semestakapila

Gitar.


Yuvin meletakan gitar tuanya di sebelah kursi yang sekarang telah ia duduki. Sesekali Yuvin meniupkan jari-jarinya yang luka akibat senar gitar yang terputus.

“Permisi”

Yuvin menoleh dan mendapati seseorang yang datang menghampirinya. Yuvin memandang orang tersebut dengan tatapan bingung.

“Aku melihatmu. Permainan gitarmu dan juga suaramu, itu semua bagus”

“Terimakasih. Silahkan duduk”

Yuvin mempersilahkan pria yang lebih kecil di hadapannya untuk duduk. Tetapi tawaran Yuvin ditolak, pria tersebut memilih tetap berdiri.

“Kalo begitu, kita berdiri saja berdua”ucap Yuvin kikuk.

Pria tersebut mengedarkan pandangannya dan mendapati guitar case tua milik Yuvin.

“Kamu duduk disini. Aku akan duduk di case gitarmu. Boleh kan?”

Yuvin melirik ke arah guitar case miliknya, mengambilnya lalu meletakannya di dekat pria kecil tadi.

“Aku boleh liat tanganmu?”

Yuvin terkejut dengan pertanyaan pria berparas manis itu. Pria tersebut pun menarik pelan tangan Yuvin karena tidak ada pergerakan sedikitpun dari Yuvin.

“Jika terluka karena senar, jangan hanya ditutup dengan plester. Kamu harus membersihkan lukanya dahulu, baru tutup dengan plester luka. Selain itu gantilah plester luka tersebut setiap hari agar tidak terjadi infeksi”

Yuvin terpaku. Pria kecil di hadapannya berbicara dengan tenang sembari mengobati jari-jari Yuvin yang terluka akibat senar dari gitar tua miliknya.

Pria tersebut pun menatap Yuvin ketika pekerjaannya sudah selesai. Ia tersenyum lalu berdiri dan mengulurkan tangan kanannya.

“Maaf aku lancang. Aku Yohan, aku bekerja di rumah sakit sebrang Kafe ini”

Yuvin pun menerima uluran tangan Yohan dan memperkenalkan dirinya. Yuvin juga berterimakasih karena Yohan sudah membersihkan dan mengobati lukanya.

“Aku sebenarnya sudah lama melihatmu. Aku sering kesini dan sering melihatmu bernyanyi disini”ucap Yohan tersenyum.

Perkenalan Yuvin dan Yohan malam itu harus berakhir ketika ponsel pintar milik Yohan berbunyi. Yohan pun bergegas meninggalkan Kafe tersebut setelah berpamitan dengan Yuvin.


“Yuvin!”

Yuvin menoleh dan mendapati Yohan dengan seragamnya berjalan mendekati Yuvin.

“Penampilanmu bagus seperti biasa”puji Yohan.

“Terimakasih”ucap Yuvin tersenyum kikuk.

“Mau makan siang bersamaku?“tanya Yohan dan Yuvin sempat mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Tenang saja, tidak semua makan rumah sakit itu tidak enak. Makanan du kantin rumah sakit ini enak. Bahkan tidak kalah dengan makanan restoran mewah”ucap Yohan antusias dan Yuvin mengangguk setuju.

Yohan pun menggandeng lengan Yuvin yang bebas lalu berjalan menuju kantin rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, beberapa perawat bahkan pasien, menyapa Yohan dengan hangat.

“Selamat makan siang, dok! Semoga harimu menyenangkan”ucap salah satu perawat yang dibalas senyuman oleh Yohan.


“Tekanan darahnya sudah normal, dok. Tapi pasien masih sering mengeluh sesak nafas sehingga saya masih memasangkan oksigen untuk membantu pernafasan pasien”

Yohan mendengarkan penjelasan perawat tersebut sambil menarik tirai di hadapannya.

“Yuvin?”

“Ah Yohan... Maaf, maksud saya dokter Yohan”Yuvin tersenyum.

“Tidak apa-apa. Panggil aku Yohan saja”ucap Yohan tenang.

“Jadi....?“Yohan melirik seorang lelaki paruh baya yang terbaring di ranjang rumah sakit.

“Oh iya. Ini kakek saya dok, sudah seminggu mengeluh sesak nafas. Saya sudah memberikan obat yang saya beli di apotik. Tetapi semalam kakek saya pingsan, lalu saya bawa kakek saya kesini”

Yohan mengangguk mendengarkan penjelasan Yuvin. Yohan pun memulai pemeriksaannya.

“Pantas aku tidak melihatmu di kafe seminggu ini”Selesai pemeriksaan, Yohan mengajak Yuvin untuk duduk di taman rumah sakit.

“Saya tidak bisa sembarangan meninggalkan kakek, dok. Jadi saya meminta izin untuk tidak datang ke kafe”ucap Yuvin kikuk.

Yohan melirik Yuvin sinis, “Panggil aku Yohan, tanpa embel apapun. Lagipula aku sedang tidak bertugas”ucap Yohan lagi dan Yuvin tertawa.

Siang itu, Yuvin menceritakan semuanya kepada Yohan. Tentang dirinya yang tidak hanya berdua dengan kakeknya. Tentang gitar tua peninggalan ayahnya. Tentang pekerjaan yang ia dapatkan. Semua diceritakan Yuvin tanpa ada kekurangan sedikitpun.

“Kamu orang baik. Aku berharap, kamu bisa selalu menjaga kakekmu. Tetaplah menjadi Yuvin yang rendah hati”ucap Yohan tersenyum.


”...Selamat atas pekerjaan barumu! Izinkan gitar lamamu untuk beristirahat dan mulailah cerita baru dengan gitar barumu...”

-K.Y.H

Yuvin tersenyum tatkala membuka hadiah yang ia terima siang itu. Sebuah gitar mahal yang tentunya tidak dapat dibeli Yuvin bahkan jika ia bekerja lembur di cafe.

Tanpa membuang waktu, Yuvin mengambil jaket yang ia gantunh dibalik pintu kamarnya. Ia bergegas pergi ke rumah sakit dimana Yohan bekerja.

“Mau kemana?“tanya Kakek Yuvin pelan.

“Menyatakan cinta! Doakan aku”ucap Yuvin sambil berlalu dan menghilang di balik pintu.

Yuvin menunggu Yohan di lobby rumah sakit. Entah mengapa, Yuvin merasakan hatinya bergemuruh hebat siang itu. Senyum juga selalu keluar dari bibirnya.

“Yuvin?”

Yuvin menoleh dan mendapati Yohan berdiri dibelakangnya. Siang itu, rasanya Yuvin ingin segera memeluk Yohan untuk mengucapkan terimakasih.

“Terimakasih hadiahnya. Aku suka”ucap Yuvin kikuk.

“Kamu sudah menerimanya? Syukurlah jika kamu suka hadianya. Karena jujur, aku tidak tau sama sekali mengenai gitar dan semacamnya”

“Tapi seleramu bagus. Gitar itu bagus”ucap Yuvin memuji Gitar pemberian Yohan.

“Kamu harus berterimakasih kepada seseorang yang memilih gitar tersebut. Atau mungkin kalian bisa kolaborasi saat acara ulang tahun rumah sakit bulan depan?“ucap Yohan memberikan saran.

“Ayok aku antar ke orang itu!“Yohan menarik pelan lengan Yuvin dan membawanha masuk ke rumah sakit.

Yohan dan Yuvin berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan nama seorang dokter. Lagi, hati Yuvin bergemuruh. Tapi rasanya berbeda dari gemuruh yang tadi ia rasakan.

“Sayan, tumben?”

“Jangan memanggilku sayang jika kita masih di rumah sakit wahai dokter evan cho yang terhormat”

Yohan masih menarik Yuvin memasuki ruangan tersebut.

“Ini yuvin, yang aku ceritakan waktu itu! Dia suka gitar pilihamu”Yohan mendekati lelaki yang duduk di meja kerjanya.

“Siang dok. Saya yuvin dan terimakasih atas gitarnya”ucap Yuvin tersenyum kikuk.

“Ah iya sama-sama. Sebenarnya saya sempat bingung, kenapa kelinci kecil saya tiba-tiba menanyakan perihal gitar”ucap dokter itu yang menarik Yohan agar mendekat dan duduk dipangkuannya.

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu!“Yohan mengerucutkan bibirnya, gemas.

“Bagaimana? Apakah yohan sudah membicarakan perihal acara ulang tahun rumah sakit?“tanya dokter Evan.

“Iya saya sudah mengetahui acara tersebut sedikit. Tapi sepertinya saya harus lihat jadwal saya terlebih dahulu”

“Loh kok? Tadi kamu bilang kamu bisa! Pasien disini pada suka loh sama penampilan terakhir kamu”

Yohan mencodongkan badannya ketika berbicara dengan Yuvin, tapi dirinya masih nyaman duduk dipangkuan seseorang yang sedang melingkarkan lengannya dipinggang Yohan.

“Ah iya... Itu...“Lidah Yuvin kelu. Yuvin tidak dapat menemukan alasan yang logis untuk menolaknya.

“Jangan memaksa. Jika Yuvin tidak bisa, tidak apa-apa”

Yuvin dapat dengan jelas melihat raut kecewa diwajah Yohan. Tapi Yuvin juga tidak dapat menyembunyikan rasa sakit di hatinya.

Yuvin tidak mungkin tetap datang ke acara tersebut setelah dirinya tahu bahwa Yohan sudah memiliki kekasih. Bahkan Yuvin tidak sanggup bersaing dengan kekasih Yohan tersebut.

“Hm...maaf, saya boleh permisi?“tanya Yuvin dan Dokter Evan mengangguk.

Yuvin semoat beradu tatap dengan Yohan sebelum akhirnya Yuvin berbalik dan keluat dari ruangan dokter evan tersebut.

“Dia suka hadiahnya. Berarti nanti malam, aku dapat hadiahku?“Ucapan dokter evan ini adalah ucapan terakhir yang di dengar Yuvin sebelum dirinya menutup pintu ruangan dokter tersebut.

©xposhie.

First dance.


Yohan mengernyitkan keningnya melihat seseorang di sebrang kamarnya. Seseorang yang sedang berbicara dengan orang lain pada sambungan telfon. Orang tersebut terlihat tidak baik-baik saja.

Yuvin, orang yang sedari tadi mendapat perhatian lebih dari Yohan itu akhirnya menyadari jika Yohan memperhatikannya.

“Are you okay?”

“Tired with drama”

Kalimat pertama adalah kalimat yang di tuliskan Yohan pada secarik kertas guna menanyakan suatu hal pada Yuvin yang tidak mungkin ditanyakan Yohan dengan berteriak antar Balkon.

Sedangkan kalimat kedua adalah kalimat yang dituliskan Yuvin. Kalimat yang menggambarkan bahwa Yuvin sedang tidak baik-baik saja.


Siang itu, Yohan sedang duduk disebuah kursi taman di sekitar kampusnya. Berbekal sebuah buku tebal, Yohan memilih menghabiskan waktu makan siangnya di taman.

“Yo, sendirian?“Yohan menoleh dan tersenyum. Yohan mengangguk dan sedikit menggeser duduknya agar orang yang baru saja menyapanya bisa duduk disebelahnya.

“Tumben? Kookheon mana?“tanya Yohan dan Yuvin mulai bercerita.

Yohan mendengarkan cerita Yuvin tentang kekasihnya, Kookheon. Yohan mendengarkan Yuvin, tanpa berniat memotong sedetikpun pembicaraan Yuvin. Hingga Kookheon tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan Yuvin.

Kookheon menarik Yuvin dan membuat Yuvin berdiri dari duduknya. Hal selanjutnya yang terjadi benar-benar membuat Yohan ingin berlari sejauu mungkin dari taman kampus.

Kookheon mencium Yuvin, di depan mata Yohan. Kookheon bahkan mengalungkan tangannya di leher Yuvin, melumat dan memberikan hisapan pada bibir kekasihnya itu.

Kookheon melirik sinis ke arah Yohan setelah menarik diri dan melepaskan bibirnya dari bibir Yuvin. Kookheon pun menarik Yuvin menjauh dari taman dan meninggalkan Yohan sendirian.

Yohan tersenyum miris, bahkan Yuvin tidak mengucapkan selamat tinggal sama sekali. Lagipula, siapa Yohan? Kenapa harus ia berharap seperti itu?


Yohan berteriak histeris memberikan dukungan untuk tim futsal fakultasnya. Yohan memilih duduk di kursi penonton paling atas dan paling pojok untuk menghindari tatapan aneh orang-orang disekitarnya.

Sesekali Yohan melirik ke deretan kursi penonton paling depan. Kookheon ada disana. Yohan melirik sekilas ke arah Yuvin, sang kapten dari tim fakultasnya. Yohan lagi-lagi tersenyum miris, mengetahui bahwa Kookheon ada disana mendukung Yuvin.

Pertandingan futsal telah resmi berakhir yang sayangnya dimenangkan oleh tim lawan, fakultas Kookheon. Yuvin sang kapten dari tim yang kalah berjalan mendekati kursi penonton dengan maksud menghampiri Kookheon sang kekasih.

Langkah Yuvin terhenti. Ketika Kookheon berdiri dan menarik tengkuk kapten dari fakultasnya. Yuvin terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kookheon sedang berciuman dengan kapten tim lawan.

Yohan di kursi penonton paling atas juga melihat semuanya. Yohan tau jika Yuvin sedang tidak baik-baik saja.


Malam itu, Yohan sibuk dengan buku tebal di hadapannya hingga seseorang di sebrang kamarnya menarik perhatiannya. Yuvin dengan setelan jasnya sedang tersenyum ke arah Yohan.

“You going tonight?“tanya Yuvin dan Yohan membalas, “No, studying :(”

Yuvin terlihat kecewa hingga menuliskan, “Wish you there” dan Yohan hanya bisa tersenyum.

Satu jam kemudian.

Yohan mengatur nafasnya, memasuki sebuah aula tempat berlangsungnya sebuah acara. Beberapa mata menatap Yohan yang malam itu terlihat tampan dengan rambut yang ditata rapih ke atas.

Yohan mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula untuk mencari Yuvin hingga akhirnya pandangan Yohan bertemu tatap dengan mata Yuvin. Yuvin tersenyum lalu berjalan menghampiri Yohan.

Yohan pun berjalan menghampiri Yuvin, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Kookheon menarik lengan Yuvin. Yuvin menoleh dan menatap Kookheon aneh, sebelum akhirnya melepaskan cengkraman Yuvin dan lengannya lalu kembali jalan menghampiri Yohan.

Yohan menundukan kepalanya, malu, saat Yuvin menatapnya lekat. Yohan dan Yuvin serempak menoleh ketika irama lagu berubah menjadi lembut. Yuvin menatap Yohan dan mengulurkan tangannya ke arah Yohan.

Yohan tersenyum lalu menerima uluran tangan Yuvin. Yohan dan Yuvin pun berjalan beriringan menuju lantai dansa. Their first dance for the first time.

fin.

(xposhie)

Winter Story.


Wooseok menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Berbalut jas berwarna putih, Jinhyuk, nama lelaki yang lebih tinggi dari Wooseok itu menggerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri menyesuaikan irama lagu lembut yang terdengar di hutan pinus petang itu.

“Enak ya?“Jinhyuk tertawa.

Wooseok mengangkat wajah mungilnya dan tersenyum menatap Jinhyuk yang beberapa saat lalu resmi menyandang status sebagai suaminya itu. Wooseok berjinjit dengan maksud mencium bibir Jinhyuk, walaupun faktanya Wooseok hanya berhasil mencium dagu Jinhyuk saja.

“Kamu kayak bayi, ditimang-timang terus tidur”ucap Jinhyuk melirik Wooseok yang masih berada di dalam dekapannya.

“Kalo Jinhyuk capek, bilang aku”ucap Wooseok yang sudah kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

“Engga. Aku engga akan pernah capek ngelakuin apapun untuk kamu”ucap Jinhyuk yang diikuti dengan kecupan lembut di puncak kepala Wooseok.

Wooseok tersenyum, merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia perkiraan sebelumnya. Kebahagiaan yang ia dapatkan dari seseorang yang akan ia temui saat ia membuka mata. Seseorang yang akan ia datangi ketika ia lelah dan butuh sandaran. Seseorang yang akan bersamanya membangun sebuah keluarga kecil. Seseorang yang selalu bersedia menjadi apoteker handalnya, menjadi koki idamannya hingga seseorang yang akan selalu bersedia menjadi supir pribadinya.


Winter 2005.

Wooseok kecil yang saat itu baru berumur sembilan tahun merapatkan baju hangatnya agar angin tidak bisa menembus masuk ke dalam tubuhnya yang lemah tersebut.

“Hai!”

Wooseok menoleh dan mendapati seseorang yang lebih tinggi darinya itu sedang tersenyum ke arahnya.

“Ini untukmu”

Anak lelaki itu memberikan satu buah hot pack kepada Wooseok. Wooseok hanya menatap hot pack tersebut tanpa berniat mengambilnya.

“Ambil lah, aku tidak jahat”

Wooseok menatap anak lelaki di hadapannya lagi. Tubuhnya tinggi, tapi anak itu kurus. Wooseok tidak tau umurnya bahkan namanya.

“Bibirmu sudah membiru, kau akan mati kedinginan”

Wooseok melihat tangannya yang sudah ditarik pelan oleh anak di hadapannya. Selanjutnya, sebuah hot pack sudah berada di tangan dingin Wooseok.

“Terimakasih....”

“Jinhyuk, namaku Jinhyuk”

Wooseok kembali menatap anak lelaki di hadapannya yang sudah mengulurkan tangannya, mengajaknya berjabat tangan.

“Terimakasih Jinhyuk”

Wooseok tersenyum kecil dan menerima uluran tangan Jinhyuk. Hari itu, saat salju pertama turun di musim salju, pertama kalinya Wooseok dan Jinhyuk berkenalan.


Winter 2008.

“Kim Wooseok!”

Wooseok menoleh dan mendapati seorang anak lelaki berlari pelan ke arahnya. Wooseok tersenyum melihat anak lelaki tersebut.

“Kenapa tidak menungguku? Aku kan sudah bilang, tunggu aku sebentar saja”

Wooseok berjalan bersisian dengan anak lelaki yang sedang setengah terengah tersebut.

“Kau lama, Jinhyuk. Kan aku sudah bilang, jangan terlalu banyak bermain games!”

Jinhyuk menghentikan langkahnya mendengar ucapan Wooseok. Wooseok menoleh dan memberikan tatapan bertanya ke arah Jinhyuk.

“Aku tidak bermain games! Aku menunggu kucingku melahirkan, Seok!”

Wooseok tersenyum mendengar penjelasan Jinhyuk tersebut. Tetapi Jinhyuk, masih dengan tatapan serius menatap Wooseok.

“Aku serius! Kucing yang kita temui itu sudah melahirkan. Anaknya berjumlah lima ekor, mereka berbeda corak”

Jinhyuk pun melanjutkan langkahnya sambil menceritakan alasan mengapa ia terlambat bangun pagi itu.

“Oh iya? Aku mau lihat! Aku mau main ke rumah Jinhyuk”

Wooseok akan menjadi bersemangat jika sudah berurusan dengan kucing.

“Ayok! Aku belum memberikan nama untuk anak kucing itu, kita bisa kasih nama untuk anak-anak kucing itu”

Wooseok mengangguk semangat mendengar ucapan Jinhyuk.


Winter 2011.

“Sudah lah, Seok! Jangan menangis lagi”

Jinhyuk duduk di karpet beludru yang berada di kamar Wooseok. Disebelah Jinhyuk, ada Wooseok yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Apa perlu aku memukul Cho Seungyoun itu agar kamu berhenti menangis?”

Wooseok menoleh ketika mendengar ucapan Jinhyuk tersebut. Jinhyuk dapat dengan jelas melihat hidung Wooseok yang memerah, bibirnya yang gemetar serta matanya yang sembap akibat menangis.

“Tidak perlu... hiks... Aku tidak apa-apa.... hiks...”

Jinhyuk menatap Wooseok iba. Patah hati pertama Wooseok dan Jinhyuk adalah saksi betapa menyedihkannya Wooseok saat ini.

“Jangan menangis! Kau mau apa? Es krim? Ah! Musim dingin, kita tidak mungkin makan es krim!!! Hm.... Ceker pedas! Kau mau ceker pedas? Ceker pedas Paman Siwon yang paling terkenal, ayok kita kesana!”

Senyuman di wajah Wooseok akhirnya muncul. JInhyuk dengan berbagai cara membuat Wooseok tertawa, akhirnya berhasil.

“Jinhyuk... terimakasih”

Jinhyuk mengangguk dan tersenyum lalu mengusap air mata yang masih mengalir dari kedua mata indah Wooseok.


Winter 2014.

“Brengsek!!!”

Jinhyuk menarik kaos lelaki dihadapannya dan mendorongnya hingga lelaki tersebut jatuh terjerembab ke lantai. Lelaki yang sudah tersungkur ke lantai tersebut tersenyum sinis ke arah Jinhyu.

“Waow ada pahlawan kesiangan rupanya disini?”

Lelaki yang menjadi lawan Jinhyuk malam itu pun berdiri, merapihkan bajunya sebelum berjalan ke arah Jinhyuk yang sedang membantu Wooseok menutup tubuh bagian atasnya.

“Kau menganggu makan malamku, anak muda”

Jinhyuk berbalik karena bahunya ditarik paksa oleh lelaki yang sekarang sudah berada di hadapannya. Tangan Jinhyuk terkepal, raut wajah Jinhyuk mengeras.

“Tidak usah ikut campur urusanku. Aku tidak pernah memaksanya”

Mata Jinhyuk menyiratkan kemarahan. Wooseok yang berada di belakang Jinhyuk menarik pelan ujung sweater yang digunakan Jinhyuk malam itu.

“Jinhyuk....”

Suara Wooseok bergetar. Jinhyuk menoleh untuk memastikan kondisi Wooseok baik-baik saja. Jinhyuk menarik pelan tangan Wooseok dan menggenggamnya. Jinhyuk pun melangkah menjauhi lelaki tersebut.

“Hei mau kemana? Sombong sekali tidak mau berbagi dengaku”

Langkah Jinhyuk terhenti. Jinhyuk melepas gengaman tangannya dan berbalik hanya untuk memberikan sebuah bogem mentah kepada lelaki tidak sopan tersebut.

“Jaga mulutmu!”

Jinhyuk kembali membuat lawan di depannya tersungkur. Jinhyuk pun menarik Wooseok menjauh dari tempat laknat tersebut.

“Jinhyuk.....”

“Jinhyuk.... Maaf....”

Jinhyuk mengabaikan Wooseok dan tetap fokus dengan jalanan lenggang di hadapannya. Wooseok ia abaikan.

“Jinhyuk....”

“Jinhyuk.... Aku takut....”

Jinhyuk menghebuskan nafasnya kasar. Jujur, Jinhyuk saat itu sangat ingin memeluk Wooseok. Tapi dilain sisi, Jinhyuk marah dengan dirinya sendiri. Jinhyuk marah, karena ia tidak dapat menjaga Wooseok dengan benar.

“Aku takut Jinhyuk....”

“Jinhyuk maaf....”

Suara Wooseok mulai bergetar. Jinhyuk menepikan mobilnya sebelum membawa Wooseok ke dalam dekapannya.

“Kau aman. Tidak ada orang jahat itu lagi”

Jinhyuk memeluk Wooseok erat. Tangannya mengusap punggung rapuh Wooseok. Jinhyuk merapalkan kalimat-kalimat yang dapat menenangkan Wooseok.

“Aku takut.... Jinhyuk aku takut....”

Wooseok menangis dalam pelukan Jinhyuk dan Jinhyuk jelas dapat merasakan kemejanya yang basah karena air mata Wooseok.

“Wooseok tidak usah takut. Ada aku”

Jinhyuk masih merapalkan kalimat-kalimat penenang hanya untuk Wooseok.

“Jinhyuk... Takut.... Aku kotor... Aku takut... Jinhyuk....”

Tubuh Wooseok bergetar hebat. Jinhyuk melepas pelukannya hanya untuk mengusap air mata Wooseok dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di kening Wooseok.

“Kamu aman... Orang jahat itu engga akan datang lagi”

Jinhyuk kembali membawa Wooseok ke dalam dekapannya dengan usapan dipunggung Wooseok yang tidak pernah berhenti.


Winter 2017.

“Aku mencitaimu”

Jinhyuk mendekatkan wajah ke wajah Wooseok yang semakin memerah. Wooseok tersenyum melihat JInhyuk dan dengan tidak sabaran, Wooseok mengalungkan tangannya di leher Jinhyuk.

“Aku lebih mencintaimu”

Jinhyuk tersenyum mendengar jawaban Wooseok. Bibir Wooseok yang kemerahan dilumat habis oleh Jinhyuk. Tubuh Wooseok terdorong oleh tubuh Jinhyuk sehingga posisi Wooseok sudah berbaring di sofa ruang tengah apartment Wooseok.

“Jinhyuk... nghhh...”

Wooseok memukul pelan dada Jinhyuk, meminta Jinhyuk untuk memberi jeda pada lumatan di bibirnya. Wooseok membutuhkan pasokan oksigen.

“Aku mencintaimu”

Jinhyuk melepaskan tautan bibirnya dan Wooseok, lalu mulai menjilat dan mencium leher putih Wooseok. Tangan Jinhyuk tidak tinggal diam, tangannya mulai masuk ke dalam kaos putih kebesaran milih Wooseok.

“Aku mencintaimu”

Jinhyuk meneruskan kecupannya hingga bibirnya menemui tulang menonjol milik Wooseok. Tanda keunguan mulai muncul di sekitar tulang selangka milik Wooseok. Jinhyuk terus mengukir tubuh Wooseok dengan hasil karyanya.

“Aku mencintaimu”

Bibir dan tangaan Jinhyuk bergerak seirama. Tangan JInhyuk mendorong kaos milik Wooseok hingga dada sempurna milik Wooseok terlihat. Dua bagian tubuh menonjol milik Wooseok tidak luput dari jari tangan Jinhyuk.

“Aku mencintaimu”

Jinhyuk benar-benar tidak memberikan Wooseok waktu untuk bernafas barang sedetikpun. Jari jemari Jinhyuk sudah digantikan oleh mulut milik Jinhyuk. Seperti seorang bayi yang sedang kehausan, Jinhyuk menghabisi dua buah tonjolan di dada kanan serta kiri milik Wooseok.

“Aku mencitaimu”

Bibir Jinhyuk yang basah mulai turun menuju perut rata milik Wooseok. Tangan Jinhyuk bekerja lebih keras guna membuka kancing pengait celana jeans milik Wooseok.

“Aku mencintaimu”

Jinhyuk semakin kasar, tetapi Wooseok menikmati semua hal yang diberikan oleh Jinhyuk. Wooseok membantu pekerjaan Jinhyuk, dirinya sedikit mengangkat tubuh bagian bawahnya agar Jinhyuk dapat dengan mudah meloloskan celana jeans yang membalut kaki kurusnya itu.

“Aku mencintaimu”

Tangan Jinhyuk mulai bermain di sekitar paha dalam milik Wooseok. Memberikan reaksi menyengat yang sangat jelas dapat dirasakan oleh Wooseok. Jinhyuk menoleh guna melihat dan beradu tatap dengan Wooseok. Wooseeok mengangguk dan detik selanjutnya indera penciuman Jinhyuk sudah berada di atas kejantannya Wooseok yang masih tertutup oleh bagian terakhir yang menutupi tubuh bagian bawah Wooseok.

“Jinhyuk, aku mencintaimu....”

Wooseok melengkungkan tubunya ketika tangan Jinhyuk mulai bermain di pusat tubuhnya. Memberikan sengatan-sengatan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Wooseok menarik wajah Jinhyuk agar ia bisa melihat dengan jelas wajah lelaki tersebut.

“Please...”

Wooseok memohon sebelum melumat bibir Jinhyuk tanpa ampun. Jinhyuk pun dnegan tidak sabar menggendong tubuh Wooseok dan masuk ke dalam kamar tidurnya.


Winter 2020.

“Jinhyuk!!!”

Wooseok mulai menaikan nada bicaranya ketika kekasihnya sama sekali tidak mendnegarkannya.

“Aku lelah, jangan buat aku marah”

Jinhyuk membuang asal jas yang ia kenakan dan melagkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tidur miliknya dan Wooseok.

“Aku butuh penjelasan”

Wooseok mengikuti langkah Jinhyuk. Ditangan Wooseok ada sebuah kemeja dengan sebuah cetakan bibir di kerah kemeja milik Jinhyuk tersebut.

“Penjelasan apa? Itu? Lipstick milik sekertarisku. Ada lagi?”

Jinhyuk menatap Wooseok tajam. Sedangkan Wooseok dengan sekuat tenaga menahan air matanya. Ia harus kuat. Ia tidak boleh lemah.

“Jadi... ini yang kau bilang lembur? Hingga kau tidak bisa pulang? Bahkan tidak sempat membalas pesanku?”

Jinhyuk menghebuskan nafas kasar. Ia mengacak kasar rambutnya. Pertahanan Wooseok hancur, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.

“Kau bilang... hiks... lembur.... Kau bilang.... hiks... kau mengejar deadline.... kau bilang... hiks... hanya mencintaiku”

Wooseok terduduk lemas di lantai dingin apartment Jinhyuk. Disebelahnya masih tergelatak sebuah kemeja yang sangat ingin Wooseok bakar.

“Aku menunggumu malam itu.... Kau bilang, kau lembur.... Aku menunggumu, agar aku bisa memanaskan makanan untukmu. Aku menunggumu, agar aku bisa menyiapkan air hangat untukmu. Aku menunggumu, agar aku bisa memelukmu dan menghilangkan rasa lelahmu”

Wooseok menatap Jinhyuk dengan air mata yang sepertinya enggan untuk berhenti. Beberapa kali tangan terkepal Wooseok memukul dadanya sendiri, berusaha menghilangkan rasa sakit yang teramat sangat.

“Malam itu.... Kau bahkan menamparku.... Kau mendorongku, karena kau bilang aku menutupi jalanmu”

“Malam itu.... Aku tidak menemukan sosok Jinhyuk milikku”

Wooseok menceritakan semuanya. Malam dimana Jinhyuk pulang dengan keadaan mabuk. Penampilan Jinhyuk jauh dari kata rapih. Wooseok mencium wangi parfum wanita malam itu. Bahkan Wooseok melihat bekas keunguan di sekita leher Jinhyuk. Malam itu, Wooseok menangis karena rasa sakit akibat dorongan Jinhyuk serta rasa sakit karena melihat pengkhiatan Jinhyuk.

“Bangun”

JInhyuk memperintahkan Wooseok untuk bangun. Perintah yang dikeluarkan Jinhyuk dengan nada dan tatapan yang dingin. Wooseok menggeleng.

“Kim Wooseok”

Wooseok masih terdiam dan sesekali nafasnya tersenggal menahan tangis. Jinhyuk menghela nafas panjang sebelum berlutut dihadapn Wooseok.

“Maaf....”

Jinhyuk mengusap puncak kepala Wooseok.

“Aku emang bego banget, tolol, engga berguna. Aku cuma bisa nyakitin kamu aja”

Jinhyuk masih mengusap puncak kepala Wooseok hingga Wooseok menarik tangan Jinhyuk, membuat Jinhyuk menatap dalam ke mata Wooseok yang sudah memerah.

“Maaf”

Jinhyuk mengecup kening Wooseok dan terus menerus merapalkan kata maaf tanpa henti malam itu


Winter 2023.

“Jinhyuk banguuunnn!”

Wooseok membangunkan Jinhyuk dengan tidak sabaran.

“Jinhyuk! Jinwoo demam”

Jinhyuk otomatis membuka matanya ketika mendengar sebuah nama yang diucapkan Wooseok. Jinhyuk menatap Wooseok dengan seorang anak laki-laki dalam gendongannya yang tidak berhenti menangis. Seorang anak lelaki berusia tiga tahun yang tiga bulan lalu berhasil di adopsi oleh Jinhyuk dan Wooseok.

“Aku emang engga bisa jadi orang tua, harusnya kita engga adopsi Jinwoo”

Wooseok terisak saat dokter sedang melakukan pemeriksaan kepada Jinwoo.

“Jangan pernah bilang begitu, kita sama-sama belajar”

Jinhyuk menenangkan Wooseok dan mengusap pelan punggung Wooseok.

“Orang tua Jinwoo?”

Wooseok dan Jinhyuk menghampiri suster yang memanggil orang tua Jinwoo dan menjelaskan bahwa demam Jinwoo sudah turun dan mereka bisa menghampiri Jinwoo di IGD saat itu juga.

“Papaaaa”

Jinwoo mengangkat tangannya ketika melihat Wooseok dan JInhyuk datang menghampirinya.

“Papa, ni pa?”

Jinwoo menunjuk selang infus ditangannya. Wooseok memposisikan dirinya di kasur milik Jinwoo dan Jinhyuk duduk di kursi sebelah kasur yang ditempati Jinwoo serta Wooseok itu.

“Ini namanya infus”

Wooseok mulai ,menjelaskan segalanya dengan bahasa sederhana kepada Jinwoo dan Jinhyuk tersenyum melihat Wooseok yang sedang bercerita.

“Katanya engga bisa jadi orangtua? Tapi nyeritain tentang sakit demam lancar banget”

Jinhyuk meledek Wooseok yang sedang mengusap punggung Jinwoo agar tertidur.

“Ssttt, diem! Nanti Jinwoo bangun”

Jinhyuk menahan tawa ketika mendapatkan tatapan mengancam dari Wooseok.


Winter 2025.

“Selamat tahun baru, Jinhyuk”

“Selamat tahun baru juga, Wooseok”

Jinhyuk mendaratkan bibirnya diatas bibir Wooseok tepat ketika jam menunjukan pukul 24.00, saat pergantian tahun menuju tahun 2026. Jinhyuk tersenyum dan mengusap lembut bibir Wooseok yang memerah dan bengkak karena ulahnya barusan.

“Cie yang tahun ini kepala tiga”

Jinhyuk meledek sambil mencubit pelan hidung Wooseok. Wooseok mengasuh tetapi tertawa karena ulah Jinhyuk.

“Heh! Kamu duluan loh yang kepala tiga, aku sih belakangan”

Wooseok puas tertawa sedangkan Jinhyuk mengerucutkan bibirnya, membuat Wooseok gemas.

“Jangan ngambek! Kamu kepala tiga juga aku tetep sayang kok”

Wooseok mengusap pipi Jinhyuk dan Jinhyuk tersenyum karena ulah Wooseok tersebut. Jinhyuk menarik tangan Wooseok yang masih betah mengusap pipinya, lalu Jinhyuk kembali mendaratkan bibirnya ke atas bibir Wooseok.

“Hyuk?”

Wooseok menarik wajahnya menjauh dari wajah Jinhyuk ketika Wooseok merasakan sesuatu melingkar di jari manisnya. Jinhyuk tersenyum menatap Wooseok.

“Marry me, please?”

Wooseok menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya saat ini. Jinhyuk melamarnya tepat di hari pertama di tahun 2026.

“Hyuk”

“Please?”

Jinhyuk berlutut di depan Wooseok. Mata Jinhyuk penuh pengharapan dan Wooseok dapat melihat semua hal tersebut. Wooseok mengangguk menjawab pertanyaan Jinhyuk.

“Thank you”

Jinhyuk memeluk Wooseok karena bahagia yang tidak dapat ia bendung lagi. Setelah puas mendekap tubuh kecil Wooseok, Jinhyuk kembali mendaratkan bibirnya keatas bibir Wooseok yang membuatnya candu. Lumatan Jinhyuk semakin menggebu, bahkan tangan Jinhyuk sudah masuk ke dalam kaos yang digunakan Wooseok.

“Nghhh...”

Wooseok mengerang ketika bibir JInhyuk mulai menyapa leher putihnya.

“Pa.....:

Pergerakan Jinhyuk dan Wooseok terhenti ketika mereka mendengar suara anak kecil memanggil Wooseok.

“Jinwoo, bangun”

Wooseok mendorong pelan Jinhyuk dan merapihkan penampilannya. Di depan pintu kamar, Jinwoo sudah berdiri sambil memegang boneka kelinci kesayangannya.

“Pa.... susu... pa....”

Wooseok tersenyum dan menghampiri anak semata wayangnya tersebut, sedangkan Jinhyuk hanya dapat menggelengkan kepalanya karena ada sosok kecil yang menganggu aktivitasnya bersama Wooseok.


The present.

“Wooseok, terimakasih”

Wooseok menatap Jinhyuk dalam.

“Terimakasih sudah kedinginan waktu itu. Terimakasih sudah memperlihatkanku apa yang dinamakan namanya patah hati. Terimakasih sudah memberiku kesempatan kedua. Terimakasih sudah hebat menjadi papa untuk Jinwoo. Terimakasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu”

Wooseok tersenyum.

“Jinhyuk.... Terimakasih... Terimakasih untuk hotpacknya. Terimakasih untuk pundaknya ketika aku ingin menangis. Terimakasih sudah selalu menolongku. Terimakasih sudah mau selalu jujur. Terimakasih sudah memberikan izin untukku untuk merawat dan membesarkan Jinwoo. Terimakasih karena sudah memilihku menjadi suamiku.

Jinhyuk tersenyum.

“Aku mencintaimu”

“Aku lebih mencintaimu”

Jinhyuk dan Wooseok kembali larut dalam irama dansa yang lembut. Tidak perduli dengan para tamu undangan. Tidak perduli dengan Jinwoo yang sudah merengek ingin digendong oleh papanya. Hari ini adalah hari bahagia mereka. Kisah mereka memang dimulai di mulai dingin. Tapi mereka berjanji, bahwa mereka akan selalu melukiskan kisah bahagia di setiap musim dalam satu tahun penuh.

fin,


Winter 2027.

“Paaaa, sepatu aku dimana?”

“Sayanggg, tolong pakein dasi aku”

“Sepatumu ada di rak nomer dua, sebelah sepatu papa yang putih”

“Iya sayang! Aku ke kamar”

“Paaa, buku menggambar aku kok engga ada ya?”

“Sayanggg, jas aku yang warna abu-abu dimana ya?”

“Sudah ada paaaa”

“Jasku juga sudah ketemu”

Wooseok menghela nafas panjang dan sesekali memijat pelipisnya. Senin pagi selalu melelahkan bagi Wooseok. Walaupun begitu, dirinya sangat menyukai pekerjaannya dan kesibukannya setiap pagi.

(xposhie)

Curhat.


Sejin meletakan ponselnya ke bawah kasur yang sedang ia tempati lalu Sejin merangsek masuk ke dalam pelukan Seungyoun yang saat itu masih nyenyak dalam tidurnya. Ini adalah hari ke delapan mereka berada di Manchester. Sejin membuat pola lingkaran di dada Seungyoun yang tidak terbalut apapun.

“Youn.... bangun...“ucap Sejin pelan.

“Sleepy head! Ayok kita jalan-jalan”ucap Sejin lagi sambil membawa jarinya menelusuri setiap inch wajah Seungyoun.

Seungyoun mengerang dalam tidurnya. Enggan membuka mata, Seungyoun justru menarik Sejin agar lebih masuk ke dalam pelukannya. Sejin mendengus sebal karena kekasihnya itu justru semakin nyenyak tertidur.

DUG!

“Aw... kamu kenapa?“ucap Seungyoun mengusap dagunya yang baru saja berbenturan dengan kepala Sejin.

“Makanya bangun!!!“ucap Sejin malas.

“Ayok kita jalan-jalan!!!“ucap Sejin merengek.

“Kamu yakin? Semalem aja kamu harus aku gendong karena ga kuat jalan”ucap Seungyoun sambil mengusap lembut puncak kepala Sejin.

“Semalem kan capek jalan-jalan trus ke festival”ucap Seungyoun kembali merengek.

“Engga mau di hotel aja, hm?“ucap Seungyoun genit.

“Engga! No STOP it, aku mau jalan-jalan”ucap Sejin mengerucutkan bibirnya.

“Iya okeee”ucap Seungyoun menyerah.

“Kamu mau mandi duluan atau akuuu?“ucap Sejin semangat.

“Bareng?“ajak Seungyoun gemas yang lalu mengangkat tubuh kecil Sejin ke kamar mandi.


“Youn...”

“hm?”

Sejin dan Seungyoun sekarang sudah berada di salah satu restoran untuk menyantap makan siang mereka. Karena ide gila Seungyou, agenda mandi mereka yang seharusnya hanya menghabiskan 30 menit untuk berdua, jadi bertambah hingga dua jam. Akibatnya, Sejin dan Seungyoun baru keluar hotel saat jam makan siang.

“Kamu tau engga? Yohan masa jadian sama Yuvin!“ucap Sejin pelan.

“Uhuk! What? Yohan jadian sama si Bau? Uhuk! Uhuk!“Seungyoun tersedak makanan karena kaget dan menyebabkan dirinya terbatuk.

“Ih! Pelan-pelan aja, lagian segala ngatain Yuvin bau, kamu juga bau kalo keringetan!!!“ucap Sejin mengusap daerah sekitar bibir Seungyoun.

“Baunya aku enak kan? Kamu suka ndusel-ndusel kalo aku keringetan tuh”ucap Seungyoun menggoda.

“Ya... itu kan.... Gitu....“ucap Sejin bingung.

“Gitu gimana?“ucap Seungyoun kembali menggoda Sejin.

“Udah ih!!! Kita kan lagi ngomongin Yohan sama Yuvin”ucap Sejin dengan wajah bersemu merah,

“Katanya, mereka jadian tanggal 8 juga! Masa barengan sama tanggal jadian kita?“ucap Sejin tersenyum.

“Mereka jadian jam berapa?“tanya Seungyoun sambil melihat jam di telfon genggamnya.

“Ya.... mana aku tau?“ucap Sejin bingung.

“Waktu di Indonesia lebih cepet 7 jam dari disini. Kalo mereka jadian jam 8 malem, berarti duluan mereka jadiannya....“ucap Seungyoun lagi.

“Ya terus?“Sejin semakin bingung.

“Nanti pasti di Bau ngatai aku nih!“ucap Seungyoun panik.

“Segitunya?“ucap Sejin tertawa.

“Ya gitu emang kita mainannya”

“Hahaha yaudah sih kenapa? Lagian temen kamu lagi seneng tuh, kasih selamat atau apa gitu!“ucap Sejin lagi.

“Eh tapi Youn!”

“Hm? Apa lagi? Kamu sama temen-temen kamu suka gosip ya?“ucap Seungyoun tersenyum.

“Bukan gituuu!!“ucap Sejin malas.

“Hahaha ya gimana? Ngambek mulu”ucap Seungyoun mencubit pelan pipi Sejin.

“Ka seungwoo itu emang suka diemin orang ya? Byungchan bilang, katanya dia diemin sama ka seungwoo, padahal mereka lagi di Namsan Tower”ucap Sejin sedih.

“Ha? Kayanya Bang Seungwoo engga mungkin diemin orang kalo orang itu engga salah sih”ucap Seungyoun menjelaskan.

“Iya sih, Byungchan emang moody trus kadang manja. Tapi masa ka seungwoo tega sih sama Byungchan? Jauh-jauh ke Korea trus di diemin?”

“Coba besok kamu tanya sama Byungchan, aku yakin pasti mereka udah engga diem-dieman deh”ucap Seungyoun dan Sejin mengangguk.

“Udahan belum makannya? Ayok lanjut jalan”ucap Seungyoun mengulurkan tangannya yang langsung disambut Sejin dengan senyuman.

(xposhie)

Perjalanan panjang.


“Ayok ka!“Byungchan berlari kecil menuju ke Namsan tower yang sudah berada di hadapannya.

“Chan.... beneran? Jalan kaki?“tanya Seungwoo bingung dan Byungchan mengangguk.

“Sore kok adem iniii”ucap Byungchan menarik tangan Seungwoo.

Seungwoo pun terdiam karena pergerakan Byungchan yang tiba-tiba.

“Iya oke, tapi ada syaratnya!“ucap Seungwoo.

“Syarat apaan sih kaaa?“ucap Byungchan bingung.

“Gandengan sepanjang jalan”ucap Seungwoo tenang dan Byungchan pun menatap Seungwoo kaget.

“Yaudah kalo engga mau, kita engga jalan kaki”ucap Seungwoo lagi.

“Yampun kayak anak kecil suka ngambek! Yaudah ayokkk”ucap Byungchan mengulurkan tangan kirinya untuk di genggam Seungwoo.

Seungwoo pun menerima uluran tangan Byungchan dan menggenggamnya.

10 minutes later.

“Kaaaaa, capek”ucap Byungchan pelan dan Seungwoo menoleh.

“Kamu yang paling semangat jalan kaki, tapi belum ada setengah jalan kok capek?“ucap Seungwoo dan Chan hanya tersenyum.

“Yaudah sini aku gendong”ucap Seungwoo yang lalu memposisikan dirinya berjongkok di belakang Byungchan.

“Engga usah, kita istirahat aja tiga menit baru deh lanjut jalan”ucap Byungchan malu.

“Waktu adalah uang chan. Tiga menit itu lumayan bisa 200 meter kita jalan”ucap Seungwoo sok tau.

“Udah ayok buruan!!“ucap Seungwoo kembali memposisikan dirinya di depan Byungchan dan Byungchan pun naik ke punggung Seungwoo.

“Woaaahhh!!!“Byungchan segera berlari ketika turun dari gendongan Seungwoo.

Seungwoo pun hanya bisa tersenyum melihat Byungchan yang heboh berjalan cepat kesana kemari.

“Ka, kita beli gembok yuk! Yang ditulis kayak orang-orang”ucap Byungchan excited.

“Tapi itu bukannya buat orang pacaran ya Chan?“tanya Seungwoo penasaran yang membuat wajah Byungchan memerah.

“Ah yaudah kalo ka seungwoo engga mau, aku beli sendiri aja”ucap Byungchan yang melangkahkan kakinya masuk ke sebuah kedai kecil yang menjual berbagai macam gembok.

“Chan....“ucap Seungwoo pelan tapi tidak di dengarkan Byungchan.

“Byungchan....“Seungwoo pun mengejar Byungchan dan menarik tangan Byungchan.

“Duduk dulu yuk?“ucap Seungwoo yang melihat raut wajah Byungchan sudah tidak segembira tadi.

Byungchan menghentakan kakinya dan berjalan ke arah sebuah kursi sedangkan Seungwoo berjalan di belakangnya.

“Mau jajan dulu engga?“tanya Seungwoo dan Byungchan menggeleng.

“Beneran?“tanya Seungwoo lagi dan Byungchan mengangguk.

“Oh yaudah, aku jajan dulu ya?“ucap Seungwoo yang lalu meninggalkan Byungchan.

“Ih engga peka!“ucap Byungchan malas.


Seungwoo dengan lahap menyantap odeng dengan kuah yang mengepul itu. Karena demi apapun, Seungwoo lelah setelah menggendong Byungchan dan Seungwoo juga lapar karena tenaganya terkuras habis.

“Mau engga?“ucap Seungwoo menunjuk dua tusuk odeng di hadapannya dan Byungchan menggeleng.

“Beneran?“tanya Seungwoo lagi dan Byungchan mengangguk.

“Yaudah”ucap Seungwoo sambil menyantap tteokbokki di hadapannya.

“Aku ke toilet dulu”ucap Seungwoo pelan yang diacuhkan Byungchan.

(xposhie)

Perkiraan.


Wooseok menyedot boba yang tersisa dari gelas plastik yang di genggamnya. Setelah mengantar Jendral ke petshop, Wooseok dan Jinhyuk sepakat untuk berhenti di sebuah kedai boba yang letaknya tidak jauh dari pet shop tersebut.

“Hyuk...”

“hm...”

“Jinhyuk!!!”

“Hm”

Dug!

“Aw... kenapa sih Seok?“ucap Jinhyuk meringis karena Wooseok menendang tulang keringnya.

“Kamu aneh engga sih sama temen-temen kita?“tanya Wooseok penasaran.

“Hah? Iya sih temen-temen aku emang udah aneh dari dulu”ucap Jinhyuk datar.

“Ih bukan itu maksud aku!!!“ucap Wooseok menahan emosi.

“Ya gimanaaaa?“ucap Jinhyuk gemas.

“Ini Seungyoun sama Sejin... mereka pacaran beneran? Trus Yuvin sama Yohan juga, manggilnya aku kamu. Eh si Yuvin malahan manggil Yohan pake kata-kata yang”ucap Wooseok sambil memperhatikan handphone di tangannya.

“Loh kita kan pake aku kamu juga, engga pacaran kan?“tanya Jinhyuk yang berhasil mendapatkan tatapan sinis dari Wooseok.

“Ya tapi kan kita engga pake yang-yangan kayak Yuvin Yohan”ucap Wooseok sinis.

“Oh jadi mau nih pake yang-yangan? Aku sih engga masalah, beneran deh. Malahan aku bersyukur hehehe”ucap Jinhyuk tersenyum.

“Apaan sih hyuk!“ucap Wooseok memukul pelan Jinhyuk.

“Beneran loh, aku engga bercanda. Kalo kamu mau aku panggil sayang, aku rela lahir dan bathin nih”ucap Jinhyuk seriurs.

“Siapa juga pake sayang-sayangan?“ucap Wooseok pelan.

“Maunya kamu jadi apa?“tanya Jinhyuk menatap Wooseok dalam.

“Apaan sih hyuk! Udah yuk, Jendral udah selesai nih kayanya”ucap Wooseok salah tingkah.

“Wooseok! Jawab duluuu, kamu maunya aku itu jadi apanya kamu?“tanya Jinhyuk dan Wooseok hanya dapat menatap Jinhyuk dalam diam.

“Udah hyuk, pulang yuk”ucap Wooseok yang segera bergegas pergi.

(xposhie).

Finale


Seungyoun menyelesaikan bait terakhir rapnya sambil menatap satu titik. Menatap seseorang di bangku penonton VIP. Orang tersebut tersenyum dan memberikan standing applause hanya untuk Seungyoun.

Seungyoun pun turun dari panggung dengan ucapan selamat yang tidak berhenti mengalir dari staff yang juga mengambil andil keberhasilan konser pertamanya malam itu. Ucapan terimakasih juga tidak lupa diucapkan Seungyoun kepada seluruh staff yang berada di belakang panggung malam itu.

Mata Seungyoun beberapa kali menatap ke arah seseorang yang berada di dekat pintu dengan senyum kebanggaan. Rasanya Seungyoun ingin berlari dan memeluk sosok mungil tersebut, sosok yang selalu ada bahkan saat Seungyoun berada di posisi terpuruknya.

“Aku mau nyerah aja”ucap Seungyoun kala itu.

“Hah?“Sejin menatap Seungyoun bingung.

“Laguku engga dilirik sama sekali sama produser, ini udah produser kelima belas dan lagu yang aku ajuin udah lebih dari tujuh puluh lagu”ucap Seungyoun terduduk di sofa ruang tamu apartment Sejin.

“Kamu tau engga cerita tentang orang yang lagi menggali sebuah berlian?“tanya Sejin dan Seungyoun menggeleng.

“Aku pernah denger cerita yang intinya jangan pernah nyerah untuk dapetin segala sesuatu yang kita mau. Jangan nyerah walaupun jalan yang kita laluin berat dan jangan pernah berhenti walaupun apa yang kita lakuin untuk dapetin hal itu berliku”ucap Sejin menjelaskan.

“Gini deh, kalo kamu nyerah sekarang nih ya... Trus siapa yang tau, ternyata ada produser yang ngelirik lagu kamu. Produser ke tujuh belas, tapi kamu nyerah di produser kelima belas. Kalo kamu nyerah, kamu nyesel engga?“tanya Sejin dan Seungyoun mengangguk.

“Tapi siapa yang bakal ngejamin kalo lagu aku bakal diterima produser ke tujuh belas?“tanya Seungyoun dan Sejin menaikan kedua bahunya.

“Bahkan aku engga bisa ngejamin hal itu. Tapi aku jamin dan janji, aku bakal ada selalu disamping kamu bahkan walaupun kamu harus datengin produser ke delapan puluh tujuh!“ucap Sejin meyakinkan dan Sejin membuktikan semua itu. Seungyoun berhasil masuk ke dapur rekaman saat dirinya mengajukan lagunya ke produser ke dua puluh satu. Sedikit mundur dari tebakan Sejin, tapi omongan Sejin memang benar adanya.

Kembali ke masa ini, Seungyoun saat ini sedang berjalan di sepanjang jalan dekat sungai Han dengan tangan yang erat menggengam tangan Sejin. Setelah berpamitan dan menjanjikan makan malam bersama esok hari, Seungyoun meminta waktu berdua dengan Sejin.

“Jin...”

“Hm..”

“Makasih ya”

“Udah diem! Kamu udah ngomongin semuanya dipanggung, jangan bikin aku nangis lagi”ucap Sejin pelan.

“Kamu nangis? Beneran?“ucap Seungyoun dan Sejin mengangguk.

Seungyoun tertawa renyah sebelum akhirnya membawa Sejin kedalam pelukan eratnya. Seungyoun mengucapkan kata terimakasih yang teramat banyak hanya untuk Sejin, orang yang selalu ada di sampingnya bahkan saat dirinya berada di posisi terendah dalam hidupnya.

“Jin, makasih banget untuk selalu ada bahkan disaat terendah dalam hidup aku. Aku harap kamu selalu ada untuk aku sepuluh tahun, dua puluh tahun bahkan lima puluh tahun lagi”ucap Seungyoun.

“Lama amat lima puluh tahun”ucap Sejin mengangkat wajahnya untuk menatap Seungyoun.

“Emang kamu engga mau lama-lama sama aku?“tanya Seungyoun panik.

“Haha ya itu tergantung kamu, kamu maunya gimana?“tanya Sejin meledek.

“I want to walk towards the future with you. You are where I wanna be. You are my happy ending. For sure, you will be my final love story. So babe please be my finale”ucap Seungyoun sambil menatap lekat ke dua manik mata Sejin.

Sejin tersenyum dengan air mata yang siap terjun kapanpun. Sejin menarik kerah baju yang Seungyoun gunakan dan menyatukan bibir mereka berdua. Sejin mengalungkan tangannya di leher Seungyoun dan dengan leluasa memberikan akses Seungyoun untuk mengeksplor seluruh bibirnya.

end.

(xposhie)

Penjelasan Yuvin.


Setelah selesai mengambil barang, Yuvin dan Yohan memutuskan menikmati bakso langganan mereka. Yohan memperhatikan Yuvin beberapa kali tersenyum saat membals chat yang masuk ke handphonennya, hingga tanpa sengaja Yohan melihat adanya tanda hati yang dalam jendela chat yang tidak sengaja terbuka tersebut.

“Gue ke toilet bentar ya! Mules tiba-tiba”ucap Yuvin dan Yohan mengangguk.

Yohan memijat pelipisnya sambil sesekali menghela nafas panjang. Yohan pun memutuskan untuk meninggalkan Yuvin, setidaknya ia harus menenangkan dirinya. Yoha tidak mau bertindak berlebihan, mengingat dirinya dan Yuvin tidak terjalin ikatan apapun.

“Bang, ini bakso dua ya sama teh botol”ucap Yohan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya.

“Kalo temen saya balik, bilang saya udah pergi ya bang. Makasih!“ucap Yohan lagi sebelum meninggalkan kedai bakso tersebut.


“Gue di depan”Yohan menghela nafas berat ketika sebuah notifikasi menampilan sebuah chat dari orang yang sore itu sangat ia hindari.

“Anjirlah ngapain sih”gerutu Yohan.

“Kaaaa, ada temennya!!“ucap adik Yohan dari lantai satu rumahnya.

“Suruh pulang ajaaa”teriak Yohan.

“Udah aku suruh masuk, soalnya bawa martabak buat aku”ucap adik Yohan lagi.

“Yaelah disogok pake martabak gampang banget sih”ucap Yohan menendang-nendang kakinya ke langit.

Yohan pun memutuskan untuk turun menemui Yuvin, tetapi sebelumnya ia melihat penampilannya di kaca yang terletak di kamarnya.

“Lah anjir, ngapain gue ngaca dah?“ucap Yohan bingung.

Yohan menghentakan kakinya selama menuruni anak tangga menuju ruang keluarga rumahnya.

“Engga sakit tuh kaki digituin?“ucap Yuvin yang sedang duduk dengan santai.

“Berasa rumah sendiri pak, santai amat duduknya”tanya Yohan malas.

“Ya kalo nanti lo ngajak gue tinggal disini sih, berarti ini jadi rumah gue juga kan?“tanya Yuvin meledek.

“Apaan sumpah gue engga ngerti”ucap Yohan malas.

“Mau ngapain?“tanya Yohan tanpa mendudukan dirinya di sofa.

“Engga mau duduk dulu? Kan rumah sendiri”ucap Yuvin tersenyum.

“Berisik, buruan elah!!“ucap Yohan kesal.

“Kukun bukan siapa-siapa gue”ucap Yuvin tiba-tiba.

“Hah? Apaan? Kukun? Siapa? Emang gue nanya apaan?“tanya Yohan pura-pura bingung.

“Lo liat reply bang seungwoo sama bang seungyoun kan? Trus denger omongan bang mingyu juga? Apa jangan-jangan liat chat gue sama kukun juga?“tanya Yuvin membombardir Yohan.

“Apaan sih, sok tau banget”ucap Yohan yang akhirnya duduk di sebelah Yuvin.

“Gue gatau siapa itu siapa yang ngajakin lo sparring engga kenal kok, bukan urusan gue juga”ucap Yohan enteng.

“Kok tau kukun ngajakin gue sparring? Gue padahal cuma bilang chat gue sama kukun trus replyan bang seungyoun sama bang seungwoo, engga nyebutin sparring sama sekali”ucap Yuvin gemas.

“Ya... itu... tadi lo bilang kok!“ucap Yohan merengek.

“Hahaha gue ketemu kukun pas nonton bareng, emang sempet deket tapi yaudah gitu aja”ucap Yuvin menjelaskan.

“Gitu aja gimana?“tanya Yohan penasaran.

“Nah kan penasaran jugaaaa”Yuvin tertawa.

“Balik sana lo ka! Ganggu sumpah, besok gue latihan. Gue mau tidur!!!“ucap Yohan mendorong pelan badan Yuvin.

Yuvin menarik tangan Yohan sehingga wajah Yuvin dan Yohan hanya berjarak beberapa senti. Yohan beberapa kali mengedipkan matanya dan berusaha agar tidak menatap Yuvin. Yuvin tersenyum, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Yohan. Yuvin menarik tangan Yohan dan menggenggam tangan Yohan.

“Haaaaah gue seneng deh”ucap Yuvin sambil mengusap punggung tangan Yohan dengan ibu jarinya.

“Seneng kenapa?“ucap Yohan yang masih membeku disebelah Yuvin.

“Seneng, ternyata lo perhatian sama gue. Cemburu kalo gue deket sama yang lain”YUvin tersenyum dan menoleh ke arah Yohan.

“Siapa yang cemburu sih?“tanya Yohan panik.

“Yaudah iya engga cemburu kok, cuma engga suka aja gue deket sama yang lain, gitu kan?“tanya Yuvin lagi.

“Ya terserah lo mau deket sama siapa, kan kita engga ada hubungan apa-apa kaaaa”ucap Yohan yang mulai melunak.

“Jadian yuk?“tanya Yuvin tiba-tiba.

“Biar lo bisa bebas cemburu sama gue, biar lo bisa bilang dengan leluasa kalo lo engga suka gue deket sama orang lain, biar lo—–“ucapan Yuvin terputus ketika dengan secepat kilat Yohan mendaratkan kecupan yang teramat singkat di pipi Yuvin.

“Anj—–”

“Balik sana! Besok aku latihan, jemput jam 10”ucap Yohan berdiri dan berusaha melepas genggaman tangannya.

“Aku?“tanya Yuvin.

“Buruaaan, nanti kamu pulangnya kemaleman trus masuk angin lagi”ucap Yohan menarik tangan Yuvin, menyuruhnya berdiri.

“Hehehehe”Yuvin tertawa dan berdiri karena tarikan tangan Yohan.

“Udah engga usah ketawa mulu, pulangggg”ucap Yohan mendorong pelan tubuh Yuvin.

“Sebelah doang, engga balance”Yuvin menunjuk pipinya.

“Pulaaangggg”ucap Yohan malu sambil mendorong pipi Yuvin menjauh.

“Hahaha yaudah sana tidur, besok aku jemput”ucap Yuvin sambil mengusak rambut Yohan gemas.

(xposhie)

Kegiatan Yuvin.


“Kaaaa, bangun! Ada temen kaka ih!!!!“ucap adik Yohan menarik selimut Yohan secara paksa.

“Siapa?“tanya Yohan malas.

“Engga tau, tapi ganteng!!“ucap adik Yohan lagi sambil tersenyum.

“Hm? Ka Sejin sama Ka byungchan lagi liburan kayanya deh, Ka Wooseok juga ga mungkin bangun pagi”Yohan kembali menarik selimutnya.

“Buka ih!!! Katanya temen taekwondo ka Yohan”ucap adiknya kembali menarik selimut Yohan.

“Apaan sih! Siapa? Tanya namanya!!“ucap Yohan mulai emosi.

“Yaudah sih, turun aja susah banget! Aku bilangin bunda kalo ka yohan udah punya pacar”ucap adik Yohan lalu lari keluar kamar.

“Ishhh siapa sih ganggu ketenangan gue”Yohan pun memilih turun untuk menyambut tamu tak diundangnya tersebut.

“LAH?!?!??!?! NGAPAIN???????!?!?!?!“Tanya Yohan panik dengan wajah bantalnya.

“Temenin gue lagi, yuk!“ucapnya tamunya tersebut.

“Bukannya lo sakit ya ka?“tanya Yohan aneh.

“Kan gue udah bilang, kemaren habis vidcall sama lo itu demam gue udah turun”ucap Yuvin yang merupakan tamu Yohan itu.

“Trus mau temenin kemana?“tanya Yohan duduk di sebrang Yuvin.

“Makan bakso?“Yohan menebak dan Yuvin menggeleng.

“Sarapan bubur”ucap Yuvin tersenyum.

“Lo ganggu gue cuma buat minta temenin makan bubur?“Yohan terkejut.

“Udah sana mandi, gue udah ijin bunda nih. Tadi bunda lo pamit mau ke pasar katanya”ucap Yuvin meledek.

“Anj—–”

“Ka... aku bilangin bunda kalo kaka suka ngomong kasar”adik Yohan tiba-tiba muncul dari balik dapur dan menjulurkan lidahnya, meledek Yohan.


“Tumben engga diauk?“tanya Yohan ketika melihat Yuvin mulai menikmati bubur dihadapannya.

“Biar lo engga marah, masih pagi. Kasian kalo marah, gemesnya nanti ilang”ucap Yuvin enteng.

“Kurang-kurangin ka”ucap Yohan datar.

“Apanya?“tanya Yuvin bingung.

“Makan sambelnya!“Yohan mulai tersulut emosi.

“Ya kurang-kurangin ngalusnya”ucap Yohan malas.

“Eh sorry! Ada yang marah ya kalo gue ngalus?“tanya Yuvin panik.

“Engga”

“Trus?”

“Engga sehat buat jantung gue”ucap Yohan yang mulai menyantap bubur di hadapannya dan Yuvin tersenyum mendengar pernyataan Yohan tersebut.

“Udah kan balik?“ucap Yohan masuk ke dalam mobil yang di kemudikan YUvin.

“Belum lah, sarapan itu wajib sebelum beraktivitas. Setelah itu kita baru mulai beraktivitas”ucap Yuvin mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Seat belt dong!“ucap Yuvin tapi Yohan masih terdiam karena ucapan Yuvin sebelumnya. AKhirnya Yuvin mendekatkan dirinya ke arah Yohan hanya untuk memasangkan sabuk pengaman Yohan.

“Lo ngapain sih ka?“tanya Yohan terkejut ketika jarak antara dirinya dan Yuvin hanya berjarak kurang dari 10 cm.

“Masangin seatbelt, lo lagian diem aja”ucap Yuvin enteng.

Yohan menarik nafas panjang ketika Yuvin telah selesai memasangkan seatbelt miliknya dan sesekali mengipaskan tangannya di depan wajahnya.

“Kenapa? Engga dingin ACnya? Perasaan kemaren baru di service dah”ucap Yuvin yang fokus ke jalan di depannya.

“Engga apa-apa, udah fokus aja nyetir”ucap Yohan ketus.


Yuvin ternyata meminta Yohan untuk menemaninya ke kantor bea cukai hanya untuk mengambil barang kirimannya dari luar negeri.

“Adek gue akhirnya mematahkan predikat jomblo menahunnya”Mingyu tersenyum ketika melihat Yuvin dan Yohan yang masuk keruangan kerjanya.

“Apaan bang, belum belum”ucap Yuvin panik.

“Yohan mau ambil barang juga?“tanya Mingyu dan Yohan menggeleng bingung.

“Mana ada orang kaga pacaran, mau di geret kesini sih?“ucap Mingyu pelan.

“Hehehe tapi saya bukan pacar Yuvin ka, ka mingyu mungkin salah orang”ucap Yohan polos.

“Masa sih? Ini anak kalo ke gue sih cuma ngomong temen-temen Calo Tiket sama lo doang kok”ucap Mingyu bingung.

“Eh pernah sih ngomongin itu satu temennya, gue lupa namanya... ku.. siapa ya ku.. siapa gitu gue lupa”ucap Mingyu lagi.

“Apaan sih bang! TMI TMI TMI”ucap Yuvin semakin panik.

“Apaan lu! Nyokap lo pernah nelfonin gue cuma gara-gara lo malem-malem panik gara-gara mau nganterin kuku itu ke rumah sakit kan?“tanya Mingyu.

“Bawel lo anjir bang! Mana barang gue?“ucap Yuvin menahan emosi.

“Lah jangan emosi dong bos”ucap Mingyu bingung.

Yohan yang melihat pertengkaran sepupu dihadapannya hanya dapat tersenyum kikuk. Tapi Yohan sebenarnya juga memikirkan oknum ku yang sedari tadi dibicarakan oleh Mingyu.

(xposhie)

Younjin.


Ini kisah tentang Sejin dan Seungyoun. Kisah malam-malam mereka bersama. Dimulai dari malam ketika mereka selesai menyaksikan konser bintang idola Sejin. Tidak ada yang terjadi malam itu di apartment Seungyoun. Tidak ada hal serius yang terjadi, karena yang terjadi hanyalah Seungyoun dan Sejin yang sibuk bertukar saliva serta menanggalkan baju satu sama lain. Malam itu panas, tapi mereka tidak pernah benar-benar melakukannya.

“Seungyoun....“ucap Sejin menatap Seungyoun dan Sejin menggeleng tepat ketika mereka beradu tatap.

Seungyoun tersenyum. Beberapa hasil karya di seluruh tubuh Sejin sudah membuatnya puas malam itu. Seungyoun pun merebahkan dirinya di sebelah Sejin. Menarik Sejin ke dalam dekapannya dan mengusap rambut Sejin.

“Tidur yang nyenyak ya jin...“ucap Seungyoun tenang.


Malam kedua di Manchester. Perjalanan panjang dari Jakarta ke Manchester dengan beberapa drama yang terjadi hingga tragedi tertukarnya koper Seungyoun dengan milik orang lain serta sebuah kasur king size yang tersedia di kamar hotel mereka.

“Youn, sumpah? Bukannya kita minta dua ranjang?“tanya Sejin malam itu dan Seungyoun mengangguk.

Sejin menundukan dirinya pasrah dilantai, sedangkan Seungyoun menelfon Sunho sambil melangkahkan dirinya ke meja receiptionist.

“Salah cancel kamar. Ini kamarnya bang sunho yang seharusnya di cancel tapi hotel malah cancel kamar kita berdua dengan dua kasur”ucap Seungyoun ketika kembali ke kamar.

“Gimana?“tanya Seungyoun dan Sejin menghela nafas panjang.

“Ya mau gimana lagi”ucap Sejin pasrah.

Malam itu, ketika Sejin dan Seungyoun sedang berbaring di atas kasur yang sama, mereka dikejutkan dengan ketukan seseorang dari luar kamar hotel mereka. Seungyoun pun bangkit dengan malas untuk melihat siapa tamu yang menganggu istirahat mereka.

“Jin”ucap Seungyoun memperlihatkan sebotol Wine dan dua buah gelas kaca.

“Bagian dari kamar ini?“tanya Sejin dan Seungyoun mengangguk.

“Namanya rejeki”ucap Seungyoun tersenyum dan kembali berbaring diatas kasur.

Sejin sudah menghabiskan beebrapa gelas, wajahnya memerah bahkan beberapa kancing teratasnya telah dibuka karena udara di kamar seketika memanas.

“Ih masih panas...“ucap Sejin yang frustasi walaupun Seungyoun sudah menyalakan pendingin dan membuang selimut mereka.

“Diem makanya, jangan banyak bergerak”ucap Seungyoun.

Sejin pun berhenti bergerak, membuat Seungyoun dapat memperhatikan dengan jelas fitur wajah Sejin. Seungyoun pun mendekatkan wajahnya ke wajah Sejin dan malam itu, mereka kembali bertukar saliva.

“Youn...“ucap Sejin dengan wajah merah dan keringat di pelipisnya.

“Engga, gue engga bakal ngelakuin kalo lo mabok”ucap Seungyoun lalu menarik selimut mereka dan memeluk Sejin.


Malam saat mereka meresmikan hubungan mereka. Berbekal omongan Seungyoun mengenai kebersamaan mereka akhir-akhir ini, akhirnya Sejin memutuskan mengijinkan Seungyoun melabeli dirinya sebagai “Kekasih Sejin”.

“Senyum mulu”ucap Sejin sambil menatap Seungyoun aneh.

“Gatau, seneng aja”ucap Seungyoun masih tersenyum sambil mencium punggung tangan Sejin beberapa kali.

“Aneh...“ucap Sejin tersenyum kecil.

“Jin...“Sejin yang sedang melepas coatnya saat tiba di kamar hotel itupun menoleh dan menatap Seungyoun.

“I love you”ucap Seungyoun lalu menarik Sejin mendekat dan mulai menyatukan bibir mereka.

Sejin melingkarkan tangannya di leher Seungyoun dan Seungyoun pun menggendong Sejin serta membawanya perlahan ke atas kasur. Seungyoun menjatuhkan diri Sejin ke atas kasur, pelan. Penyatuan bibir mereka sempat terlepas beberapa detika hingga Sejin kembali menarik Seungyoun. Seungyoun tersenyum.

Tangan Seungyoun dan Sejin tidak tinggal diam. Mereka mulai melucuti kemeja yang masih mereka kenakan. Sejin membantu Seungyoun membuka celana jeansnya, begitupun sebaliknya. Seungyoun menyamankan posisi Sejin ketika seluruh baju telah mereka tanggalkan.

“Gue udah liat lo beberapa kali, tapi malem ini lo keliatan spesial”ucap Seungyoun mengusap rambut Sejin.

“Please...“ucap Sejin memohon. Merasa telah diberikan lampu hijau, bibir Seungyoun mulai menari diatas tubuh Sejin. Dimulai dari kedua benda mungil di dada, menuju perut hingga menuju titik sensitif Sejin.

Seungyoun membawa kedua kaki Sejin keatas pundaknya sebelum lidahnya mulai bermain di tempat yang biasanya hanya ia jamah dengan jari tangannya.

“Youn...“ucap Sejin menjambak rambut Seungyoun.

Kedua tangan Seungyoun menari diatas dua titik yang berada di dada Sejin, membuag Sejin membusurkan badannya.

“Youn...please”Sejin menarik wajah Seungyoun untuk menatapnya.

“Please.... I want you”ucap Sejin memohon.

“We don't have a co—”

“No, it's okay. I want you... Inside me...“ucap Sejin frustasi.

“It'll be really hurt”ucap Seungyoun mengusap pipi Sejin.

Sejin pun bangkit dan mendorong pelan tubuh Seungyoun hingga terduduk. Sejin menundukan wajahnya tepat diarea sensitif milik Seungyoun.

“Oh shit...Lee Sejin!!“ucap Seungyoun ketika Sejin mulai memasukan kebanggannya bahkan tanpa aba-aba.

Tangan Seungyoun tidak tinggal diam, dirinya membantu kepala Sejin naik dan turun bahkan mendorong kepala Sejin agar ia mendapatkan kenikmatan tak terkira.

“Jin... Stop!“Seungyoun pun menarik tubuh Sejin dan mendorong pelan tubuh Sejin hingga berbaring.

“Do you want me inside you, right?“ucap Seungyoun dan Sejin mengangguk.

“Tell me to stop if you can't handle the pain”ucap Seungyoun lagi sambil mencoba memasukan batang kebanggaannya ke dalam lubang kemerahan milik Sejin.

“Ashh...“Sejin meringis sambil mencengkram pundak Seungyoun.

“Don't ever stop!“ucap Sejin ketika ia merasakan pergerakan Seungyoun.

Seungyoun pun mendorong miliknua dalam sekali hentakan untuk mengurangi rasa sakit Sejin. Sejin berteriak dan Seungyoun mengerang.

“Please move, im okay...“ucap Sejin saat sudah dapat beradaptasi dengan benda tidak bertulang tersebut.

“Oh shit! You... Really tight.. And i love it”ucap Seungyoun sambil terus menggerakkan pinggangnya.

Sejin ikut menggerakan pinggangnya berlawanan arah dengan gerakan Seungyoun.

“Arghhh.. Right there! Faster... Please”Sejin mengerang frustasi.

Seungyoun mulai menambahkan kecepatan pinggangnya hingga ia dapat merasakan jika ia akan segera menemukan pelepasannya.

“Inside me!“ucap Sejin memperingatkan dan Seungyoun mengeluarkan seluruh cairannya di dalam Sejin.

Seungyoun jatuh terkulai diatas tubuh Sejin tanpa melepas penyatuan mereka.

“Berat...“ucap Sejin meringis.

“Do you want to try another position?“tanya Seungyoun menggoda.

“Yes, please do me, sir”ucap Sejin tidak kalah menggoda.

Seungyoun pun mulai melumat bibir Sejin lagi dan malam itu mereka habiskan untuk mencari kenikmatan satu sama lainnya.

(xposhie)