semestakapila

Boss.

•••

Hangyul memasuki apartmentnya dengan santai tanpa mencurigai apapun. Hangyul menyapa seluruh orang di ruang tamunya dengan santai sebelum akhirnya ke dapur dan membereskan belanjaannya.

Hangyul bahkan meletakan susu pisang di meja tanpa arahan siapapun. Wooseok menahan tawa melihat kelakuan Hangyul yang terlewat santai itu.

“Ada kopi?”

Pergerakan Hangyul terhenti. Dirinya mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat seluruh orang yang berada di ruang tamu.

“Susu pisangmu engga laku, Gyul. Masukin kulkas aja”ucap Sejin santai yang berhasil membuat Hangyul tambah bingung.

Seongjun menarik Hangyul menjauh dan berbicara empat mata dengan Hangyul. Omongan Seongjun berhasil membuat Hangyul menjatuhkan susu pisang dalam genggamannya.

Semua menahan tawa melihat ekspresi Hangyul. Hangyul melirik ke arah orang-orang yang berada di ruang tamu dan matanya beradu tatap dengan seorang pria yang dia yakini baru saja bangun dari tidurnya.

“Pak, maaf pak... Bukan saya kurang aja tapi saya gatau beneran pak”

Hangyul berjalan pelan kembali ke ruang tamu. Sihoon pun tertawa mendengar apa yang dibicarakan Hangyul.

“Santai aja. Kita belum pernah ketemu kan? Saya Sihoon”

“Hangyul pak. Karyawan baru di tempat bapak, tapi belum pernah ketemu bapak soalnya waktu itu bapak jadi Sihyeon trus Samuel”

Sihoon tertawa mendengar ucapan Hangyul. Sihoon sebenarnya mengingat semuanya, pertemuannya dengan Hangyul saat dia menjadi Sihyeon maupun Samuel.

Sponsored.

•••

Dua puluh empat pemuda pemudi telah terpilih dari dua belas distrik, termaksud Yohan dan Yuvin.

“Apa aku menggangu kalian?“ucap Yuvin kikuk dan Yohan menggeleng, “Kau tidak pernah menggangu kita”

“Duduk sini”Yohan menggeser duduknya, memberi sedikit ruang untuk Yuvin duduk.

Malam itu, Yohan dan Dohwa, perwakilan dari distrik dua belas sedang membicarakan apa yang akan mereka tampilkan besok ke khalayak Capitol.

“Kau kan pandai bertarung dan memanjat, tidak sulit untuk mengambil hati para sponsor. Bagaimana denganku?”

Dohwa menunduk lesu. Dirinya tidak punya keahlian sama sekali untuk ditampilkan besok, sedangkan sponsor sangat mereka butuhkan saat ini mengingat bagaimana susahnya sponsor melirik distrik mereka selama tujuh puluh enam tahun hunger games di adakan.

Yuvin menatap Yohan dan Dohwa bergantian. Dia tidak pernah tau, jika Yohan bisa cepat akrab dengan orang lain. Dohwa memang berasal dari distrik yang sama dengan Yohan, tetapi Yuvin tau bagaimana tertutupnya keluarga Yohan dengan lingkungannya.

“Hm... Aku permisi dahulu”

Yuvin bangkit dari duduknya yang berhasil membuat Yohan dan Dohwa menoleh. Yohan tersenyum, “Ayok kita semua kembali ke kamar! Aku rasa strategi kita sudah cukup menarik sponsor”

Yohan pun berjalan masuk ke dalam penginapan tempat dimana semua kontestan menginap sebelum pertandingan itu dimulai. Dohwa pun dengan cepat mengejar Yohan yang berjalan terlebih dahulu.

Lagi, Yuvin menyaksikan kedekatakan kekasihnya dengan lelaki lain. Bahkan beberapa kali dia melihat Dohwa tanpa canggung mengusak puncak kepala Yohan, mungkin karena gemas.

“Maaf... Kalian duluan saja, sepertinya ada barangku yang ketinggalan”

Yuvin membatalkan niatnya masuk ke dalam lift yang terbuka. “Perlu aku antar?“tanya Yohan dan Yuvin menggeleng, “Kau duluan lah, istirahatlah yang cukup. Sampai bertemu besok”

Yuvin mengusak puncak kepala Yohan dan berbalik sebelum akhirnya Yohan dan Dohwa menghilang seiring dengan tertutupnya pintu lift.

•••

“Apa yang kau lakukan?”

Yohan menoleh dan dia menemui Seugyoun, pelatihnya dan juga satu-satunya pemenang dari distrik dua belas.

“Tidak ada, aku tidak melakukan apapun”

Bohong. Jelas Yohan berbohong. Sebenarnya ia sedang panik, karena daritadi ia belum menemukan Yuvin dimanapun. Bahkan saat sarapan pagi tadi, Yohan tidak melihat Yuvin sama sekali.

“Cepat naiklah, Dohwa sudah menunggumu. Buatlah publik Capitol tertarik padamu jika kalian ingin mendapatkan banyak sponsor, karena itu satu-satunya harapan kalian untuk bertahan hidup”Yohan mendecak sebal sebelum akhirnya meninggalkan Seungyoun.

•••

“Semangat! Kau pasti bisa”

Kini giliran Yohan yang harus menampilkan kemampuannya. Dohwa mengusak gemas puncak kepala Yohan, memberi semangat. Tanpa mereka sadari, Yuvin melihatnya dari ujung koridor.

Seperti strategi yang telah mereka bicarakan semalam, Yohan menampilkan kemampuanya bertarung serta memanjat pohon. Yohan menghembuskan nafas kasar, karena tidak ada satupun orang yang memperhatikannya.

“Setidaknya kita sudah berusaha! Aku yakin setidaknya ada satu sponsor untuk kita karena kemampuanmu tadi menakjubkan”

Yohan tersenyum mendengar pujian yang Dohwa dan tanpa sengaja matanya menatap Yuvin yang sedang bersiap. Yohan sedikir berlari ke arah Yuvin, tapi terlambat karena Yuvin telah masuk ke dalam sebuah ruangan untuk menampilkan kemampuannya.

“Mungkin dia tidak melihatku”ucap Yohan pelan.

Yuvin masuk ke dalam ruangan yang sudah diperuntukan untuk semua kontestan yang akan menunjukan kemampuannya. Yuvin memilih memanah, karena kemampuan memanahnya tidak dapat diragukan lagi.

Delapan busur panah telah berhasil Yuvin lepaskan tepat sasaran tetapi tidak ada satupun petinggi Capitol dan sponsor yang melihatnya. Yuvin menghebuskan nafas kasar sebelum akhirnya dia melihat apel pada kudapan yang tertata di meja makan para petinggi Capitol.

Panah terakhir dilepaskan Yuvin dan tepat mengenai apel tersebut. Semua petinggi Capitol kaget dan menoleh ke arah Yuvin. Yuvin tersenyum sinis, “I am Yuvin, from district ten. Thank You”

Yuvin menundukan badannya sedikit ke arah para petinggi Capitol sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Kim Sihyeon.

“Eungh....”

Tangan Seonhi coba disingkirkannya. Hatinya berdegup kencang melihat keselilingnya, dirinya tidak mengenal kamar yang menjadi tempatnya tidur sore itu.

Sihyeon, mengambil beberapa pakaian yang tercecer yang ia rasa adalah miliknya. Karena jujur, Sihyeon tidak mengingat apapun. Sihyeon pergi meninggalkan lelaki yang masih pulang tertidur di kasurnya.

•••

Sihyeon menatap aneh ke koridor yang penuh orang. Kenapa orang-orang ada di depan kamarnya? Siapa orang-orang ini? Apa yang mereka lakukan disini?

“Permisi”

Pertanyaan muncul ketika Sihyeon mencoba membuka pintu apartmentnya.

“Sihyeon!”

Sihyeon menoleh dan mendapati Sejin yang berdiri di sebrangnya, lebih tepatnya ialah Sejin keluar dari apartment di sebrang kamar Sejin.

“Pak sejin!”

Sihyeon memilih membatalkan usahanya membuka pintu apartmentnya dan menghambur ke pelukan Sejin. Sejin pun membawa Sihyeon masuk ke dalam apartment Hangyul.

“Syukurlah”

Wooseok mendekat kearah Sejin yang tengah memeluk Sihyeon tetapi ditahan oleh Sejin.

“Ini Sihyeon”bisik Sejin dan Wooseok mengangguk mengerti.

Sejin benar-benar memperlakukan Sihyeon seperti adiknya sendiri. Membuatkan susu hangat, makanan bahkan menemaninya tidur.

“Kaka mau usek-usek aku?”

Sihyeon menatap ke arah Wooseok yang sedari menatapnya. Sihyeon memilih tidur di sofa, karena tidak nyaman berada di apartment orang lain dan bukan miliknya.

Wooseok pun mendekat dan menggantikan posisi Sejin. Sihyeon meletakan kepalanya di paha Wooseok dan Wooseok mulai mengusap puncak kepala Sihyeon hingga Sihyeon tertidur.

I volunteer.

***

Yohan tersenyum ketika melihat sosok seseorang yang menggenggam seekor burung di tangan kanannya dengan busur panah yang menggantung di punggungnya, “berburu lagi?“tanya Yohan dan dijawab anggukan oleh orang yang kini sudah duduk disebelahnya, “Untukmu dan adikmu”Yohan menatap orang di sebelahnya dengan tatapan heran.

“Haruskah kau selalu seperti ini, Song Yuvin?“tanya Yohan merajuk, “Hahaha aku hanya bersikap baik kepada calon adik iparku, jangan kau fikir ini semua untukmu yaaaa”ucap Yuvin meledek yang sukses membuat Yohan merajuk dan mengerucutkan bibirnya.

“Tentang besok....“Yohan menatap Yuvin sedih, “Tidak akan ada yang terjadi besok. Besok malam, kita akan duduk berdua disini lagi. Aku akan membawakanmu banyak sekali roti isi daging. Aku berjanji”Yuvin tersenyum cerah.

“Kau pandai memanjat dan berkelahi, jika kau terpilih, aku yakin kau akan bertahan hidup”

“Ya! Ucapan adalah doa. Jika besok aku benar-benar terpilih, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Song Yuvin”Yuvin mengusak rambut Yohan, gemas.

***

Hari pemilihan tiba. Yohan dan adiknya telah menggunakan baju terbaik mereka dan berjalan ke alun-alun diantar oleh ibu mereka, “Ka, bagaimana jika aku terpilih?“gadis berkuncir kuda itu terlihat lesu, “Tidak mungkin, namamu hanya ada satu jadi kemungkinan kau akan terpilih itu sangat kecil”Yohan mencoba menenangkan adiknya.

Sepanjang perjalanan, layar-layar raksasa yang sengaja di pasang oleh Capitol sudah menayangkan pemilihan di distrik lainnya. Para orang tua berteriak histeris ketika nama putra atau putri mereka dipanggil, bahkan beberapa diantara mereka menawarkan menjadi relawan agar orang yang mereka sayang tidak ikut ke dalam permainan gila itu.

Seperti biasa, Effie selalu membuka acara pemilihan dengan pidato panjangnya yang tidak berbobot dan sudah diingat Yohan bahkan diluar kepalanya. Wajah penuh riasan aneh serta rambut dengan model yang tidak kalah aneh dengan riasan wajahnya. Effie mulai memasukan tangannya ke dalam Fish Bowl di hadapannya.

Nama pertama sudah dalam genggaman Effie. Yohan berdoa di dalam hati, agar dirinya tidak dipanggil. Semoga Tuhan tidak mendengarkan omongan Yuvin kemarin. Yohan memikirkan bagaimana nasib adik dan ibunya, jika ia harus pergi ke Capitol dan melakukan permainan itu sebagai perwakilan distrik mereka.

Doa Yohan terkabul dan omongan Yuvin tidak menjadi nyata. Nama yang disebutkan Effie ialah Lee Dohwa, anak pemilik toko roti terenak di distriknya. Ayah Dohwa yang setiap harinya terbiasa membanting adonan roti itu menangis, karena ia tidak akan tahu bagaimana nasib putranya di balik tembok beton tersebut.

Dohwa berjalan ke atas panggung, menyerahkan nasibnya kepada Capitol. Nama kedua sudah Effie ambil, beberapa anak terlihat pasrah dan beberapa lagi terlihat merapalkan doa terakhir mereka. Mata Yohan menatap layar besar di samping alun-alun yang menayangkan pemilihan di distrik 10, distrik dimana Yuvin tinggal.

Yohan berdoa, agar nama terakhir yang dipanggil bukanlah nama Yuvin, karena bagaimanapun Ia dan Yuvin sudah berjanji akan bertemu setelah pengumuman bodoh ini selesai. Yohan mengetukan kakinya, cemas. Dirinya bahkan lebih cemas mendengar pengumuman di distrik 10 dibanding di distriknya sendiri.

Kim Sihun – Song Yuvin, dua nama yang disebutkan bersamaan di dua tempat berbeda. “Tidak! Itu tidak mungkin”Yohan berteriak, membuat semua orang di alun-alun menatapnya, termaksud Effie. Yohan menggeleng ketika melihat Yuvin yang tersenyum jalan ke atas panggung, “Dasar bodoh!“ucap Yohan.

Yohan menatap ke sekelilingnya dan melihat Kim Sihun yang berjalan ke atas panggung sebagai perwakilan dari distriknya. “I Volunteer!!! I Volunteer!!“Yohan berteriak dan berlari keatas panggung. Ibu dan Adik Yohan menangis melihat Yohan yang berlari ke atas panggung. Sihun yang sudah berada di depan panggung pun berhenti dan menoleh ke arah Yohan.

“Aku merelakan diriku untuk menjadi perwakilan distrik 12 pada tahun ini menggantikan Kim Sihun”suasana di alun-alun menjadi riuh. Terdengar makian yang di lontarkan kepada Yohan karena sikap cerobohnya. Yohan berjalan mantap ke arah panggung, mengabaikan tangisan dan teriakan ibu serta adiknya.

Rokok.

•••

Samuel memeluk tubuh Seonho dari belakang. Seonho menghembuskan asap rokoknya yang membuat Samuel terbatuk sedikit.

“Haha kau tidak suka bau asap rokok?“Samuel menggeleng menjawab pertanyaan Seonho.

“Rokok itu emang engga sehat, tapi bisa ngilangin stress loh”Seonho kembali menhembuskan asap rokoknya, kali ini tepat ke wajah Samuel dan Samuel otomatis terbatuk.

“Hahaha maaf. Kenapa kau sangat menggemaskan? Aku kira artis tidak akan jauh dari rokok dan sejenisnya”Seonho mulai mematikan rokoknya, “Aku punya asthma! Kau bisa membunuhku”ucap Sam merajuk.

“Kenapa sih pacarku ini sangat menggemaskan, huh?“Seonho menggendong Sam ala koala yang berhasil membuat Sam tertawa. Seonho menghujani seluruh wajah Sam dengan kecupan.

“Kau bau rokok”Sam mengerucutkan bibirnya dan menutup hidungnya.

“Ah benarkah?“Seonho menjatuhkan Sam diatas kasur apartmentnya dan kembali menghujani Sam dengan kecupan. Kali ini kedua tangan Sam ditahan Seonho sehingga Sam tidak dapat menutup hidungnya.

Kecupan yang diberikan Seonho mampir ke bibir ranum Samuel. Kecupan yang awalnya biasa itu lama-lama menjadi menuntut. Sam mulai larut dalam ciuman tersebut.

Tangan Seonho mulai bergerilya masuk ke dalam kaos yang di gunakan Sam.

“Hgggh....“Sam mengeluarkan desahan karena ulah Seonho yang lagi-lagi membuatnya terbang ke langit ketujuh.

Sam menjauhkan badan Seonho yang menyebabkan ciuman mereka terhenti, “kenapa?“tanya Seonho bingung.

“Really? Sekarang? Kamu engga cape?“tanya Sam polos.

“Aku engga pernah capek sama kamu”kali ini Seonho menjadikan leher Sam sebagai sasaran.

Sam tidak dapat menolak, tenaga Seonho lebih kuat. Untuk pertama kalinya, Sam merasa dirinya tidak berguna. Sam merasa tidak bisa menjaga dirinya. Dia tidak mau seperti ini, tetapi Seonho yang sekarang berada diatasnya membuatnya terlena dan jatuh pada pesona Seonho.

Chamber of Secret.

Seungwoo dan Wooseok duduk di pantry apartment Hangyul dengan dua cangkir masing-masing di hadapan mereka. Hangyul dan Seongjun sedang heboh melihat ke luar apartment yang di penuhi wartawan dan Sejin sibuk menggonta ganti channel televisi.

Sudah sejak semalam, mereka berlima berkumpul di apartment Hangyul atas titah Wooseok. Karena nasib naas yang diterima Hangyul semalam, mereka sepakat menginap di apartment Hangyul.

“Bagaimana? Tidak ada cara lain?“tanya Wooseok lemah dan Seungwoo menggeleng.

“Kita tidak bisa dengan sengaja memunculkan Sihoon? Kau bilang, Sihoon akan muncul jika melihat kecelakaan? Bagaimana jika...”

“Jangan gila!“ucapan Wooseok barusan, langsung dipotong oleh Seungwoo. Nada tinggi Seungwoo berhasil membuat Seongjun, Hangyul dan Sejin menoleh.

“Maaf...“ucap Seungwoo, berusaha menggenggam tangan Wooseok yang langsung ditepis Wooseok.

“Jangan bertengkar”ucap Sejin, “Kita harus mengikuti perkataan Seungwoo, bagaimanapun dia sudah merawat Sihoon selama tiga tahun ini”Sejin menambahkan.

“Sihoon tidak sakit! Dan dia bukan pasien”ucap Wooseok bergetar.

“Ka... Aku tau, kakak mau semuanya balik kayak tiga tahun lalu kan? Aku juga kok ka. Aku mau semuanya normal lagi, tapi kita harus sabar. Sabar sedikit lagi”ucap Seongjun.

“Iya ka, gue kan udah bilang bakalan bantuin kalian. Gue bakalan bantu ngawasin Sihoon dari sini, setidaknya gue yang selalu punya banyak wakti ketemu Sihoon, Sam maupun Sihyeon”kali ini Hangyul angkat bicara.

Wooseok menghela nafas panjang. Ia menelungkupkan kepalanya diatas kedua tangannya yang terlipat diatas meja.

“Sabar, sedikit lagi”ucap Seungwoo mengusap puncak kepala Seungwoo.

I love you.

•••

Di dalam kamar yang cahayanya sedikit redup itu hanya terdengar bunyi gesekan lantai dan kasur serta suara nafas berat dari kedua orang yang sedang bergumul diatas kasur.

Sprei yang menutupi kasur sudah tidak berbentuk. Beberapa helai baju dan dua pasang sepatu juga berserakan di dalam kamar, sebagai bukti betapa tergesa-gesa mereka yang berada di dalam kamar tersebut.

Seorang pria yang posisinya berada diatas tersenyum melihat seseorang yang kini berada dibawah kungkungannya. Pria manis yang berada dibawah itu tersenyum, semburat merah keluar di pipinya entah karena mabuk atau karena malu.

Dua botol wine yang mereka konsumsi di Cafe serta beberapa botol beer yang mereka konsumsi saat Drive in menjadi alasan mengapa mereka terburu-buru malam itu bahkan harus menepi di sebuah hotel bintang tiga.

Malam itu mereka berbagi peluh. Tanpa mengingat bahwa malam ini adalah malam kedua mereka bertemu. Seonho dan Samuel hanyut dalam pesona masing-masing.

Desahan yang keluar dari bibir Samuel diiringi erangan dari Seonho menandakan bahwa mereka telah selesai. Seonho berbaring di sebelah Samuel dan merapatkan badannya dengan badan Samuel.

Tanpa perduli badan yang tanpa satu helai benangpun, Samuel meletakan kepalanya dengan nyaman di dada Seonho sedangkan Seonho sibuk merapihkan rambut Samuel.

“Kita gila ya?“ucap Samuel.

“Aku yang paling gila”ucap Seonho.

“Kita sama-sama gila, bukan hanya kamu saja”ucap Samuel dengan bibir yang sengaha dikerucutkan.

“Baiklah anak muda, kita sama-sama gila. Bahkan di pertemuan kedua kita, kita sudah membuat kekacauan”ucap Seonho tertawa renyah.

“Kau duluan yang membuatku seperti ini”Sam merajuk, “Tapi kau juga ingin kan?“tanya Seonho dan Sam mengangguk malu.

Seonho tersenyum sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di atas bibir Sam yang membengkak.

“Second round...“bisik Samuel pelan.

“Okey honey”ucap Seonho dalam lumatannya.

“I love you”ucap Sam yang di balas “Me more”oleh Seonho.

Peck or Kiss.

“Sebelum ke apartmentku, mau menonton sesuatu?“tanya Seonho yang tangannya tidak henti mengusap pipi kemerahan Samuel.

Seonho pun melajukan mobilnya masuk ke dalam tol ketika mendapat persetujuan dari Sam.

“Drive-in?“ucap Sam antusias dan Seonho mengangguk.

“Aku belum pernah satu kalipun mencobanya, bahkan saat aku masih di Amerika pun aku belum pernah mencoba Drive-in”Sam tersenyum cerah.

“Amerika?“tanya Seonho dan Samuel mengangguk, “Iya, aku pindah beberapa tahun yang lalu”Sam menjawab dan Seonho mengangguk mengerti.

Seonho dan Sam mencari posisi nyaman di dalam mobil Seonho, “bersandarlah jika lelah”ajak Seonho dan Samuel tersenyum malu sebelum menyandarkan kepalanya di dada bidang Seonho.

Dua setengah jam dan akhirnya film berakhir. Sam beberapa kali menguap, lelah dan mengantuk, ditambah usapan lembut Seonho di puncak kepalanya.

“Pulang?“tanya Seonho yang membuat Sam mengangkat kepalanya untuk menatap Seonho.

Sam beberapa kali mengusak matanya yang berair karena mengantuk, “Jangan digaruk”ucap Seonho sambil menarik lembut tangan Sam.

Sam yang masih bersandar pada dada bidang Seonho mengerjapkan matanya beberapa kali ketika matanya tanpa sengaja beradu dengan tatapan mata Seonho. Seonho tersenyum melihat tingkah lucu Sam tersebut.

Entah mendapat keberanian darimana, Sam memajukan badannya untuk mengikis jarak dirinya dan Seonho serta mulai menyatukan bibir mereka. Ciuman yang awalnya lembut itu berubah menjadi isapan dan bunyi decakan memenuhi mobil Seonho.

Posisi Sam sekarang sudah berada diatas pangkuan Seonho dengan tangan yang ia lingkarkan di leher Seonho. Sesekali Sam menarik rambut Seonho, ketika Seonho menghisap kuat bibirnya.

Tangan Seonho mulai bergerilya, masuk ke dalam kemeja yang digunakan Sam. Beberapa kancing kemeja Sam maupun Seonho, sudah terbuka karena ulah mereka sendiri.

“Sh... Jangan disini”ucap Sam.

Seonho pun menarik wajahnya menjauh dari Sam yang terlihat berantakan. Seonho mengusap pelan bibir merah Sam yang sedikit bengkak karena ulahnya.

“Ayok kita berpindah dan selesaikan ini”ucap Seonho.

Pertemuan.

Samuel melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah cafe yang dapat dikatakan mewah tersebut. Kedatangannya langsung disambut seorang pelayan berpakaian rapih.

“Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?“ucap pelayan tersebut.

“Reservasi untuk dua orang atas nama Son Park”ucap Samuel sopan dan Samuel pun di pandu menuju mejanya.

Disana, Park Seonho sudah menunggi Samuel. Berpakaian dengan setelah jas putih, Park Seonho terlihat gagah walaupun minim cahaya.

“Seonho...“Samuel menerima jabatan dari Seonho, “Samuel atau kau bisa memanggilku Sam”ucap Samuel lembut.

Seonho tidak lupa menarik kursi untuk Samuel, menunjukan mannernya yang tidak main-main. Samuel pun merasa tersanjung karena perlakuan Seonho tersebut, persis seperti perlakuan Junghwan kepadanya saat pendekatan dahulu.

Perbincangan ringan meliputi makan malam tersebut. Tawa renyah Samuel terdengar di sela-sela candaan yang di lontarkan Seonho.

“Omong-omong, aku mengajakmu makan malam seperti ini tidak masalahkan? Tidak akan ada yang marah?“tanya Seonho

“Sejujurnya ada, baru saja ia memarahiku lewat direct message instagram karena aku makan dengamu”kekeh Samuel.

“Oh iya? Sampaikan maafku untuk kekasihmu”ucap Seonho dan Samuel menggeleng.

“Bukan kekasihku, dia manajernya. Perlu digaris bawahi, aku sedang tidak punya kekasih”ucap Samuel tersenyum menggoda.

“Ah syukurlah, aku kira aku akan mendapatkan masalah dengan kekasihmu”Park Seonho tertawa.

“Jadi, ingin melanjutkannya di apartmentku?“tanya Seonho dan Samuel tersenyum.

Rencana.

Seongjun dan Hangyul mengetuk pintu apartment Wooseok secara tidak sabaran. Saat dijalan, Seongjun sudah mendengar cerita dari Hangyul.

“Ka.... anj—–”

Seongjun hampir saja mengumpat, ketika melihat penampakan Wooseok dihadapannya. Dengan kemeja besar milik Seungwoo dan rambut berantakan serta beberapa tanda kemerahan di lehernya.

“Masuk buruan”

Seongjun dan Hangyul yang berdiri di depan apartment Wooseok berjalan mengikuti Wooseok. “Siang-siang banget lo ka mainnya?“tanya Seongjun penasaran.

“Bawel. Pada mau minum apa? Trus kesini mau ngapain?”

Hangyul pun menceritakan semuanya. Samuel yang belum berubaj menjadi Sihoon serta Samuel yang akan bertemu dengan Seonho nanti malam. Wooseok memijat pelipisnya, pusing.

“Bentar, aku bangunin Seungwoo dulu”

Lima belas menit kemudian, Seungwoo keluar kamar Wooseok dengan langkah berat. “Gimana?“tanya Seungwoo.

Hangyul menarik nafas panjang, lalu menceritakan ulang apa yang telah diceritakannya kepada Seongjun dan Wooseok.

“Kayanya peran lo sekarang makin besar, Gyul. Lo kenal Samuel, kenal Sihoon dan kenal Seonho juga. Lo harus ada disekitar mereka terus”ucap Seungwoo.

“Termaksud nanti malam?“tanya Hangyul dan Seungwoo mengangguk.

“Memastikan semua baik-baik saja. Memastikan Seonho tidak mengungkit masalah Sihoon dihadapan Samuel atau sebaliknya”ucap Seungwoo dan Hangyul mengangguk.

“Kalian mau sarapan dulu?“tanya Seungwoo dan Hangyul menggeleng.

“Aku sudah sarapn di rumah Samuel tadi”ucap Hangyul.

Seongjun dan Hangyul pun berpamitan untuk kembali pulang.

“Kalo main jangan ninggalin tanda”ucap Seongjun kearah Wooseok yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Sialan kau Hong Seongjun!“Wooseok melempar handuknya yang berhasil ditangkap Seungwoo.

Seungwoo tertawa melihat ulah Wooseok dan bergantian mengeringkan rambut basah Wooseok.