Winter Story.
Wooseok menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Berbalut jas berwarna putih, Jinhyuk, nama lelaki yang lebih tinggi dari Wooseok itu menggerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri menyesuaikan irama lagu lembut yang terdengar di hutan pinus petang itu.
“Enak ya?“Jinhyuk tertawa.
Wooseok mengangkat wajah mungilnya dan tersenyum menatap Jinhyuk yang beberapa saat lalu resmi menyandang status sebagai suaminya itu. Wooseok berjinjit dengan maksud mencium bibir Jinhyuk, walaupun faktanya Wooseok hanya berhasil mencium dagu Jinhyuk saja.
“Kamu kayak bayi, ditimang-timang terus tidur”ucap Jinhyuk melirik Wooseok yang masih berada di dalam dekapannya.
“Kalo Jinhyuk capek, bilang aku”ucap Wooseok yang sudah kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
“Engga. Aku engga akan pernah capek ngelakuin apapun untuk kamu”ucap Jinhyuk yang diikuti dengan kecupan lembut di puncak kepala Wooseok.
Wooseok tersenyum, merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia perkiraan sebelumnya. Kebahagiaan yang ia dapatkan dari seseorang yang akan ia temui saat ia membuka mata. Seseorang yang akan ia datangi ketika ia lelah dan butuh sandaran. Seseorang yang akan bersamanya membangun sebuah keluarga kecil. Seseorang yang selalu bersedia menjadi apoteker handalnya, menjadi koki idamannya hingga seseorang yang akan selalu bersedia menjadi supir pribadinya.
Winter 2005.
Wooseok kecil yang saat itu baru berumur sembilan tahun merapatkan baju hangatnya agar angin tidak bisa menembus masuk ke dalam tubuhnya yang lemah tersebut.
“Hai!”
Wooseok menoleh dan mendapati seseorang yang lebih tinggi darinya itu sedang tersenyum ke arahnya.
“Ini untukmu”
Anak lelaki itu memberikan satu buah hot pack kepada Wooseok. Wooseok hanya menatap hot pack tersebut tanpa berniat mengambilnya.
“Ambil lah, aku tidak jahat”
Wooseok menatap anak lelaki di hadapannya lagi. Tubuhnya tinggi, tapi anak itu kurus. Wooseok tidak tau umurnya bahkan namanya.
“Bibirmu sudah membiru, kau akan mati kedinginan”
Wooseok melihat tangannya yang sudah ditarik pelan oleh anak di hadapannya. Selanjutnya, sebuah hot pack sudah berada di tangan dingin Wooseok.
“Terimakasih....”
“Jinhyuk, namaku Jinhyuk”
Wooseok kembali menatap anak lelaki di hadapannya yang sudah mengulurkan tangannya, mengajaknya berjabat tangan.
“Terimakasih Jinhyuk”
Wooseok tersenyum kecil dan menerima uluran tangan Jinhyuk. Hari itu, saat salju pertama turun di musim salju, pertama kalinya Wooseok dan Jinhyuk berkenalan.
Winter 2008.
“Kim Wooseok!”
Wooseok menoleh dan mendapati seorang anak lelaki berlari pelan ke arahnya. Wooseok tersenyum melihat anak lelaki tersebut.
“Kenapa tidak menungguku? Aku kan sudah bilang, tunggu aku sebentar saja”
Wooseok berjalan bersisian dengan anak lelaki yang sedang setengah terengah tersebut.
“Kau lama, Jinhyuk. Kan aku sudah bilang, jangan terlalu banyak bermain games!”
Jinhyuk menghentikan langkahnya mendengar ucapan Wooseok. Wooseok menoleh dan memberikan tatapan bertanya ke arah Jinhyuk.
“Aku tidak bermain games! Aku menunggu kucingku melahirkan, Seok!”
Wooseok tersenyum mendengar penjelasan Jinhyuk tersebut. Tetapi Jinhyuk, masih dengan tatapan serius menatap Wooseok.
“Aku serius! Kucing yang kita temui itu sudah melahirkan. Anaknya berjumlah lima ekor, mereka berbeda corak”
Jinhyuk pun melanjutkan langkahnya sambil menceritakan alasan mengapa ia terlambat bangun pagi itu.
“Oh iya? Aku mau lihat! Aku mau main ke rumah Jinhyuk”
Wooseok akan menjadi bersemangat jika sudah berurusan dengan kucing.
“Ayok! Aku belum memberikan nama untuk anak kucing itu, kita bisa kasih nama untuk anak-anak kucing itu”
Wooseok mengangguk semangat mendengar ucapan Jinhyuk.
Winter 2011.
“Sudah lah, Seok! Jangan menangis lagi”
Jinhyuk duduk di karpet beludru yang berada di kamar Wooseok. Disebelah Jinhyuk, ada Wooseok yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apa perlu aku memukul Cho Seungyoun itu agar kamu berhenti menangis?”
Wooseok menoleh ketika mendengar ucapan Jinhyuk tersebut. Jinhyuk dapat dengan jelas melihat hidung Wooseok yang memerah, bibirnya yang gemetar serta matanya yang sembap akibat menangis.
“Tidak perlu... hiks... Aku tidak apa-apa.... hiks...”
Jinhyuk menatap Wooseok iba. Patah hati pertama Wooseok dan Jinhyuk adalah saksi betapa menyedihkannya Wooseok saat ini.
“Jangan menangis! Kau mau apa? Es krim? Ah! Musim dingin, kita tidak mungkin makan es krim!!! Hm.... Ceker pedas! Kau mau ceker pedas? Ceker pedas Paman Siwon yang paling terkenal, ayok kita kesana!”
Senyuman di wajah Wooseok akhirnya muncul. JInhyuk dengan berbagai cara membuat Wooseok tertawa, akhirnya berhasil.
“Jinhyuk... terimakasih”
Jinhyuk mengangguk dan tersenyum lalu mengusap air mata yang masih mengalir dari kedua mata indah Wooseok.
Winter 2014.
“Brengsek!!!”
Jinhyuk menarik kaos lelaki dihadapannya dan mendorongnya hingga lelaki tersebut jatuh terjerembab ke lantai. Lelaki yang sudah tersungkur ke lantai tersebut tersenyum sinis ke arah Jinhyu.
“Waow ada pahlawan kesiangan rupanya disini?”
Lelaki yang menjadi lawan Jinhyuk malam itu pun berdiri, merapihkan bajunya sebelum berjalan ke arah Jinhyuk yang sedang membantu Wooseok menutup tubuh bagian atasnya.
“Kau menganggu makan malamku, anak muda”
Jinhyuk berbalik karena bahunya ditarik paksa oleh lelaki yang sekarang sudah berada di hadapannya. Tangan Jinhyuk terkepal, raut wajah Jinhyuk mengeras.
“Tidak usah ikut campur urusanku. Aku tidak pernah memaksanya”
Mata Jinhyuk menyiratkan kemarahan. Wooseok yang berada di belakang Jinhyuk menarik pelan ujung sweater yang digunakan Jinhyuk malam itu.
“Jinhyuk....”
Suara Wooseok bergetar. Jinhyuk menoleh untuk memastikan kondisi Wooseok baik-baik saja. Jinhyuk menarik pelan tangan Wooseok dan menggenggamnya. Jinhyuk pun melangkah menjauhi lelaki tersebut.
“Hei mau kemana? Sombong sekali tidak mau berbagi dengaku”
Langkah Jinhyuk terhenti. Jinhyuk melepas gengaman tangannya dan berbalik hanya untuk memberikan sebuah bogem mentah kepada lelaki tidak sopan tersebut.
“Jaga mulutmu!”
Jinhyuk kembali membuat lawan di depannya tersungkur. Jinhyuk pun menarik Wooseok menjauh dari tempat laknat tersebut.
“Jinhyuk.....”
“Jinhyuk.... Maaf....”
Jinhyuk mengabaikan Wooseok dan tetap fokus dengan jalanan lenggang di hadapannya. Wooseok ia abaikan.
“Jinhyuk....”
“Jinhyuk.... Aku takut....”
Jinhyuk menghebuskan nafasnya kasar. Jujur, Jinhyuk saat itu sangat ingin memeluk Wooseok. Tapi dilain sisi, Jinhyuk marah dengan dirinya sendiri. Jinhyuk marah, karena ia tidak dapat menjaga Wooseok dengan benar.
“Aku takut Jinhyuk....”
“Jinhyuk maaf....”
Suara Wooseok mulai bergetar. Jinhyuk menepikan mobilnya sebelum membawa Wooseok ke dalam dekapannya.
“Kau aman. Tidak ada orang jahat itu lagi”
Jinhyuk memeluk Wooseok erat. Tangannya mengusap punggung rapuh Wooseok. Jinhyuk merapalkan kalimat-kalimat yang dapat menenangkan Wooseok.
“Aku takut.... Jinhyuk aku takut....”
Wooseok menangis dalam pelukan Jinhyuk dan Jinhyuk jelas dapat merasakan kemejanya yang basah karena air mata Wooseok.
“Wooseok tidak usah takut. Ada aku”
Jinhyuk masih merapalkan kalimat-kalimat penenang hanya untuk Wooseok.
“Jinhyuk... Takut.... Aku kotor... Aku takut... Jinhyuk....”
Tubuh Wooseok bergetar hebat. Jinhyuk melepas pelukannya hanya untuk mengusap air mata Wooseok dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di kening Wooseok.
“Kamu aman... Orang jahat itu engga akan datang lagi”
Jinhyuk kembali membawa Wooseok ke dalam dekapannya dengan usapan dipunggung Wooseok yang tidak pernah berhenti.
Winter 2017.
“Aku mencitaimu”
Jinhyuk mendekatkan wajah ke wajah Wooseok yang semakin memerah. Wooseok tersenyum melihat JInhyuk dan dengan tidak sabaran, Wooseok mengalungkan tangannya di leher Jinhyuk.
“Aku lebih mencintaimu”
Jinhyuk tersenyum mendengar jawaban Wooseok. Bibir Wooseok yang kemerahan dilumat habis oleh Jinhyuk. Tubuh Wooseok terdorong oleh tubuh Jinhyuk sehingga posisi Wooseok sudah berbaring di sofa ruang tengah apartment Wooseok.
“Jinhyuk... nghhh...”
Wooseok memukul pelan dada Jinhyuk, meminta Jinhyuk untuk memberi jeda pada lumatan di bibirnya. Wooseok membutuhkan pasokan oksigen.
“Aku mencintaimu”
Jinhyuk melepaskan tautan bibirnya dan Wooseok, lalu mulai menjilat dan mencium leher putih Wooseok. Tangan Jinhyuk tidak tinggal diam, tangannya mulai masuk ke dalam kaos putih kebesaran milih Wooseok.
“Aku mencintaimu”
Jinhyuk meneruskan kecupannya hingga bibirnya menemui tulang menonjol milik Wooseok. Tanda keunguan mulai muncul di sekitar tulang selangka milik Wooseok. Jinhyuk terus mengukir tubuh Wooseok dengan hasil karyanya.
“Aku mencintaimu”
Bibir dan tangaan Jinhyuk bergerak seirama. Tangan JInhyuk mendorong kaos milik Wooseok hingga dada sempurna milik Wooseok terlihat. Dua bagian tubuh menonjol milik Wooseok tidak luput dari jari tangan Jinhyuk.
“Aku mencintaimu”
Jinhyuk benar-benar tidak memberikan Wooseok waktu untuk bernafas barang sedetikpun. Jari jemari Jinhyuk sudah digantikan oleh mulut milik Jinhyuk. Seperti seorang bayi yang sedang kehausan, Jinhyuk menghabisi dua buah tonjolan di dada kanan serta kiri milik Wooseok.
“Aku mencitaimu”
Bibir Jinhyuk yang basah mulai turun menuju perut rata milik Wooseok. Tangan Jinhyuk bekerja lebih keras guna membuka kancing pengait celana jeans milik Wooseok.
“Aku mencintaimu”
Jinhyuk semakin kasar, tetapi Wooseok menikmati semua hal yang diberikan oleh Jinhyuk. Wooseok membantu pekerjaan Jinhyuk, dirinya sedikit mengangkat tubuh bagian bawahnya agar Jinhyuk dapat dengan mudah meloloskan celana jeans yang membalut kaki kurusnya itu.
“Aku mencintaimu”
Tangan Jinhyuk mulai bermain di sekitar paha dalam milik Wooseok. Memberikan reaksi menyengat yang sangat jelas dapat dirasakan oleh Wooseok. Jinhyuk menoleh guna melihat dan beradu tatap dengan Wooseok. Wooseeok mengangguk dan detik selanjutnya indera penciuman Jinhyuk sudah berada di atas kejantannya Wooseok yang masih tertutup oleh bagian terakhir yang menutupi tubuh bagian bawah Wooseok.
“Jinhyuk, aku mencintaimu....”
Wooseok melengkungkan tubunya ketika tangan Jinhyuk mulai bermain di pusat tubuhnya. Memberikan sengatan-sengatan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Wooseok menarik wajah Jinhyuk agar ia bisa melihat dengan jelas wajah lelaki tersebut.
“Please...”
Wooseok memohon sebelum melumat bibir Jinhyuk tanpa ampun. Jinhyuk pun dnegan tidak sabar menggendong tubuh Wooseok dan masuk ke dalam kamar tidurnya.
Winter 2020.
“Jinhyuk!!!”
Wooseok mulai menaikan nada bicaranya ketika kekasihnya sama sekali tidak mendnegarkannya.
“Aku lelah, jangan buat aku marah”
Jinhyuk membuang asal jas yang ia kenakan dan melagkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tidur miliknya dan Wooseok.
“Aku butuh penjelasan”
Wooseok mengikuti langkah Jinhyuk. Ditangan Wooseok ada sebuah kemeja dengan sebuah cetakan bibir di kerah kemeja milik Jinhyuk tersebut.
“Penjelasan apa? Itu? Lipstick milik sekertarisku. Ada lagi?”
Jinhyuk menatap Wooseok tajam. Sedangkan Wooseok dengan sekuat tenaga menahan air matanya. Ia harus kuat. Ia tidak boleh lemah.
“Jadi... ini yang kau bilang lembur? Hingga kau tidak bisa pulang? Bahkan tidak sempat membalas pesanku?”
Jinhyuk menghebuskan nafas kasar. Ia mengacak kasar rambutnya. Pertahanan Wooseok hancur, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.
“Kau bilang... hiks... lembur.... Kau bilang.... hiks... kau mengejar deadline.... kau bilang... hiks... hanya mencintaiku”
Wooseok terduduk lemas di lantai dingin apartment Jinhyuk. Disebelahnya masih tergelatak sebuah kemeja yang sangat ingin Wooseok bakar.
“Aku menunggumu malam itu.... Kau bilang, kau lembur.... Aku menunggumu, agar aku bisa memanaskan makanan untukmu. Aku menunggumu, agar aku bisa menyiapkan air hangat untukmu. Aku menunggumu, agar aku bisa memelukmu dan menghilangkan rasa lelahmu”
Wooseok menatap Jinhyuk dengan air mata yang sepertinya enggan untuk berhenti. Beberapa kali tangan terkepal Wooseok memukul dadanya sendiri, berusaha menghilangkan rasa sakit yang teramat sangat.
“Malam itu.... Kau bahkan menamparku.... Kau mendorongku, karena kau bilang aku menutupi jalanmu”
“Malam itu.... Aku tidak menemukan sosok Jinhyuk milikku”
Wooseok menceritakan semuanya. Malam dimana Jinhyuk pulang dengan keadaan mabuk. Penampilan Jinhyuk jauh dari kata rapih. Wooseok mencium wangi parfum wanita malam itu. Bahkan Wooseok melihat bekas keunguan di sekita leher Jinhyuk. Malam itu, Wooseok menangis karena rasa sakit akibat dorongan Jinhyuk serta rasa sakit karena melihat pengkhiatan Jinhyuk.
“Bangun”
JInhyuk memperintahkan Wooseok untuk bangun. Perintah yang dikeluarkan Jinhyuk dengan nada dan tatapan yang dingin. Wooseok menggeleng.
“Kim Wooseok”
Wooseok masih terdiam dan sesekali nafasnya tersenggal menahan tangis. Jinhyuk menghela nafas panjang sebelum berlutut dihadapn Wooseok.
“Maaf....”
Jinhyuk mengusap puncak kepala Wooseok.
“Aku emang bego banget, tolol, engga berguna. Aku cuma bisa nyakitin kamu aja”
Jinhyuk masih mengusap puncak kepala Wooseok hingga Wooseok menarik tangan Jinhyuk, membuat Jinhyuk menatap dalam ke mata Wooseok yang sudah memerah.
“Maaf”
Jinhyuk mengecup kening Wooseok dan terus menerus merapalkan kata maaf tanpa henti malam itu
Winter 2023.
“Jinhyuk banguuunnn!”
Wooseok membangunkan Jinhyuk dengan tidak sabaran.
“Jinhyuk! Jinwoo demam”
Jinhyuk otomatis membuka matanya ketika mendengar sebuah nama yang diucapkan Wooseok. Jinhyuk menatap Wooseok dengan seorang anak laki-laki dalam gendongannya yang tidak berhenti menangis. Seorang anak lelaki berusia tiga tahun yang tiga bulan lalu berhasil di adopsi oleh Jinhyuk dan Wooseok.
“Aku emang engga bisa jadi orang tua, harusnya kita engga adopsi Jinwoo”
Wooseok terisak saat dokter sedang melakukan pemeriksaan kepada Jinwoo.
“Jangan pernah bilang begitu, kita sama-sama belajar”
Jinhyuk menenangkan Wooseok dan mengusap pelan punggung Wooseok.
“Orang tua Jinwoo?”
Wooseok dan Jinhyuk menghampiri suster yang memanggil orang tua Jinwoo dan menjelaskan bahwa demam Jinwoo sudah turun dan mereka bisa menghampiri Jinwoo di IGD saat itu juga.
“Papaaaa”
Jinwoo mengangkat tangannya ketika melihat Wooseok dan JInhyuk datang menghampirinya.
“Papa, ni pa?”
Jinwoo menunjuk selang infus ditangannya. Wooseok memposisikan dirinya di kasur milik Jinwoo dan Jinhyuk duduk di kursi sebelah kasur yang ditempati Jinwoo serta Wooseok itu.
“Ini namanya infus”
Wooseok mulai ,menjelaskan segalanya dengan bahasa sederhana kepada Jinwoo dan Jinhyuk tersenyum melihat Wooseok yang sedang bercerita.
“Katanya engga bisa jadi orangtua? Tapi nyeritain tentang sakit demam lancar banget”
Jinhyuk meledek Wooseok yang sedang mengusap punggung Jinwoo agar tertidur.
“Ssttt, diem! Nanti Jinwoo bangun”
Jinhyuk menahan tawa ketika mendapatkan tatapan mengancam dari Wooseok.
Winter 2025.
“Selamat tahun baru, Jinhyuk”
“Selamat tahun baru juga, Wooseok”
Jinhyuk mendaratkan bibirnya diatas bibir Wooseok tepat ketika jam menunjukan pukul 24.00, saat pergantian tahun menuju tahun 2026. Jinhyuk tersenyum dan mengusap lembut bibir Wooseok yang memerah dan bengkak karena ulahnya barusan.
“Cie yang tahun ini kepala tiga”
Jinhyuk meledek sambil mencubit pelan hidung Wooseok. Wooseok mengasuh tetapi tertawa karena ulah Jinhyuk.
“Heh! Kamu duluan loh yang kepala tiga, aku sih belakangan”
Wooseok puas tertawa sedangkan Jinhyuk mengerucutkan bibirnya, membuat Wooseok gemas.
“Jangan ngambek! Kamu kepala tiga juga aku tetep sayang kok”
Wooseok mengusap pipi Jinhyuk dan Jinhyuk tersenyum karena ulah Wooseok tersebut. Jinhyuk menarik tangan Wooseok yang masih betah mengusap pipinya, lalu Jinhyuk kembali mendaratkan bibirnya ke atas bibir Wooseok.
“Hyuk?”
Wooseok menarik wajahnya menjauh dari wajah Jinhyuk ketika Wooseok merasakan sesuatu melingkar di jari manisnya. Jinhyuk tersenyum menatap Wooseok.
“Marry me, please?”
Wooseok menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya saat ini. Jinhyuk melamarnya tepat di hari pertama di tahun 2026.
“Hyuk”
“Please?”
Jinhyuk berlutut di depan Wooseok. Mata Jinhyuk penuh pengharapan dan Wooseok dapat melihat semua hal tersebut. Wooseok mengangguk menjawab pertanyaan Jinhyuk.
“Thank you”
Jinhyuk memeluk Wooseok karena bahagia yang tidak dapat ia bendung lagi. Setelah puas mendekap tubuh kecil Wooseok, Jinhyuk kembali mendaratkan bibirnya keatas bibir Wooseok yang membuatnya candu. Lumatan Jinhyuk semakin menggebu, bahkan tangan Jinhyuk sudah masuk ke dalam kaos yang digunakan Wooseok.
“Nghhh...”
Wooseok mengerang ketika bibir JInhyuk mulai menyapa leher putihnya.
“Pa.....:
Pergerakan Jinhyuk dan Wooseok terhenti ketika mereka mendengar suara anak kecil memanggil Wooseok.
“Jinwoo, bangun”
Wooseok mendorong pelan Jinhyuk dan merapihkan penampilannya. Di depan pintu kamar, Jinwoo sudah berdiri sambil memegang boneka kelinci kesayangannya.
“Pa.... susu... pa....”
Wooseok tersenyum dan menghampiri anak semata wayangnya tersebut, sedangkan Jinhyuk hanya dapat menggelengkan kepalanya karena ada sosok kecil yang menganggu aktivitasnya bersama Wooseok.
The present.
“Wooseok, terimakasih”
Wooseok menatap Jinhyuk dalam.
“Terimakasih sudah kedinginan waktu itu. Terimakasih sudah memperlihatkanku apa yang dinamakan namanya patah hati. Terimakasih sudah memberiku kesempatan kedua. Terimakasih sudah hebat menjadi papa untuk Jinwoo. Terimakasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu”
Wooseok tersenyum.
“Jinhyuk.... Terimakasih... Terimakasih untuk hotpacknya. Terimakasih untuk pundaknya ketika aku ingin menangis. Terimakasih sudah selalu menolongku. Terimakasih sudah mau selalu jujur. Terimakasih sudah memberikan izin untukku untuk merawat dan membesarkan Jinwoo. Terimakasih karena sudah memilihku menjadi suamiku.
Jinhyuk tersenyum.
“Aku mencintaimu”
“Aku lebih mencintaimu”
Jinhyuk dan Wooseok kembali larut dalam irama dansa yang lembut. Tidak perduli dengan para tamu undangan. Tidak perduli dengan Jinwoo yang sudah merengek ingin digendong oleh papanya. Hari ini adalah hari bahagia mereka. Kisah mereka memang dimulai di mulai dingin. Tapi mereka berjanji, bahwa mereka akan selalu melukiskan kisah bahagia di setiap musim dalam satu tahun penuh.
fin,
Winter 2027.
“Paaaa, sepatu aku dimana?”
“Sayanggg, tolong pakein dasi aku”
“Sepatumu ada di rak nomer dua, sebelah sepatu papa yang putih”
“Iya sayang! Aku ke kamar”
“Paaa, buku menggambar aku kok engga ada ya?”
“Sayanggg, jas aku yang warna abu-abu dimana ya?”
“Sudah ada paaaa”
“Jasku juga sudah ketemu”
Wooseok menghela nafas panjang dan sesekali memijat pelipisnya. Senin pagi selalu melelahkan bagi Wooseok. Walaupun begitu, dirinya sangat menyukai pekerjaannya dan kesibukannya setiap pagi.
(xposhie)