di diskualifikasi, tanpa pengecualian”ucap Yohan tegas dan Wooseok memberikan gesture oke sebagai tanda mengerti dengan semua penjelasan Yohan.


Wooseok sedang merenggangkan otot-ototnya sebelum pertandingan futsal dimulai. Semua orang mulai berbisik bahkan saat Wooseok baru saja memasuki lapangan bersama Sejin, temannya. Wooseok sang Kapten Futsal untuk dua periode berturut-turut, bahkan Wooseok sudah menyandang gelar tersebut saat dirinya masih duduk di bangku kelas sepuluh. Saat itu, Wooseok menerima jabatan dari seniornya yang harus mundur dari jabatannya karena cidera dan menyebabkan seseorang sangat membenci Wooseok mulai hari itu.

“Aw!“Wooseok tersungkur ketika sekumpulan anak kelas sebelah memasuki lapangan.

“Kalo jalan pake mata dong!“ucap Wooseok emosi.

“Ya lo, kalo mau pemanasan jangan di tengah jalan. Pinggiran sana! Cari perhatian banget”Wooseok mendecih mendengar perkataan orang tersebut.

Dia adalah Jinhyuk, orang yang sangat membenci Wooseok bahkan dari awal Wooseok mendapatkan gelar Kapten Futsal sekolah mereka. Bahkan sebenarnya, Wooseok tidak tahu hal apa yang membuat Jinhyuk bisa sangat membencinya seperti itu. Bahkan dahulu, ketika mereka masih satu tim, Wooseok dan Jinhyuk terkenal dengan kerjasama tim yang hebat.

“Udah jangan dilanjut”ucap Sejin menahan Wooseok dan menariknya menjauh.

Yohan memanggil Wooseok untuk memberikan penjelasan singkat mengenai aturan permainan yang bahkan sudah dihafal Wooseok diluar kepala. Wooseok, perwakilan dari kelasnya dan Jinhyuk, perwakilan dari kelas lawan, mengangguk mengerti ketika penjelasan telah selesai diberikan.

Peluit tanda pertandingan telah dimulai sudah dibunyikan. Sorakan riuh satu sekolah meneriakan nama-nama pemain dari kedua kelas. Wooseok dan Jinhyuk, merupakan sepasang pemain futsal kebagaan sekolah mereka dua tahun silam.

“Sejun!“Wooseok berteriak sebelum memberikan operan bolanya kepada Sejun dan berhasil membuat kelas Wooseok memimpin pertandingan dengan hasil awal 1 – 0.

Peluit tanda turun minum sudah di bunyikan, pemain dari kedua tim pun beristirahat sambil membicarakan strategi yang akan mereka gunakan di babak kedua. Lima belas menit kemudian, pertandingan kembali dimulai.

Pemain dari kedua tim melakukan serangan demi serangan, bahkan beberapa kali terjadi pelanggaran hingga wasit harus memberikan kartu kuning untuk beberapa pemain.

“Seok, lo mendingan ganti aja deh. Daritadi mereka nyerang lo mulu”ucap Soonyoung saat time out diberikan.

“Engga apa-apa santai. Udah kebaca kok siapa aja yang ngincer gue”ucap Wooseok tenang sambil sesekali melirik Jinhyuk dari tim lawan.

Wasit kembali memanggil pemain dari kedua tim setelah time out yang diberikan telah habis.

“Bangsat!”

Pertandingan baru saja dimulai tujuh menit lalu, tapi Wooseok sudah tersungkur jatuh ke lapangan ketika seseorang dari tim lawan berhasil menjagal kakinya.

“Ashhh tai”ucap Wooseok meringis ketika melihat ternyata Jinhyuk yang baru saja melakukan tackle guna merebut bola yang sedang digiring oleh Wooseok.

“Gue bilang kan apa! Mending Wooseok diganti aja”ucap Soonyoung panik.

“Santai gue engga apa-apa”ucap Wooseok mencoba berdiri tetapi gagal.

Wooseok menoleh ketika seseorang memapahnya dan ternyata itu adalah Jinhyuk, pemain dari tim lawan.

“Gue. Bisa. Sendiri”ucap Wooseok memberikan tekanan disetiap katanya.

“Lepas!“ucap Wooseok ketika Jinhyuk tetap bersikeras memapahnya dan membantunya berjalan.

“Keras kepala”ucap Jinhyuk pelan, ketika Wooseok hampir terjatuh lagi.

“Ong! Gantiin gue”Jinhyuk melemparkan gelang kapten yang sebelumnya ia gunakan di bagian lengan atasnya.

Semua mata tertuju ke arah Jinhyuk yang sedang memapah Wooseok kearah UKS, bahkan beberapa orang mulai berbisik karena pemandangan di depan mereka adalah pemandangan yang sangat langka dan jarang dapat ditemui.

“Gue engga apa-apa, ini di kompres dikit juga sembuh. Lo balik aja”ucap Wooseok sinis tetapi ia masih sesekali meringis.

“Lo tuh udah terlalu sering jatoh begini trus cuma dikompres aja, lama-lama bakalan bisa makin parah”ucap Jinhyuk tanpa sedikit pun menoleh ke arah Wooseok.

“Emang sih keliatannya bengkaknya ilang kalo lo kompres, tapi lo gatau kan dalemnya gimana?“ucap Jinhyuk serius dan Wooseok hanya diam menatap Jinhyuk.

“Pelan-pelan...“ucap Wooseok mencicit ketika Jinhyuk mengoleskan sebuah obat ke pergelangan kaki Wooseok.

Kaki Wooseok terkilir. Bahkan lututnya sedikit terluka karena berbenturan dengan lapangan saat dia terjatuh tadi. Jinhyuk dengan telaten mengobati luka Wooseok.

“Mau kemana lo?“tanya Jinhyuk sinis ketika melihat Wooseok yang berusaha turun dari kasur yang berada di ruang Unit Kesehatan Sekolah tersebut.

“Balik lah ke lapangan, lo kira gue mau nyangkul?“ucap Wooseok tidak kalah sinis.

“Bisa engga, sekali aja engga usah keras kepala? Capek gue bilangin lo”ucap Jinhyuk pasrah.

“Gue engga nyuruh lo buat bantuin gue, kalo lo emang capek yaudah pergi aja, gue bisa sendiri. Anjing!“Jinhyuk dengan sigap menahan badan Wooseok yang hampir terjatuh dari kasur karena kaki Wooseok yang belum bisa sepenuhnya digunakan untuk menahan berat badannya.

“Udah gue bilangin kan, diem!“ucap Jinhyuk lalu mengangkat badan Wooseok untuk kembali duduk di atas kasur dan Wooseok hanya dapat mendecih sebal.

Wooseok pun kali ini menurut dan duduk diam di atas kasur. Jinhyuk berdiri dihadapan Wooseok, mengganti kompres untuk mengompres kaki Wooseok.

“Ini UKS macem apaan dah, perban masa engga ada”ucap Jinhyuk emosi, sedangkan Wooseok menatap Jinhyuk takut.

“Lo jangan banyak gerak dulu deh ya. Jangan terlalu banyak ngelakuin aktivitas pake kaki kanan”ucap Jinhyuk menjelaskan.

“Trus... Gue harus ngesot gitu buat balik ke kelas?“ucap Wooseok malas.

“Yaudah ayok gue anterin, kalo lo mau balik ke kelas”ucap Jinhyuk tetapi Wooseok memilih diam di tempat.

“Kok diem?“tanya Jinhyuk bingung.

“Hm... Gue tunggu Sejin aja deh, atau Yohan”ucap Wooseok menunduk.

“Oh yaudah, nanti kelar pertandingan paling mereka kesini”ucap Jinhyuk yang kemudian memposisikan dirinya di kursi di depan kasur yang ditempatI Wooseok.

“Lo ngapain masih disini?“tanya Wooseok bingung.

“Nungguin lo. Setidaknya biar lo engga nekat jalan sendirian”ucap Jinhyuk tenang. Suasana di ruang UKS tiba-tiba sunyi, hanya ada suara dari video yang sedang Jinhyuk saksikan di ponsel pintarnya.

“Hyuk....”

“Hyuk....”

“Jinhyuk!!!”

Jinhyuk menoleh ketika Wooseok memanggilnya, lebih tepatnya setelah panggilan ketiga Wooseok.

“Thank you”ucap Wooseok pelan dan tanpa Wooseok sadari, Jinhyuk tersenyum melihat Wooseok berbicara mencicit seperti itu.

“Gue juga mau minta maaf, buat hari ini sama buat dua tahun lalu”ucap Jinhyuk tersenyum yang membuat Wooseok akhirnya berani menatap Jinhyuk.

“Khusus buat hari ini, itu murni kalo gue engga sengaja”ucap Jinhyuk lagi.

“Kalo buat dua tahun lalu, sorry gue pergi dari tim tanpa ada alasan yang jelas”Jinhyuk tersenyum menatap Wooseok.

“Bahkan sikap gue ke lo juga berubah, gue aja bingung kenapa gue begitu”Jinhyuk tertawa, mentertawakan kebodohannya selama dua tahun ini.

Flashback

“Sorry, gue harus mundur dari tim futsal. Gue sama beberapa senior futsal juga udah ngomongin hal ini sebelumnya. Jadi karena gue mundur dari futsal, untuk posisi kapten saat ini kosong...”

Semua pemain futsal sekolah Wooseok sore itu berkumpul di tengah lapangan dan mendengar penjelasan dari kapten tim sekolah mereka yang akan melepas jabatannya sore itu.

”...tapi gue udah punya dua nama buat ngisi posisi gue. Gue engga asal milih orang, gue bahkan udah ngomongin ke semua senior dan pemain, intinya mereka semua setuju sama keputusan gue”ucap senior Woosoek melanjutkan.

“Dua orang itu, Wooseok sama Jinhyuk. Gue tau, mereka punya chemistry di lapangan, bahkan kalo mereka berdua doang yang main kayanya tim sekolah kita juga udah pasti menang”Jinhyuk dan Wooseok beradu tatap dan saling tertawa.

“Tapi engga mungkin kan dua-duanya gue jadiin kapten? Dua pemimpin dalam satu rumah, bakalan bikin tim chaos jadi, sorry ya Hyuk... gue milih Wooseok sebagai pengganti gue”ucap senior tersebut yang membuat raut wajah Jinhyuk berubah.

“Jujur, ini berat banget. Ibarat milih seseorang yang terbaik dari yang terbaik, tapi semuanya harus gue lakuin kan? Buat tim kita”Kapten tim futsal sekolah Wooseok, menepuk pelan pundak Jinhyuk.

Sore itu, semua berjalan seperti biasa. Bahkan Jinhyuk juga tidak menunjukan tanda kecewa sama sekali. Tetapi ternyata dua minggu setelah pertemuan tersebut, Jinhyuk memutuskan untuk keluar dari tim futsal. Setelah mengikuti beberapa pertandingan dan beberapa kali juga terjadi adu argumen antara Jinhyuk dan Wooseok, akhirnya Jinhyuk memutuskan keluar dari tim futsal sekolahnya.

Flashback End

“Jadi lo beneran marah sama gue, cuma karena hal itu?“ucap Wooseok tidak percaya dan Jinhyuk mengangguk.

“Gue kira, lo marah karena pertandingan terakhir.... Pas gue engga mau dengerin perkataan lo dan akhirnya tim sekolah kita kalah”ucap Wooseok pelan.

“Hahaha itu juga sih. Gue mikir, Wooseok jadi kapten jadi sombong trus belagu, engga mau dengerin omongan orang“ucap Jinhyuk tertawa.

“Sorry hyuk... Gue emang anaknya ambis banget ya?“ucap Wooseok menunduk.

“Kenapa jadi lo yang minta maaf? Kan yang salah gue? Gue yang egois?“ucap Jinhyuk mengelus puncak kepala Wooseok.

“Tapi lo udah engga marah kan sama gue? Minggu depan juga gue udah turun jabatan kok”ucap Wooseok menatap Jinhyuk.

“Masih”ucap Jinhyuk datar yang membuat Wooseok kaget.

“Soalnya lo susah dibilangin, kalo jatoh jangan suka dianggap sepele”ucap Jinhyuk lagi sambil sesekali mengganti kompresan di kaki Wooseok.

“Udah agak mendingan nih, engga begitu bengkak lagi. Masih sakit engga?“tanya Jinhyuk lalu Wooseok mencoba menggerakan kakinya yang ternyata masih terasa nyeri.

“Yaudah jangan banyak gerak, habis ini ke klinik dulu deh biar diperiksa sama yang lebih ahli”ucap Jinhyuk lagi dan Wooseok mengangguk.

“Balik yuk. Kayanya pertandingannya udah kelar deh”Jinhyuk mengulurkan tangannya yang disambut oleh Wooseok.


“Engga apa-apa beneran? Mau bunda anterin engga?“ibunda Wooseok memapah Wooseok keluar dari rumah. Setelah kejadian Wooseok cedera, Jinhyuk membawa Wooseok ke klinik terdekat dan Wooseok dianjurkan untuk beristirahat selama dua hari dirumah. Selama dua hari itu juga, Jinhyuk sering datang ke rumah Wooseok, alasannya beragam, dari mengantar sejin hingga agar Wooseok tidak bosan dirumah.

“Dek, ada temanmu di depan”Wooseok menoleh ketika ayahnya muncul dari pintu depan rumahnya.

“Hah? Siapa yah?“tanya Wooseok bingung.

“Yang suka antar jemput kamu dulu kalo futsal, udah lama sih ayah engga liat dia. Yang anaknya tinggi banget itu”ucap Ayah Wooseok lagi.

“Pagi tante... Biar saya yang nuntun Wooseok aja tante...“sapaan di ucapkan seseorang yang berdiri di depan pagar rumah Wooseok.

Wooseok menatap bingung orang yang sedang menutunmya masuk ke dalam mobil.

“Kok?“tanya Wooseok bingung.

“Kan dokter bilang, kamu belum boleh banyak gerak. Jadi dibanding kamu naik ojek, mending bareng aku kayak dulu lagi”ucap seseorang yang sudah duduk disebelah Wooseok.

“Aku bakalan jadi supir kamu selama kaki kamu sakit!“ucapnya lagi.

“Selama kaki aku sakit doang?“tanya Wooseok sedih.

“Hah?”

“Iya, anter jemput selama kaki aku sakit doang? Kalo aku udah sembuh, aku balik naik ojek lagi gitu? Kamu engga mau jemput aku lagi?“tanya Wooseok yang berhasil membuat wajah orang disebelahnya memerah.

“As per-request, Capt!”ucap orang tersebut tersenyum.

“Dua hari lagi aku turun jabatan! Engga usah pake Capt lagi”Wooseok memukul pelan lengan orang disebelahnya tersebut. Wooseok dan sang supir pribadinya itu pun tertawa bersama.

fin.


Hallo! @meshiin_ aku izin mengembangkan prompt kamu ya. Maaf kalo tidak sesuai ekspektasi.

Untuk kalian yang baca, thank you sudah mau membuka link ini! Mohon maaf jika tidak bisa memenuhi ekspektasi, ada beberapa typo serta ada beberapa kesalahan dalam cerita diatas. Aku tunggu komen, kritik dan sarannya di cc aku (aku taroh link setelah tweet ini)!

Thank you and love you! Semoga kalian selalu sehat dan bahagia selalu.

-Kapila.

The Night.


Byungchan dan Seungwoo berjalan sepanjang hari di Seoul. Menikmati hari terakhir mereka, sebelum esok mereka harus kembali lagi dengan kehidupan nyata. Sepanjang perjalanan itu juga, Byungchan sama sekali tidak melepas genggaman Seungwoo. Jika memang genggamannya lepas, Byungchan akan segera menarik lengan Seungwoo seperti enggan kehilangan.

“Kamu clingy ya ternyata, Chan?“ucap Seungwoo pelan yang membuat Byungchan melepas genggamannya di lengan Seungwoo.

“Kok dilepas? biarin aja, enak begini”ucap Seungwoo menarik tangan Byungchan dan meletakannya kembali di lengannya.

“Lagian ka seungwoo bilang aku clingy, aku takut ka Seungwoo risih”ucap Byungchan pelan dan Seungwoo tertawa.

“Enak ih ngerjain kamu! Ngambeknya lucu”ucap Seungwoo mencubit ujung hidung Byungchan yang memerah karena cuaca yang semakin dingin.

“Chan....”

“Hm?”

“Kamu inget engga?”

“Apaan?”

“Tadi....”

“Tadi apaan sih ka?”

Byungchan mulai emosi karena ucapan Seungwoo yang tidak ia mengerti. Seungwoo mengeluarkan ponselnya dan menunjukan home twitternya. Byungchan spontan menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya, lagi.

“Kok berhenti? Ayok jalan, udah malem! Kita harus packing”ucap Seungwoo menarik Byungchan.

“Emang Ka Seungwoo mau apa? Jangan yang mahal yaaa ka, aku engga punya uang banyak”ucap Byungchan gemas dan Seungwoo tertawa.

“Yaudah yuk, balik hotel. Nanti aku bilang pas kita udah balik ke hotel”ucap Seungwoo dan Byungchan mengangguk.

“Chan...“Seungwoo mengusap punggung tangan Byungchan dengan ibu jarinya. Seungwoo dan Byungchan sudah berada di depan lift yang akan mengantar mereka ke kamar hotel mereka.

“Kenapa kaaa, hobby banget manggilin aku”ucap Byungchan malas.

“Aku minta hadiah aku boleh?“ucap Seungwoo sambil menekan lantai dimana kamar mereka berada.

“Apaan?“tanya Byungchan polos, menatap Seungwoo.

Seungwoo menatap Byungchan dan tersenyum. Tangan kiri Seungwoo semakin erat menggenggam tangan kanan Byungchan sedangkan tangan kiri Seungwoo mulai mengusap pipi kiri Byungchan.

Byungchan beberkali mengerjapkan matanya, karena jarak wajahnya dan Seungwoo yang semakin mendekat. Byungchan bahkan sudah bisa merasakan nafas hangat Seungwoo serta bisa melihat mata Seungwoo yang sudah tertutup. Byungchan pun mengikuti Seungwoo dan menutup kedua matanya.

Byungchan sempat memundurkan langkahnya, ketika ia bisa merasakan bibir Seungwoo menyapu bibirnya. Seungwoo menahan pergerakan Byungchan dengan mengelus pipi Byungchan. Byungchan pun akhirnya bisa menikmati lumatan bibir Seungwoo.

Ting!

Seungwoo melepas tautan bibirnya dan Byungchan, Seungwoo tersenyum melihat betapa kacaunya wajah Byungchan karena ulahnya. Seungwoo pun mengusap bibir merah Byungchan yang sedikit membengkak dan menarik Byungchan keluar dari lift tersebut.

“Chan...“Byungchan menoleh dan mendapati Seungwoo yang baru saja menutup pintu kamar hotel mereka.

“Aku sayang kamu...“ucap Seungwoo sebelum kembali memberika lumatan di bibir Byungchan dan mengunci pergerakan Byungchan. Seungwoo melepas coat yang digunakan dirinya maupun Byungchan. Seungwoo lalu mengangkat tubuh Byungchan yang terbilang ringan dan membawanya menuju tempat tidur yang berada ditengah kamar.

xposhie

Holi-Day!


Seminggu sudah waktu yang di habiskan Seungyoun serta Sejin di Manchester. Liburan ini memang sudah dijadwalkan Seungyoun beserta temannya Seungwoo, tetapi Seungwoo akhirnya memilih pergi bersama Byungchan yang memang mempunyai cita-cita untuk pergi ke Korea Selatan.

“Jin, malem ini kita packing ya!“Sejin menoleh kaget kearah Seungyoun, sedangkan Seungyoun hanya tersenyum nakal.

“Bukannya kita disini sampe lima belas hari ya?“tanya Sejin bingung.

“Sebenernya cuma lima hari sih disini, bang sunho sama pacarnya udah balik lagi kok. Ini aku aja extend sampe seminggu”ucao Seungyoun jahil.

“Trus ngapain aku bawa baju buat lima belas hari? Kamu tuh beneran kurang kerjaan!“ucap Sejin kesal.

“Hahaha aku tuh rencana mau extend lagi, tapi gajadi deh. Kasian kamu kalo di extend lagi”ucap Seungyoun yang membuat Sejin bingung.

“Ya nanti kita ujung-ujungnya cuma diem dikamar kayak dua hari kemarin”ucap Seungyoun sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa.

“Emang kurang kerjaan ya kamu Youn! Bisa-bisanya aku mau pacaran sama kamu ih!!!!“ucap Sejin semakin emosi.

“Nyesel nih pacaran sama aku? Baru hitungan hari loh. Masih ada garansi seminggu”ucap Seungyoun serius yang membuat Sejin sedikit takut.

“Hm... Engga... Engga nyesel sama sekali”ucap Sejin pelan sambil menunduk.

Seungyoun yang gemas dengan pacar mungilnya itu, menggendong Sejin dan memberikan kecupan di seluruh wajah Sejin. Tenang, mereka sudah berada di kamar hotel jadi mereka bebas melakukan apapun.

xposhie

Gitar.


Yuvin meletakan gitar tuanya di sebelah kursi yang sekarang telah ia duduki. Sesekali Yuvin meniupkan jari-jarinya yang luka akibat senar gitar yang terputus.

“Permisi”

Yuvin menoleh dan mendapati seseorang yang datang menghampirinya. Yuvin memandang orang tersebut dengan tatapan bingung.

“Aku melihatmu. Permainan gitarmu dan juga suaramu, itu semua bagus”

“Terimakasih. Silahkan duduk”

Yuvin mempersilahkan pria yang lebih kecil di hadapannya untuk duduk. Tetapi tawaran Yuvin ditolak, pria tersebut memilih tetap berdiri.

“Kalo begitu, kita berdiri saja berdua”ucap Yuvin kikuk.

Pria tersebut mengedarkan pandangannya dan mendapati guitar case tua milik Yuvin.

“Kamu duduk disini. Aku akan duduk di case gitarmu. Boleh kan?”

Yuvin melirik ke arah guitar case miliknya, mengambilnya lalu meletakannya di dekat pria kecil tadi.

“Aku boleh liat tanganmu?”

Yuvin terkejut dengan pertanyaan pria berparas manis itu. Pria tersebut pun menarik pelan tangan Yuvin karena tidak ada pergerakan sedikitpun dari Yuvin.

“Jika terluka karena senar, jangan hanya ditutup dengan plester. Kamu harus membersihkan lukanya dahulu, baru tutup dengan plester luka. Selain itu gantilah plester luka tersebut setiap hari agar tidak terjadi infeksi”

Yuvin terpaku. Pria kecil di hadapannya berbicara dengan tenang sembari mengobati jari-jari Yuvin yang terluka akibat senar dari gitar tua miliknya.

Pria tersebut pun menatap Yuvin ketika pekerjaannya sudah selesai. Ia tersenyum lalu berdiri dan mengulurkan tangan kanannya.

“Maaf aku lancang. Aku Yohan, aku bekerja di rumah sakit sebrang Kafe ini”

Yuvin pun menerima uluran tangan Yohan dan memperkenalkan dirinya. Yuvin juga berterimakasih karena Yohan sudah membersihkan dan mengobati lukanya.

“Aku sebenarnya sudah lama melihatmu. Aku sering kesini dan sering melihatmu bernyanyi disini”ucap Yohan tersenyum.

Perkenalan Yuvin dan Yohan malam itu harus berakhir ketika ponsel pintar milik Yohan berbunyi. Yohan pun bergegas meninggalkan Kafe tersebut setelah berpamitan dengan Yuvin.


“Yuvin!”

Yuvin menoleh dan mendapati Yohan dengan seragamnya berjalan mendekati Yuvin.

“Penampilanmu bagus seperti biasa”puji Yohan.

“Terimakasih”ucap Yuvin tersenyum kikuk.

“Mau makan siang bersamaku?“tanya Yohan dan Yuvin sempat mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Tenang saja, tidak semua makan rumah sakit itu tidak enak. Makanan du kantin rumah sakit ini enak. Bahkan tidak kalah dengan makanan restoran mewah”ucap Yohan antusias dan Yuvin mengangguk setuju.

Yohan pun menggandeng lengan Yuvin yang bebas lalu berjalan menuju kantin rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, beberapa perawat bahkan pasien, menyapa Yohan dengan hangat.

“Selamat makan siang, dok! Semoga harimu menyenangkan”ucap salah satu perawat yang dibalas senyuman oleh Yohan.


“Tekanan darahnya sudah normal, dok. Tapi pasien masih sering mengeluh sesak nafas sehingga saya masih memasangkan oksigen untuk membantu pernafasan pasien”

Yohan mendengarkan penjelasan perawat tersebut sambil menarik tirai di hadapannya.

“Yuvin?”

“Ah Yohan... Maaf, maksud saya dokter Yohan”Yuvin tersenyum.

“Tidak apa-apa. Panggil aku Yohan saja”ucap Yohan tenang.

“Jadi....?“Yohan melirik seorang lelaki paruh baya yang terbaring di ranjang rumah sakit.

“Oh iya. Ini kakek saya dok, sudah seminggu mengeluh sesak nafas. Saya sudah memberikan obat yang saya beli di apotik. Tetapi semalam kakek saya pingsan, lalu saya bawa kakek saya kesini”

Yohan mengangguk mendengarkan penjelasan Yuvin. Yohan pun memulai pemeriksaannya.

“Pantas aku tidak melihatmu di kafe seminggu ini”Selesai pemeriksaan, Yohan mengajak Yuvin untuk duduk di taman rumah sakit.

“Saya tidak bisa sembarangan meninggalkan kakek, dok. Jadi saya meminta izin untuk tidak datang ke kafe”ucap Yuvin kikuk.

Yohan melirik Yuvin sinis, “Panggil aku Yohan, tanpa embel apapun. Lagipula aku sedang tidak bertugas”ucap Yohan lagi dan Yuvin tertawa.

Siang itu, Yuvin menceritakan semuanya kepada Yohan. Tentang dirinya yang tidak hanya berdua dengan kakeknya. Tentang gitar tua peninggalan ayahnya. Tentang pekerjaan yang ia dapatkan. Semua diceritakan Yuvin tanpa ada kekurangan sedikitpun.

“Kamu orang baik. Aku berharap, kamu bisa selalu menjaga kakekmu. Tetaplah menjadi Yuvin yang rendah hati”ucap Yohan tersenyum.


”...Selamat atas pekerjaan barumu! Izinkan gitar lamamu untuk beristirahat dan mulailah cerita baru dengan gitar barumu...”

-K.Y.H

Yuvin tersenyum tatkala membuka hadiah yang ia terima siang itu. Sebuah gitar mahal yang tentunya tidak dapat dibeli Yuvin bahkan jika ia bekerja lembur di cafe.

Tanpa membuang waktu, Yuvin mengambil jaket yang ia gantunh dibalik pintu kamarnya. Ia bergegas pergi ke rumah sakit dimana Yohan bekerja.

“Mau kemana?“tanya Kakek Yuvin pelan.

“Menyatakan cinta! Doakan aku”ucap Yuvin sambil berlalu dan menghilang di balik pintu.

Yuvin menunggu Yohan di lobby rumah sakit. Entah mengapa, Yuvin merasakan hatinya bergemuruh hebat siang itu. Senyum juga selalu keluar dari bibirnya.

“Yuvin?”

Yuvin menoleh dan mendapati Yohan berdiri dibelakangnya. Siang itu, rasanya Yuvin ingin segera memeluk Yohan untuk mengucapkan terimakasih.

“Terimakasih hadiahnya. Aku suka”ucap Yuvin kikuk.

“Kamu sudah menerimanya? Syukurlah jika kamu suka hadianya. Karena jujur, aku tidak tau sama sekali mengenai gitar dan semacamnya”

“Tapi seleramu bagus. Gitar itu bagus”ucap Yuvin memuji Gitar pemberian Yohan.

“Kamu harus berterimakasih kepada seseorang yang memilih gitar tersebut. Atau mungkin kalian bisa kolaborasi saat acara ulang tahun rumah sakit bulan depan?“ucap Yohan memberikan saran.

“Ayok aku antar ke orang itu!“Yohan menarik pelan lengan Yuvin dan membawanha masuk ke rumah sakit.

Yohan dan Yuvin berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan nama seorang dokter. Lagi, hati Yuvin bergemuruh. Tapi rasanya berbeda dari gemuruh yang tadi ia rasakan.

“Sayan, tumben?”

“Jangan memanggilku sayang jika kita masih di rumah sakit wahai dokter evan cho yang terhormat”

Yohan masih menarik Yuvin memasuki ruangan tersebut.

“Ini yuvin, yang aku ceritakan waktu itu! Dia suka gitar pilihamu”Yohan mendekati lelaki yang duduk di meja kerjanya.

“Siang dok. Saya yuvin dan terimakasih atas gitarnya”ucap Yuvin tersenyum kikuk.

“Ah iya sama-sama. Sebenarnya saya sempat bingung, kenapa kelinci kecil saya tiba-tiba menanyakan perihal gitar”ucap dokter itu yang menarik Yohan agar mendekat dan duduk dipangkuannya.

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu!“Yohan mengerucutkan bibirnya, gemas.

“Bagaimana? Apakah yohan sudah membicarakan perihal acara ulang tahun rumah sakit?“tanya dokter Evan.

“Iya saya sudah mengetahui acara tersebut sedikit. Tapi sepertinya saya harus lihat jadwal saya terlebih dahulu”

“Loh kok? Tadi kamu bilang kamu bisa! Pasien disini pada suka loh sama penampilan terakhir kamu”

Yohan mencodongkan badannya ketika berbicara dengan Yuvin, tapi dirinya masih nyaman duduk dipangkuan seseorang yang sedang melingkarkan lengannya dipinggang Yohan.

“Ah iya... Itu...“Lidah Yuvin kelu. Yuvin tidak dapat menemukan alasan yang logis untuk menolaknya.

“Jangan memaksa. Jika Yuvin tidak bisa, tidak apa-apa”

Yuvin dapat dengan jelas melihat raut kecewa diwajah Yohan. Tapi Yuvin juga tidak dapat menyembunyikan rasa sakit di hatinya.

Yuvin tidak mungkin tetap datang ke acara tersebut setelah dirinya tahu bahwa Yohan sudah memiliki kekasih. Bahkan Yuvin tidak sanggup bersaing dengan kekasih Yohan tersebut.

“Hm...maaf, saya boleh permisi?“tanya Yuvin dan Dokter Evan mengangguk.

Yuvin semoat beradu tatap dengan Yohan sebelum akhirnya Yuvin berbalik dan keluat dari ruangan dokter evan tersebut.

“Dia suka hadiahnya. Berarti nanti malam, aku dapat hadiahku?“Ucapan dokter evan ini adalah ucapan terakhir yang di dengar Yuvin sebelum dirinya menutup pintu ruangan dokter tersebut.

©xposhie.

Puzzle.


Byungchan mengentukan kakinya ke aspla, menunggu Seungwoo kembali dari toilet. Sesekali Byungchan melirik ke satu tusuk odeng dan tteokbokki yang tergelatak tak berdaya di meja dihadapan Byungchan.

“Laper....“ucap Byungcan pelan.

“Permisi...“Byungchan menoleh dan mendapati seseorang di hadapannya. Penduduk lokal. Byungchan tersenyum dan tanpa ia duga, seseorang di hadapannya memberikan sebuah potongan puzzle.

Byungchan belum sempat bertanya, tetapi orang tersebut sudah pergi. Ketika fikiran Byungchan masih melayang pada kejadian yang baru saja di alami, tiba-tiba ada beberapa anak sekolah menghampiri Byungchan dan lagi, memberikan sebuah potongan Puzzle untuk Byungchan.

“Dari siapa?“tanya Byungchan.

“Kami tidak boleh memberitahu”ucap mereka serempak.

“Aku tidak mau menerimanya jika kalian tidak memberitahuku”ucap Byungchan.

“Terimalah. Karena orang itu baik dan tidak menyakiti, tolong ya?“anak sekolah yang berdiri dihadapan Byungchan memohon dan Byungchan pun luluh.

Potongan puzzle demi puzzle datang dari orang yang berbeda, bahkan dari kategori umur serta kewarganegaraan yang beda.

“Permisi! Mohon untuk baca surat ini”Byungchan semakin bingung ketika seseorang memberinya sebuah kerta serta pulpen.

Byungchan membuka lipatan kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah surat yang rapih ditulis seseorang. Byungchan pun tersenyum membaca kalimat pertama.

*Hai, Byungchan! Kalo kamu buka surat ini, kamu boleh kok makan tteokbokki atau odeng di depan kamu hehe

Byungchan, sebenarnya aku engga beneran marah sama kamu. Aku juga engga beneran pergi ke toilet!

Kamu kaget kenapa orang ngasih kamu potongan puzzle? Coba liat baik-baik puzzle tersebut. Ada beberapa kata di setiap potongan puzzle. Ayok rangkai puzzlenya!

Sudah ketemu kalimatnya? Hehe. Kalo kamu bingung kenapa satu puzzle kosong, itu aku sisain khusus buat kamu nulis jawaban atas pertanyaan aku di setiap potongan puzzle.

Please... Jangan lama-lama jawabanya karena aku udah pegel ngumpet biar engga keliatan sama kamu.

Kalo kamu udah nulis jawaban kamu, tolong letakan surat ini serta pulpen di atas meja. Nanti aku bakal keluar dari persembunyiaku!

Aku bakal check jawaban kamu dan kasih kamu hadiah terakhir setelah aku liat jawaban kamu.

Aku tunggu ya Byungchan!

-H.S.W*

Byungchan tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya, bahkan wajahnya sudah mulai memerah. Byungchan mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tidak menemukan Seungwoo dimanapun.

Akhirnya Byungchan menuliskan jawaban atas pertanyaan Seungwoo di potongan puzzle tersebut. Tidak membuang waktu, Seungwoo benar-benar muncul setelah Byungchan meletakan surat serta pulpennya.

“Boleh aku check?“ucap Seungwoo di depan Byungchan.

“Sebentar ka.... Sebelumnya aku mau minta maaf sama ka seungwoo buat semuanya... Aku juga mau makasih buat liburannya! Semoga kita bisa liburan berdua lagi dengan destinasi yang sedikit lebih jauh dan waktu sedikit lebih lama”ucap Byungchan tersenyum.

Seungwoo tersenyum mendengar penyataan Byungchan tersebut. Senyum Seungwoo semakin mereka setelah membaca jawaban dari Byungchan.

#Travelove.

Credit prompt: @clowningweeb Genre: fluff (?) Note: I'm not good at writing fluff. But, i'll try! Enjoy reading loves ^^ [No side pairing]


“Ah sial gue kesiangan!”

Byungchan, lelaki berusia dua puluh dua tahun dengan tinggi seratus delapan puluh enam -mungkin lebih. centimeter itu terlonjak dari kasur tipis yang berada di kamar kosnya yang jauh dari kata rapih. Setelah tersangkut selimut, menginjak sampah bekas makanan ringan hingga tersandung tas ransel jumbonya, akhirnya Byungchan berhasil dengan selamat sampai ke kamar mandi yang letaknya hanya lima langkah dari tempat tidurnya.

“Oke Byungchan! Lo mandi setelah sampe di hotel aja ya? Lo ganteng! Engga usah mandi, orang engga akan tau. Oke siap! Gue Cuma butuh sikat gigi sama cuci muka aja”

Byungchan sangat hobi bermonolog dengan dirinya sendiri. Bahkan dengan waktu yang terbilang singkat ini, Byungchan masih sempat bermonolog di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, hanya menghabiskan waktu tiga menit lebih dua puluh tiga detik, akhirnya Byungchan sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi.

Byungchan keluar dari kamar mandi, lagi, kakinya tanpa sengaja menendang kaki meja yang terletak tidak jauh dari pintu kamar mandi, “Ah gila, apa gue engga bisa lebih sial dari ini?”Byungchan mengaduh sambil berjalan terpincang karena jujur, rasa kelingking yang tidak sengaja menendang kaki meja itu jauh lebih sakit dibanding yang orang gambarkan dan bermunculan di home twitter.

Handphone, Charger, Powerbank, Dompet. Apalagi, ayok Byungchan ingat barang yang harus lo bawa atau lo akan kesusahan selama seminggu ke depan”Byungchan berjalan tidak teratur di kamar kosnya. Mengambil handphone yang jatuh ke bawah tempat tidur, charger yang bahkan kabelnya sudah sedikit terkelupas, powerbank yang bahkan belum sempat diisi daya oleh Byungchan.

Setelah semua dirasa cukup, Byungchan pun mengangkat ransel yang sudah ia persiapkan selama seminggu. “Hello Byungchan, ini lo mau perang atau mau liburan? Gue bawa apaan sih berat banget”Byungchan sedikit kesusahan mengangkat dan membawa ransel yang akan menemani hari-harinya di negara orang.

Backpacker with low budget adalah bentuk liburan yang Byungchan pilih untuk mengisi waktu liburnya. Bermodalkan review beberapa travel blogger dari saluran youtube, Byungchan memilih Inggris sebagai destinasi liburannya.

Apa yang Byungchan tau mengenai negara Inggris? Harry Potter, One Direction serta David Beckham adalah hal-hal yang berhubungan dengan negara Inggris yang Byungchan ketahui. Byungchan bahkan sebenarnya tidak tahu, jika beberapa personel One Direction bukanlah penduduk asli Inggris.

Byungchan hanya memerlukan waktu setidaknya empat puluh limat menit, tidak kurang dan tidak lebih untuk sampai ke bandara. Sebenarnya Byungchan memang tidak boleh tiba di bandara lebih dari empat puluh lima menit, karena jika lebih dari empat puluh lima menit maka Byungchan harus merelakan liburannya batal karena kebodohannya.

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit waktu Seoul, ketika pesawat yang ditumpangi Byungchan sudah lepas landas. Kelas Ekonomi adalah pilihan Byungchan dalam menyukseskan backpacker with low bugdet kali ini. Setidaknya dalam waktu dua belas jam lebih tiga puluh menit, Byungchan harus rela kaki panjangnya terlipat dan berbenturan dengan kursi penumpang di depannya.

Setelah berjibaku menahan pegal karena ruang geraknya yang minim, akhirnya Byungchan sampai di Inggris, tepatnya kota London. Puluhan koper, tas bahkan ransel sudah melewati Byungchan saat Byungchan sedang menunggu ransel besarnya, tapi sampai keadaan kosong dan semakin sedikit tas yang terlihat, Byungchan masih belum menemukan keberadaan ranselnya. Byungchan pun mulai panik, dengan wajah panik Byungchan pergi dari tempat ia berdiri selama kurang lebih tiga puluh menit, mencari keberadaan petugas yang sekiranya dapat membantunya keluar dari masalahnya tersebut. Masalah pertama yang Byungchan hadapi di negara orang.

Berbekal bahasa Inggris seadanya, Byungchan mendekati seorang wanita berpakaian serba hitam yang tersenyum ramah ketika Byungchan jalan mendekat. Byungchan menceritakan masalahnya dibantu dengan beberapa bahasa tubuh yang benar-benar memudahkannya berkomunikasi.

“Maaf atas ketidak-nyamanan-nya, mohon untuk menunggu”Itu adalah sepenggal kalimat yang di mengerti Byungchan dan disini lah Byungchan berada, di sebuah kafe yang berada di bandara guna menunggu ransel miliknya kembali.

“Oh My God! My lovely bag!!!!”Setelah menunggu lebih dari dua jam sambil menahan kantuk, akhirnya Byungchan dapat bertemu kembali dengan ransel miliknya. Bacpack yang akan menemani Byungchan selama di Inggris.

“Sekalian makan malem deh, biar sampe hotel gue bisa tidur”

Byungchan pun berjalan ke arah taksi yang berjajar rapih tepat di depan pintu keluar bandara. Byungchan sudah mempunyai list tempat yang akan ia kunjungi selama di Inggris sehingga ia tidak perlu susah-susah memikirkan ia harus kemana, kendaraan apa yang harus ia gunakan serta waktu tempuh yang ia perlukan. Semua hal tersebut sudah rapih tertulis pada peta ajaib yang berada di genggaman Byungchan.

Tepat pukul sepuluh malam waktu setempat akhirnya Byungchan sampai di hotel tempa ia menginap, “Baru sehari berasa udah seminggu, mamaaaa Byungchan mau pulang”Byungchan pun langsung merebahkan dirinya di kamar hotel sederhana yang sudah ia pesan jauh-jauh hari. Perjalanan yang Byungchan lalukan hari itu cukup melelahkan, berbagai macam drama sudah Byungchan rasakan. Jika drama yang Byungchan alami bisa masuk ke dalam nominasi piala oscar mungkin Byungchan akan mendapatkan piala penghargaan sebagai aktor terbaik.

“Oke Byungchan semangat! Baru hari pertama. Kita mandi besok aja ya”Byungchan menarik selimutnya setelah melempar asal waist bag yang ia gunakan ke sembarang arah.

Read more...

Bulan baru (Part. 2)


I. The Cliff

Semenjak kejadian, dimana Sejin terjatuh dan terseungkur dari sepeda motor, Sunho melarang Sejin untuk kembali mencoba mengendarai sepeda motor tersebut. Sejin kembali kehilangan kegiatannya, kegiatan yang dapat mendistraksi fikirannya dari bayang-bayang Seungyoun. Setelah beberapa waktu, Sejin memutuskan untuk kembali mengunjungi keluarga Park.

“Kau pengecut!”

“Tidak! Aku bukan pengecut!”

Sejin memicingkan matanya, melihat beberapa anak muda berada di pinggir pantai. Jika kalian berfikiran pantai dengan pasir putih, jelas itu salah. Anak muda tersebut berdiri di samping tebing yang langsung berbatasan dengan laut lepas di bawah mereka. Sejin memilih untuk memarkirkan truk tuanya di pinggir jalan, sembarangan.

“Kau pengecut bocah kecil!!”

“Aku buka bocah kecil dan aku tidak pengecut!!”

“Tidak! Berhenti!“Sejin berteriak, tetapi sekuat apapun Sejin berteriak pemuda tersebut tidak akan mendengarkannya.

Sejin berlari, berusaha untuk menghampiri pemuda yang saling dorong di dekat tebing curam tersebut. Sejin kenal salah satu pemuda yang berada di pinggir tebing tersebut dan sungguh, Sejin sangat membenci pria tersebut,

“Kau gila? Ya brengsek!!“Sejin meninju pria dihadapannya ketika ia sudah berada di dekat tebing.

Sejin berteriak ketika melihat pria tersebut membiarkan dua orang yang lebih muda terjun bebas ke laut lepas.

“ORANG GILA!“Ucap Sejin lagi sambil memperhatikan laut yang berada jauh dibawahnya. Sejin dapat bernafas lega ketika ia dapat melihat kedua anak muda tadi muncul ke permukaan, bahkan mereka berdua masih sempat bercanda satu sama lain.

“Jangan terlalu mengurusi urusan orang”pria tersebut berlari dan melompat dari atas jurang sedangkan Sejin hanya dapat tercengang di tempatnya.

II. The Waves

Sejin kembali mendatangi tebing yang curam tersebut. Tebing yang terkikis air laut yang berada tepat dibawahnya. Sejin menarik nafasnya panjang, memikirkan hal yang sebentar lagi akan ia lakukan. Sejin ingin melompat dari tebing tersebut.

“Stop, Sejin jangan lakukan itu!”

Sejin menoleh. Lagi. Sejin dapat mendengar suara Seungyoun.

“Datang! Jika kau ingin aku berhenti, datanglah kemari!!!“Sejin menahan emosinya.

“Stop, please.... Sejin, aku mohon jangan lakukan hal itu”Suara Seungyoun kembali datang dan akan pergi ketika angin di tebing berhembus kencang.

“Persetan!!“Sejin mempersiapkan dirinya untuk melompat, kembali mencoba mencari distraksi.

“Sejin.... No.... Please”

“Stop.... Lee Sejin....”

“Lee Sejin... Jika kau melakukan hal itu, aku tidak akan memaafkan diriku”

“STOP LEE SEJIN!!!”

Lee Sejin mengabaikan semuanya. Mengabaikan suara-suara Seungyoun yang tidak tahu darimana asalnya. Sejin melompat dari tebing. Persis seperti yang dilakukan oleh beberapa pemuda yang ia lihat kemarin.

Setelah beberapa saat masuk ke dalam air, akhirnya Sejin muncul ke permukaan. Ada rasa puas yang dirasakan Sejin. Hal yang baru saja Sejin lakukan, benar-benar bisa menjadi distraksi untuk dirinya sendiri.

“Oh shit!“Sejin kembali menyelam ketika tamparan ombak hampir menggulung badan kecilnya.

Ombak sore itu terlampau besar. Sekali hingga tiga kali, Sejin dapat menghindari ombak besar yang datang, tetapi tidak dengan ombak ke empat, Sejin terhamtam oleh ombak besar tersebut dan badannya jatuh masuk lebih dalam ke lautan.

Sejin menahan nafas, mencoba menggapai udara bebas yang jaraknya semakin jauh dari penglihatannya. Sejin mencoba berenang ke permukaan, tetapi usahanya selalu gagal karena ombak yang terus menggulung dirinya. Hingga Sejin semakin lama kehabisan nafas dan semuanya menjadi gelap.

III. The Vision

“Sejin, Lee Sejin bangun”

Sejin bangun dan memuntahkan air laut yang masuk ke dalam perutnya. Sejin sudah berada di pinggir pantai. Di hadapannya ada Sung Hoon, orang yang selama ini sangat dibenci Sejin, orang yang Sejin percayai merubah perilaku Sunho. Sejin hanya dapat membuka matanya beberapa detik sebelum akhirnya semuanya kembali meghitam.


“Aku tidak bisa melihat Sejin....”

“Wooseok, apa maksudmu?“Seungyoun menghampiri Wooseok yang terdiam duduk di sofa ruang tamu.

“Sejin melompat. Aku tidak dapat melihat apapun lagi setelah Sejin melompat”ucap Wooseok lagi.

“Oh shit!“Seungyoun mengacak rambutnya frustasi lalu dirinya mulai mendial nomer telfon yang sudah di hafalnya diluar kepala.

“Hallo, kediaman keluarga Lee. Ada yang bisa dibantu?“Suara di sebrang telfon menyapa telinga Seungyoun.

“Hallo? Jangan bercanda. Tuan Lee sedang tidak dirumah, ia sedang menyiapkan pemakaman”Karena Seungyoun tetap diam, suara di sebrang telfon mengatakan hal tersebut lagi.

Seungyoun membanting ponselnya dan keluar meninggalkan rumah.

“Aku harus kembali untuk memastikan sesuatu!!“Wooseok bergegas mengemasi barang-barangnya untuk memastikan sendiri jika Sejin baik-baik saja.


“Wooseok!!”

Sejin menghamburkan dirinya menabrak tubuh kecil Wooseok ketika ia melihat Wooseok masuk ke dalam rumahnya. Sejin rindu Wooseok, Sejin rindu keluarga Wooseok, Sejin rindu Seungyoun.

“Aromamu seperti seekor anak anjing yang baru saja masuk ke dalam selokan”

Sejin menghirup aroma tubunya ketika Wooseok mengatakan hal tersebut. Wooseok masih sama seperti dahulu, suka berkata sesuka hati. Wooseok berjalan mundur ketika Sunho keluar dari dapur di kediaman keluarga Lee.

Sejin menoleh ke arah Sunho dan Sunho yang dapat membaca dengan jelas maksud dari tatapan Sejin itu, memilih duduk di tangga yang jaraknya jauh dari Wooseok. Sejin membawa Wooseok duduk bersamanya di sofa dan cerita Wooseok dimulai.

“Kita harus pergi”

“Sejin, kau gila?“Sunho menarik tangan Sejin agar menjauh dari Wooseok.

“Aku harus menyelamatkan Seungyoun. Dia dalam bahaya, volturi pasti akan membunuhnya”ucap Sejin frustasi.

“Seungyoun sudah pergi, dia gila. Dia akan melakukan hal gila esok siang”Wooseok terdiam dan Sejin berjalan mendekati Wooseok.

“Ayok! Bawa aku menemui Seungyoun”ucap Sejin.

“Jangan gila!!“Sunho kembali menarik tangan Sejin tapi tatapan dingin Sejin membuat Sunho berjalan mundur.

IV. The Volturi

Wooseok menginjak pedal gasnya menuju tempat dimana Seungyoun akan melakukan hal gila diluar nalar. Disebelahnya ada Sejin yang sejak tadi terus mendial nomer yang sama, nomer ponsel Seungyoun. Siang itu ditengah kota akan diadakan festival yang dihadiri oleh seluruh penduduk kota Voltera dan disanalah Seungyoun akan memulai aksi gilanya.

“Kita berhenti disini”Wooseok dan Sejin serempak melepas seat belt yang mereka kenakan. Wooseok dan Sejin berlari berlawanan arah, guna mencari keberadaan Seungyoun.

Beberapa kali Sejin harus menabrak orang yang sedang berpawai. Orang-orang yang menggunakan jubah merah itu benar-benar berada di seluruh kota hingga Sejin susah menemukan dimana Seungyoun berada. Sejin terus berlari, bahkan Sejin sebenanrnya tidak tau kemana ia berlari dan kemana tujuannya hingga ia berhenti di tengah kerumunan.

Disebrang sana, Sejin melihat Seungyoun yang sudah berdiri tepat di bawah sinar matahari yang menyinari kota Voltera. Jika kalian lupa, bangsa vampire akan sangat berkilau layaknya berlian jika mereka terpapar sinar matahari langsung. Seungyoun berdiri dtepat dibawah sinar matahari. Sejin menggeleng dan berharap Seungyoun melihat ke arahnya.

Tanpa membuang waktu, Sejin berlari ke arah Seungyoun berdiri. Tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh, Sejin menembus keramaian tersebut hingga ia berada di hadapan Seungyoun.

Seungyoun tersenyum ketika Sejin berada di hadapannya, “Bahkan sekarang aku sudah berhalusinasi”ucap Seungyoun pelan.

Sejin menarik tubuh Seungyoun dan membawanya ke sebuah lorong gelap yang jauh dari keramaian, “kau tidak sedang berhalusinasi, aku ada disini”ucap Sejin lembut.

“Terlambat”Sejin dan Seungyoun menoleh ketika mendengar suara Wooseok. Disana Wooseok berdiri dengan wajah cemas. Volturi sudah mengetahui semua yang dilakukan Seungyoun dan saat ini, semua petinggi Volturi ingin bertemu dengan Seungyoun dan kekasih non-vampirenya.

V. The Conclusion

“Mereka manusia?“Sejin berkata sambil melihat dua lelaki yang mengantar mereka menuju ruang para petinggi Volturi berada.

“Iya, sama sepertimu”ucap Seungyoun menggenggam erat tangan Sejin dan sesekali mencium puncak kepala Sejin.

“Silahkan”ucap kedua lelaki muda tersebut ketika sebuah pintu berukuran besar terbuka di hadapan Seungyoun, Sejin dan Wooseok.

Pembicaraan yang membosankan terjadi. Beberapa kali Seungyoun menyembunyikan Sejin yang kecil di belakang tubuhnya. Walau bagaimanapun, Sejin saat ini sedang dikelilingi klan terkuat vampire. Seungyoun menolak dengan keras ketika keluarga Volturi ingin mengubah Sejin pada saat itu juga. Alasannya, karena Sejin yang notabenenya adalah seorang manusia sudah mengetahui segala sesuatu mengenai klan volturi.

“Ah jadi kau ingin jadi pahlawan?”

Seungyoun tiba-tiba menjerit. Tubuhnya terduduk secara paksa. Wooseok dengan cepat menarik Sejin mendekat ke arahnya dan menyaksikan saudaranya tersiksa di tengah ruangan besar tersebut.

“Berhenti! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyiksanya?“Sejin berteriak tapi tidak didengar oleh siapapun.

“Lakukan!!“Seseorang yang sedang duduk diatas kursi kebanggannya itu memerintah seseorang di dekat Sejin.

“Aku bilang lakukan!“Ucapnya lagi tapi tetap tidak ada yang berubah di ruangan tersebut dan Wooseok hanya dapat tersenyum sinis.

“Ah! Sialan!!!!“Seseorang yang berdiri di dekat Sejin lalu mengalihkan perhatiannya ke Wooseok. Sejin terkejut ketika tiba-tiba Wooseok juga mengaduh kesakitan.

“Berhenti!! Aku bilang berhenti!!!!“Sejin histeris ketika melihat dua orang yang ia kenal sedang mengerang kesakitan.

“Ubah aku! Jika kalian memang mau aku berubah atau membunuhku, silahkan. Tapi jangan sakiti mereka”ucap Sejin menahan marah.

“Tidak Sejin, Jangan!!!“ucap Seungyoun lemas.

Seorang vampire yang duduk disebuah kursi besar kebanggaannya itu bangkit dan berjalan mendekati Sejin.

“Berhenti...!“Ucapan tersebut Seungyoun sama sekali tidak didengarkan.

“Ah pria kecil ini ingin membela kekasihnya ternyata?“ucap vampire yang merupakan pimpinan Volturi.

Sejin menahan nafasnya dan ia memejamkan matanya, takut.

“Aku tidak yakin jika kau benar-benar berani dan bersedia menyerahkan hidupmu untuk kami”ucap pimpinan Volturi itu lagi.

“Aku... Aku yang akan merubahnya... Aku bisa melihat itu”Keluarga Volturi menoleh ke arah Wooseok.

“Aku bisa melihatnya. Periksalah jika kalian tidak mempercayaiku” Wooseok berdiri dan berjalan ke salah satu anggota Volturi dan mengulurkan tanganya hingga anggota Volturi tersebut mengangguk.

“Baiklah, aku sangat mempercayaimu Wooseok. Bahkan kau adalah salah satu Vampire favoritku karena kemampuanmu itu. Aku akan membiarkan kalian pergi, tetapi aku akan terus mengawasi kalian”ucap pimpinan Volturi tersebut.

Seungyoun bangkit, lalu berjalan menghampiri Sejin. Tanpa pamit, Seungyoun keluar dari ruangan tersebut.

“Kita harus cepat, mereka sangat berbahaya”ucap Wooseok pelan sambil bergegas pergi.

fin.

Malam.


“Capek?“Yuvin tersenyum melihat Yohan yang terlihat lesu malam itu.

“Tenang, dua kali latihan habis itu selesai kan?“tanya Yuvin dan Yohan hanya mengerucutkan bibirnya gemas.

“Pelatih aku tadi bilang, ada kemungkinan aku mau dijadiin pelatih tetap. Dibanding jadi pelatih, mendingan aku balik latihan lagi deh. Capeknya jadi pelatih tuh double-double soalnya”ucap Yohan.

“Lagian, aku udah mengundurkan diri karena cidera tapi masih aja dipanggil lagi”ucap Yohan malas.

“Ya berarti tandanya kalo kamu itu mampu. Orang lain aja liat kamu mampu, masa kamu malah males begini?“ucap Yuvin.

“Gatau. Mungkin karena aku udah capek? Dari kecil latihan mulu, mau istirahat. Mau nikmatin masa muda”Yohan berbicara sambil memainkan jari jemari Yuvin.

“Mau pacaran yaaa?“ucap Yuvin meledek dan Yohan menatap Yuvin dengan tatapan aneh.

“Padahal kalo kamu latihan, aku bisa anter jemput trus nungguin. Habis itu pacaran deh”ucap Yuvin lagi.

“Kalo kamu engga latihan, nanti aku bingung kalo cari alasan buat ketemu sama kamu”ucap Yuvin pura-pura bersedih.

“Usaha dong! Masa baru dua hari pacaran udah males cari alesan buat ketemuan”ucap Yohan malas.

“Aku aja, udah punya alesan kalo besok mau kerumah kamu”ucap Yohan lagi dengan nada sinis.

“Hah? Kamu besok mau kerumah aku? Ngapain?“Tanya Yuvin antusias.

“Gatau ah engga jadi Kamu aja males nyari alesan buat ketemu aku. Aku engga jadi ah main kerumah kamu”ucap Yohan dengan nada gemasnya.

“Ih gitu aja ngambek! Beneran besok aku bilang mami kalo pacar aku yang ganteng mau dateng”ucap Yuvin semangat.

“Engga usah bilang mami! Nanti dia nyiapin macem-macem”ucap Yohan memohon.

“Ya.... engga apa-apa dong, nyiapin macem-macem buat calon mantu sendiri?“tanya Yuvin dan Yohan berdecak sebal.

“Calon mantu apaan, pacaran juga baru mau 24 jam udah mantu-mantuan”Yohan menahan tawa.

“Kamu engga mau nih nikah sama aku?“tanya Yuvin bersedih.

“Maaf nih bang... Aku masih muda, ngomongin nikahnya besok-besok aja gimana?“ucap Yohan malu..

“Ih gemes pacar aku!!!“ucap Yuvin mengusak rambut Yohan hingga berantakan.

(xposhie)