semestakapila

Renungan.


Wonwoo merebahkan padanya pada kasur milik Wooseok. Setidaknya, kasur yang menemani tidurnya hampir empat malam ini. Wonwoo sedikit tersenyum saat mengingat betapa manis dan lembutnya perlakuan Jinhyuk kepadanya. Walaupun ia tau, semua itu dilakukan Jinhyuk untuk Wooseok dan bukan untuknya.

“Sana masuk kamar! Jangan lupa bersih-bersih!!”

Senyum Wonwoo kembali menguar saat dirinya mengingat Jinhyuk mengusak kepalanya sebelum ia memasuki kamar kost milik Wooseok. Wonwoo menarik nafas panjang ketika ia sadar bahwa semua salah, apa yang ia bayangkan dan rasakan kali ini salah. Wonwoo pun mencoba memejamkan matanya, memikirkan Mingyu, kekasihnya yang sedang bersama Wooseok.

Wooseok kembali membuka matanya dan mencari ponselnya, mencoba mengetahui keberadaan Mingyu dari Wooseok tetapi nihil. Wonwoo menarik nafas panjang sebelum membuangnya perlahan. Dirinya tau persis, Mingyu akan lupa jika sudah berada di PC room bersama teman-temannya dan berakhir lupa makan lalu jatuh sakit.

Wonwoo memilih untuk membersihkan badannya setelah mengirimkan pesan kepada Wooseok. Setidaknya Wonwoo harus mengabarkan Wooseok tentang apa saja yang ia lakukan bersama Jinhyuk hari ini serta bertanya mengenai keadaan Mingyu hari itu.


Wooseok memijat pelipisnya karena pusing. Setidaknya sudah lima kali dalam satu jam, Wooseok meminta Mingyu untuk menyudai permainannya dan teman-temannya tetapi Mingyu selalu menjawab “iya,sebentar lagi” ataupun “nanti dulu tanggung”

“Aku pulang duluan”Wooseok mengambil tasnya dan berjalan keluar dari PC room tersebut, karena tidak kuat dengan kebisingan serta cahaya yang keluar dari layar komputer.

“Hhhh pantesan Wonwoo capek, anaknya kalo kumat sampe segininya”ucap Wooseok berjalan lemah menjauhi gedung tersebut. Langkahnya terhenti saat Wooseok mendengar seseorang memanggil namanya.

“Wonwoo! Jeon Wonwoo!!“Wooseok menoleh dan mendapati Mingyu berdiri dibelakangnya dengan wajah panik.

“Maaf....“ucap Mingyu setelahnya dan Wooseok pun tersenyum kecil.

“Ayok pulang sama aku”ucap Mingyu mengulurkan tangannya yang dengan cepat diterima Mingyu.

“Aku ga masalah kamu main game atau apalah itu. Tapi kamu harus bisa ngukur waktu”ucap Wooseok pelan dan Mingyu mengangguk patuh.

“Maaf... Tadi karena ada kamu malah bikin aku jadi nyaman dan tenang, soalnya aku ga perlu panik nyariin kamu ataupun sebaliknya”ucapan Mingyu membuat Wooseok terdiam.

“Kita makan dulu ya?“tanya Mingyu dan Wooseok mengangguk.

“Aku tuh laper! Tapi tadi game nya lagi nanggung”ucap Mingyu terkekeh.

“Jangan dibiasaiin!!“ucap Wooseok lagi dan Mingyu pun mengangguk sambil tersenyum.

Wooseok menatap Mingyu yang masih mengendarai motornya menuju sebuah tempat makan. Mingyu dan segala kerandoman serta sifat kekanak-kanakannya, tetap menempatkan Wonwoo nomer satu dari segala hal. Wooseok tersenyum, ia tau apa yang harus ia ceritakan ke Wonwoo yang dapat membuat Wonwoo dapat bersyukur mempunyai pacar seperti Mingyu.

(xposhie)

Sebuah Pengakuan


Siang itu, Byungchan terbangun dengan kondisi seluruh badan remuk. Entah sudah berapa lama Byungchan tidak merasakan tidur nyenyak seperti ini. Byungchan menarik nafas sebelum menyibak selimut yang menutupi tubunya. Dirinya sudah mengenakan piyama yang jelas ia tau milik siapa. Entah kapan sang empunya menggantikan baju Byungchan dan entah dimana baju yang semalam Byungchan kenakan tersebut sekarang berada.

Byungchan memperhatikan sekitar dan melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul satu siang lewat tujuh belas menit. Lagi, Byungchan menarik nafas panjang sebelym turun dari kasur nyaman tersebut. Byungchan memilih masuk ke dalam sebuah kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajah. Senyum getir muncul dari bibir Byungchan kala ia melihat dua buah sikat gigi yang ia kenal. Dua buah facial foam berbeda merk dan jenis juga rapih tertata di dekat wastafel.

Flashback

Byungchan masih memejakmkan mata saat seseorang memeluknya erat. Bahkan Byungchan masih belum membuka matanya kala seseorang mengusak pelan puncak kepalanya. Byungchan baru dapat membuka mata ketika suara yang ia kenal menyapa indera pendengarannya.

“Selamat! Gue gatau perjanjian apa yang kalian buat dan awal mula semuanya jadi sampe kayak gini. Karena gue adalah pribadi yang males ngurusin urusan orang”ucap Sunho sarkas.

“Seungyoun, kalo urusan lo udah kelar disini, gue harap lo balik ke markas. Ada yang mau gue omongin”ucap Sunho sebelum berbalik berjalan kembali ke mobil pribadinya.

Seungyoun berjalan menghampiri Seungwoo dengan senyum di satu sudut bibirnya. Byungchan yang berada di belakang Seungwoo menggenggam ujung jaket yang Seungwoo gunakan dan bergerak bersembunyi dibalik tubuh Seungwoo.

“Sayang banget ya Chan, gue kalah? Padahal kalo gue menang, kita bakal seneng-seneng kayak kemaren”ucap Seungyoun pelan.

“Kemaren itu belum ada apa-apa loh, sayang.... Gue bisa lebih bikin lo seneng padahal kalo lo mau lebih lama sama gue...“ucap Seungyoun lagi.

Seungwoo menahan pergerakan tubuh Seungyoun yang mencoba mendekati tubuh Byungchan. Tubuh Byungchan yang bergetar, membuat Seungwoo sadar bahwa kekasihnya tersebut terlalu takut dengan Seungyoun di dekatnya.

“Oke manis! Pawang lo galak nih yang sekarang, sampai ketemu lain waktu!“ucap Seungyoun mengakhiri.

“Engga akan ada lain waktu!!“ucap Seungwoo pelan dengan penekanan disetiap katanya.

Seungwoo menarik nafas panjang, sebelum menarik pelan tangan Byungchan. Byungchan masih menunduk, enggan melihat ke sekelilingnya. Seungwoo beberapa kali mengucapkan terimakasih ke beberapa orang disekitarnya sebelum ia membawa Byungchan masuk ke dalam mobilnya.

“Tidur dulu ya? Nanti aku bangunin kalo kita udah sampe”Seungwoo memasangkan sabuk pengaman milik Byungchan dan melepas jaketnya untuk menutup tubuh Byungchan. Byungchan menggenggam erat jaket Seungwoo ketika ia sadar, beberapa tanda kemerahan yang mungkin masih terlihat jelas di leher dan dadanya akibat oleh Seungyoun.

Flashback End

“Chan.... Kamu masih lama?“Tubuh Chan menegang. Lama ia berdiri di kamar mandi tanpa melakukan apapun. Byungchan memilih menyalakan air di wastafel untuk membasuh wajahnya.

“Aku tunggu dibawah ya sayang! Kita makan siang dulu”ucap lelaki diluar kamar mandi. Byungchan memegang ujung wastafel erat ketika kembali mendengar panggilan sayang dari lelaki diluar tersebut.

Setidaknya lima belas waktu yang Byungchan butuhkan untuk memberanikan diri keluar dari kamar dan berjalan pelan ke ruang makan. Tidak ada harus masakan, karena Byungchan tau bahwa lelaki tersebut tak mungkin memasak.

“Maaf ya aku delivery ga nanya kamu dulu, soalnya tadi kamu maish tidur”Byungchan gugup mendengarnya. Ia berhenti di dekat kulkas saat mendengar suara itu lagi.

“Chan? Kenapa berdiri disitu aja, hm? Yuk kita makan dulu”ucap lelaki tersebut, Han Seungwoo.

Seungwoo pun memutuskan menghampiri Byungchan dan memberikannya pelukan singkat sebelum mengusak puncak kepala lelaki yang lebih muda darinya itu dan menariknya pelan untuk duduk berhadapan dengannya dimeja makan.

Byungchan masih menunduk walaupun Seungwoo sudah meletakan beberapa jenis lauk di piring milik Byungchan. Akhirnya setelah dua puluh menit terdiam, Seungwoo berjalan kearah Byungchan dan memeluknya dari belakangnya. Seungwoo berusaha menenagkan Byungchan dengan pelukannya hingga membuat Byungchan terisak.

“Maaf...“ucap Byungchan pelan dalam isakannya.

(xposhie)

Pertama Kali.


Yuvin membuka kasar dasi yang ia gunakan. Malam itu, ia terlambat pulang ke rumah orang tua Yohan, karena ada acara kecil-kecilan yang dibuat teman satu kantornya. Hari itu merupakan hari pertama Yuvin kembali ke kantor setelah menikah.

“Mas, mau mandi?“tanya Yohan yang membawa dan merapihkan jas serta tas yang sebelumnya dibawa Yuvin. Yuvin menggeleng dan merebahkan dirinya dikasur dengan setelah lengkap.

“Mas... kan aku udah bilang ga usah maksain pulang kerumah ibu...“ucap Yohan saat melihat kondisi kelelahan suaminya tersebut, Yuvin tersneyum dengan kedua mata yang terpejam.

“Sepi di apartment, Dek.... Dari kemarin kan bareng kamu mulu, terus tiba-tiba sendirian jadi sepi”ucap Yuvin santai.

“Yaudah, mandi dulu ya mas? Atau ganti baju aja gimana?“tanya Yohan pelan yang diabaikan Yuvin.

“Mas...?“Yohan mencoba menghampiri suaminya dan dengkurang halus terdengar, membuat Yohan tersenyum melihat suaminya yang tertidur asal diatas kasur.

Yohan pun memutuskan mengambil kaos serta celana pendek milik Yuvin yang memang dibawa oleh Yuvin kerumah orang tua Yohan. Pergerakan Yohan terhenti setelah ia membuka seluruh kancing kemeja milik suaminya tersebut.

Yohan mengedipkan matanya beberapa kali saat melihat tubuh polos bagian atas milik Yuvin dengan otot perut yang tercetak jelas. Yohan berusaha menetralkan detak jantungnya dan mencoba tidak gemetar saat ia membuka kemeja yang masih melekat dibadan sang suami.

“Maaf ya mas....“ucap Yohan terlampau pelan saat dirinya menarik dan membuka kemeja Yuvin dengan teramat pelan. Yohan berhasil memakaikan kaos dan menutupi badan Yuvin, setidaknya ia dapat sedikit bernafas lega sekarang.

Yohan menarik nafas panjang dan berfikir, untuk mengganti celana bahan yang Yuvin kenakan atau tidak. Yohan mempertimbangkan hal tersebut lama dan akhirnya ia memutuskan mengganti celana mili Yuvin.

“Maaf lagi ya mas....“ucap Yohan yang mulai membuka ikat pinggang pada celana bahan milik Yuvin. Yohan menahan nafasnya saat akan mencoba membuka kancing celana serta menurunkan zipper celana bahan suaminya.

“Kayanya salah deh.... Mending ga usah diganti kali ya? Ih... Tapi pasti ga nyaman, kan celananya udah dipake seharian....”batin Yohan bekecamuk, membuat Yohan menghentikan lagi pergerakan tangannya.

“Dek....?“tangan Yohan berhenti tepat diatas zipper celana Yuvin. Beberapa kali Yohan meneguk ludahnya kasar.

“Mas... maaf... aku cuma mau gantiin celana mas aja...“ucap Yohan sembari menjauhkan tangan dan menggeser sedikit posisi duduknya. Yuvin pun ikut duduk disamping Yohan, matanya masih mengantuk karena tidak sengaja terbangun.

“Maaf ya mas.... Aku ganggu tidur mas yuvin....“ucap Yohan pelan.

Suasana dikamar tersebut menghangat, kala sepasang manusia dalam ikatan pernikahan tersebut terdiam. Yuvin menunduk dan melihat kancing serta zipper celana miliknya telah terbuka, membuat celana dalam yang ia gunakan sedikit terlihat.

”.... Mas, ini celananya kalo mau ganti”ucap Yohan memberikan celana training yang sejak tadi ia pegang.

“Dek....“ucap Yuvin pelan yang membuat Yohan menoleh. Yohan menatap mata Yuvin lekat, begitu juga Yuvin yang menatap Yohan tajam.

Detik berikutnya, Yuvin menarik pelan tengkuk suaminya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Yohan yang kemerahan. Yohan terkejut dan memejamkan matanya dengan tangan yang menggenggam kasar kaos yang Yuvin kenakan. Yuvin mencoba memiringkan kepalanya, mencari akses untuk lebih leluasa menikmati benda kenyal tersebut.

Genggaman Yohan di kaos Yuvin merenggang dan Yohan sudah dapat mengikuti alur permainan suaminya tersebut. Yohan memperdalam ciuman mereka dan tangannya ia lingkarkan nyaman di leher Yuvin dengan jari jemari yang sesekali menarik halus rambut Yuvin.

Tangan Yuvin yang bebas menarik pinggang Yohan dan mengikis jarak keduanya. Yuvin semakin mengikis jarak keduanya dengan bibir yang masih saling terpaut, membuat Yohan duduk diatas pangkuan Yuvin. Detik berikutnya, Yuvin sudah menyandarkan badannya nyaman pada headboard tempat tidur mereka.

“Mashhh....“Yohan melepas tautan bibir keduanya kala tangan Yuvin masuk ke dalam piyama yang Yohan kenakan, membuat Yohan merasakan efek seperti tersetrum.

Yuvin menatap Yohan lekat. Ia bahkan mengusap bibir Yohan yang membengkak karena ulahnya beberapa saat lalu. Deru nafas keduanya beradu, mereka sama-sama mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin. Yohan kembali memejamkan matanya kala bibir Yuvin menyapa lehernya yang jenjang.

“Mashhh....“ucap Yohan tertahan dengan jari yang masih sesekali menjambak rambut Yuvin.

Desahan yang tertahan dari bibir Yohan membuat Yuvin semakin semangat mengecup leher Yohan sehingga menimbulkan bekas keunguan. Tangan Yuvin yang semula bebas, sudah masuk mengusap punggung serta perut milik Yohan dari dalam piyama yang Yohan kenakan. Sesekali Yohan berjengit karena sensasi dingin serta hangat yang ia rasakan.

“Dek... Aku buka ya?“ucap Yuvin pelan dan Yohan mengangguk. Detik berikutnya, Yuvin menuntun Yohan untuk membuka piyama yang menutup tubuh bagian atasnya. Yuvin tersenyum sata pertama kalinya melihat tubuh suaminya tersebut.

“Mashhh... Aku malu...“ucap Yohan yang menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher suaminya tersenyum. Yuvin tertawa pelan dan mengusap punggung telanjang milik Yohan.

“Ssttt... Engga perlu malu sayang... Nih mas buka baju mas juga ya?“ucap Yuvin. Yohan pun kembali menegakkan dirinya dan melihat Yuvin membuka kaos yang belum lama Yohan kenakan ke Yuvin beberapa saat lalu.

“Tadi kamu udah liat kan pas gantiin aku baju?“ucap Yuvin yang membuat Yohan memerah padam.

“Tiduran ya? Biar ga pegel kalo kita duduk”ucap Yuvin lagi sambil mengusap pipi kemerahan suaminya. Yohan mengangguk dan setelahnya, Yuvin merubah posisi mereka, dimana Yohan berbaring dikasur dan Yuvin berada diatas Yohan.

Yuvin tersenyum sebelum kembali membawa suaminya dalam sebuah ciuman panas. Keduanya butuh, keduanya ingin. Yuvin melepaskan lumatan kasar yang membuat bibir suaminya membengkak itu, lalu bibirnya mulai menjamah tulang rahang, leher, tulang selangka serta apapun yang dapat ia kecup.

Yohan menahan nafasnya dan tangannya menarik sprei dibawahnya saat ia tau dimana bibir Yuvin sekarang berada. Yohan menahan desahannya, kala salah satu noktah kecoklatan miliknya diraup paksa oleh Yuvin seperti seorang bayi kehausan. Tangan yang semula menarik sprei, ia pindahkan menjadi menarik dan menjambak rambut Yuvin.

“Nghhh.... Masshhhh...“Yohan pusing dengan segala sesuatu yang ia rasakan saat ini. Bibir Yuvin berpindah di noktah selanjutnya, memastikan bahwa semuanya dapat ia rasakan malam itu. Kepala Yohan semakin pening, kala Yuvin menggunakan lidahnya untuk menggoda noklat kecoklatan miliknya tersebut.

Deru nafas Yohan kembali normal saat Yuvin melepaskan bibirnya dari kedua noktah tersebut. Bibirnya turun mengecup dada hingga ke perut Yohan dan membuat Yohan melingkarkan kakinya di badan Yuvin yang berada diatasnya. Yuvin terkekeh saat mengetahui suaminya melingkarkan kakinya dibadannya.

“Dek...“Yuvin berkata pelan tepat di hadapan perut Yohan dengan sesekali mencium perut rata tersebut. Yohan menoleh, beradu tatap dengan suaminya. Yohan mengangguk entah untuk apa. Tetapi detik berikutnya, Yuvin sudah duduk dengan tangan yang siap membuka celana piyama milik Yohan.

Gerakan Yuvin terlampau pelan, membuat Yohan kembali menarik nafasnya panjang. Kaki Yohan yang semula terbuka, otomatis menutup kala Yuvin berhasil melepas celana yang digunakan Yohan. Setelan piyama yang Yohan kenakan sudah sepenuhnya terlepas, hanya ada pakaian dalam yang menutupi bagian kebanggan miliknya.

Yuvin tersenyum dan mengusap paha luar suaminya, memastikan bahwa semua yang mereka lakukan benar dan Yohan tidak perlu malu untuk itu. Yuvin kembali menyapa bibir Yohan yang sedikit terbuka. Tangannya masih mengusap paha Yohan, membuat Yohan membuka kakinya sedikit demi sedikit.

Yohan membuka matanya ketika ia tidak dapat merasakan usapan tangan Yuvin di sekitar kakinya. Yohan menatap suaminya yang berjalan menjauhi kasur menuju meja belajar yang dulu sering digunakan Yohan untuk belahar. Yuvin kembali dengan sebuah lotion ditangannya, membuat Yohan beberapa kali mengedipkan matanya.

Yohan masih memperhatikan suaminya yang sudah berdiri kembali di depan tempat tidur mereka. Yuvin dengan teramat santainya, membuka kancing serta zipper celana yang sebelumnya sudah terbuka dan menurunkan celana bahan yang ia gunakan. Yuvin kembali menatap Yohan saat akan kembali naik ke kasur tersebut, membuat Yohan mengalihkan pandangannya.

“Dek... pakai lotion engga apa-apa?“tanya Yuvin pelan yang kembali duduk di depan kaki Yohan yang terbuka. Yohan mengangguk teramat pelan, membuat Yuvin kembali tersenyum.

“Aku belum pernah ngelakuin ini.... Tapi aku pernah nonton beberapa film....“ucap Yuvin pelan yang membuat Yohan membelalakan matanya.

“Kata temenku juga ini bakalan sakit, jadi kalo misalnya kamu mau berhenti, bilang mas aja ya?“ucap Yuvin dan Yohan mengangguk.

Yohan menarik nafasnya, saat Yuvin membuka kain terakhir yang melekat ditubunya, membuat ia benar-benar tanpa sehela benangpun. Yohan memejamkan matanya saat Yuvin menurunkan celananya miliknya sendiri. Yohan hanya dapat mendengar suara Yuvin yang berusaha mengeluarkan cairan lotion dari dalam botolnya.

“Nghhh....“Yohan kembali membuka matanya pelan saat mendengar suara Yuvin menggeram dan mendapati Yuvin sedang mengurut penis miliknya sendiri dengan lotion yang sebelumnya ia ambil. Tetapi Yohan langsung mengalihkan pandangannya saat Yuvin menatapnya.

Yuvin mencoba menarik tangan Yohan dengan tangannya yang bebas dan menggenggam tangan suaminya tersebut tanpa menghentikan gerakan pada penisnya.

“Mas....“Yuvin yang semula memejamkan mata pun menatap Yohan yang menatapnya dengan memohon. Yuvin hampir saja sampai hanya karena gerakan tangannya sendiri.

Yuvin kembali memposisikan dirinya di depan kaki Yohan. Tangannya sudah kembali ia lumuri lotion yang siap ia balurkan pada lubang anal suaminya. Yohan mengernyitkan keningnya saat merasakan jari Yuvin menyentuh lubangnya.

“Shhh.... Rile, Dek...“ucap Yuvin yang kemudian mengusap paha Yohan dengan sebelah tangannya. Yohan menarik nafas panjang saat merasakan jari Yuvin mencoba masuk ke dalam lubangnya.

“Shhh... Dek, sakit?“tanya Yuvin dan Yohan menggeleng.

“Aneh mashhh rasanya...“ucap Yohab polos yang membuat Yuvin tersenyum.

“Mas gerakin pelan ya? Kamu kalo gakuat, bilang aja”ucap Yuvin dan Yohan mengangguk patuh.

Setelah memasukan satu jari ke dalam lubang anal milik Yohan, Yuvin memaju mundurkan jarinya. Ia bahkan menambah jumlah jarinya saat melihat Yohan sudah lebih terbiasa.

“Ahhh....“Desahan pertama Yohan saat Yuvin bergerak secara menggunting di dalam anal Yohan.

“Engga usah ditahan, Dek...“ucap Yuvin saat melihat Yohan menggigit bibirnya menahan desahan.

“Berisik... Engga enakhhh sama ibu bapak... Ahhh mas!!“Yohan menutup mulutnya saat Yuvin mengeluarkan jarinya.

Yuvin menindih tubuh Yohan dengan tangan kiri sebagai penahannya. Ia mencium kening Yohan lama.

“Sttt... Engga apa-apa, kok. Mas yakin, mereka ga akan keganggu sama kamu...“ucap Yuvin lalu mengusap puncak kepala Yohan.

“I'll enter you slowly...”

Yohan kembali memejamkan matanya saat merasakan Yuvin mencoba memasukan penisnya.

“Mashhh.... Sakithhh.... Hhhh”Yohan mencengkram bahu Yuvin saat tubuhnya terasa terbelah. Yuvin menghentikan sejenak usahanya dan menciun seluruh wajah Yohan pelan.

“Ahhhh.....”

“Nghhhh..... Dek!!!”

Yohan mendesah dan Yuvin mengerang saat Yohan tanpa aba-aba menggerakkan pinggangnya. Membuat Penis Yuvin masuk sepenuhnya ke dalam lubang Yohan.

Mereka berdua terdiam, menyesuaikan hal yang baru mereka lakukan pertama kali dalam hidup mereka.

“Mas boleh gerak kok... Aku ga apa-apa...“ucap Yohan yang mengusap pipi suaminya. Yuvin tersenyum dan mencium bibir Yohan dengan pinggang yang bergerak lambat.

“Nghhh.... Dek.... Hhhh”Yuvin mengerang saat merasakan lubang anal milik Yohan menjepit penisnya. Pergerakan tersebit diikuti decitan kasur milik Yohan.

“Ahhh... Mashhh.... Mashhh Yuvin!!!“Yohan melingkarkan tangannya di leher Yuvin saat pergerakan pinggang Yuvin semakin cepat.

Yohan kembali mendesah saat Yuvin berhasil menusuk titik terdalamnya dan membuat Yohan ikut menggerakan pinggangnya mencari nikmatnya.

“Dekkk.... Nghhhh....“ucap Yuvin saat kembali merasakan lubang Yohan yang menyempit.

“Mashhh.... Mau pipishhh nghhhh udahhh massshhh”Yuvin semakin memggerakan pinggangnya dengan cepat saat Yohan berteriak histeris.

“Mashhh ga kuattthhh ahhhh”Yohan mencapai klimaksnya. Cairan putih Yohan mengotori perutnya dan perut berotor Yuvin.

“Dekk.... Nghhh... Massshhh... Nghhh.... Ahhh.... Dek Yohannhhhh...“Beberapa detik setelahnya, Yuvin juga sampai pada kenikmatan duniawinya. Cairannya memenuhi lubang anal milik Yohan dan membuat Yohan gemetar saat merasakan cairan hangat memenuhi lubangnya.

“Mas... Kita berisik banget...“ucap Yohan malu setelah diam beberapa saat. Yuvin masih berbaring diatas tubuh Yohan nyaman.

“Engga apa-apa sayang...“ucap Yuvin mengusap puncak kepala Yohan.

“Nghhh...“Yohan kembali mendesah saat Yuvin mengeluarkan penisnya dari anal Yohan dan membuat Yuvin tertawa.

“Kamu lucu banget sih, Dek!“ucap Yuvin lagi.

“Mas! Mau kemana?“tanya Yohan posesif saat melihat Yuvin menjauh.

“Bersihin kamu dulu... Itu lubang kamu becek banget”ucap Yuvin.

“Pake tisu dulu aja! Habis itu tidur... Besok kita bersih-bersih sebelum ibu bapak bangun”ucap Yohan manja dan Yuvin pun mengangguk.

Yuvin pun mengambil tisur basah dari laci dan membersihkan lubang dan perut Yohan serta perut miliknya sendiri.

“Sakit?“tanya Yuvin yang menarik Yohan dalam pelukannya dan Yohan menggeleng.

“Engga mas! Engga sama sekali kok”ucap Yohan tersenyum.

“Udah mas bobo!! Tadi kayanya ngantuk banget deh”ucap Yohan terkekeh.

“Kamu sih bikin mas bangun tadi”ucap Yuvin mencubit pipi Yohan.

“Sekarang udah tidur kan?“tanya Yohan gemas dan Yuvin mengangguk.

“Yaudah mas juga tidur!! Sebelum ada yang bangun lagi”ucap Yohan mengeratkan pelukannya.

“Siapa yang bangun, Dek?“tanya Yuvin meledek.

“Ibu sama Bapak, mas!! Soalnha kita berisik hehe udah ah tidurrrr”ucap Yohan dan Yuvin pun mengangguk patuh.

Yuvin mengusap punggung suaminya tersebut hingga Yohan pulas tertidur. Begitu juga Yuvin yang pulas tertidur dalam dekapan Yohan.

(xposhie)

Barbecue.


Seungwoo berjalan teramat santai masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Choi. Senyum terukir di bibirnya kala melihata sosok lelaki jangkung di dapur sedang merapihkan beberapa barang belanjaan.

“Psstttt...“Seungwoo berucap terlampau pelan, membuat lelaki tersebut terkejut dan hampir menjatuhkan satu botol bumbu barbecue.

“Ka seungwoo!!!“lelaki tersebut, Byungchan, memukul Seungwoo yang tiba-tiba berada dibelakangnya.

“Nanti ada Abang ihhh”ucap Byungchan panik dan Seungwoo sedikit terkekeh.

“Engga kok, tadi aku chat dia katanya lagi dikamar ganti baju terus aku disuruh masuk aja soalnya ada kamu di dapur”ucap Seungwoo yang kemudian mencuri satu kecupan di pipi Byungchan.

“Ka!!! Bener-bener ya kamu tuh!! Nanti kalo kita ketauan, bisa-bisa kita disidang tau!!“ucap Byungchan yang lalu melemparkan satu kotak minuman kemasan.

“Cepet amat lo, Nyet!!“Byungchan sedikit menjauhkan jaraknya dari Seungwoo ketika mendengar suara sang kakak.

“Gue bantuin siap-siap! Biar nanti pas jam makan malem tinggal bakar-bakar”ucap Seungwoo sambil membuka minuman kemasan yang sejak tadi ia genggam.

“Lah? Itu punya Byungchan woyy!!! Asal ambil aja lo, gatau diri amat!!“ucap Minho saat melihat temannya asik menghabiskan minuman berasa tersebut.

“Engga apa-apa sih bang!! Di kulkas juga masih ada kok. Kalo mau lagi, ambil di kulkas aja ya ka!!“ucap Byungchan tersenyum kearah Seungwoo dan Seungwoo mengangguk.

“Yuk ah temenin gue angkat panggangan”ucap Minho menarik Seungwoo menjauh dari dapur.

“Lah adek lo ditinggal?“ucap Seungwoo beralasan.

“Dia masih beresin belanjaan, nanti kita balik lagi baru bantu cuci-cuci sama motong”ucap Minho. Seungwoo menoleh kearah Byungchan yang sedang menahan tawanya.


“Chan... Kamu pacaran sama Bang Seungwoo ya?“Wooseok, kekasih Seungyoun bertanya tiba-tiba saat ia dan Byungchan hanya berdua di dapur.

“Hehe keliatan tau!! Soalnya Bang Seungwoo dari tadi bantuin kamu mulu”ucap Wooseok lagi saat melihat wajah panik Byungchan.

“Belum ada yang tau?“tanya Wooseok dan Byungchan menggeleng sambil tersenyum.

“Abang posesif banget semenjak aku putus sama temen satu angkatan abang. Tiap ada yang deketin, auto mundur pas ketemu abang”ucap Byungchan menjelaskan.

“Aku juga takut, hubungan Abang sama Ka Seungwoo jadi canggung kalo tau aku pacaran sama Ka Seungwoo”ucap Byungchan melanjutkan dan Wooseok menggangguk mengerti.

“Udah berapa lama?“tanya Wooseok penasaran dan Byungchan mengangkay tiga jarinya.

“Wahhh dari Seungyoun masih pacaran sama Sejin ya?“tanya Wooseok dan Byungchan mengangguk.

“Ka Wooseok kok santai banget sih nyebutin nama mantan pacar sendiri?“tanya Byungchan bingung dan Wooseok tertawa.

“Seungyoun sama Sejin itu putus baik-baik, lagian kenapa aku harus sebel atau benci mantannya pacar aku? Selama bisa berhubungan baik, kenapa engga? Kan nambah temen! Lagian kan Sejin sepupunya Jinhyuk nah Jinhyuk temen Seungyoun juga. Jadi, yaudah kita semua temenan baik”ucap Wooseok menjelaskan panjang lebar.

“Chan, ini aku bawa ke luar ya?“Seungwoo yang tiba-tiba hadir sedikit mengejutkan Byungchan.

“Eh iya ka! Ini udah di cuci semua, bisa dibawa keluar. Nanti selesai motong sosis, aku bawa keluar juga”ucap Byungchan santai dan Seungwoo mengangguk.

“Chan, saran aku ya... Mending kamu bilang Bang Minho aja tentang kamu sama Bang Seungwoo. Lagian kalian udah tiga tahun dan Bang Seungwoo keliatan baik kan? Engga aneh-aneh juga?“penjelasan Wooseok membuat Byungchan berfikir lama.

(xposhie)

On Going.


Long Chaptered

• Gyulhoon 1. Three Faces of Sihoon

• Seungchan 2. The Leader

Blurry.


Blurry even I don't know you well Even I can't do anything well But I know that we will love each other

Yuvin mengangkat satu buah kardus besar dari bagasi mobil pribadinya. Setidaknya, kardus besar tersebut merupakan kardus ketiga yang ia angkut dan ia pindahkan ke dalam sebuah rumah sederhana dimana sekarang ia berada. Langkah Yuvin sempat terhenti, kala ia melihat bayangan seseorang dari ujung matanya.

Yuvin menoleh dan melihat sosok lelaki yang tidak lagi asing baginya. Lelaki yang sudah sering ia jumpai lima tahun belakangan ini. Lelaki yang membawa Yuvin semakin ingin mengunjungi rumah tersebut hampir setiap hari jika memang di perbolehkan diizinkan.

“Vin! Angkat ke dalem!! Udah ditungguin yang lain tuh”

Yuvin kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah ruangan besar dengan sebuah kardus yang sejak tadi masih ia bawa. Lelaki tersebut sudah berada disana, tersenyum seperti biasa. Lelaki tersebut tersenyum dengan dua gigi kelinci mengintip lucu dari belah bibirnya. Yuvin dan lelaki tersebut beradu tatap hingga lelaki yang lebih dari Yuvin tersebut kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya sebagai sebuah bentuk sapaan.

It's like the twinkling star Everything is going to disappear But I believe that we will be forever

Yuvin berjalan keluar dari rumah tersebut dengan lelaki lain disebelahnya yang sengaja mengantar kepulangan Yuvin tersebut. Sebenarnya, Yuvin enggan pulang. Yuvin ingin lebih lama dirumah tersebut, bercerita kepada lelaki disebelahnya tentang dirinya dan segala kesibukannya dengan pekerjannya, tentang orang tuanya yang selalu membujuknya agar segera menikah.

“Besok kan bisa dilanjut ka ceritanya! Ka yuvin pulang dulu sekarang, nanti dicari papah mamahnya”

Lelaki tersebut tersenyum. Entah, Yuvin juga tidak tau pasti apakah lelaki tersebut pernah bersedih atau tidak, karena selama Yuvin mengenalnya, Lelaki tersebut selalu tersenyum dan tertawa yang membuat orang di sekitarnya ikut bahagia.

“Aku bukan anak lima tahun yang kalo ga pulang kerumah terus dicariin loh!”

Lelaki tersebut tertawa, mendengar bagaimana Yuvin merajuk. Lelaki tersebut bahkan menggelengkan kepalanya, kala Yuvin masih saja membujuknya agar dapat mengizinkannya menginap di rumah tersebut. Tetapi semua usaha Yuvin gagal, Yuvin harus kembali kerumahnya sendiri.

“Ka Yohan..... ngantuk....”

Lelaki dihadapan Yuvin menoleh, mendapati seorang anak lelaki berumur sekitar lima tahun menghampirinya. Iya, dia Kim Yohan, lelaki yang berhasil menyita seluruh fikiran Yuvin lima tahun belakangan ini. Yohan tersenyum dan menggendong anak lelaki tersebut.

“Yaudah kamu masuk duluan! Kasian Jihoon mengantuk”

Yohan mengangguk dan melambaikan tangannya pada Yuvin sebelum berbalik kembali masuk ke rumah tersebut. Tetapi langkah Yohan terhenti, kala Yuvin memanggilnya. Yohan berbalik dan melihat kearah Yuvin yang masih berdiri ditempatnya.

“Aku sayang kamu!”

Yuvin berucap pelan, Yohan hanya tersenyum mendengarnya. Yuvin tau, betapa keras usahanya, Yohan belum bisa mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan sebelumnya. Yuvin dan pengakuan cintanya selama dua tahun, belum terbalaskan oleh Yohan.

I want to convey my deep feeling inside my trembling heart to you

Yuvin mengendarai mobilnya seorang diri, karena beberapa teman yang sebelumnya bersamanya sudah pulang jauh lebih dahulu darinya. Yuvin selalu menjadi manusia terakhir yang meninggalkan rumah tersebut, karena ia masih ingin mempunyai waktu lebih banyak bersama Yohan.

“Darimana kamu? Ketempat cowo itu lagi? Engga capek, pulang kerja langsung kesana?”

Yuvin menarik nafas panjang kala seseorang mengajaknya berbicara, tanpa menyapanya terlebih dahulu. Yuvin menoleh, berusaha tetap sopan di depan lelaki yang sudah membesarkannya selama dua puluh tujuh tahun tersebut.

“Acara amal, Pah... Dari kantor... Bukan ketempat cowok itu”

“Sama saja! Kamu gabisa cari tempat amal ditempat lain? Papah yakin, kamu yang ngusulin tempat itu kan? Biar kamu bisa lebih sering ketemu dia?”

Yuvin kembali menarik nafasnya. Ia menetralkan emosinya. Yuvin kembali mengingat senyum Yohan, satu-satunya senyum yang dapat membuatnya lebih tenang. Yuvin memilih meninggalkan lelaki paruh baya tersebut, tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

Please tell me love Tell me that it will be forever Don't act like there is nothing Don't let it flow away

Sore itu, Yuvin sengaja menjemput Yohan untuk membawanya berjalan-jalan disebuah taman yang dekat dengan rumah yang biasa Yuvin datangi tersebut. Yohan menyetujuinya, dengan syarat ia dapat membawa serta Jihoon bersamanya, karena sore itu tidak ada yang dapat menjaga Jihoon selain dirinya.

“Kamu pernah jatuh cinta?”

Yuvin menoleh ketika Yohan tiba-tiba bertanya setengah diam selama lebih dari sepuluh menit setelah mereka duduk disalah satu bangku taman. Yohan tidak menatap Yuvin, ia menatap Jihoon yang sedang berlarian dirumput mengejar beberapa capung yang terbang.

“Pernah. Ini, aku lagi jatuh cinta....”

Santai, Yuvin menjawabnya dengan santai. Tanpa beban dan tanpa tekanan ia menjawab pertanyaan Yohan tersebut sambil menatap lekat wajah Yohan. Yuvin tersenyum kala Yohan tersenyum karena mendengar jawabannya. Yohan pun menoleh dan menatap Yuvin lekat.

“Tidak lelah?”

Yohan kembali bertanya, kali ini Yuvin sedikit susah menjawab pertanyaannya. Karena setelah lewat lima menit, Yuvin masih terdiam. Ia justru memainkan beberapa batu yang berada di bawah sepatunya.

“Aku lelah, Yuvin.... Lelah karena harus membohongi diri sendiri....”

“Aku lelah, karena aku sudah tidak kuat lagi menahannya....”

“Aku juga sedang jatuh cinta, tapi aku lelah karena rasa itu....”

Setiap kata yang Yohan lontarkan membuat Yuvin terdiam. Yuvin mematung. Jantungnya berdebar lebih cepat. Yuvin ingin tersenyum dan berteriak saat itu juga, tetapi sepertinya hal tersebut bukan waktu yang tepat untuk dilakukan.

“Orang bilang, katanya jatuh cinta indah? Tapi mengapa bagiku melelahkan?”

“Kenapa Yuvin?”

Yohan menoleh berharap Yuvin dapat menjelaskan semuanya. Tetapi, tidak, YUvin tidak dapat menjelaskan apapun. Tidak dapat menjelaskan rasa lelah yang Yohan rasakan karena mencintainya. Yuvin tau dengan jelas rasa lelah yang Yohan rasakan tidak lain adalah karena lelaki paruh baya yang membesarkannya.

Please tell me love Tell me that it will be forever Don't pretend you don't know Don't let this pass away

Yuvin menarik pelan tangan Yohan, menggenggamnya untuk pertama kali dalam lima tahun tersebut. Yohan tersentak dan hampir melepaskan genggaman tangan Yuvin, tetapi Yuvin cukup kuat untuk menahan tangan Yohan.

“Bisa bertahan sebentar lagi?”

Yohan menatap Yuvin. Yuvin yang menggenggam tangannya dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya. Tatapan Yuvin memohon. Permohonan yang lebih besar dari yang ia lakukan jika ia dipaksa Yohan pulang dari rumah itu.

“Tolong.... tahan sebentar lagi, hm? Aku janji, setelah ini kamu engga akan lelah lagi. Kamu cuma akan bahagia karena jatuh cinta...”

Yohan menitikan air matanya kala menatap keyakinan Yuvin. Yohan tidak bodoh, keyakinan YUvin tersebut hanyalah angan belaka. Sebuah angan yang bahkan tidak dapat diketahui kebenarannya.

Don't make a sorrowful face to me We are going well together, don't forget it ay The ocean of my flowing tears is pushing me away We will go on like this

Yuvin menarik Yohan ke dalam pelukannya. Mengusap punggung bergetar Yohan yang sedang menumpahkan air mata yang ia tahan entah berapa lama. Yohan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Yuvin sore itu.

“Please... bertahan sebentar lagi, ya?”

Yuvin masih mencoba meyakinkan Yohan jika semua rasa lelah Yohan akan segera berakhir. Yuvin kembali meyakinkan bahwa setelah ini, Yohan hanya akan merasakan bahagia karena mencintainya.

Yohan menarik baju bagian belakang milik Yuvin, menahan tangisnya setidaknya agar Jihoon tidak mendengar dan menanyakan mengapa ia menangis, karena akan lebih sulit menjelaskannya.

I just want to live in your eyes

Jihoon sudah tertidur dalam pangkuan Yohan, saat mobil yang dikemudikan Yuvin sudah sampai di rumah itu. Yohan sesekali mengusap punggung Jihoon, menenangkannya agar tidak terbangun dan terganggu tidurnya.

“Makasih ya, Vin....”

Yohan baru saja akan melangkahkan kakinya keluar drai mobil Yuvin, kala Yuvin menahan tangannya. Yohan menoleh, menatap Yuvin yang juga menatapnya sayu. Yohan mengigit bibirnya, menahan tangis yang bisa saja keluar kapanpun.

“Hati-hati pulangnya... Jangan ngebut!”

Yohan mencoba tersenyum. Bahkan Yohan memberanikan diri mengusap pipi Yuvin yang sedikit berisi. Yuvin menarik nafasnya panjang sebelum menarik tengkuk Yohan mendekat kearahnya, mengikis jarak diantara wajahnya dan wajah Yohan.

Yuvin mendaratkan bibirnya di bibir kemerahan milik Yohan. Pelan tanpa terburu. Yohan yang awalnya terkejutpun memejamkan matanya, membiarkan Yuvin memimpin.

If I could cross memories, I would like to be your everything

Sejak hari itu, Yuvin tidak pernah datang lagi ke rumah itu. Baik Yohan maupun Yuvin berusaha melupakan semuanya. Melupakan sesuatu yang bahkan belum mereka mulai. Melupakan rasa yang sama-sama membuat mereka lelah. Melupakan semuanya dalam sebuah kenangan manis yang diketahui oleh mereka berdua.

(xposhie)

Alone.


Being alone Being still Is this a difficult thing to do Even if we're alone, even if we're together The loneliness still feels the same One day it will stop

Sejin meletakan mainan berbulu yang sedang ia kerjakan tersebut kembali ke atas meja. Ia mencoba merenggangkan badannya yang mulai kaku karena duduk dengan posisi sama hampir tiga jam lamanya. Awalnya ia melakukan tersebut untuk mengusir sepi dan menghapus bayangan seseorang tetapi semakin lama mencoba semakin tidak berhasil. Setidaknya sore itu, lima mainan bulu menjadi korban dari ketidak fokusan seorang Lee Sejin.

Lee Sejin melangkahkan kakinya menuju balkon, mencoba menghirup udara malam yang mungkin sudah sarat akan polusi karena semakin sedikit manusia yang mengendarai mobil pada malam hari. Sejin mengerucutkan bibirnya ketika ia tidak menemukan satupun bintang dilangit.

Sejin mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Entah mengapa, fikirannya terasa berat tiga hari belakangan ini. Setidaknya setelah ia memimpikan seorang lelaki yang menatapnya dengan tatapan sayu. Tatapan yang hingga sekarang membuat Sejin bertanya-tanya.

Sejin merogoh kantong celana bahan yang ia gunakan dan menemukan ponsel pintarnya disana. Puluhan pesan singkat dari sang kekasih membuat Sejin tersenyum tetapi notifikasi media sosial membuat senyumnya perlahan memudar. Ia membuka halaman media sosial tersebut melalui notifikasi yang muncul.

“You’re the only one missing in my world But it feels like I’ve lost everything”

Sejin tersenyum getir membaca postingan seseorang yang masih sangat ia kenal tersebut. Seseorang yang sangat ia kenal tetapi berusaha ia lupakan saat ini. Usaha yang hingga kini belum seratus persen berhasil ia lakukan. Sejin pun memilih kembali menyimpan ponsel pintarnya. Ia memejamkan mata dan kembali merasakan kesendiriannya malam itu dan berharap semuanya akan cepat berakhir.

Aren't things supposed to happen Like the way it's said or the way it's thought Even if I bask in the sunlight, even if I take a deep breath It's not easy One day it will stop

Sinar matahari siang itu membuat Sejin sedikit meluangkan waktunya untuk berjalan disekitar taman. Panas tidak masalah bagi dirinya, karena manusia juga membutuhkan sinar matahari dalam hidupnya. Sejin berdiri di sebuah taman yang sedikit ramai di pusat kota tersebut. Merasakan bagaimana sinar matahari menyapa kulitnya pucat pasinya.

Sejin menarik nafasnya panjang ketika hal yang sengaja ia lupakan kembali datang menyapa. Manusia tidak boleh dengan gamblang mengatakan sesuatu, karena sebagian besar yang terjadi adalah hal sebaliknya, seperti yang dialami Sejin sekarang. Ia berusaha melupakan bayangan itu, melupakan mimpinya, tetapi tidak berhasil bagaimanapun.

Bayangan tersebut tidak hilang dibawa angin malam yang berhembus. Mimpi tersebut bahkan tidak hilang terserap panas matahari. Sejin benci dengan usaha yang ia lakukan yang berakhir gagal dan berantakan tersebut. Sejin menarik nafasnya panjang, kembali mencoba semuanya dari awal, mencoba melupakan dan berharap semuanya akan berhenti sesuai keinginannya.

And I’m gonna stop cryin’, stop feelin’ Stop thinkin’ ‘bout you my babe I'm going to stop crying now, gonna break free I'm going to take more care of myself And I'm gonna stop

Dibawah sinar matahari yang bersinar terik dan dengan beberapa mata yang menatapnya bingung, Sejin tersenyum getir. Menghapus air matanya yang entah kapan menetes membuat jalur basah di kedua pipinya. Sejin kembali menarik nafasnya dan membuangnya perlahan saat dirinya kembali membulatkan tekad untuk melupakannya. Melupakan semua memori dan kenangan tentang orang yang datang ke mimpinya beberapa hari lalu.

Sejin meraih ponsel pintarnya, menekan beberapa angka yang telah ia ingat diluar kepala. Sejin terkejut dan menoleh kala ponsel berdering di dekatnya. Sejin tersenyum, melihat lelaki yang sejak tadi berdiri dibelakangnya. Melambaikan sebuah ponsel dan tersenyum ke arahnya.

Sejin memutuskan mematikan panggilanya dan berlari ke arah lelaki tersebut, memeluknya dan menghirup dalam-dalam aroma lelaki tersebut. Sejin dengan tekad bulatnya melupakan Seungyoun dengan memfokuskan dirinya dan kekasihnya yang sekarang berada dalam pelukannya.

“Kamu udah makan?”tanya Sejin manja dan dibalas gelengan dari kekasihnya tersebut.

“Belum. Sengaja jemput kamu buat makan siang bareng eh kata staff, kamu pergi ke taman sebentar yaudah....”

Sejin memotong ucapan Seungho -kekasihnya dengan sebuah kecupan singkat dibibir. Seungho tersenyum dan mengusak kepala Sejin yang beberapa centi lebih kecil darinya itu. Seungho pun meraih tangan Sejin dan membawanya pergi dari taman menuju sebuah rumah makan favorit Sejin.

“I'm going to take more care of myself, And I'm gonna stop....”Sejin berucap dalam hati dengan tangan yang semakin erat menggenggam tangan Seungho. Melangkah dengan pasti menuju kebahagiannya yang lain.

(xposhie)

WHY.


My watch is just fine but time has stopped Nothing is working out, I’m so pathetic In our world that we endlessly built out I remain all alone

Entah sudah malam keberapa, Seungyoun tidak pernah tertidur nyenyak di malam hari. Suara detak jarum jam yang menempel di dinding apartmentnya terdengar lebih bising dan memekkan telinga. Sekuat apapun Seungyoun mencoba memejamkan mata selalu gagal.

Detik jam berbunyi seiring dengan memori yang ingin ia hapuskan. Seperti enggan dilupakan, memori dan kenangan tersebut selalu datang setiap malam dan membuat Seungyoun semakin sadar bahwa malam itu hanya ada dirinya sendiri.

I want to ask up above, yeah What did love even mean? You’re the only one missing in my world But it feels like I’ve lost everything It’s just me

Seungyoun menyibakkan selimutnya. Ia menghembuskan nafasnya kasar dan melirik ke arah jendela dimana matahari sudah naik sepenuhnya dan menerangi bumi, membuat Seungyoun harus rela bangun dari tempat tidurnya yang nyaman.

Berjalan gontai ke arah dapur tanpa ada aroma kopi dan roti bakar kesukaannya. Seungyoun mengacak rambutnya dan memilih sebotol air mineral pagi hari itu. Nafas berat tidak henti-hentinya ia hembuskan.

Sesekali Seungyoun memejamkan matanya, berharap ia dapat menjalani hari tersebut dengan baik. Setidaknya, lebih baik dari hari kemarin atau kemarin lusa. Lebih baik dari sebelumnya, saat ia belum mengenal lelaki tersebut.

Siang hari, saat dirinya seharusnya berada di dalam kelas sebuah universitas, Seungyoun memilih duduk di sebuah toko kelontong dengan tiga potong onigiri dihadapannya dan satu kotak susu coklat. Setidaknya, hal tersebut ia lakukan semenjak ia dan lelaki tersebut mengakhiri semuanya.

Matanya sesekali menatap ke samping, melihat sepasang anak sekolah menengah atas yang sedang menghabiskan makan siang mereka dengan satu cup ramen serta dua kotak susu pisang. Lagi, Seungyouun tersenyum miris sebelum melangkahkan kakinya pergi setelah meninggalkan dua potong onigiri untuk sepasang anak remaja tersebut.

Why why why Why can’t I go on without you? Just why why why? Just tell me, can’t I go if it’s not you?

Matahari sudah bersiap pergi ketika Seungyoun sudah terduduk malas di depan televisi. Televisi tersebut menanyangkan sebuah tayangan yang tidak satu kalipun dilirik Seungyoun, karena Seungyoun justru fokus dengan ponsel ditangannya. Setidaknya sudah sejam hal tersebut terjadi.

Jarinya terhenti kala ia melihat sebuah foto pada layar utama media sosialnya. Seungyoun memilih pergi dan menuliskan sebuah username yang telah ia hafal diluar kepala. Sebuah halaman muncul dan menampilkan halaman media sosial lelaki tersebut. Lelaki yang muncul di layar utamanya beberapa saat lalu, di media sosial milik kawan Seungyoun lainnya.

Seungyoun kembali tersenyum miris, karena sejauh layar ponselnya ia gulirkan pada halaman tersebut, ia sudah tidak dapat menemukan fotonya lagi, semua sudah hilang. Tidak ada lagi foto dirinya, bahkan satu foto pun tidak tersisa. Hanya ada satu foto dimana dalam foto tersebut ada dua tangan saling menggenggam, dengan pemandangan kota malam yang indah. Seungyoun tau, lelaki tersebut tidak menghapus foto tersebut bukan karena dirinya, melainkan pemandangan dibelakang tangan yang saling menggengam tersebut yang sangat sayang untuk dihilangkan.

Seungyoun kembali menggulirkan layar ponselnya setelah keluar dari halaman media sosial lelaki tersebut. Ia kembali masuk ke halaman utama media sosial miliknya, melihat setiap foto dalam halaman media sosialnya tersebut. Seungyoun kembali mengingat setiap kejadian dan waktu berlangsung saat foto tersebut diambil. Jari jemari Seungyoun memperbesar setiap foto dan menekan tombol hapus setelahnya tanpa berfikir dua kali.

After midnight passes and another day starts Will we have gotten more farther apart? If I hold my breath and take off my ventilizer that is you Will I be able to endure? oh baby

Seungyoun kembali ke kamar saat jam menunjukan pukul satu dini hari. Dadanya terasa sesak sejak tadi, entah kenapa. Nafasnya hanya dapat menjangkau oksigen seperempat dari biasanya. Seungyoun berbaring di kasurnya dan menatap hampa langit-langit kamar pribadinya.

Seungyoun memejamkan mata ketika ia sudah tidak sanggup menahan sesak di dadanya. Kenangan itu muncul, memori tersebut kembali hadir seperti enggan dihapuskan. Seungyoun menangis untuk pertama kalinya karena lelaki tersebut.

Seungyoun memukulkan dadanya beberapa kali, mencoba bernafas senormal mungkin. Layaknya seseorang yang kehilangan pasukan oksigen, malam itu Seungyoun merintih, menangis dan berusaha mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin.

Can’t you be with me? just stay with me If I silently forget you and wait Will we be able to meet again like destiny? Even if it’s just a nod, answer me Even if it’s a lie, answer me, answer me

Seungyoun berhasil tidur malam itu, tetapi ia bermimpi. Bermimpi jika ia bertemu kembali dengan lelaki tersebut. Lelaki yang sudah menggandeng dan menggenggam tangan lelaki lain. Lelaki yang berjalan menjauhinya.

Seungyoun berujar lirih, memanggil nama lelaki tersebut. Entah bisikan darimana, lelaki tersebut berhenti melangkah dan menoleh, ia menatap Seungyoun. Lelaki tersebut menatap Seungyoun bingung, membuat lelaki tinggi yang sedang menggandengnya juga terbawa keadaan.

“Sejin! Ayok!!”

Seungyoun masih menatap lelaki tersebut seakan ia ingin lelaki tersebut menjawabnya. Menjawab berjuta pertanyaan dalam benaknya. Menjawab semua pertanyaan yang membuat tidurnya tidak nyenyak belakangan ini. Lelaki tersebut tersenyum kearah Seungyoun sebelum kembali berbalik dan berjalan bersama lelaki lain.

Seungyoun terduduk dan kembali menangis. Tetapi tangisnya tidak di dengar lelaki kecil tadi, karena lelaki tersebut tetap berjalan menjauhinya tanpa sedikitpun menoleh kembali padanya. Lelaki tersebut pergi menggapai kebahagiannya, meninggalkan Seungyoun seorang diri.

Seungyoun, hanya kehilangan lelaki tersebut, Lee Sejin. Tetapi dunia seperti merenggut seluruh kehidupannya, membuat ia tidak memiliki arah untuk kembali berjalan, membuatnya susah bernafas dan membuatnya terus bertanya, “Mengapa hanya dirinya yang merasakan ini? Mengapa dirinya tidak dapat kembali berjalan jika tanpa lelaki tersebut? Mengapa Lee Sejin tidak bisa tetap bersamanya? Hanya bersamanya...”

(xposhie)

Special Arena.


Entah sudah kali ke berapa, Seungwoo harus kembali berhadapan dengan Seungyoun di arena. Luka di wajahnya tidak membuat ia gentar dan mundur begitu saja. Harga dirinya dan juga harga diri Byungchan, harus ia pertaruhkan malam ini. Beberapa menit setelah Seungsik datang membawa mobil pribadi milik Seungwoo, Seungwoo pun langsung duduk dibelakang kemudi.

“Woo, jangan emosi....“Jaebum dan Namjoon berdiri tepat disebelah jendela mobil yang masih terbuka. Seungwoo mengabaikan suara Jaebum, karena matanya menatap kedepan, melihat Byungchan yang berdiri lemah bersama teman-teman Seungyoun.

“Aku sayang kamu....”Byungchan tidak bersuara, tapi gerak bibirnya, mampu Seungwoo baca dan gerak bibir tersebut mampu membuat Seungwoo menarik nafas panjang untuk menetralkan emosinya.

“Demi Byungchan... Kalo lo emosi, hasilnya ga akan baik”Seungwoo menoleh kala Namjoon membuka suara dan ia mengangguk pelan.

“Iya demi Byungchan dan demi menyelesaikan permainan super menjijikan milik Seungyoun”ucap Seungwoo dalam hatinya.

Arena malam itu bukannlah jalan lurus beraspal sepertinya. Tetapi sebuah gedung yang sudah tidak terpakai. Gedung parkir tua dengan ketinggian 20 lantai. Seungwoo dan Seungyoun harus mengendarai mobil mereka naik ke lantai 20, dengan kondisi gedung berdebu serta gelap.

“Sampai ketemu di rooftop!!“ucap Jaebum dan Namjoon sebelum mengendarai mobil mereka menuju lantai tertinggi gedung tersebut.

Setidaknya masing-masing anggota Oasis, Q serta Dionysus berjaga di setiap lantai. Kelicikan Seungyoun dan teman-temannya membuat mereka harus ekstra hati-hati terlebih, arena malam ini adalah arena yang asing bagi Seungwoo.

Seungwoo memicingkan matanya kala melihat Seungyoun menarik paksa Byungchan masuk ke dalam mobilnya. Ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Seungyoun yang menatapnya sinis.

“Jangan maksa! Lo bukan siapa-siapanya!!“ucap Seungwoo emosi.

“Ka... udah... engga apa-apa...“ucap Byungchan pelan.

see? dia sendiri yang bilang ga apa-apa. Dia tuh suka kalo gue main kasar sama dia”ucap Seungyoun menampilkan seringai tipisnya.

“Masuk!!“ucap Seungyoun dengan nada keras, membuat Seungwoo memijat pelipisnya. Belum saatnya ia melampiaskan emosinya kepada Seungyoun, belum saatnya.

“Byungchan! Ikut sam gue dan nunggu di rooftop“Seungwoo dan Seungyoun menoleh saat Sunho datang bersama anggota Blue Rose lainnya.

“Habis ini, lo masih ada urusan sama gue! And Good Luck!“ucap Sunho sebelum menarik Byungchan masuk ke mobilnya dan membawanya ke garis finish.

Tidak menunggu waktu lama, Seungwoo dan Seungyoun kembali ke mobilnya dan memposisikan mobil mereka di posisi masing-masing. Layaknya gedung parkir pada umumnya, jalan yang digunakan untuk menuju lantai atas maupun sebaliknya berbeda jalur dan jalur tersebut yang digunakan masing-masing oleh Seungwoo dan Seungyoun.

(Note: Kalian dapat membayangkan gedung parkir agar masuk ke dalam arena)

Di setiap lantai, mereka tidak dapat menggunakan jalur seperti gedung parkir pada umumnya. Seungwoo dan seungyoun harus memutar kemudi mereka 180 derajat tepat pada setiap tikungan di setiap lantai, yang mana hal tersebut tidak dapat dilakukan seseorang yang belum mahir mengendarai kendaraan.

Suara tembakan terdengar hingga rooftop membuat beberapa orang menarik nafas mereka panjang. Begitu juga dengan Byungchan yang sekarang sedang memejamkan mata dan berdoa demi kelancaran pertandingan yang sedang ia tunggu hasilnya.

Seungwoo menggertakan giginya, menahan emosi karena pada empat lantai pertama ia posisinya tertinggal jauh dari Seungyoun. Seungwoo yang belum mengenal arena dengan baik, menjadi susah mengendalikan kemudi mobilnya. Tetapi, pada lantai ketujuh akhirnya Seungwoo dapat menyamakan posisinya dengan Seungyoun setelah mengetahui trik bagaimana ia dapat menaklukan setiap tikungan.

“Ah! Shit!!”

Roda mobil yang Seungyoun kendarai slip saat dirinya memutar kemudi terlalu cepat sehingga ia harus sedikit memundurkan mobilnya tepat di lantai 10 gedung parkir tersebut dan membuat Seungwoo memimpin posisi saat ini. Seungwoo dengan tenang mengemudikan laju kendarannya, ia tau bahwa ia tidak boleh gegabah dan harus menahan emosinya.

Lima lantai terakhir. Jika sebelumnya terdapat dua jalur terpisah, pada lima lantai terakhir menuju rooftop dua lajur pada gedung parkir tersebut menyatu dan bersisian. Membuat jarak Seungwoo dan Seungyoun terlihat semakin tipis.

Seungyoun dan segala fikirian liciknya sengaja menempatkan mobilnya tepat ditengah jalur sehingga membuat Seungwoo susah menyalip posisi Seungyoun yang berada di depannya.

Seungwoo menarik nafas panjang, ia tau bahwa ia akan kalah jika ia masih mengikuti permainan kotor Seungyoun tersebut dan akhirnya pada dua lantai terakhir, Seungwoo menambah kecepatan laju kendaraannya agar Seungyoun tidak dapat menutupi laju mobilnya.

“Bang!!“Seungsik yang berada di lantai kedelapan belas serta Sejun yang berada di lantai sembilan belas berteriak kaget, kala mobil Seungwoo tidak sengaja menyenggol body mobil milik Seungyoun. Kedua mobil tersebut bersenggolan dan membuat laju keduanya tak tentu arah.

“Njir! Tipis”ucap Sejun yang berlari ke rooftop setelah kedua mobil tersebut melewati lantai terakhir dengan insiden kecil tersebut.

Seungwoo keluar dari mobilnya dengan nafas terengah. Ia melirik ke arah Seungyoun yang berhenti tepat disebelahnya. Mobil keduanya tidak terlihat baik, karena asap mengepul akibat gesekan yang ditimbulkan dua kendaraa tersebut.

(xposhie)

Sebuah Alasan.

//Latar waktu sebelum Seungchan jadian, dimana Younjin masih jadian dan Seungsok belum jadian.


Pertemuan Pertama

Seungwoo menoleh saat lelaki jangkung dengan kulit putih bersih itu menghampiri tempat duduknya bersama teman-temannya. Wajahnya bulat, bibirnya yang merah sedikit mengerucut, matanya juga ia sipitkan karena matahari sore yang bersinar terlampau terang.

“Chan? Kok disini?“Seungwoo mendecih kala salah seorang temannya, Minho, menanyakan kedatangan lelaki tersebut.

“Makanya hapenya abang tuh diliat!!! Aku tuh dari tadi nelfon sama chat abang tapi ga dijawab”ucap lelaki tersebut merajuk dan tanpa sadar Seungwoo tersenyum kecil.

“Terus kamu tau abang disini gimana?“tanya teman Seungwoo.

“Dikasih tau ka seungwoo”lelaki tersebut menunjuk Seungwoo dan Seungwoo mengangguk sambil tersenyum.

“Eh nyet! Lo masih nyimpen nomer adek gue? Kan gue bilang, dihapus!!“Seungwoo menadapat satu lemparan botol setelahnya.

“Ih bang!! Aku tau yang masih nyimpen nomer ka seungwoo, soalnya abang kadang suka susah dihubungin”ucap lelaki yang duduk beberapa langkah dari Seungwoo.

“Yaudah, kamu mau pulang sekarang?“tanya Minho lagi yang dijawab anggukan oleh sang adik.

“Ka seungwoo makasih ya!!“ucap lelaki tersebut sebelum berlari kecil mengerjar sang kakak yang berjalan lebih dahulu.

Pertemuan Kelima

“Maaf ya ka, bang minho nyusahin... padahal aku bisa pulang sendiri...“ucap seorang lelaki yang menghampiri Seungwoo yang sedang duduk diatas motornya.

“Iya engga apa-apa kok. Aku emang mau sekalian ke rumah sakit, liat anak yang kecelakaan tadi”ucao Seungwoo sopan.

“Hm... Kamu ga bawa jaket?“tanya Seungwoo saat melihat Byungchan, adik Minho, yang hanya menggunakan kemeja pendek tipi. Byungchan menggeleng.

“Yaudah pake jaket aku aja dulu ya? Aku pake lengan panjang kok”ucap Seungwoo lagi.

“Engga usah ka! Kan rumah sakitnya deket?“ucap Byungchan sungkan dan Seungwoo tersenyum.

“Kata Minho, adeknya ga boleh lecet sampai rumah sakit. Jadi... pake aja ya?“ucap Seungwoo lagi dan Byungchan mengangguk serta menerima uluran jaket milik Seungwoo tersebut.


“Minho harus ya pulang peri sama adeknya gitu?“semua mata tertuju ke arah Minho yang berjalan kearah parkiran rumah sakit bersama Byungchan, sang adik.

“Posesif, soalnya Byungchan pernah disakitin sama temen satu angkatannya”ucap Seokjin, salah seorang teman Seungwoo lainnya dengan santai.

“Lah? Gitu doang?“kali ini teman Seungwoo bernama Seungyoun yang bertanya.

“Engga doang sih, soalnya kabarnya tuh mantan adeknya selingkuh. Tapi selingkuhnya sama mantan pacar sesbelum adeknya Minho”ucap Seokjin melanjutnya.

“Anjing pusing amat penejalasan lo”ucap Sejun yang berperawakan paling kecil diantara teman-teman lainnya.

“Ya, coba aja misal Seungyoun putus nih sama Sejin tuh Jinhyuk bakal ngapain?“tanya Seungwoo yang dibalas semua tatapan sinis dari Seungyoun.

Pertemuan Kedelapan

Seungwoo hampir saja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Orang tersebut terlalu fokus dengan ponsel pintarnya sehingga membuatnya tidak melihat langkah kakinya.

“Maaf...”

“Byungchan?”

Byungchan menoleh dan mendapati Seungwoo berada di hadapannya, lelaki yang hampir saja ia tabrak karena keteledorannya sendiri.

“Eh ka seungwoo! Maaf ya kaaa, aku lagi ngabarin abang jadi fokus ke handphone”ucap Byungchan tersenyum.

“Sendirian? Mau kemana?“tanya Seungwoo dan Byungchan hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Seungwoo.

“Hehehe sebenernya aku ga mau kemana-mana sih ka. Jalan aja tanpa tujuan, soalnya bete dirumah, terus sendirian, soalnya males ajak abang karena berisik”ucap Byungchan lagi.

“Ka seungwoo mau kemana? Sendirian juga?“tanya Byungchan lagi dan Seungwoo mengangguk.

“Mau bareng? Aku mau cari sepatu sih, siapa tau kamu bisa dimintain saran”ucap Seungwoo tersenyum.

“Hm... tapi itu kalo kamu ga keberatan”ucap Seungwoo setelah lama tidak mendapat jawaban dari Byungchan.

“Yuk ka! Dibanding sendiri-sendiri kan?“ucap Byungchan tersenyum dan Seungwoo pun mengangguk sambil mengarahkan kakinya ke salah satu toko sepatu incarannya.

***

“Makasih ya ka!! Padahal ga usah dianterin juga ga apa-apa”ucap Byungchan canggung.

“Engga apa-apa! Maaf ya engga bisa mampir, udah kemaleman soalnya. Titip salam aja ya buat semuanya”ucap Seungwoo dan Byungchan mengangguk.

Byungchan pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil tersenyum.

Pertemuan kelima belas

“Chan, kalo aku bilang suka sama kamu gimana?“Byungchan hampir saja kembali memuntahkan kembali boba latte yang baru saja ia sedot.

“Maaf, Chan... ngangetin ya?“ucap Seungwoo sambil memberikan tisu kepada Byungchan.

“Gimana ka?“tanya Byungchan saat dirinya sudah dapat menteralkan kembali nafas dan detak jantungnya.

“Aku suka sama kamu”ucap Seungwoo lagi.

“Maaf kalo kamu kamu ga nyaman, engga apa-apa kamu bilang ke aku aja ya? Tapi aku cuma mau jujur. Kamu boleh tanya Minho kok, berapa banyak mantan aku dan terakhir kali aku pacaran itu kapan”ucap Seungwoo yang membuat Byungchan tersenyum.

“Engga ah! Kalo tanya ke Abang nanti malah jadi panjang urusannya. Kenapa ka seungwoo engga cerita sendiri sama aku?“tanya Byungchan santai yang membuat Seungwoo gugup.

“Hehehe engga apa-apa ka, jangan sekarang! Nanti aja kalo Ka Seungwoo udah mau cerita, baru cerita ke aku”ucap Byungchan yang kembali menikmati minuman boba ditangannya.

“Tapi aku beneran loh Chan?“ucap Seungwoo meyakinkan Byungchan dan Byungchan menatap Seungwoo.

“Aku juga beneran ka! Kenapa ka seungwoo suruh tanya ke abang kalo nanti aku pacarannya sama ka seungwoo? Tapi nanti aja ceritanya, kalo ka seungwoo udah mau cerita ke aku hehehe”ucapan Byungchan membuat Seungwoo terdiam dan tidak dapat mencerna setiap perkataan tersebut dengan baik.

(xposhie)