Titik terang.
Pagi ini saya terbangun dengan kondisi kepala sedikit berputar. Saya melihat ke sekeliling saya dan mendapati bahwa saya berada di apartment saya. Saya tidak ingat betul apa yang terjadi semalam, setelah pesta perayaan kenaikan jabatan saya.
Harum masakan mengusik indera penciuman saya. Saya memejamkan mata saya lama. Harum masakan tanda bahwa Dek Sejin sudah pulang setelah seminggu tidak pulang ke apartment kami. Saya mendecak sebal ketika membuka selimut dan mendapati diri saya tanpa satu helai benangpun
“Ah shit!”
Saya pun memutuskan membersihkan badan karena kelamaan saya dapat mencium aroma tidak enak menguar di tubuh saya. Setelah mandi dengan menurunkan ego diri sendiri saya keluar dari kamar dan mendapati Dek Sejin sedang bercanda dengan Dodo.
“Dodo... Anak baba!!“Dodo tersenyum dan menoleh kearah saya, tetapi tidak dengan Dek Sejin.
“Dek...“Saya ingat apa yang terjadi antara diri saya dan Dek Sejin beberapa hari ini, walaupun saya masih tidak ingat apa yang terjadi dengan saya semalam.
“Aku udah buat bubur. Mas Seungyoun makan dulu aja biar perutnya enak, obat penghilang rasa sakit kepala juga udah aku siapin. Aku ke kamar, mau mandiin Dodo dulu”Dek Sejin berucap tanpa menatap ke arah saya sama sekali. Saya tau masalah kami bukanlah masalah sepele.
“Dek...”
“Nanti mas, aku mau mandii Dodo”Dek Sejij berjalan menjauhiku. Tapi Saya dapat melihat dengan jelas beberapa bercak merah di leher Dek Sejin.
“Ah sialan!”
Selama menyantap sarapan di meja makan, saya masih memikirkan kemungkinan yang terjadi semalam melihat dari bercak merah menuju keunguan di leher Dek Sejin. Tiba-tiba ponsel saya berdering dan menampilkan pesan singkat dari rekan kerja saya.
“Dompet lo ketinggalan! Siang ini bisa ambil engga? Soalnya gue mau keluar kota dua hari ini”
Saya menarik nafas panjang. Walaupun sudah sarapan dan mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit, kepala saya rasanya semakin pusing. Saya akhirnya memilih mencuci piring setelah membalas pesan singkat tersebut.
“Dek... Mas izin mau ke temu Seungwoo ya. Dompet mas ketinggalan...“Saya berucap terlampau pelan karena Dek Sejin yang sedang berusaha menidurkan Dodo dikamar. Dek Sejin mengangguk masih enggan melihat ke arah saya.
Saya bertemu Seungwoo di kafe dekat apartment saya, sehingga saya hanya perlu berjalan kaki sebentar.
“Tumben sendirian?”
“Gue lagi nungguin orang, mau ngasih undangan katanya sih...“ucap Seungwoo sambil menyerahkan dompet saya yang tertinggal.
“Cewek gue semalem yang anter lo ke atas, dia kayanya ketemu suami lo”Setelah hening beberapa saat, Seungwoo pun membuka suara.
“Dia emang engga ngomong apa-apa?“tanya Seungwoo dan saya menggeleng.
“Sunho!!“saya menoleh ke belakang ketika Seungwoo memanggil seseorang. Kening saya berkerut, melihat siapa yang berjalan mendekati saya dan Seungwoo.
“Harus banget ya kirim undangan pake ketemu?“Seungwoo berucap dengan sedikit emosi.
“Kan buat om tante, monyet! Masa gue kasih undangan ke mereka via imessage“saya masih memperhatikan percakapan kedua orang dihadapan saya.
“Oh iya! Kenalin Youn, sepupu gue. Bulan depan mau married makanya sengaja balik kesini cuma buat bagi-bagi undangan”tubuh saya menengang. Undangan? Ah saya ingat. Dek Sejin. Lelaki ini yang tempo hari mengantar Dek Sejin ke apartment.
“Sorry... Lo... Suaminya Sejin bukan?“tanya Sunho dan saya mengangguk.
Perbincangan saya, Sunho dan Seungwoo berlangsung lumayan lama hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang meninggalkan kafe tersebut. Sebuah undangan ditangan, kaki yang berjalan cepat dan perasaan bersalah yang memuncak membuat saya ingin segera sampai ke apartment.
“Dek! Dek Sejin!!“Saya panik ketika tidak mendapati Dek Sejin dikamar maupun dapur, bahkan di calon kamar Dodo juga tidak ada. Temlat terakhir, kamar kami. Saya berharap, Dek Sejin ada disana. Tapi nihil, Dek Sejin dan Dodo tidak ada dimanapun. Saya mencoba menghubungi ponsel Dek Sejin tetapi ponselnya mati. Saya panik dan memutuskan untuk pergi ke rumah ibu saat itu juga.
Saya sudah mengambil kunci mobil ketika pintu apartment terbuka dan mendapati Dek Sejin yang sedang menggendong Dodo berdiri di depan pintu dengan wajah bingung. Tanpa banyak berfikir, saya menghamburkan tubuh saya kearah Dek Sejin dan memeluknya, merapalkan kata-kata maaf serta mencium perpotongan lehernya.
“Dek... Jangan pergi ya? Maaf... Mas... Mas ngaku salah, tapi please jangan tinggalin mas ya?“saya mulai terisak.
“Mas.... Dodo kejepit”ucap Dek Sejin mencoba mendorong saya menjauh pelan.
“Maaf... Aku habis buang sampah, banyak bahan makanan yang udah basi di kulkas dan kayanya Mas Seungyoun engga buang sampah ya tiga hari?“ucap Dek Sejin sambil berjalan ke dapur untuk mencuci tangannya.
“Dek.... Maafin mas”saya berucap sekali lagi.
“Mas, mau makan siang apa? Kita makan siang dulu ya? Baru kita ngobrol”ucap Dek Sejin tersenyum kepada saya dan saya mengangguk menyetujui.
xposhie